Pret,
gue mau ke rumah lo, lo belum tidur kan? Bentar aja, mau ngomong sesuatu… tapi lo yang keluar ya nanti, gue keburu…
Kukirim pesan melalui handphone jadul-ku, kucari namamu di kontak telepon : ‘Kupret Pren Baek Aku’.
Hahaha, yap, aku suka memberi nama panjang di kontak HP-ku. Apalagi untuk
sahabat yang selayaknya dirimu.
Iya,
belum. Sini aja. Nanti kalau udah di depan sms aja…
Kau membalasnya.
***
Dan lagi. Kurasai setiap detik yang
spesial ketika bersamamu. Seperti malam ini, di bawah sinar lampu jalan yang
silau. Berpayungkan langit hitam menawan. Serupa Eboni yang menyuguhkan kelam
tegas elegan. Kulihat sejenak kau menengadah, ah… kau pasti mengharap langit
kali ini menggembala bintang dan bulan layaknya malam-malam lalu, untuk
menambah eksotisme kebersamaan kita. Raut wajahmu tak berubah saat kau tak
dapati bintang-bintang itu. Bintang
hanya berupa noktah kecil yang mungkin telah berusaha setengah mati untuk
menampakkan diri. Dan bulan bersembunyi, kau tahu purnama baru saja usai, kau
memaklumi bahwa bulan perlu istirahat dari sinar emasnya.
Dan sejenak sebelum kemunculanmu. Aku
menunggu. Di sini. Di pojok portal yang memisahkan motorku dengan rumahmu. Kurasai
angin dingin menyeruak celah-celah sempit diantara kain yang melindungi
tubuhku, merasuk menggamit tulangku yang bergemeletuk menahan pegal. Kau tak
tahu betapa aku berjuang mencapai rumahmu. Hari telah larut, semua portal telah
ditutup. Setengah jam aku berputar-putar mencari celah untuk menemuimu segera. Aku
terburu, aku tahu terburu itu tak baik, tapi aku tak dapat menahan
keterburuanku untuk menemuimu. Aku berputar-putar tak ubahnya kelelawar malam
mencari makan. Dengan perasaan khawatir, karena bensin di motorku tak mungkin
bertahan hingga jauh. Dan betapa leganya setelah kutemukan celah tanpa portal
untuk menuju rumahmu. Dengan lega aku tiba, memintamu untuk menemuiku di ujung
jalan ini, karena motorku tak mampu melompati portal terakhir lorong rumahmu.
Sembari menantimu keluar. Aku telah siapkan
sebuah kotak dan sebuah roll tart
kecil yang baru saja aku beli dengan harga murah. Aku sedang berhemat, kau
tahu. Sekilas, kudengar langit bicara, lekaslah!
aku akan menggelapkan diriku semakin gelap, jangan kau tenggelam terlalu larut,
karena aku bisa menelanmu dalam gelap malamku. Dan kudapati lorong ini sepi
sungguh. Hanya kucing liar yang berkuasa atas tong sampah, hewan terbang malam
serupa kelelawar yang berputar-putar, serta suara serangga malam yang bernyanyi
mengantarku.
Kau keluar, kusiapkan kotak kado dan roll tart.
“Tet?”, kau memanggilku yang sedang
bersembunyi di balik tembok pembatas jalan. Tak kau tahu, aku sedang bersiap
menyodorkan kotak kado dan roll tart-ku.
Kau berjalan semakin dekat, melongok
mencariku. Hendak kuucapkan ‘Happy
Birthday Kupret’ dengan heboh, tapi… argh…
aku hanya sanggup menyungging senyum. Senyumku selebar-lebarnya. Tanganku lurus
ke depan menyerahkan kotak kado dan roll
tart mungilku padamu. Kau menutup mulutmu, kulihat ada segenggam gejolak
pada sirat wajahmu, bola matamu berkilau oleh air. Tapi kau menahannya, tak
menumpahkan air itu.
Aku mencoba membuka mulutku, hendak
berucap selamat, tapi aku tak mampu. Sudah tak mampu. Jika aku berani mangap se-centi
saja, aku tahu bukan suara girangku
yang keluar, melainkan air mataku yang pecah menjadi buliran serupa pulp buah jeruk bali.
“Kunteet”, kau masih menutup mulutmu,
tanda kaget, atau haru, atau apalah tak kutahu, yang jelas tak pernah ada
persangkaanmu bahwa aku datang menemuimu hanya untuk sebuah kue dan kado. Kutebak kau haru. “Kuntet jangan bikin aku
nangis lagi, aku udah nangis seharian”
Aku mulai mampu mengeluarkan suara,
“kenapa nangis seharian?”
“Tadi ada perpisahan juga sama
temen-temen asrama”
Aku tersenyum. Aku tahu ini adalah hari
terakhirmu tinggal di asrama, sebelum kau berangkat ke Flores untuk KKN
PPM. Dan karena itulah aku tak mau
melewatkan malam ini tanpamu. Kau berangkat esok pagi, dan kembali di bulan
depan. Padahal beberapa minggu lagi aku sudah harus meninggalkan tanah
Ngayogyakarta Hadiningrat, untuk melanjutkan studi-ku di Sorbone. Aku bersiaga jika mungkin ini pertemuan
terakhir kita untuk selamanya. Karena itu aku datang untukmu. Sungguh tanpa
ingin menangis. Tapi detik ini pecahlah tangisku, meski ku tahan.
Kau menggamit pundakku, menarikku, dan
memelukku erat. Aku pun begitu. Bulir telaga di mata kita telah mengamuk ingin
di keluarkan. Aku tetap berusaha mencegahnya. Sedikit aku malu untuk menangis,
entah menangisimu atau menangisiku. Kau pun mungkin telah lelah menangis.
Pelukanmu begitu lama. Kita erat, tak
kuasa tubuh kita saling bergerak. Seperti akar-akar bakau menjalari seluruh
ototku. Pelan bunga sakura berjatuhan di musim semi hatiku. Aku merasai
memoriku saat pertama kita bertemu, pelan kuingat, pelan kukecap, pelan
kutengok masa lalu, ah sudahlah aku
lupa bagaimana kita bertemu. Tapi aku selalu mengingat kejadian setelahnya.
Saat kita bertengkar karena tak merasa saling cocok lagi. Saat bagiku aku bosan
mendengar curhatmu tentang ini, itu, dan dia. Saat kau merasa aku terlalu kekanakan
terhadap masalahku. Kita dikungkung permusuhan beberapa hari. Lalu entah apa
yang menyatukan kita lagi, rupanya kita tak sanggup bertengkar lama. Seusai pertengakaran,
semakin dalam lubang menganga di hatiku untuk diisi cintamu. Cintamu yang hangat,
yang menyadarkanku dari fatamorgana saat aku jatuh cinta pada laki-laki,
cintamu yang dingin yang membekukanku saat aku terbakar amarah, cintamu yang
bisa berubah sesuai keinginan kita. Hingga kita mampu saling menjaga hidup
masing-masing di dunia yang menyeramkan ini.
Pantaslah bulan tak bersapa malam ini,
tahu ia rupanya akan keharuan kita. Ia takut akan iri dengan persahabatan kita.
Dan kau masih memelukku. Kuingat lagi saat kita tertawa bersama, saat kau
mengalungkan lenganmu ke pundakku, saat jemarimu menggamit makananku lalu kita saling
berebut. Saat aku sedang sendiri lalu kau menghampiri, saat aku sedang gundah
lalu kau datang dengan gagah menawarkan cerah, saat aku sedang memeluk peliknya
dilema lalu kau duduk di sampingku menyuguhkan pertolongan yang mengesimakan.
Saat tanganku yang kulai kau raih dan kita berlari melintasi jembatan takdir
bersama.
Kau melepas pelukanmu, aku pun begitu.
“Tet, emang kita nggak akan ketemu lagi ya Tet?”, tanyamu seraya
menahan telaga itu kabur dari pelupuk matamu.
“Semoga someday ya Pret… gue berangkat pas lo KKN Pret”
“Kunteeet… makasih ya Teeet”, kau
menggenggam kotak kadoku.
Aku hanya tersenyum. “Eh, foto yuk,
mungkin aja the last nih, sebelum gue
pergi”
Jeprat
jepret jeprat jepret tak ubahnya cover girl majalah remaja
kita berganti-ganti gaya. Sejenak kita memandangi ekspresi bodoh kita yang
terabadi di camera digital-mu.
Kau melengkungkan bibirmu ke bawah,
“sekarang nggak ada Kuntet sama
Kupret lagi deh Tet kalau kita pisah jauh banget”
“Kita akan selalu ada Pret”, aku
tersenyum lagi, tak banyak kata yang mampu aku suarakan, meskipun buncahan
hatiku mengepul-ngepul minta diledakkan, tapi kepulan itu akhirnya menguap
bersama udara.
***
Pesawatku telah tinggal
landas kabur dari landasan pacu. Pret, aku
sedang duduk di sini memandangi jendela. Kamu di Flores lagi apa? Jendela
pesawat basah oleh sedihku. Kulihat pijakan telah jauh. Akankah pesawatku
melewati langit tepat di atas
tempatmu bernaung? Apakah kau akan melihat pesawat ini? Lalu melambai padaku?
Ah, mustahil. Di ujung bumi mana kau berada, dan ke ujung bumi mana aku menuju.
Pret,
lo sahabat gue. Lo nggak perlu hadir dalam hari-hari gue atau detik-detik gue
yang sekarang gue habisin di negeri orang.
Gue
tahu, lo nggak bisa selalu ada buat gue. Tapi it’s ok, cukup gue tahu bahwa lo sayang
gue dan gue juga sayang lo. Maka persahabatan kita nggak akan pernah mati.
Gue
tahu, gue nggak akan selalu klop sama lo, tapi cukup gue paham bahwa sahabat
itu cuma butuh pengertian dan toleransi.
Gue
tahu, nggak akan selamanya gue bisa ngelihat wujud lo, mungkin gue yang akan
terlempar jauh atau lo yang akan hilang dalam pusaran -seperti sekarang-, tapi
cukup gue tahu bahwa gue bisa mengukir nama lo di hati gue selamanya.
Cukup
gue simpan perasaan di hati gue, bahwa gue sayang lo. Maka lo akan selalu ada.
Dan kita akan selalu ada.
(dan
gue tulis ini dengan linangan air mata yang sekuat kemampuan gue tahan)
Pret,
lo nggak perlu balas cinta gue jika lo nggak berkenan. Cukup gue punya cinta
ini untuk melengkapi gue. Gue bahagia pernah mengenal lo. Dan gue yakin, kita
akan selalu ada.
Kuntet