Sabtu, 01 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 1)

Dingin. Sumi menembus kabut pagi melalui jalan tanah berbatu tanpa alas kaki. Akhir – akhir ini matahari seolah terlambat muncul, membuat langkahnya menuju kebun terasa semakin berat. Meskipun di kebun hanya ada beberapa helai kangkung, daun singkong, dan dedaunan papaya, yang harga jualnya tidak tinggi bila dibawa ke pasar, namun, hanya inilah yang ia bisa lakukan untuk menjadi sedikit berguna bagi keluarganya. Keluarga yang terdiri atas dirinya dan putri semata wayangnya, Sarkinah. Saat ini Sarkinah sedang berjuang membangkitkan kembali pabrik kerupuk peninggalan Harjanto, Sang Ayah. Sejak Harjanto meninggal 3 tahun yang lalu, pabrik kerupuk meredup karena Sumi tak tahu bagaimana harus mengatur pabrik itu, ia orang bodoh, tidak mengenyam ilmu, tidak tahu apa – apa. Semua terjadi secara bertahap, mulai dari persediaan bahan baku yang berkurang mendadak, hasil produksi menurun drastis, penjualan meluncur tajam, dan pabrik nyaris bangkrut. Beruntung, Sarkinah atau Kiki - panggilannya di sekolah -, sudah lulus dari SMA. Selain Sumi tidak harus ngragati1 terlalu besar lagi untuk biaya sekolah, kini Kiki juga dapat mengurus pabrik.
Kiki adalah anak pandai dan cerdas, Sumi tahu itu, dia percaya, di tangan Kiki, pabrik akan kembali berjalan seperti dahulu ketika suaminya masih hidup. Beberapa tahun yang lalu, pabrik kerupuk milik keluarga mereka adalah tumpuan bagi masyarakat sekitar yang tak memiliki pekerjaan lain. Pabrik itu menjadi mata pencaharian yang membantu banyak tetangga yang tak mampu. Dalam sehari puluhan ribu bungkus kerupuk dapat dihasilkan dan di jual hampir ke seluruh kota Yogyakarta. Hingga maut yang tak dinyana itu tiba, Harjanto tiba – tiba meninggal karena serangan jantung saat ia mengendarai sepeda motor di jalan raya yang ramai. Kepergian Harjanto membuat seluruh kebahagiaan hidup keluarga ikut sirna. Sumi tak sanggup mengurus pabrik, karena dia tidak tahu bagaimana caranya, dan Sumi tidak tega meminta Kiki untuk mengurusnya, karena waktu itu Kiki baru saja masuk SMA, dan sekolahnya membuat dirinya sangat sibuk. Sumi juga ingin agar Kiki tidak bodoh seperti dirinya, Kiki harus pandai dan mampu menjadi wanita yang berdikari, agar kelak dapat menolong diri sendiri dalam berbagai keadaan. 3 tahun terakhir yang telah berlalu bukanlah tahun – tahun yang ringan, keadaan keluarga sangat terpuruk, penghasilan pabrik tak seberapa, jika dibandingkan dengan modal yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan pabrik. Melangkah ke kebunlah yang hanya bisa dilakukan Sumi untuk mencukupi kebutuhan, termasuk untuk biaya sekolah Kiki. Tahun – tahun yang berat dengan kebutuhan yang semakin beragam, makan pun sulit, 3 tahun bagaikan 30 tahun yang berlipat ganda.
Sudah 2 bulan Kiki menghabiskan waktunya mengurus pabrik keluarga, hasilnya tidak buruk, Kiki memperbaiki banyak hal, merekrut banyak karyawan, ibu – ibu tua yang tak diterima di lapangan kerja lain diangkatnya menjadi pegawai untuk pekerjaan ringan, memperbaiki manajemen, dan memperbaiki semua keadaan yang dulu buruk. Kiki ingin menjayakan kembali pabrik yang dulu sudah pernah berjaya selama puluhan tahun itu. Itulah gunanya ia disekolahkan dengan perjuangan luar biasa dari ibunya. Meskipun di sanubarinya yang terdalam ia ingin melanjutkan pendidikan hingga ke universitas, namun keadaan tidak dapat ia lawan lagi, ia telah merasa cukup melawan 3 tahun terakhir ini. Ibunya tak mungkin dibiarkan dengan keadaan seperti itu terus, harus ada yang dirubah. Kiki ingin sang ibu menikmati hari tuanya dengan tenang tanpa harus berlelah – lelah ke kebun dan berjalan menuju pasar yang sangat jauh. Nanti, apabila Kiki sudah berhasil menyembuhkan pabrik mereka, Kiki akan meminta ibunya berhenti melakukan itu lagi.


1membiayai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar