Selasa, 02 Juli 2013

Senyum Dea


Senyumnya lebar. Sangat ceria. Hatinya lembut seperti sutra. Adabnya baik santun ramah dan penyayang. Mudah bergaul namun tetap lembut bersikap. Kulitnya putih cerah menyibak kekusaman dunia. Bibirnya merah muda, selalu tersenyum manis menyambut pahit getir maupun gegap bahagia dunianya. Alis matanya hitam tegas terpisah, membingkai mata yang agak sipit. Air mukanya selalu cerah, meskipun sedih sering menggelayuti hatinya. Namanya Dea. Gadis itu berjilbab rapi, pakaiannya selalu longgar, tak pernah menunjukkan lekuk tubuhnya. Justru itu yang memikatku. Auranya. Inner beauty­-nya. Selalu menginspirasi.
“Irham, boleh pinjem catetannya?”, hatiku berdesir bahagia, saat ia duduk di sampingku.
“Tapi tulisanku jelek De”, ujarku malu-malu.
Nggak apa-apa, aku bisa baca kok”, dia tersenyum. Lebih dari cantik. Tak terkatakan.
Aku menyodorkan catatanku. Dia mencatat dengan tekun. Fokus. Sefokus mataku yang memperhatikannya. Indah. Pualam hidup.
“Eh ini maksudnya apa?”, ia menatapku, aku sudah sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang mungkin aneh, langsung aku mengganti isyarat mataku. Lalu mengalihkan pandanganku ke buku catatanku.
“Hehe, aku nulisnya singkat-singkat pakai skema, itu maksudnya dari bahan itu menghasil kan produk sisa ini”, tanganku menunjuk-nunjuk buku catatan, ia memperhatikan, kepala kami sangat dekat. “Nah, produk sisa ini, difiltrasi hasilnya ke sini”, aku tak ingin moment ini berakhir.
“Oh, oke”, dia melanjutkan menulis, aku memperhatikannya lagi. “Aku tadi mau nyatet tapi bingung. Aku nggak  pernah bisa paham sama yang diomongin bapaknya. Aku nggak ngerti deh kalau besok kuis aku bakal gimana”, ia masih terus menulis.
“Mau belajar bareng?”, cerdas. Aku menangkap peluang.
Dia mendongak menatapku. “Emm, mau sih, tapi aku agak lemot mikirnya buat mata kuliah yang satu ini. Takutnya kamu nanti jadi jengkel ngajarin aku nggak bisa-bisa”
Nggak akan”, ujarku jujur.
***
Aku menatapnya lagi. Aku sebisa mungkin memanfaatkan kesempatan untuk mendalami wajahnya saat ia sedang fokus menulis.
“Oke, aku ngerti sekarang”, ia menghela nafas, “haaah… makasih banget ya Ham, aku jadi semangat buat kuis besok”, ia tersenyum.
“Laper nggak?”, terucap spontan dari mulutku.
Ia mendongak, agak kaget. Aku deg-degan  dengan ekspresinya itu, aduh salah ngomong. Lalu ia tersenyum, “banget!”, katanya seraya mengangguk mantab.
Hari telah meredup. Kami berjalan di lorong sempit, menuju warung batagor di ujung gang.
“Kamu di kelas cuma tidur dan ngelamun. Kok kamu bisa paham semua yang diajarin di kelas sih?”
“Haha, nggak tahu”, aku tersenyum, “itu warungnya, cuma warung tenda kecil gitu, nggak pa-pa?”
“Hahaha, ngaak pa-pa lah… aku biasa kok makan dimana aja”
“Hahaha, kirain kan biasanya makan di tempat mahal”
Kami menenteng sepiring batagor dan segelas es jeruk. Kami membawanya ke tengah taman kompleks, dibawah sinar lampu taman yang agak remang-remang.
“Eh!”, tiba-tiba Dea bersuara di tengah gigitan pertamanya, “enak banget!”
“Ha?”
“Iya, beneran deh, nggak  pernah aku makan batagor yang seenak ini”
“Hahaha, lebay
“Beneran asli”
Kami menghabiskan batagor itu dengan kilat, doyan dan lapar.
“Ini pertama kalinya aku ngehabisin makananku, hehehe”, ia terkekeh.
“Ha?”
“Iya, karena ini enak banget, padahal biasanya aku udah nyerah di suapan ke tujuh atau ke sepuluh deh maksimal”
“Padahal kamu kalo nyuap dikit-dikit gitu”
“Iya, aku beneran susah banget buat nelan, mual, hehe”
“Punya maagh?”
“Kok tahu?”
“Kan katanya tadi mual”
“Hehehe, iya, nggak cuma maagh, macem-macem aku sakitnya”
“Eh? Apa aja?”
“Ah udah deh, nggak usah bahas yang  nggak  menyenangkan ya sekarang, hehehe”, ia tersenyum manis sekali.
“Tapi nggak bahaya kan?”
Ia hanya tersenyum.
Keesokan harinya ia berlari menghampiriku yang sedang stress di depan laptop di gazebo halaman kampus kami. “Yuk aku traktir batagor dekat kompleks kos-mu”, ia tersenyum padaku. Wah, obat stress datang menghampiri, indahnya dunia. Senyumnya selalu membuatku… tak mampu mengingat kesedihan atau pun kepenatan.
“Sekarang?” tanyaku seraya men-shut down laptopku. Ia mengangguk mantap sambil tetap tersenyum. Senangnya aku, aku merasa kami semakin dekat. Tak pernah aku seakrab ini dengan dia.
“Itu warungnya baru buka jam 5 sore De, ini masih jam 3”, ujarku berharap ia mengajakku ke tempat lain,selain hanya buka malam, batagor itu sudah eneg di lidahku. Bosan.
Raut mukanya berubah ditekuk, ah, aku tak tahan ingin membuatnya tersenyum lagi, tak tahan melihat ia sedih atau kesal. “Kita cari batagor yang lain yuk?”
“Aku nggak terlalu suka batagor sebenernya, tapi batagor yang deket kompleksmu enak banget”
“Oh gitu… mau makan yang lain aja?”
“Kita jalan-jalan dulu aja yuk, sambil nunggu jam 5, ke taman kota, mau nggak? Aku yang traktir naik semua wahana”, ia tersenyum lagi. Parah. Hati dan jantungku tak terkendali, jalan-jalan ke taman kota dengan Dea. Mimpi apa aku. Setahun aku menyimpan perasaanku terhadapnya. Tiba-tiba tanpa effort Dea dekat padaku. Tanpa effort juga aku bisa berjalan-jalan dengan dia ke taman kota, lalu makan batagor di tengah taman kompleks, di bawah sinar bintang dan bulan. Romantis.
“Tapi kamu nggak laper nunggu sampe jam 5?”
“Kamu? udah laper?”
“Belum sih, aku baru aja makan burger”
“Aku juga nggak  terlalu laper kok”, tersenyum lagi. Astaga. Senyumnya. “Gimana? mau nggak  ke taman kota?”
“Mau banget”, aku mengangguk mantab.
kami beranjak, berjalan kaki. taman kota dan kosku tak jauh dari kampus kami.
Sesampainya kami di loket, aku mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Dia menghalangi tanganku. Tanganku disentuh olehnya. Membeku bagain patung es. Hatiku berdesir.
“Kan aku yang traktir”, ia tersenyum. terus terus terus memberiku senyum. Senyum yang membuat aku tak bisa melakukan apa-apa.
Kami masuk ke area taman kota, Dea langsung berlari menghampiri bianglala, dan yang aku tak percaya adalah, ia menarik lenganku. Sungguh beruntung.
Kami berada di puncak putaran bianglala. “Eh, aku mau tanya dari tadi lupa terus”, terang saja aku lupa terus, Dea senyum terus, membuatku lupa semuanya, “kamu kenapa traktir aku?”
“Oh.. hehehe”, dia terkekeh, tapi kesan santun tak hilang dari dirinya, “tadi aku bisa ngerjain kuisnya”, ia tersenyum. Tersenyum lagi.
“Oh, wah, selamat ya”
“Berkat kamu”, tersenyum lagi. Tewas aku lama-lama melihat senyumnya.
“Hehe, eh tapi kan, nilainya belum keluar, belum tahu hasilnya”
Nggak  pa-pa, aku udah puas sama hasil kerjaku”, senyumnya tersungging lagi. aku sudah jauh melayang terbang tinggi.
Berjam-jam kami habiskan di taman kota, naik bianglala, komedi putar, makan es krim, foto-foto. Tanpa sadar, malam telah bergaung sejak satu jam yang lalu. kami mulai kelaparan. Dan tak ada tujuan kami yang lain selain warung batagor dekat kompleksku. Warung batagor yang membosankan bagiku, tapi akan indah dan lezat jika kulalui bersama Dea.
“Makasih ya udah mau jadi sahabat aku”, katanya tiba-tiba, di bawah lampu sinar lampu taman kompleksku. Batagornya sudah ludes.
Aku tersenyum, membalas senyum indahnya.
***
Pagi ini aku lalui dengan semangat membara. Aku telah menyiapkan sekotak cokelat dan sebuah kalung untuk Dea. Target hari ini : pacaran dengan Dea. Aku mencintai Dea, sangat. Aku berjingkat ke kampus, berjalan kakai dengan bersiul. Memasuki gerbang kampus dengan bahagia, memasuki ruang kelas dengan sumringah, menyapukan mata ke seluruh ruang kelas. Tak ada Dea. Mungkin Dea telat.
Aku duduk di bangku belakang, berharap bisa merekam kedatangan Dea, dan mendeteksi lokasi duduknya Dea. Dosen kami yang menyebalkan memasuki ruangan. Berkoar-koar entah apa di depan kelas, dan aku tak memedulikannya.  Berlangsung sekian lama, dan akhirnya selesai seiring bangunnya aku dari tidurku di kursi belakang. Lagi aku menyapukan pandangan, Dea tak ada.
Seharian aku lalui dengan hambar, aku lalu lalang di kampus sendirian. Makan di kampus sendirian, ke perpustakaan sendirian, ke gazebo sendirian, kamana pun sendirian. Mataku masih berkeliling mencari Dea. Dea tak muncul juga. Hari ini dia tidak masuk. Baiklah senjata penembakanku akan kusimpan sampai besok.
***
Sudah seminggu, Dea tidak masuk. Aku sebenarnya tidak terlalu bertanya-tanya, karena Dea sering sekali moody dalam masuk kuliah. Dia sering tidak masuk tiga hari, empat hari, lima hari, dan sekarang sudah seminggu. Cokelatku sudah leleh. Kemana Dea sebenarnya, aku tak tahan untuk menghubungi Dea. Sejauh ini aku menahan jariku agar tidak mengirim sms atau pun menelepon dia. Aku tidak boleh terlalu mengganggunya. Selain itu, menghubunginya juga membuatku semakin tidak tahan ingin bertemu dan aku bisa stress kalau tidak kunjung bertemu dengan dia. Walaupun sebenarnya tidak berkomunikasi dengan dia sangat lama akan membuat hatiku galau, gundah, gulana.
‘Dea, lama banget nggak masuk? J ketinggalan banyak materi lhoh…’ sms itu terkirim dari HP-ku menuju ke nomor Dea.
Aku menunggu balasannya. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Dua puluh empat jam. Empat puluh delapan jam. Dan seterusnya. Dia tidak membalas. Aku ragu, apakah aku harus menelepon.
Tililit tililit tililit tililit,  HP-ku berbunyi. Sms masuk. Kubuka dengan semangat, aku berharap berharap Dea yang mengirim pesan untukku.  Opening new messages, tulisan di HP-ku berputar-putar, lama sekali, membuatku ingin membanting HP ini.
Malina. Teman sekelasku. Bukan Dea. Wajahku murung. Kubuka dengan lemas dan malas.
 Inalillahi wa ina ilaihi roji’un. Telah meninggal sahabat kita Dea Rizkia Nurbiantoro, dikarenakan kanker sumsum tulang belakang, yang ternyata udah diderita selama satu setengah tahun. Meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah, pagi ini jam 2. Jenazah dimakamkan siang ini di rumahnya, kompleks perumahan Gebang Ayu, jalan kepodang nomor 5. Buat temen2 yang mau dateng, kita kumpul di kampus jam 1, jangan lupa bawa kendaraan sendiri2, yang ga punya motor, Ardi n Tia bawa mobil, langsung sms ke yang bersangkutan ya. Tengkyu.
Bagaikan karang raksasa bertepi tajam, menghantam hatiku, sampai luka-luka berdarah. Diiringi dengan guyuran ombak air asin yang menambah perih lukaku yang mendalam. Air mataku pecah. Seiring cintaku yang juga pecah, tinggal kepingan. Cinta yang harus aku kubur dalam-dalam.
Makasih ya udah mau jadi sahabat aku, masih mengiangi telingaku. Senyumnya, masih membayangi mataku. Sentuhan tangannya di lenganku saat ia menggandengku, masih berbekas terasa. Dan foto kami di taman kota, masih terpampang sebagai background desktop laptop dan HP-ku.  Tak lepas mataku memandangi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar