Senyumnya lebar. Sangat ceria. Hatinya
lembut seperti sutra. Adabnya baik santun ramah dan penyayang. Mudah bergaul
namun tetap lembut bersikap. Kulitnya putih cerah menyibak kekusaman dunia.
Bibirnya merah muda, selalu tersenyum manis menyambut pahit getir maupun gegap
bahagia dunianya. Alis matanya hitam tegas terpisah, membingkai mata yang agak
sipit. Air mukanya selalu cerah, meskipun sedih sering menggelayuti hatinya.
Namanya Dea. Gadis itu berjilbab rapi, pakaiannya selalu longgar, tak pernah
menunjukkan lekuk tubuhnya. Justru itu yang memikatku. Auranya. Inner beauty-nya. Selalu menginspirasi.
“Irham, boleh pinjem catetannya?”,
hatiku berdesir bahagia, saat ia duduk di sampingku.
“Tapi tulisanku jelek De”, ujarku
malu-malu.
“Nggak
apa-apa, aku bisa baca kok”, dia tersenyum. Lebih dari cantik. Tak
terkatakan.
Aku menyodorkan catatanku. Dia mencatat
dengan tekun. Fokus. Sefokus mataku yang memperhatikannya. Indah. Pualam hidup.
“Eh ini maksudnya apa?”, ia menatapku,
aku sudah sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang mungkin aneh, langsung aku
mengganti isyarat mataku. Lalu mengalihkan pandanganku ke buku catatanku.
“Hehe, aku nulisnya singkat-singkat
pakai skema, itu maksudnya dari bahan itu menghasil kan produk sisa ini”,
tanganku menunjuk-nunjuk buku catatan, ia memperhatikan, kepala kami sangat
dekat. “Nah, produk sisa ini, difiltrasi hasilnya ke sini”, aku tak ingin moment ini berakhir.
“Oh, oke”, dia melanjutkan menulis, aku
memperhatikannya lagi. “Aku tadi mau nyatet tapi bingung. Aku nggak pernah bisa paham sama yang diomongin
bapaknya. Aku nggak ngerti deh kalau
besok kuis aku bakal gimana”, ia masih terus menulis.
“Mau belajar bareng?”, cerdas. Aku
menangkap peluang.
Dia mendongak menatapku. “Emm, mau sih,
tapi aku agak lemot mikirnya buat mata kuliah yang satu ini. Takutnya kamu
nanti jadi jengkel ngajarin aku nggak bisa-bisa”
“Nggak
akan”, ujarku jujur.
***
Aku menatapnya lagi. Aku sebisa mungkin
memanfaatkan kesempatan untuk mendalami wajahnya saat ia sedang fokus menulis.
“Oke, aku ngerti sekarang”, ia menghela
nafas, “haaah… makasih banget ya Ham, aku jadi semangat buat kuis besok”, ia
tersenyum.
“Laper nggak?”, terucap spontan dari mulutku.
Ia mendongak, agak kaget. Aku deg-degan dengan ekspresinya itu, aduh salah ngomong. Lalu ia tersenyum, “banget!”, katanya seraya
mengangguk mantab.
Hari telah meredup. Kami berjalan di
lorong sempit, menuju warung batagor di ujung gang.
“Kamu di kelas cuma tidur dan ngelamun.
Kok kamu bisa paham semua yang diajarin di kelas sih?”
“Haha, nggak tahu”, aku tersenyum, “itu warungnya, cuma warung tenda kecil
gitu, nggak pa-pa?”
“Hahaha, ngaak pa-pa lah… aku biasa kok makan dimana aja”
“Hahaha, kirain kan biasanya makan di
tempat mahal”
Kami menenteng sepiring batagor dan segelas
es jeruk. Kami membawanya ke tengah taman kompleks, dibawah sinar lampu taman
yang agak remang-remang.
“Eh!”, tiba-tiba Dea bersuara di tengah
gigitan pertamanya, “enak banget!”
“Ha?”
“Iya, beneran deh, nggak pernah aku makan
batagor yang seenak ini”
“Hahaha, lebay”
“Beneran asli”
Kami menghabiskan batagor itu dengan
kilat, doyan dan lapar.
“Ini pertama kalinya aku ngehabisin
makananku, hehehe”, ia terkekeh.
“Ha?”
“Iya, karena ini enak banget, padahal
biasanya aku udah nyerah di suapan ke tujuh atau ke sepuluh deh maksimal”
“Padahal kamu kalo nyuap dikit-dikit
gitu”
“Iya, aku beneran susah banget buat
nelan, mual, hehe”
“Punya maagh?”
“Kok tahu?”
“Kan katanya tadi mual”
“Hehehe, iya, nggak cuma maagh, macem-macem aku sakitnya”
“Eh? Apa aja?”
“Ah udah deh, nggak usah bahas yang nggak menyenangkan ya sekarang, hehehe”, ia tersenyum
manis sekali.
“Tapi nggak bahaya kan?”
Ia hanya tersenyum.
Keesokan harinya ia berlari
menghampiriku yang sedang stress di
depan laptop di gazebo halaman kampus kami. “Yuk aku traktir batagor dekat
kompleks kos-mu”, ia tersenyum padaku. Wah,
obat stress datang menghampiri, indahnya dunia. Senyumnya selalu membuatku…
tak mampu mengingat kesedihan atau pun kepenatan.
“Sekarang?” tanyaku seraya men-shut down laptopku. Ia mengangguk mantap
sambil tetap tersenyum. Senangnya aku, aku merasa kami semakin dekat. Tak
pernah aku seakrab ini dengan dia.
“Itu warungnya baru buka jam 5 sore De,
ini masih jam 3”, ujarku berharap ia mengajakku ke tempat lain,selain hanya
buka malam, batagor itu sudah eneg di
lidahku. Bosan.
Raut mukanya berubah ditekuk, ah, aku
tak tahan ingin membuatnya tersenyum lagi, tak tahan melihat ia sedih atau
kesal. “Kita cari batagor yang lain yuk?”
“Aku nggak
terlalu suka batagor sebenernya, tapi batagor yang deket kompleksmu enak
banget”
“Oh gitu… mau makan yang lain aja?”
“Kita jalan-jalan dulu aja yuk, sambil
nunggu jam 5, ke taman kota, mau nggak?
Aku yang traktir naik semua wahana”, ia tersenyum lagi. Parah. Hati dan
jantungku tak terkendali, jalan-jalan ke taman kota dengan Dea. Mimpi apa aku.
Setahun aku menyimpan perasaanku terhadapnya. Tiba-tiba tanpa effort Dea dekat padaku. Tanpa effort juga aku bisa berjalan-jalan
dengan dia ke taman kota, lalu makan batagor di tengah taman kompleks, di bawah
sinar bintang dan bulan. Romantis.
“Tapi kamu nggak laper nunggu sampe jam 5?”
“Kamu? udah laper?”
“Belum sih, aku baru aja makan burger”
“Aku juga nggak terlalu laper kok”,
tersenyum lagi. Astaga. Senyumnya. “Gimana? mau nggak ke taman kota?”
“Mau banget”, aku mengangguk mantab.
kami beranjak, berjalan kaki. taman kota
dan kosku tak jauh dari kampus kami.
Sesampainya kami di loket, aku mengeluarkan
uang lima puluh ribuan. Dia menghalangi tanganku. Tanganku disentuh olehnya.
Membeku bagain patung es. Hatiku berdesir.
“Kan aku yang traktir”, ia tersenyum.
terus terus terus memberiku senyum. Senyum yang membuat aku tak bisa melakukan
apa-apa.
Kami masuk ke area taman kota, Dea
langsung berlari menghampiri bianglala, dan yang aku tak percaya adalah, ia
menarik lenganku. Sungguh beruntung.
Kami berada di puncak putaran bianglala.
“Eh, aku mau tanya dari tadi lupa terus”, terang saja aku lupa terus, Dea
senyum terus, membuatku lupa semuanya, “kamu kenapa traktir aku?”
“Oh.. hehehe”, dia terkekeh, tapi kesan
santun tak hilang dari dirinya, “tadi aku bisa ngerjain kuisnya”, ia tersenyum.
Tersenyum lagi.
“Oh, wah, selamat ya”
“Berkat kamu”, tersenyum lagi. Tewas aku
lama-lama melihat senyumnya.
“Hehe, eh tapi kan, nilainya belum
keluar, belum tahu hasilnya”
“Nggak
pa-pa, aku udah puas sama hasil
kerjaku”, senyumnya tersungging lagi. aku sudah jauh melayang terbang tinggi.
Berjam-jam kami habiskan di taman kota,
naik bianglala, komedi putar, makan es krim, foto-foto. Tanpa sadar, malam
telah bergaung sejak satu jam yang lalu. kami mulai kelaparan. Dan tak ada
tujuan kami yang lain selain warung batagor dekat kompleksku. Warung batagor
yang membosankan bagiku, tapi akan indah dan lezat jika kulalui bersama Dea.
“Makasih ya udah mau jadi sahabat aku”,
katanya tiba-tiba, di bawah lampu sinar lampu taman kompleksku. Batagornya
sudah ludes.
Aku tersenyum, membalas senyum indahnya.
***
Pagi ini aku lalui dengan semangat
membara. Aku telah menyiapkan sekotak cokelat dan sebuah kalung untuk Dea.
Target hari ini : pacaran dengan Dea. Aku mencintai Dea, sangat. Aku berjingkat
ke kampus, berjalan kakai dengan bersiul. Memasuki gerbang kampus dengan
bahagia, memasuki ruang kelas dengan sumringah, menyapukan mata ke seluruh
ruang kelas. Tak ada Dea. Mungkin Dea telat.
Aku duduk di bangku belakang, berharap
bisa merekam kedatangan Dea, dan mendeteksi lokasi duduknya Dea. Dosen kami
yang menyebalkan memasuki ruangan. Berkoar-koar entah apa di depan kelas, dan
aku tak memedulikannya. Berlangsung
sekian lama, dan akhirnya selesai seiring bangunnya aku dari tidurku di kursi
belakang. Lagi aku menyapukan pandangan, Dea tak ada.
Seharian aku lalui dengan hambar, aku
lalu lalang di kampus sendirian. Makan di kampus sendirian, ke perpustakaan sendirian,
ke gazebo sendirian, kamana pun sendirian. Mataku masih berkeliling mencari
Dea. Dea tak muncul juga. Hari ini dia tidak masuk. Baiklah senjata
penembakanku akan kusimpan sampai besok.
***
Sudah seminggu, Dea tidak masuk. Aku
sebenarnya tidak terlalu bertanya-tanya, karena Dea sering sekali moody dalam masuk kuliah. Dia sering
tidak masuk tiga hari, empat hari, lima hari, dan sekarang sudah seminggu.
Cokelatku sudah leleh. Kemana Dea sebenarnya, aku tak tahan untuk menghubungi
Dea. Sejauh ini aku menahan jariku agar tidak mengirim sms atau pun menelepon
dia. Aku tidak boleh terlalu mengganggunya. Selain itu, menghubunginya juga
membuatku semakin tidak tahan ingin bertemu dan aku bisa stress kalau tidak kunjung bertemu dengan dia. Walaupun sebenarnya
tidak berkomunikasi dengan dia sangat lama akan membuat hatiku galau, gundah,
gulana.
‘Dea,
lama banget nggak masuk? J
ketinggalan banyak materi lhoh…’ sms itu terkirim dari
HP-ku menuju ke nomor Dea.
Aku menunggu balasannya. Satu jam. Dua
jam. Tiga jam. Dua puluh empat jam. Empat puluh delapan jam. Dan seterusnya.
Dia tidak membalas. Aku ragu, apakah aku harus menelepon.
Tililit
tililit tililit tililit, HP-ku berbunyi. Sms masuk. Kubuka dengan
semangat, aku berharap berharap Dea yang mengirim pesan untukku. Opening
new messages, tulisan di HP-ku berputar-putar, lama sekali, membuatku ingin
membanting HP ini.
Malina. Teman sekelasku. Bukan Dea.
Wajahku murung. Kubuka dengan lemas dan malas.
Inalillahi wa ina ilaihi roji’un. Telah
meninggal sahabat kita Dea Rizkia Nurbiantoro, dikarenakan kanker sumsum tulang
belakang, yang ternyata udah diderita selama satu setengah tahun. Meninggal di
Rumah Sakit Umum Daerah, pagi ini jam 2. Jenazah dimakamkan siang ini di
rumahnya, kompleks perumahan Gebang Ayu, jalan kepodang nomor 5. Buat temen2
yang mau dateng, kita kumpul di kampus jam 1, jangan lupa bawa kendaraan
sendiri2, yang ga punya motor, Ardi n Tia bawa mobil, langsung sms ke yang
bersangkutan ya. Tengkyu.
Bagaikan karang raksasa bertepi tajam,
menghantam hatiku, sampai luka-luka berdarah. Diiringi dengan guyuran ombak air
asin yang menambah perih lukaku yang mendalam. Air mataku pecah. Seiring
cintaku yang juga pecah, tinggal kepingan. Cinta yang harus aku kubur
dalam-dalam.
Makasih
ya udah mau jadi sahabat aku, masih mengiangi telingaku.
Senyumnya, masih membayangi mataku. Sentuhan tangannya di lenganku saat ia
menggandengku, masih berbekas terasa. Dan foto kami di taman kota, masih
terpampang sebagai background desktop laptop
dan HP-ku. Tak lepas mataku memandangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar