Pabrik kecil itu begitu sunyi, meskipun banyak orang
di sana, tetapi pekerja di sana tak sebanyak dulu, dulu masih ada anak – anak
muda lulusan SMP dan SMA yang bekerja di pabrik untuk berbagai bagian produksi
atau pun pengemasan. Kini, pabrik seolah hidup segan mati tak mau, pekerja yang
tersisa hanyalah ibu – ibu bekas pembantu, anak – anak gadis tak berpendidikan
yang hanya menunggu dilamar orang, dan selebihnya, para pemalas yang terpaksa
bekerja karena tak tahu harus makan apa. Kiki berjalan menyusuri setiap ruangan
pabrik, beberapa orang menyapanya, dan beberapa pemuda yang bekerja sebagai
buruh jemur menggodanya. Terang saja, Kiki gadis yang cantik untuk ukuran orang
desa. Pabrik yang suram, tanpa gairah, tiba – tiba dimasuki oleh seorang gadis
cantik berpendidikan – walaupun hanya tamatan SMA- tentunya merupakan sebuah
penyegaran tersendiri.
Saat Kiki berjalan memasuki ruang penyimpanan bahan
baku, ia mendapati ruangan yang kacau berantakan. Segala jenis bahan nyaris
bercampur dan tidak jelas jumlahnya.
“Eh Mbak Kiki, tumben mbak dateng ke pabrik?” sapa seorang lelaki paruh
baya.
“Nggih2 Pak Tejo,
mulai sekarang kula3 ngurus
pabrik, soalnya sudah selesai sekolahnya”, ujar Kiki sopan, Pak Tejo adalah
orang kepercayaan almarhum ayahnya di pabrik, lelaki itu terlihat jauh lebih
tua daripada usia yang sebenarnya.
“Oalah, gitu to… wah sudah pinter ya sekarang Mbak Kiki, bisa maju ini
nanti pabriknya kalo ada Mbak Kiki”.
“Amiin pak”, jawab Kiki sembari melempar senyum, “Pak, lagi sibuk ndak? Saya pengen sedikit ngobrol –
ngobrol tentang keadaan pabrik, soale
saya selama ini kan ndak tahu apa –
apa, mau sekalian belajar sama bapak”.
“O gitu, iya bisa mbak, monggo
monggo4 mbak duduk di bangku teras depan”, Pak Tejo mengajak
Sumi berjalan keluar ruangan pabrik.
“Ya begini ini mbak keadaan pabrik kita sekarang, seperti yang Mbak Kiki
sendiri lihat”, Pak Tejo mengawali obrolan itu,”sejak ditinggal sama bapak,
saya jadi gelagapan mengurus pabrik ini, maaf mbak, karena memang ndak ada ilmu yang mendalam yang bapak
ajarkan ke saya. Yang saya tahu ya sebatas mengawasi semua bagian saja,
mengecek segala jenis pencatatan juga saya kurang ngerti mbak, bapak belum
sempat ngajari saya. Sejauh ini yang saya lakukan ya masih seperti dulu ketika
ada bapak, mengecek keadaan setiap bagian, menerima uang dari bendahara, dan
menggaji para karyawan, kalau catatan uang masuk dan uang keluar untuk gaji
saja sih saya ada mbak, tapi kalau tentang perbelanjaan itu ya si Wati yang
mengurus”
“Bapak ndak ngecek dari Wati?”
Tanya Kiki.
“Ya cuma saya lihat saja mbak, saya ndak
ngerti hitungannya itu njlimet6
e mbak, bingung saya, soalnya dulu yang ngecek bapak langsung mbak. Ya masalah
kita ini memang sekarang berpusat pada masalah pemasukan dan pengeluaran untuk
bahan baku itu mbak. Sekarang sudah ndak
banyak agen yang ambil kerupuk kita kayak dulu, bahan baku juga semakin naik”,
Pak Tejo menjelaskan lebih dalam.
“Bahan baku yang harganya naik apa saja pak?”, kiki terus menginterogasi.
“Saya sempat beberapa kali Tanya ke Ijan, Ijan itu yang tukang belanja
bahan baku itu mbak, Ijan bilang sama saya kalo Ijan mau kasi saya rinciannya,
tapi sampai hari ini belum dikasih ke saya. Saya juga salah sih mbak, lupa
terus ndak nanyain lagi, besok saya
tanyakan ke Ijan mbak, hari ini Ijannya ndak
masuk”
“O gitu, besok antar saya ke Ijan aja pak, biar saya yang tanya langsung
ke Ijan, saya sekalian mau ngobrol dan tanya – tanya tentang bahan baku”, ujar
kiki berencana menginterogasi Ijan.
Obrolan Kiki dan Pak Tejo berlangsung panjang, hari
sudah senja, 3 jam lebih berbincang dengan Pak Tejo membuatnya tahu banyak hal
dan membuatnya berpikir keras. Di akhir sesi, Pak Tejo banyak mengisahkan hal
yang tidak diduga oleh Kiki, salah satunya tentang kebakaran kecil yang pernah
terjadi di ruang produksi, ya hanya kebakaran kecil memang, tetapi sedikit
banyak cukup merugikan pabrik, ditambah lagi banyak pekerja lelaki yang tiba –
tiba tidak datang bekerja ke pabrik lagi tanpa ada kejelasan, “Mungkin karena
gaji yang naik turun mbak, saya juga hanya bisa membiarkan saja, karena pabrik
kita juga sudah ndak bisa membayar
banyak orang”, ujar Pak Tejo tadi siang. Pabrik itu juga tersendat-sendat oleh
harga bahan baku yang kian melambung, sementara harga sebuah kerupuk tidak bisa
dinaikkan dengan mudah, bisa – bisa tidak ada yang mau membeli kerupuk. Ibunya
jelas tahu mengenai semua permasalah pabrik ini, namun selama ini ibunya tidak
memberi tahu, pasti karena takut membebani pikiran Kiki padahal ibunya sendiri
pun tak tahu bagaimana harus menyelesaikan semua permasalahan pabrik. Sang ibu
hanya mampu memasrahkan semuanya kepada Pak Tejo, Pak Tejo sendiri juga tidak
tahu harus melakukan apa untuk mengatasi keadaan itu. Semua permasalah ini
perlu analisis mendalam dengan cara turun langsung ke lapangan, pikirnya.
***
Seperti biasa, seusai solat subuh Sumi bergegas ke
kebun dan Kiki membuat sarapan untuk mereka berdua, agar sepulang dari kebun
ibunya dapat segera sarapan dan berangkat ke pasar. Hari ini Kiki telah
merencanakan banyak hal mengenai pabrik. Dengan uang tabungannya, Kiki telah
membeli sebuah buku catatan kecil untuk misinya menelisik pabrik hari ini. Usai
berbenah rumah dan membersihkan badan, dengan sebuah kemeja hijau dan rok
panjang Kiki bergegas ke pabrik, rambut tipis panjangnya diikat di bagian
belakang kepala dan berkibar – kibar menabrak angin yang diciptakan oleh
kayuhan sepedanya.
Sesampainya di Pabrik, Kiki didampingi Pak Tejo
berkeliling, ia berkenalan dengan beberapa pekerja di pabrik, mulai dari yang
masih remaja, ibu – ibu dan bapak - bapak lulusan SD dan SMP, sampai mbah –
mbah yang tenaganya tak redup oleh usia. Pabrik kerupuk itu adalah milik
keluarga almarhum ayah Kiki, turun temurun pabrik kerupuk itu diwariskan ke
anak cucu, hingga akhirnya jatuh ke tangan ayah Kiki yang merupakan keturunan
terakhir dari keluarga itu. Kini, siapa lagi yang mewarisi dan akan mengurus
pabrik itu jika bukan Kiki, anak semata wayang. Bangunannya tidak terlalu besar
dan tidak pula luas, hanya terdiri dari beberapa ruangan yang sekiranya cukup
untuk bekerja, dan terdapat sebuah halaman luas di area belakang pabrik yang
difungsikan sebagai tempat menjemur kerupuk. Pabrik itu memproduksi kerupuk
matang yang dijual dalam bentuk karung plastik besar maupun kemasan – kemasan kecil
yang diambil para agen untuk dijual di toko kelontong. Dulu, ratusan ribu
kerupuk dapat dihasilkan oleh pabrik ini, namun sekarang jumlahnya kian merosot
entah berapa. Tak ada jumlah pasti mengenai apapun di pabrik ini, tak ada
pencatatan mengenai hasil produksi, persediaan bahan baku, jumlah karyawan,
jumlah agen, dan sebagainya, satu – satunya catatan angka yang ia temui
hanyalah catatan keuangn milik Wati, bendahara pabrik, dan catatan itu pun
kacau dan tidak sesuai, “Saya sendiri juga pusing mbak, ndak pernah pas”, keluh Wati saat diajak berbincang oleh Kiki.
Kompleks. Pabrik ini benar – benar harus dimulai dari awal.
Kini, hari – hari Kiki dihabiskan untuk keluar masuk
pabrik, bahkan kadang hingga petang datang Kiki masih belum pulang dari pabrik.
Pukul 7 malam, Pabrik yang tak seberapa luas tiba – tiba terasa sangat lebar
dan besar, membuat langkah Kiki menuju pintu keluar seolah tak sampai – sampai,
sunyi sepi sendiri. Jangankan detik jarum jam bahkan desah nafas Kiki terdengar
jelas oleh telinganya sendiri. Akhirnya langkah Kiki mulai mendekati pintu
keluar pabrik, Kiki berbelok ke kiri menuju saklar dan mematikan lampu ruangan
itu. Gelap sekejap. Dengan sedikit meraba, Kiki meraih handle5 pintu, kreeek
bunyi pintu tua pabrik. Hampir seluruh peralatan dan bagian pabrik,
termasuk daun pintu, jendela, dan mesin pencampur adonan selalu mengeluarkan
bunyi yang menandakan usia uzurnya. Tapi, bunyi yang baru saja didengar Kiki
tidak wajar, tiba – tiba jantung Kiki berdetak kencang, ada yang aneh, bulu
kuduk Kiki berdiri dan ia mulai waspada. Kiki merajut pikirannya, Pertama, Kiki
mempertanyakan kesadaran dirinya pada detik itu, dan 2 detik berikutnya ia
memutuskan bahwa dirinya memang berada pada kesadaran penuh. Kedua, Kiki
mencoba menelaah keadaan sekitarnya, dan dengan modal kesadaran penuh ia sangat
yakin bahwa tangannya yang sedari tadi menempel di handle pintu, belum menggerakkan pintu itu sama sekali.
Jantung Kiki semakin tidak terkendali, Kiki jelas –
jelas tidak menggerakkan apalagi membunyikan apapun di ruangan itu. Dan ia
sangat yakin bahwa ia adalah orang terakhir di pabrik itu dan juga yakin bahwa
ia sudah mengunci semua pintu. Jantungnya semakin berlari, ini keadaan yang tak
pernah ia alami, antara takut, khawatir, penasaran, dan merasa konyol karena
ketakutan sendiri. Kiki terpaku, ia masih dengan posisi yang sama, berdiri
memegang handle pintu yang setengah
terbuka, ia menahan nafasnya.
2ya
3saya
4silakan
5pegangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar