Dingin. Sumi menembus kabut pagi melalui jalan
tanah berbatu tanpa alas kaki. Akhir – akhir ini matahari seolah terlambat
muncul, membuat langkahnya menuju kebun terasa semakin berat. Meskipun di kebun
hanya ada beberapa helai kangkung, daun singkong, dan dedaunan papaya, yang
harga jualnya tidak tinggi bila dibawa ke pasar, namun, hanya inilah yang ia
bisa lakukan untuk menjadi sedikit berguna bagi keluarganya. Keluarga yang
terdiri atas dirinya dan putri semata wayangnya, Sarkinah. Saat ini Sarkinah
sedang berjuang membangkitkan kembali pabrik kerupuk peninggalan Harjanto, Sang
Ayah. Sejak Harjanto meninggal 3 tahun yang lalu, pabrik kerupuk meredup karena
Sumi tak tahu bagaimana harus mengatur pabrik itu, ia orang bodoh, tidak
mengenyam ilmu, tidak tahu apa – apa. Semua terjadi secara bertahap, mulai dari
persediaan bahan baku yang berkurang mendadak, hasil produksi menurun drastis,
penjualan meluncur tajam, dan pabrik nyaris bangkrut. Beruntung, Sarkinah atau
Kiki - panggilannya di sekolah -, sudah lulus dari SMA. Selain Sumi tidak harus
ngragati1 terlalu besar
lagi untuk biaya sekolah, kini Kiki juga dapat mengurus pabrik.
Kiki adalah anak pandai dan cerdas, Sumi tahu
itu, dia percaya, di tangan Kiki, pabrik akan kembali berjalan seperti dahulu
ketika suaminya masih hidup. Beberapa tahun yang lalu, pabrik kerupuk milik
keluarga mereka adalah tumpuan bagi masyarakat sekitar yang tak memiliki
pekerjaan lain. Pabrik itu menjadi mata pencaharian yang membantu banyak
tetangga yang tak mampu. Dalam sehari puluhan ribu bungkus kerupuk dapat
dihasilkan dan di jual hampir ke seluruh kota Yogyakarta. Hingga maut yang tak
dinyana itu tiba, Harjanto tiba – tiba meninggal karena serangan jantung saat
ia mengendarai sepeda motor di jalan raya yang ramai. Kepergian Harjanto
membuat seluruh kebahagiaan hidup keluarga ikut sirna. Sumi tak sanggup
mengurus pabrik, karena dia tidak tahu bagaimana caranya, dan Sumi tidak tega
meminta Kiki untuk mengurusnya, karena waktu itu Kiki baru saja masuk SMA, dan
sekolahnya membuat dirinya sangat sibuk. Sumi juga ingin agar Kiki tidak bodoh
seperti dirinya, Kiki harus pandai dan mampu menjadi wanita yang berdikari, agar
kelak dapat menolong diri sendiri dalam berbagai keadaan. 3 tahun terakhir yang
telah berlalu bukanlah tahun – tahun yang ringan, keadaan keluarga sangat
terpuruk, penghasilan pabrik tak seberapa, jika dibandingkan dengan modal yang
harus dikeluarkan untuk mempertahankan pabrik. Melangkah ke kebunlah yang hanya
bisa dilakukan Sumi untuk mencukupi kebutuhan, termasuk untuk biaya sekolah
Kiki. Tahun – tahun yang berat dengan kebutuhan yang semakin beragam, makan pun
sulit, 3 tahun bagaikan 30 tahun yang berlipat ganda.
Sudah 2 bulan Kiki menghabiskan waktunya
mengurus pabrik keluarga, hasilnya tidak buruk, Kiki memperbaiki banyak hal,
merekrut banyak karyawan, ibu – ibu tua yang tak diterima di lapangan kerja lain
diangkatnya menjadi pegawai untuk pekerjaan ringan, memperbaiki manajemen, dan
memperbaiki semua keadaan yang dulu buruk. Kiki ingin menjayakan kembali pabrik
yang dulu sudah pernah berjaya selama puluhan tahun itu. Itulah gunanya ia
disekolahkan dengan perjuangan luar biasa dari ibunya. Meskipun di sanubarinya
yang terdalam ia ingin melanjutkan pendidikan hingga ke universitas, namun
keadaan tidak dapat ia lawan lagi, ia telah merasa cukup melawan 3 tahun
terakhir ini. Ibunya tak mungkin dibiarkan dengan keadaan seperti itu terus,
harus ada yang dirubah. Kiki ingin sang ibu menikmati hari tuanya dengan tenang
tanpa harus berlelah – lelah ke kebun dan berjalan menuju pasar yang sangat
jauh. Nanti, apabila Kiki sudah berhasil menyembuhkan pabrik mereka, Kiki akan
meminta ibunya berhenti melakukan itu lagi.
1membiayai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar