Senin, 03 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 3)

“Piye7 ti? Cukup ndak karungnya?”, seorang lelaki muda bertubuh jangkung dengan kulit hitam legam menggotong beberapa barang untuk dimasukkan ke dalam beberapa karung goni yang dibawanya.
“ndak apa – apa mas, agak dipaksa dikit, ditekan – tekan biar cukup”, jawab seorang gadis berambut pendek yang sedang sibuk memaksa beberapa barang tersebut untuk masuk ke dalam karung goni. “lho? Udah ndak ada lagi mas karungnya?”, si gadis celingukan mencari karung lain yang akan ia gunakan untuk memasukkan lebih banyak barang.
“udah segitu aja cukup, besok Pakdhe Jarwo cuma ambil dikit kok”, ujar lelaki itu.
Dengan 5 karung goni penuh yang ditempatkan pada gerobak dorong, berisi berbungkus – bungkus tepung terigu, tepung tapioka, dan gula pasir, kedua pemuda pemudi itu melangkahkan kaki dengan tergesa namun sangat hati – hati. Malam belum larut, namun area tempat mereka berjalan adalah area yang jauh dari pemukiman dan sangat sepi. 
***
Pagi ini, Kiki tidak pergi ke pabrik, ia cukup lelah setelah menganalisis berbagai permasalahan pabrik selama 3 minggu penuh. Terlebih lagi setelah kejadian malam itu, yang membuatnya harus meringkuk di belakang pintu pabrik sampai jam 12 malam, lalu ia pulang ke rumah setelah ia yakin tak ada suara lagi selain suara nafasnya. Rantai sepedanya sampai putus karena dikayuh terlalu kencang, bahkan ketika melalui jalan menanjak ia berlari sambil menggotong sepeda yang sudah tidak bisa dikayuh lagi, rasa takut ternyata memberikan energi yang sangat besar. Sesampai di rumah, didapatinya sang ibu menangis tersedu – sedu karena ketakutan kehilangan anak semata wayang. Hari ini ia memutuskan untuk berjalan – jalan keliling desa, mencoba mengenal kembali keindahan masa kecilnya yang sempat terkubur 3 tahun belakangan. Selama menduduki bangku SMA, Kiki terlalu banyak menyibukkan dirinya dengan tugas – tugas sekolah. Hal itu sengaja ia lakukan untuk melupakan dukanya karena ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selama – lamanya. 3 tahun yang terasa mati, meski ia tahu bahwa ibunya sedang berjuang keras untuk menghidupinya dan membayar uang sekolahnya, terlebih setelah ia tahu bahwa pabrik sedang dalam masa krisis. Merasa terasing selama itu membuat ia tak mengenal orang – orang baru yang tinggal di desanya, termasuk bayi – bayi yang kini sudah bisa berlari, atau pun nyawa – nyawa yang dulu tak ada dan sekarang telah dilahirkan oleh ibu – ibu muda yang dulunya adalah gadis – gadis desa sebaya Kiki.
“Ki, mau kemana kamu?”, laki – laki bertubuh tambun dengan usia sekitar 55 tahun menghampiri Kiki yang sedang berjalan santai melewati setapak di tepi sawah. Lelaki itu sepertinya sedang berolahraga pagi, pantas saja tubuhnya terlihat sehat dan segar.
“Eh Pakdhe Jarwo, lari pagi pakdhe?”, Kiki membalas sapaan lelaki itu.
“Wah ya ndak lari to, pakdhe udah tua begini mana bisa lari, pegel semua badan, ya cuma jalan – jalan saja”, lelaki itu menghentikan langkahnya tepat dismping Kiki, “Kamu juga to? udah lama pakdhe ndak lihat kamu. Udah lulus kabarnya? Kiki mengangguk sambil tersenyum, “Kata emakmu, kamu ngurus pabrik sekarang? piye nduk8 pabrikmu sekarang, sudah ada perbaikan?”
“Ndak tahu pakdhe, masih belum beres, manajemennya itu lo pakdhe, kacau. Ndak ada pencatatan, ndak ada pengawasan, tapi mulai 2 minggu yang lalu, saya dan Pak Tejo mulai mencatat dan mengwasi sih pakdhe” Kiki menjelaskan.
“O begitu, lha piye hasil pengawasane? akar masalahnya apa?”
“kompleks pakdhe”, Kiki menghela nafas. Pakdhe Jarwo membaca air muka Kiki yang resah gundah gulana, jiwa kebapakannya mendorong hatinya untuk menguak lebih banyak permasalah gadis itu, berharap dapat mengurangi kegelisahan. Pakdhe Jarwo adalah tetangga yang sangat baik, dulu waktu Kiki kecil beliau suka datang ke rumah dan membawakan beberapa donat dan roti kering manis untuk Kiki. Sejak dulu Pakdhe Jarwo merupakan salah satu pengusaha sukses di desa itu, ia membuka industri rumah tangga yang memproduksi makanan kecil seprti donat, bolu, kue kring, dan lain – lain, dan karena sama – sama pengusaha, Pakdhe Jarwo pun berteman akrab dengan ayah Kiki. Sifat dasarnya yang sangat menyukai anak kecil, membuat Pakdhe Jarwo akrab dengan banyak anak – anak, termasuk Kiki. Dengan sedikit isyarat, Pakdhe Jarwo mengajak Kiki untuk berbincang di rumahnya yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berbincang.
“Aneh pakdhe”, ujar Kiki seusai menyeruput teh panas yang disajikan oleh Budhe Jarwo. “Masalah yang utama sekarang sih tentang kenaikan harga bahan baku pakdhe, besar sekali ternyata pengeluaran pabrik, dan setelah Kiki perhatikan beberapa hari terakhir ini, penggunaan bahan baku sepertinya juga bermasalah pakdhe. Stock bahan baku yang kami beli itu banyak sekali, tapi dalam seminggu bahan baku sudah habis lagi, padahal barang yang diproduksi juga cuma segitu – segitu saja pakdhe. Seminggu ini saya sudah nyatet lho pakdhe, tapi sepertinya catetan saya itu salah pakdhe, soalnya jumlah kerupuk yang dihasilkan itu sedikit sekali, sepertinya saya lagi kena sakit pusing kepala atau mata jereng pakdhe, setiap menghitung kepingan kerupuk selalu keliru”
“lha kok kamu sendiri yang ngitung? biasanya yang ngitung siapa, ndak ada jumlah pasti hasil produksi?”
“Dulu kepala produksi itu mas Harfian Pakdhe, tapi sekarang kan Mas harfian sudah pindah ke Sumatera, dan ndak ada penggantinya, sementara bagian produksi yang lain itu ibu – ibu tua yang penglihatannya juga sudah rabun, jadi ya mereka itu asal saja gitu pakdhe.”
“sik sik sik9 nduk, memangnya bahan baku apa yang harganya naik?” Pakdhe Jarwo memotong pembicaraan Kiki.
“Semua Pakdhe, ya tepung – tepung, ya gula”, keluh Kiki.
“Beli dimana to memangnya?”
“Biasa, Cik Eli”
“Berapa harganya sekarang?”
“Kalau tepung terigu itu sekarang sekilonya sampai sepuluh ribu pakdhe, kalau tapioka itu sekarang sekitar lima sampai tujuh ribu, nah gula ini pakdhe muahal betul, sekilo saja sudah lima belas sampai dua puluh ribu”
“ngawur tenan10! Masa to nduk? Seminggu lalu pakdhe belanja di Cik eli masih wajar kok harganya”
“seminggu lalu? Wajar itu gimana pakdhe? Berapa? Kami belanja di Cik Eli kan sejak dulu, ndak pernah pindah, masa pakdhe dikasih harga wajar tapi kami ndak”
“Ndak ndak, Cik Eli itu biar pun pelit tapi orangnya jujur dan ndak pilih – pilih pelanggan”
“Apa mungkin Cik Eli ndak suka sama pabrik kerupuk kami ya pakdhe?” 
“Ndak gitu lah nduk, ndak mungkin gitu, Pakdhe juga sejak dulu kan langganan Cik Eli, Cik Eli itu orangnya bisa dipercaya. Apa iya ya harganya sudah naik setinggi itu, pakdhe sudah lama ndak belanja kesana”
“Oh? Pakdhe dapat langganan toko bahan roti yang baru?”
“Oh ndak ndak, lha ya ini yang bikin pakdhe bertanya – tanya, pakdhe itu dapat pasokan terigu, gula, sama kadang – kadang tapioka, itu dari si Ijan itu lho, dia katanya jadi agen langsung dari pabrik tepung, gula, kadang bawa bawang putih juga, dia jualnya harga murah kok, di bawah harga Cik Eli. Si Ijan itu kan karyawanmu to nduk? Lha apa dia itu ndak nyetok ke pabrikmu?”
“Mas Ijan? ndak pakdhe, kok malah nyetok ke pakdhe ya?”, tiba – tiba ada suatu hal yang terbersit di otak Kiki.
“Lha ya itu yang bikin pakdhe bingung, kok malah nyetok ke pakdhe, padahal keadaan pabrikmu sedang sakit dan ada masalah”
“Ya sudah ndak apa – apa pakdhe, besok Kiki tak tanya ke mas Ijan apa masih punya stock tepung sama gula yang murah”
“Nah iya iya ditanya saja, atau nanti sore tak tanyain sekalian juga bisa, dia sore ini katanya mau nganter gula”
“Oh gitu… nggih nggih pakdhe, matur nuwun”, Kiki meneguk teh terakhirnya, “Pakdhe, sudah agak siang ini, Kiki pamit ya pakdhe?”
“Iya iya, ini bawa donat sama bolu ini, buat ibu juga sekalian”
“Wah enak itu kayaknya pakdhe, hehehe”
“Ya enak to, siapa dulu yang punya”, Pakdhe Jarwo memberikan satu bungkus rantang sayur yang diisinya dengan donat dan bolu.
“Wah… lama ndak makan donatnya pakdhe, matur nuwun nggih pakdhe”, Kiki tersenyum, “Budhe? Kiki Pamit Budhe”
“Buk! Iki lho bu’ Kiki pamit”, Pakdhe Jarwo berteriak.
“o iya… iya…”, Budhe Jarwo muncul dari dalam rumah, “ati – ati yo nduk11”.
“Nggih pakdhe budhe, Assalamu’alaikum”, Kiki berlalu setelah mencium tangan kedua suami istri itu.
“Wa’alaikumsalam”, ujar Pakdhe Jarwo dan istrinya bersamaan.

7bagaimana
8panggilan untuk anak perempuan
9sebentar
10sembarangan sekali

11hati – hati ya nak

Minggu, 02 Juni 2013

Ruangan Berterali (Part 2)

Pabrik kecil itu begitu sunyi, meskipun banyak orang di sana, tetapi pekerja di sana tak sebanyak dulu, dulu masih ada anak – anak muda lulusan SMP dan SMA yang bekerja di pabrik untuk berbagai bagian produksi atau pun pengemasan. Kini, pabrik seolah hidup segan mati tak mau, pekerja yang tersisa hanyalah ibu – ibu bekas pembantu, anak – anak gadis tak berpendidikan yang hanya menunggu dilamar orang, dan selebihnya, para pemalas yang terpaksa bekerja karena tak tahu harus makan apa. Kiki berjalan menyusuri setiap ruangan pabrik, beberapa orang menyapanya, dan beberapa pemuda yang bekerja sebagai buruh jemur menggodanya. Terang saja, Kiki gadis yang cantik untuk ukuran orang desa. Pabrik yang suram, tanpa gairah, tiba – tiba dimasuki oleh seorang gadis cantik berpendidikan – walaupun hanya tamatan SMA- tentunya merupakan sebuah penyegaran tersendiri.
Saat Kiki berjalan memasuki ruang penyimpanan bahan baku, ia mendapati ruangan yang kacau berantakan. Segala jenis bahan nyaris bercampur dan tidak jelas jumlahnya.

“Eh Mbak Kiki, tumben mbak dateng ke pabrik?” sapa seorang lelaki paruh baya.

“Nggih2 Pak Tejo, mulai sekarang kula3 ngurus pabrik, soalnya sudah selesai sekolahnya”, ujar Kiki sopan, Pak Tejo adalah orang kepercayaan almarhum ayahnya di pabrik, lelaki itu terlihat jauh lebih tua daripada usia yang sebenarnya.

“Oalah, gitu to… wah sudah pinter ya sekarang Mbak Kiki, bisa maju ini nanti pabriknya kalo ada Mbak Kiki”.

“Amiin pak”, jawab Kiki sembari melempar senyum, “Pak, lagi sibuk ndak? Saya pengen sedikit ngobrol – ngobrol tentang keadaan pabrik, soale saya selama ini kan ndak tahu apa – apa, mau sekalian belajar sama bapak”.

“O gitu, iya bisa mbak, monggo monggo4 mbak duduk di bangku teras depan”, Pak Tejo mengajak Sumi berjalan keluar ruangan pabrik.
“Ya begini ini mbak keadaan pabrik kita sekarang, seperti yang Mbak Kiki sendiri lihat”, Pak Tejo mengawali obrolan itu,”sejak ditinggal sama bapak, saya jadi gelagapan mengurus pabrik ini, maaf mbak, karena memang ndak ada ilmu yang mendalam yang bapak ajarkan ke saya. Yang saya tahu ya sebatas mengawasi semua bagian saja, mengecek segala jenis pencatatan juga saya kurang ngerti mbak, bapak belum sempat ngajari saya. Sejauh ini yang saya lakukan ya masih seperti dulu ketika ada bapak, mengecek keadaan setiap bagian, menerima uang dari bendahara, dan menggaji para karyawan, kalau catatan uang masuk dan uang keluar untuk gaji saja sih saya ada mbak, tapi kalau tentang perbelanjaan itu ya si Wati yang mengurus”

“Bapak ndak ngecek dari Wati?” Tanya Kiki.

“Ya cuma saya lihat saja mbak, saya ndak ngerti hitungannya itu njlimet6 e mbak, bingung saya, soalnya dulu yang ngecek bapak langsung mbak. Ya masalah kita ini memang sekarang berpusat pada masalah pemasukan dan pengeluaran untuk bahan baku itu mbak. Sekarang sudah ndak banyak agen yang ambil kerupuk kita kayak dulu, bahan baku juga semakin naik”, Pak Tejo menjelaskan lebih dalam.

“Bahan baku yang harganya naik apa saja pak?”, kiki terus menginterogasi.

“Saya sempat beberapa kali Tanya ke Ijan, Ijan itu yang tukang belanja bahan baku itu mbak, Ijan bilang sama saya kalo Ijan mau kasi saya rinciannya, tapi sampai hari ini belum dikasih ke saya. Saya juga salah sih mbak, lupa terus ndak nanyain lagi, besok saya tanyakan ke Ijan mbak, hari ini Ijannya ndak masuk”

“O gitu, besok antar saya ke Ijan aja pak, biar saya yang tanya langsung ke Ijan, saya sekalian mau ngobrol dan tanya – tanya tentang bahan baku”, ujar kiki berencana menginterogasi Ijan.

Obrolan Kiki dan Pak Tejo berlangsung panjang, hari sudah senja, 3 jam lebih berbincang dengan Pak Tejo membuatnya tahu banyak hal dan membuatnya berpikir keras. Di akhir sesi, Pak Tejo banyak mengisahkan hal yang tidak diduga oleh Kiki, salah satunya tentang kebakaran kecil yang pernah terjadi di ruang produksi, ya hanya kebakaran kecil memang, tetapi sedikit banyak cukup merugikan pabrik, ditambah lagi banyak pekerja lelaki yang tiba – tiba tidak datang bekerja ke pabrik lagi tanpa ada kejelasan, “Mungkin karena gaji yang naik turun mbak, saya juga hanya bisa membiarkan saja, karena pabrik kita juga sudah ndak bisa membayar banyak orang”, ujar Pak Tejo tadi siang. Pabrik itu juga tersendat-sendat oleh harga bahan baku yang kian melambung, sementara harga sebuah kerupuk tidak bisa dinaikkan dengan mudah, bisa – bisa tidak ada yang mau membeli kerupuk. Ibunya jelas tahu mengenai semua permasalah pabrik ini, namun selama ini ibunya tidak memberi tahu, pasti karena takut membebani pikiran Kiki padahal ibunya sendiri pun tak tahu bagaimana harus menyelesaikan semua permasalahan pabrik. Sang ibu hanya mampu memasrahkan semuanya kepada Pak Tejo, Pak Tejo sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi keadaan itu. Semua permasalah ini perlu analisis mendalam dengan cara turun langsung ke lapangan, pikirnya.
***
Seperti biasa, seusai solat subuh Sumi bergegas ke kebun dan Kiki membuat sarapan untuk mereka berdua, agar sepulang dari kebun ibunya dapat segera sarapan dan berangkat ke pasar. Hari ini Kiki telah merencanakan banyak hal mengenai pabrik. Dengan uang tabungannya, Kiki telah membeli sebuah buku catatan kecil untuk misinya menelisik pabrik hari ini. Usai berbenah rumah dan membersihkan badan, dengan sebuah kemeja hijau dan rok panjang Kiki bergegas ke pabrik, rambut tipis panjangnya diikat di bagian belakang kepala dan berkibar – kibar menabrak angin yang diciptakan oleh kayuhan sepedanya.
Sesampainya di Pabrik, Kiki didampingi Pak Tejo berkeliling, ia berkenalan dengan beberapa pekerja di pabrik, mulai dari yang masih remaja, ibu – ibu dan bapak - bapak lulusan SD dan SMP, sampai mbah – mbah yang tenaganya tak redup oleh usia. Pabrik kerupuk itu adalah milik keluarga almarhum ayah Kiki, turun temurun pabrik kerupuk itu diwariskan ke anak cucu, hingga akhirnya jatuh ke tangan ayah Kiki yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga itu. Kini, siapa lagi yang mewarisi dan akan mengurus pabrik itu jika bukan Kiki, anak semata wayang. Bangunannya tidak terlalu besar dan tidak pula luas, hanya terdiri dari beberapa ruangan yang sekiranya cukup untuk bekerja, dan terdapat sebuah halaman luas di area belakang pabrik yang difungsikan sebagai tempat menjemur kerupuk. Pabrik itu memproduksi kerupuk matang yang dijual dalam bentuk karung plastik besar maupun kemasan – kemasan kecil yang diambil para agen untuk dijual di toko kelontong. Dulu, ratusan ribu kerupuk dapat dihasilkan oleh pabrik ini, namun sekarang jumlahnya kian merosot entah berapa. Tak ada jumlah pasti mengenai apapun di pabrik ini, tak ada pencatatan mengenai hasil produksi, persediaan bahan baku, jumlah karyawan, jumlah agen, dan sebagainya, satu – satunya catatan angka yang ia temui hanyalah catatan keuangn milik Wati, bendahara pabrik, dan catatan itu pun kacau dan tidak sesuai, “Saya sendiri juga pusing mbak, ndak pernah pas”, keluh Wati saat diajak berbincang oleh Kiki. Kompleks. Pabrik ini benar – benar harus dimulai dari awal.
Kini, hari – hari Kiki dihabiskan untuk keluar masuk pabrik, bahkan kadang hingga petang datang Kiki masih belum pulang dari pabrik. Pukul 7 malam, Pabrik yang tak seberapa luas tiba – tiba terasa sangat lebar dan besar, membuat langkah Kiki menuju pintu keluar seolah tak sampai – sampai, sunyi sepi sendiri. Jangankan detik jarum jam bahkan desah nafas Kiki terdengar jelas oleh telinganya sendiri. Akhirnya langkah Kiki mulai mendekati pintu keluar pabrik, Kiki berbelok ke kiri menuju saklar dan mematikan lampu ruangan itu. Gelap sekejap. Dengan sedikit meraba, Kiki meraih handle5 pintu, kreeek bunyi pintu tua pabrik. Hampir seluruh peralatan dan bagian pabrik, termasuk daun pintu, jendela, dan mesin pencampur adonan selalu mengeluarkan bunyi yang menandakan usia uzurnya. Tapi, bunyi yang baru saja didengar Kiki tidak wajar, tiba – tiba jantung Kiki berdetak kencang, ada yang aneh, bulu kuduk Kiki berdiri dan ia mulai waspada. Kiki merajut pikirannya, Pertama, Kiki mempertanyakan kesadaran dirinya pada detik itu, dan 2 detik berikutnya ia memutuskan bahwa dirinya memang berada pada kesadaran penuh. Kedua, Kiki mencoba menelaah keadaan sekitarnya, dan dengan modal kesadaran penuh ia sangat yakin bahwa tangannya yang sedari tadi menempel di handle pintu, belum menggerakkan pintu itu sama sekali.
Jantung Kiki semakin tidak terkendali, Kiki jelas – jelas tidak menggerakkan apalagi membunyikan apapun di ruangan itu. Dan ia sangat yakin bahwa ia adalah orang terakhir di pabrik itu dan juga yakin bahwa ia sudah mengunci semua pintu. Jantungnya semakin berlari, ini keadaan yang tak pernah ia alami, antara takut, khawatir, penasaran, dan merasa konyol karena ketakutan sendiri. Kiki terpaku, ia masih dengan posisi yang sama, berdiri memegang handle pintu yang setengah terbuka, ia menahan nafasnya.
2ya
3saya
4silakan
5pegangan

6rumit

Sabtu, 01 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 1)

Dingin. Sumi menembus kabut pagi melalui jalan tanah berbatu tanpa alas kaki. Akhir – akhir ini matahari seolah terlambat muncul, membuat langkahnya menuju kebun terasa semakin berat. Meskipun di kebun hanya ada beberapa helai kangkung, daun singkong, dan dedaunan papaya, yang harga jualnya tidak tinggi bila dibawa ke pasar, namun, hanya inilah yang ia bisa lakukan untuk menjadi sedikit berguna bagi keluarganya. Keluarga yang terdiri atas dirinya dan putri semata wayangnya, Sarkinah. Saat ini Sarkinah sedang berjuang membangkitkan kembali pabrik kerupuk peninggalan Harjanto, Sang Ayah. Sejak Harjanto meninggal 3 tahun yang lalu, pabrik kerupuk meredup karena Sumi tak tahu bagaimana harus mengatur pabrik itu, ia orang bodoh, tidak mengenyam ilmu, tidak tahu apa – apa. Semua terjadi secara bertahap, mulai dari persediaan bahan baku yang berkurang mendadak, hasil produksi menurun drastis, penjualan meluncur tajam, dan pabrik nyaris bangkrut. Beruntung, Sarkinah atau Kiki - panggilannya di sekolah -, sudah lulus dari SMA. Selain Sumi tidak harus ngragati1 terlalu besar lagi untuk biaya sekolah, kini Kiki juga dapat mengurus pabrik.
Kiki adalah anak pandai dan cerdas, Sumi tahu itu, dia percaya, di tangan Kiki, pabrik akan kembali berjalan seperti dahulu ketika suaminya masih hidup. Beberapa tahun yang lalu, pabrik kerupuk milik keluarga mereka adalah tumpuan bagi masyarakat sekitar yang tak memiliki pekerjaan lain. Pabrik itu menjadi mata pencaharian yang membantu banyak tetangga yang tak mampu. Dalam sehari puluhan ribu bungkus kerupuk dapat dihasilkan dan di jual hampir ke seluruh kota Yogyakarta. Hingga maut yang tak dinyana itu tiba, Harjanto tiba – tiba meninggal karena serangan jantung saat ia mengendarai sepeda motor di jalan raya yang ramai. Kepergian Harjanto membuat seluruh kebahagiaan hidup keluarga ikut sirna. Sumi tak sanggup mengurus pabrik, karena dia tidak tahu bagaimana caranya, dan Sumi tidak tega meminta Kiki untuk mengurusnya, karena waktu itu Kiki baru saja masuk SMA, dan sekolahnya membuat dirinya sangat sibuk. Sumi juga ingin agar Kiki tidak bodoh seperti dirinya, Kiki harus pandai dan mampu menjadi wanita yang berdikari, agar kelak dapat menolong diri sendiri dalam berbagai keadaan. 3 tahun terakhir yang telah berlalu bukanlah tahun – tahun yang ringan, keadaan keluarga sangat terpuruk, penghasilan pabrik tak seberapa, jika dibandingkan dengan modal yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan pabrik. Melangkah ke kebunlah yang hanya bisa dilakukan Sumi untuk mencukupi kebutuhan, termasuk untuk biaya sekolah Kiki. Tahun – tahun yang berat dengan kebutuhan yang semakin beragam, makan pun sulit, 3 tahun bagaikan 30 tahun yang berlipat ganda.
Sudah 2 bulan Kiki menghabiskan waktunya mengurus pabrik keluarga, hasilnya tidak buruk, Kiki memperbaiki banyak hal, merekrut banyak karyawan, ibu – ibu tua yang tak diterima di lapangan kerja lain diangkatnya menjadi pegawai untuk pekerjaan ringan, memperbaiki manajemen, dan memperbaiki semua keadaan yang dulu buruk. Kiki ingin menjayakan kembali pabrik yang dulu sudah pernah berjaya selama puluhan tahun itu. Itulah gunanya ia disekolahkan dengan perjuangan luar biasa dari ibunya. Meskipun di sanubarinya yang terdalam ia ingin melanjutkan pendidikan hingga ke universitas, namun keadaan tidak dapat ia lawan lagi, ia telah merasa cukup melawan 3 tahun terakhir ini. Ibunya tak mungkin dibiarkan dengan keadaan seperti itu terus, harus ada yang dirubah. Kiki ingin sang ibu menikmati hari tuanya dengan tenang tanpa harus berlelah – lelah ke kebun dan berjalan menuju pasar yang sangat jauh. Nanti, apabila Kiki sudah berhasil menyembuhkan pabrik mereka, Kiki akan meminta ibunya berhenti melakukan itu lagi.


1membiayai

Kamis, 30 Mei 2013

DREAM'S STHRENGTH

seperti hati....yang tak henti meratap ketika ia kesakitan.. dan seperti jiwa...yang tak pernah sadar ketika dia bahagia... apakah ini nafsu atau benar - benar sebuah semangat.. sejuta impian ini terus merasuk ke dalam sanubariku tak henti - henti..  apakah semua mimpi ini terlalu megah...terlalu indah..terlalu tinggi dan terlalu  besar... aku tak terlalu tau.. kata orang..... kalo sampai aku jatuh.. maka akan sakit luar biasa..  tapi... sampai sekarang aku masih tetap bermimpi... masih bertahan dengan segala keinginan yang saaangat tinggi... aku tak terlalu peduli dengan apa yang mereka katakan...  mereka pikir aku tak pernah jatuh??/ sudah berapa kali rasa sakit itu aku tahan.. aku rasakan... sakiiiiit...  namun itulah kegagalan... tanpa dia aku tak kan pernah mengenal pertahanan... kegagalan sudah kenal baik denganku... dia kadang singgah.. dan aku kadang pun menyapanya... karena  aku percaya dengan segala semangat yang aku miliki...  aku yakin suatu saat akan ada sebuah jalan,, yang di kanan kirinya penuh dengan bunga - bunga mekar,,, dan cahaya di depannya  aku akan menapaki jalan itu.. dengan langkah yang indah.... setelah menempuh tebing dan bukit terjal yang aku lampaui dengan merangkak berdarah - darah.... aku masih percaya dengan kekuatan impian yang beberapa orang pernah katakan padaku...  kadang semua keinginan itu terkesan sangat amat mustahil... tapi masa bodoh...  buktinya... aku pun telah menginjakkan kakiku di jepang...   bayangkan... orang macam aku.. manalah pernah aku berani membayangkan hal seperti itu akan terjadi dalam hidupku...  tapi manalah ada yang tau kuasa Tuhan.. Dia yang menentukan segalanya sekalipun semua ini hanya bualan... aku akan tetap bertahan   dan berusaha sekuat hati...  dan bahkan aku akan teteap yakin bahwa ini bukan cuma bualan....  just for my mom....just for my dad...  senyum mereka adalah sesuatu yang sangat berharga..... yang hingga saat ini mampu membuat aku tetap berdiri  di sini.. tetap teguh dengan keadaan seperti apapun... dan semua dera yang telah aku alami... ini belum seberapa....  sakit itu akan lebih dan lebih,,, tapi untaian doa itu... juga selalu aku rasakan...  dan itu sudah cukup untuk menjadi sebuah alasan bagiku...  untuk tetap brtahan....... suatu saat,... tak akan lama lagi,,,   kenyataan yang manis...akan menghadangku dengan senyum

EL O NINE


JAR TEST

Jar test adalah suatu percobaan yang berfungsi untuk menentukan dosis optimal koagulan yang digunakan pada proses pengolahan air bersih. Selain pemberian koagulan, diperlukan pengadukan sampai terbentuk flok. Flok-flok tersebut mengumpulkan partikel - partikel kecil dan koloid. Partikel dan koloid tersebut akan bergabung dan mengendap bersama – sama. Jar Test merupakan rangkaian sederhana untuk proses koagulasi, flokuIasi dan sedimentasi. Prinsip kerja jar test adalah membuat air limbah bergerak berputar searah, sehingga padatan yang tercampur dalam cairan limbah akan bergerak searah. Perputaran tersebut dilakukan dengan 2 kecepatan yaitu kecepatan tinggi yang digunakan untuk memisahkan partikel dengan cairan dan kecepatan lambat digunakan untuk membentuk flok-flok. Kemudian limbah didiamkan untuk mengendapkan flok-flok yang telah terbentuk. Jar Test bermanfaat dalam menghilangkan bahan cemaran yang tersuspensi atau dalam bentuk koloid.

Dalam bidang industri, jar test biasa dilakukan pada penjernihan air. Pada proses penjernihan air digunakan zat flokulan dan koagulan yang aman apabila air tersebut hendak difungsikan kembali. Pada dasarnya, jar test sangat bermanfaat dalam berbagai bidang industri, karena setiap kompinen iindustri, selalu membutuhkan air dan menghasilkan limbah. Terutama untuk industri kecil, selalu terdapat limbah yang dihasilkan, apabila limbah tersebut dijernihkan maka airnya dapat digunakan kembali. Dan jar test berfungsi untuk menganalisis kelayakan air tersebut untuk digunakan kembali. Jar test terutama dilakukan pada indusri pengolahan air minum.

watshi no hikaruuuu ^^

menyentuh kembali hikaruhana.blogspot.com...
setelah susah payah menemukannya kembali.... :D