Selasa, 02 Juli 2013

Serabi Ngampin

monat on wiskul
Sore ini adalah sore yang sama, saat rintik-rintik air langit menetaskan lagu keharmonisan gradasi warna alam ambarawa. Sore yang sama, saat hawa dingin menyeruak di sela-sela tulang rusuk dan menggigit ujung jemari. Sore yang sama, saat wanginya aroma minyak wangi menyibak bulu-bulu hidungku. Sore yang sama, saat hangatnya serabi santan mengguyur lidah para pelanggan. Sore yang sama, saat aku bersamamu. Di sini. Di warung serabi ngampinku yang sempit.
Kau duduk tanpa suara –seperti biasa-, menikmati kue serabiku dengan penghayatan sedalam samudra hitam. Matamu mengamati setiap celah kelezatan yang menggamit tubuhmu untuk datang kemari lagi, ke warungku. Ya, kau selalu memilih warung serabiku daripada warung serabi lain yang banyak berjajar di daerah ini. Kaulah yang membuat emak-ku senang, karena kau berhasil membuat aku mau menjaga warung serabi Ngampin di sore dan malam hari, sehingga emak bisa beristirahat dan membuat serabi lagi untuk keesokan harinya.
Sore hari, tak pernah sekali juga aku datang terlambat, takut engkau terlewat dan tak mendapati alis tegasmu yang memberi janji. Senyum manismu padaku yang membuncahkan gejolak dada. Dan buku-buku jemarimu yang kuat mencengkeram perasaanku hingga menjadi tak jelas. Kau datang, dan kemudian pergi. Memesan satu mangkuk serabi, lalu memakannya dengan sangat lama. Dan aku jelas sadar betul bahwa sedari kau makan, kau tak pernah mengalihkan pandanganmu selain dari aku. Sesekali aku pun memandangmu, kau menyunggingkan senyum yang meruntuhkan benteng pertahananku, lalu aku menyerah dengan senyum yang sama. Dari situlah, cinta itu menyambut untuk ditumbuhkan oleh kita berdua.
Dan sore ini, adalah sore yang sama. Aku tak mampu beralih dari wajahmu yang kali ini memakan serabi dengan lahap, tak seperti biasanya.
“Hemm, enaknya… satu lagi ya… hari ini aku kerja berat, jadi lapar bukan main”, deg. Jantungku berlarian kocar-kacir tak karuan, sore ini meskipun tetap sore yang sama, tapi sore inilah kali pertama aku mendengar suaramu yang lembut namun tegas dan mengecambahkan biji cinta yang tak sengaja tertanam. Aku memberimu senyum, seraya menyerahkan semangkuk serabi untukmu. Kau membalas senyumku dengan sangat manis. Aku terkesima. Ah, aku selalu terkesima.
 Kali ini kau menghabiskan serabimu dengan pelan. Aku duduk diam memandangi jalan raya yang entah kenapa tiba-tiba menjadi lengang. Di seberang aku lihat gunung ungaran sedang bekerja sama dengan awan-awan kemerahan untuk menciptakan langit yang indah di antara rintik hujan ini. Sungguh indah, aku memandangnya dengan takjub, dan yang membuatku merasa semakin puas memandangnya adalah karena aku bersamamu di sini.
“Kamu cantik”, ucapmu tiba-tiba. Jantungku tak lagi terkendali. Kau meletakkan tanganmu di atas punggung tanganku. Angin dingin tiba-tiba berhembus mendirikan bulu kudukku, aku menggigil di sekujur tubuh, kecuali punggung tanganku yang terasa begitu hangat. Kau tersenyum, aku pun begitu. Namun seketika ekspresi wajahku berubah saat kau singkirkan tangamu dariku. Sejenak kemudian kau serahkan uang sepuluh ribuan padaku, aku menerimanya, lalu memberikan kembalian dua ribu rupiah. Sontak kau menggenggamkan kembali uang dua ribuan itu ke tanganku seraya tersenyum, entah genggaman untuk menolak kembalian atau genggaman untuk mendesirkan hatimu dan hatiku. Lama kau menggenggam tanganku tak lepas, darahku seperti mengalir ke bawah dengan deras bagaikan air terjun. Terus mengalir dari kepala menuju pergelangan tangan.
“Mbak serabinya satu porsi dibungkus ya”, suara seorang bapak tua mengagetkan kita. Kau lepas tanganku dan pergi. Dan matamu berjanji, untuk datang lagi esok sore.
***
Sore ini, adalah sore yang sama. Saat aku kembali duduk di balik daganganku, hanya untuk menantimu. Satu jam aku termangu. Dan kau datang dengan motor besarmu. Aku tersenyum. Kau pun tersenyum dengan indahnya. Kau duduk di lesehan warungku, aku menyajikan untukmu semangkuk serabi tanpa banyak berkata-kata. Lalu kau mengambil mangkuk itu dariku, dan dengan sengaja menyentuhkan telapak tanganmu ke telapak tanganku yang sedang memegang mangkuk. Kau makan dengan pelan, pasti kali ini kau tidak bekerja berat lagi, aku membatin. Titik air mata tiba-tiba membasahi pipimu. Aku tersentak, dan dengan refleks aku mengusap air mata itu dari pipimu dengan jemariku yang lentik. Kau tersenyum, namun tetap mengeluarkan air mata. Kau meletakkan mangkuk serabimu di sampingku, tanganmu berpindah ke tanganku yang sedari tadi bertengger di pipimu. Kau menggenggamnya dengan kuat, melepaskan dari pipimu dan menarik tanganku ke bibirmu. Sore ini adalah sore yang sama, namun lebih indah, karena ini adalah kali pertama punggung tanganku dicium olehmu.
Lama sekali, kau masih menggenggam tanganku. Erat. Sangat. Hatiku semakin menjadi-jadi. Sejenak kemudian, kau memakaikan sebuah cincin berwarna keperakan yang sangat indah, ke dalam lingkaran jari manis kananku. Lalu pergi tanpa menghabiskan serabimu. Aku tahu, bahwa itu tanda kau mencintaiku, dan memintaku menunggumu. Aku pun menangis melihat punggungmu yang semakin mengecil di kejauhan.
***
Sore ini adalah sore yang sama, saat rintik hujan telah hilang berganti pelangi yang menghias gunung ungaran. Saat puluhan truk dan kendaraan bermotor berlomba-lomba membunyikan klakson tanda tak sabar. Dunia telah berubah, jalanan kini menjadi semakin penuh, cuaca semakin panas jika siang, dan malam begitu dingin namun gerah. Langit juga tak lagi banyak bintang. Namun bagiku, sore ini adalah sore yang sama, saat aku masih saja menunggumu yang telah lama tak datang. 10 tahun belakangan ini, hatiku gundah menantimu. Cincin darimu masih terpasang di jari manis kananku, berharap suatu saat kau datang menjemputku. Namun, sepuluh tahun kau tak datang, menyisakan kerinduan mendalam untukku.
IMG_20121231_165708[1]
Aku terus meratapimu, meski hari demi hari, telah berlalu dengan sesuka hati, pembeli datang dan pergi, berharap dirimu adalah salah satu dari pembeli itu. Namun kau tak jua ada. Aku semakin tak kuat menahan. Sering aku menangis sendirian di malam yang larut, masih di balik daganganku. Dan aku masih terpancang di warung kursi serabi ngampinku pagi, siang, sore, dan malam, memikirkan sejuta kemungkinan jika kau datang di waktu yang berbeda.  Dan selama itu, entah berapa lamaran pemuda yang aku tolak demi menunggumu, kini aku sudah terlalu tua untuk dilamar orang, maupun untuk mencintai orang. Hanya cinta darimu yang kini sudah tumbuh setinggi langit. Aku merawat dan menjaganya.
Sore ini adalah sore yang sama, saat mobil-mobil berhenti berjajar karena macet, di jalan raya depan warungku. Saat gunung ungaran telah tak nampak lagi, karena polusi yang kini memnuhi rongga udara. Saat akhirnya aku mulai mempertanyakan, cincin perak yang melingkar di jariku ini, apakah ini cincin isyarat untuk menunggu, atau isyarat untuk berpisah. Aku mulai lelah menunggumu, kau jahat, aku mulai benci padamu, kau tak pernah datang lagi dan membiarkan aku sendirian berharap kau datang.
Lamunanku dibuyarkan oleh sebuah mobil hitam yang terparkir di depan warungku. Aku melihat mobil itu sedari tadi berhenti di tengah jalan karena tak bisa menembus macet, lalu akhirnya pemilik mobil memutuskan untuk berbelok ke warungku, pasti ia bosan bersaing dengan truk dan bus-bus. Seorang wanita keluar dari pintu mobil, diikuti dua orang anak usia sekitar lima dan delapan tahun, keduanya laki-laki.
“Empat ya bu”, ujar wanita itu padaku.
“Dibungkus atau dimakan di sini bu?”
“Dimakan di sini”,  lalu sang wanita cantik itu duduk di warungku.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari bangku setir. Memakai jas hitam, dan kemeja dibaliknya sangat rapi.
“Duduk sini pa”, wanita itu berteriak kepada lelaki itu. Aku menyajikan empat mangkuk serabi seraya melirik kepada lelaki itu.
Dan aku menyesal telah melirik. Hatiku hancur, seperti karang tua yang terus menerus diguyur ombak dengan keras selama bertahun-tahun, akhirnya datanglah ombak paling besar yang meruntuhkan karang itu. Kini karang itu luluh lantak tak berbentuk. Kini sang karang telah menyesal karena membiarkan ombak mengguyurnya selama bertahun-tahun. Kini sang karang menyesal karena ia masih terus menunggu ombak reda tanpa melakukan perlawanan apapun.
Hatiku menangis, pelupuk mataku menghangat tak tertahan, lelaki itu adalah dirimu. Bersama istri dan anakmu. Aku benar, kau jahat. Atau aku yang bodoh, harusnya aku tahu air matamu sepuluh tahun yang lalu, cincin perakmu sepuluh tahun yang lalu, adalah tanda perpisahan kita.
Kau melihatku, sedikit tersentak. kenapa kau kaget melihat aku, tidakkah kau sadar aku menunggumu selama itu. Kau mengalihkan pandanganmu kepada anak-anak dan istrimu. Mengambil semangkuk serabi dari tangan istrimu yang halus. Memakannya dengan lahap. Aku dapat melihat matamu berkaca-kaca. Kau menangis. Pasti menangisiku. Apakah tangis itu pertanda kau masih mencintai aku? Aku tak boleh asal mengartikan lagi. Aku tetap tak mampu mencintai orang lain selain dirimu. Tapi aku harus sadar betul kau telah memilih meninggalkanku. Dan aku juga telah memilih untuk… menunggumu. Lagi. Sampai kapan pun itu. Meski kau tak kembali, aku tetap menunggumu. Di balik tumpukan serabi ngampin, khas ambarawa.
 j0hto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar