Selasa, 02 Juli 2013

Kuntet dan Kupret Akan Selalu Ada

Pret, gue mau ke rumah lo, lo belum tidur kan? Bentar aja, mau ngomong sesuatu… tapi lo yang keluar ya nanti, gue keburu…
Kukirim pesan melalui handphone jadul-ku, kucari namamu di kontak telepon : ‘Kupret Pren Baek Aku’. Hahaha, yap, aku suka memberi nama panjang di kontak HP-ku. Apalagi untuk sahabat yang selayaknya dirimu.
Iya, belum. Sini aja. Nanti kalau udah di depan sms aja…
Kau membalasnya.
***
Dan lagi. Kurasai setiap detik yang spesial ketika bersamamu. Seperti malam ini, di bawah sinar lampu jalan yang silau. Berpayungkan langit hitam menawan. Serupa Eboni yang menyuguhkan kelam tegas elegan. Kulihat sejenak kau menengadah, ah… kau pasti mengharap langit kali ini menggembala bintang dan bulan layaknya malam-malam lalu, untuk menambah eksotisme kebersamaan kita. Raut wajahmu tak berubah saat kau tak dapati bintang-bintang itu.  Bintang hanya berupa noktah kecil yang mungkin telah berusaha setengah mati untuk menampakkan diri. Dan bulan bersembunyi, kau tahu purnama baru saja usai, kau memaklumi bahwa bulan perlu istirahat dari sinar emasnya.
Dan sejenak sebelum kemunculanmu. Aku menunggu. Di sini. Di pojok portal yang memisahkan motorku dengan rumahmu. Kurasai angin dingin menyeruak celah-celah sempit diantara kain yang melindungi tubuhku, merasuk menggamit tulangku yang bergemeletuk menahan pegal. Kau tak tahu betapa aku berjuang mencapai rumahmu. Hari telah larut, semua portal telah ditutup. Setengah jam aku berputar-putar mencari celah untuk menemuimu segera. Aku terburu, aku tahu terburu itu tak baik, tapi aku tak dapat menahan keterburuanku untuk menemuimu. Aku berputar-putar tak ubahnya kelelawar malam mencari makan. Dengan perasaan khawatir, karena bensin di motorku tak mungkin bertahan hingga jauh. Dan betapa leganya setelah kutemukan celah tanpa portal untuk menuju rumahmu. Dengan lega aku tiba, memintamu untuk menemuiku di ujung jalan ini, karena motorku tak mampu melompati portal terakhir lorong rumahmu.
Sembari menantimu keluar. Aku telah siapkan sebuah kotak dan sebuah roll tart kecil yang baru saja aku beli dengan harga murah. Aku sedang berhemat, kau tahu. Sekilas, kudengar langit bicara, lekaslah! aku akan menggelapkan diriku semakin gelap, jangan kau tenggelam terlalu larut, karena aku bisa menelanmu dalam gelap malamku. Dan kudapati lorong ini sepi sungguh. Hanya kucing liar yang berkuasa atas tong sampah, hewan terbang malam serupa kelelawar yang berputar-putar, serta suara serangga malam yang bernyanyi mengantarku.
Kau keluar, kusiapkan kotak kado dan roll tart.
“Tet?”, kau memanggilku yang sedang bersembunyi di balik tembok pembatas jalan. Tak kau tahu, aku sedang bersiap menyodorkan kotak kado dan roll tart-ku.
Kau berjalan semakin dekat, melongok mencariku. Hendak kuucapkan ‘Happy Birthday Kupret’ dengan heboh, tapi… argh… aku hanya sanggup menyungging senyum. Senyumku selebar-lebarnya. Tanganku lurus ke depan menyerahkan kotak kado dan roll tart mungilku padamu. Kau menutup mulutmu, kulihat ada segenggam gejolak pada sirat wajahmu, bola matamu berkilau oleh air. Tapi kau menahannya, tak menumpahkan air itu.
Aku mencoba membuka mulutku, hendak berucap selamat, tapi aku tak mampu. Sudah tak mampu. Jika aku berani mangap  se-centi  saja, aku tahu bukan suara girangku yang keluar, melainkan air mataku yang pecah menjadi buliran serupa pulp  buah jeruk bali.
“Kunteet”, kau masih menutup mulutmu, tanda kaget, atau haru, atau apalah tak kutahu, yang jelas tak pernah ada persangkaanmu bahwa aku datang menemuimu hanya untuk sebuah kue dan kado.  Kutebak kau haru. “Kuntet jangan bikin aku nangis lagi, aku udah nangis seharian”
Aku mulai mampu mengeluarkan suara, “kenapa nangis seharian?”
“Tadi ada perpisahan juga sama temen-temen asrama”
Aku tersenyum. Aku tahu ini adalah hari terakhirmu tinggal di asrama, sebelum kau berangkat ke Flores untuk KKN PPM.  Dan karena itulah aku tak mau melewatkan malam ini tanpamu. Kau berangkat esok pagi, dan kembali di bulan depan. Padahal beberapa minggu lagi aku sudah harus meninggalkan tanah Ngayogyakarta Hadiningrat, untuk melanjutkan studi-ku di Sorbone. Aku bersiaga jika mungkin ini pertemuan terakhir kita untuk selamanya. Karena itu aku datang untukmu. Sungguh tanpa ingin menangis. Tapi detik ini pecahlah tangisku, meski ku tahan.
Kau menggamit pundakku, menarikku, dan memelukku erat. Aku pun begitu. Bulir telaga di mata kita telah mengamuk ingin di keluarkan. Aku tetap berusaha mencegahnya. Sedikit aku malu untuk menangis, entah menangisimu atau menangisiku. Kau pun mungkin telah lelah menangis.
Pelukanmu begitu lama. Kita erat, tak kuasa tubuh kita saling bergerak. Seperti akar-akar bakau menjalari seluruh ototku. Pelan bunga sakura berjatuhan di musim semi hatiku. Aku merasai memoriku saat pertama kita bertemu, pelan kuingat, pelan kukecap, pelan kutengok masa lalu, ah sudahlah aku lupa bagaimana kita bertemu. Tapi aku selalu mengingat kejadian setelahnya. Saat kita bertengkar karena tak merasa saling cocok lagi. Saat bagiku aku bosan mendengar curhatmu tentang ini, itu, dan dia. Saat kau merasa aku terlalu kekanakan terhadap masalahku. Kita dikungkung permusuhan beberapa hari. Lalu entah apa yang menyatukan kita lagi, rupanya kita tak sanggup bertengkar lama. Seusai pertengakaran, semakin dalam lubang menganga di hatiku untuk diisi cintamu. Cintamu yang hangat, yang menyadarkanku dari fatamorgana saat aku jatuh cinta pada laki-laki, cintamu yang dingin yang membekukanku saat aku terbakar amarah, cintamu yang bisa berubah sesuai keinginan kita. Hingga kita mampu saling menjaga hidup masing-masing di dunia yang menyeramkan ini.
Pantaslah bulan tak bersapa malam ini, tahu ia rupanya akan keharuan kita. Ia takut akan iri dengan persahabatan kita. Dan kau masih memelukku. Kuingat lagi saat kita tertawa bersama, saat kau mengalungkan lenganmu ke pundakku, saat jemarimu menggamit makananku lalu kita saling berebut. Saat aku sedang sendiri lalu kau menghampiri, saat aku sedang gundah lalu kau datang dengan gagah menawarkan cerah, saat aku sedang memeluk peliknya dilema lalu kau duduk di sampingku menyuguhkan pertolongan yang mengesimakan. Saat tanganku yang kulai kau raih dan kita berlari melintasi jembatan takdir bersama.
Kau melepas pelukanmu, aku pun begitu. “Tet, emang kita nggak  akan ketemu lagi ya Tet?”, tanyamu seraya menahan telaga itu kabur dari pelupuk matamu.
“Semoga someday ya Pret… gue berangkat pas lo KKN Pret”
“Kunteeet… makasih ya Teeet”, kau menggenggam kotak kadoku.
Aku hanya tersenyum. “Eh, foto yuk, mungkin aja the last nih, sebelum gue pergi”
Jeprat jepret jeprat jepret tak ubahnya cover girl  majalah remaja kita berganti-ganti gaya. Sejenak kita memandangi ekspresi bodoh kita yang terabadi di camera digital-mu.
Kau melengkungkan bibirmu ke bawah, “sekarang nggak ada Kuntet sama Kupret lagi deh Tet kalau kita pisah jauh banget”
“Kita akan selalu ada Pret”, aku tersenyum lagi, tak banyak kata yang mampu aku suarakan, meskipun buncahan hatiku mengepul-ngepul minta diledakkan, tapi kepulan itu akhirnya menguap bersama udara.
***
Pesawatku telah tinggal landas kabur dari landasan pacu. Pret, aku sedang duduk di sini memandangi jendela. Kamu di Flores lagi apa? Jendela pesawat basah oleh sedihku. Kulihat pijakan telah jauh. Akankah pesawatku melewati langit tepat di atas tempatmu bernaung? Apakah kau akan melihat pesawat ini? Lalu melambai padaku? Ah, mustahil. Di ujung bumi mana kau berada, dan ke ujung bumi mana aku menuju.

Pret, lo sahabat gue. Lo nggak perlu hadir dalam hari-hari gue atau detik-detik gue yang sekarang gue habisin di negeri orang.
Gue tahu, lo nggak bisa selalu ada buat gue. Tapi it’s ok, cukup gue tahu bahwa lo sayang gue dan gue juga sayang lo. Maka persahabatan kita nggak akan pernah mati.
Gue tahu, gue nggak akan selalu klop sama lo, tapi cukup gue paham bahwa sahabat itu cuma butuh pengertian dan toleransi.
Gue tahu, nggak akan selamanya gue bisa ngelihat wujud lo, mungkin gue yang akan terlempar jauh atau lo yang akan hilang dalam pusaran -seperti sekarang-, tapi cukup gue tahu bahwa gue bisa mengukir nama lo di hati gue selamanya.
Cukup gue simpan perasaan di hati gue, bahwa gue sayang lo. Maka lo akan selalu ada. Dan kita akan selalu ada.
(dan gue tulis ini dengan linangan air mata yang sekuat kemampuan gue tahan)
Pret, lo nggak perlu balas cinta gue jika lo nggak berkenan. Cukup gue punya cinta ini untuk melengkapi gue. Gue bahagia pernah mengenal lo. Dan gue yakin, kita akan selalu ada.

Kuntet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar