Minggu, 02 Juni 2013

Ruangan Berterali (Part 2)

Pabrik kecil itu begitu sunyi, meskipun banyak orang di sana, tetapi pekerja di sana tak sebanyak dulu, dulu masih ada anak – anak muda lulusan SMP dan SMA yang bekerja di pabrik untuk berbagai bagian produksi atau pun pengemasan. Kini, pabrik seolah hidup segan mati tak mau, pekerja yang tersisa hanyalah ibu – ibu bekas pembantu, anak – anak gadis tak berpendidikan yang hanya menunggu dilamar orang, dan selebihnya, para pemalas yang terpaksa bekerja karena tak tahu harus makan apa. Kiki berjalan menyusuri setiap ruangan pabrik, beberapa orang menyapanya, dan beberapa pemuda yang bekerja sebagai buruh jemur menggodanya. Terang saja, Kiki gadis yang cantik untuk ukuran orang desa. Pabrik yang suram, tanpa gairah, tiba – tiba dimasuki oleh seorang gadis cantik berpendidikan – walaupun hanya tamatan SMA- tentunya merupakan sebuah penyegaran tersendiri.
Saat Kiki berjalan memasuki ruang penyimpanan bahan baku, ia mendapati ruangan yang kacau berantakan. Segala jenis bahan nyaris bercampur dan tidak jelas jumlahnya.

“Eh Mbak Kiki, tumben mbak dateng ke pabrik?” sapa seorang lelaki paruh baya.

Nggih2 Pak Tejo, mulai sekarang kula3 ngurus pabrik, soalnya sudah selesai sekolahnya”, ujar Kiki sopan, Pak Tejo adalah orang kepercayaan almarhum ayahnya di pabrik, lelaki itu terlihat jauh lebih tua daripada usia yang sebenarnya.

“Oalah, gitu to… wah sudah pinter ya sekarang Mbak Kiki, bisa maju ini nanti pabriknya kalo ada Mbak Kiki”.

“Amiin pak”, jawab Kiki sembari melempar senyum, “Pak, lagi sibuk ndak? Saya pengen sedikit ngobrol – ngobrol tentang keadaan pabrik, soale saya selama ini kan ndak tahu apa – apa, mau sekalian belajar sama bapak”.

“O gitu, iya bisa mbak, monggo monggo4 mbak duduk di bangku teras depan”, Pak Tejo mengajak Sumi berjalan keluar ruangan pabrik.
“Ya begini ini mbak keadaan pabrik kita sekarang, seperti yang Mbak Kiki sendiri lihat”, Pak Tejo mengawali obrolan itu,”sejak ditinggal sama bapak, saya jadi gelagapan mengurus pabrik ini, maaf mbak, karena memang ndak ada ilmu yang mendalam yang bapak ajarkan ke saya. Yang saya tahu ya sebatas mengawasi semua bagian saja, mengecek segala jenis pencatatan juga saya kurang ngerti mbak, bapak belum sempat ngajari saya. Sejauh ini yang saya lakukan ya masih seperti dulu ketika ada bapak, mengecek keadaan setiap bagian, menerima uang dari bendahara, dan menggaji para karyawan, kalau catatan uang masuk dan uang keluar untuk gaji saja sih saya ada mbak, tapi kalau tentang perbelanjaan itu ya si Wati yang mengurus”

“Bapak ndak ngecek dari Wati?” Tanya Kiki.

“Ya cuma saya lihat saja mbak, saya ndak ngerti hitungannya itu njlimet6 e mbak, bingung saya, soalnya dulu yang ngecek bapak langsung mbak. Ya masalah kita ini memang sekarang berpusat pada masalah pemasukan dan pengeluaran untuk bahan baku itu mbak. Sekarang sudah ndak banyak agen yang ambil kerupuk kita kayak dulu, bahan baku juga semakin naik”, Pak Tejo menjelaskan lebih dalam.

“Bahan baku yang harganya naik apa saja pak?”, kiki terus menginterogasi.

“Saya sempat beberapa kali Tanya ke Ijan, Ijan itu yang tukang belanja bahan baku itu mbak, Ijan bilang sama saya kalo Ijan mau kasi saya rinciannya, tapi sampai hari ini belum dikasih ke saya. Saya juga salah sih mbak, lupa terus ndak nanyain lagi, besok saya tanyakan ke Ijan mbak, hari ini Ijannya ndak masuk”

“O gitu, besok antar saya ke Ijan aja pak, biar saya yang tanya langsung ke Ijan, saya sekalian mau ngobrol dan tanya – tanya tentang bahan baku”, ujar kiki berencana menginterogasi Ijan.

Obrolan Kiki dan Pak Tejo berlangsung panjang, hari sudah senja, 3 jam lebih berbincang dengan Pak Tejo membuatnya tahu banyak hal dan membuatnya berpikir keras. Di akhir sesi, Pak Tejo banyak mengisahkan hal yang tidak diduga oleh Kiki, salah satunya tentang kebakaran kecil yang pernah terjadi di ruang produksi, ya hanya kebakaran kecil memang, tetapi sedikit banyak cukup merugikan pabrik, ditambah lagi banyak pekerja lelaki yang tiba – tiba tidak datang bekerja ke pabrik lagi tanpa ada kejelasan, “Mungkin karena gaji yang naik turun mbak, saya juga hanya bisa membiarkan saja, karena pabrik kita juga sudah ndak bisa membayar banyak orang”, ujar Pak Tejo tadi siang. Pabrik itu juga tersendat-sendat oleh harga bahan baku yang kian melambung, sementara harga sebuah kerupuk tidak bisa dinaikkan dengan mudah, bisa – bisa tidak ada yang mau membeli kerupuk. Ibunya jelas tahu mengenai semua permasalah pabrik ini, namun selama ini ibunya tidak memberi tahu, pasti karena takut membebani pikiran Kiki padahal ibunya sendiri pun tak tahu bagaimana harus menyelesaikan semua permasalahan pabrik. Sang ibu hanya mampu memasrahkan semuanya kepada Pak Tejo, Pak Tejo sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi keadaan itu. Semua permasalah ini perlu analisis mendalam dengan cara turun langsung ke lapangan, pikirnya.
***
Seperti biasa, seusai solat subuh Sumi bergegas ke kebun dan Kiki membuat sarapan untuk mereka berdua, agar sepulang dari kebun ibunya dapat segera sarapan dan berangkat ke pasar. Hari ini Kiki telah merencanakan banyak hal mengenai pabrik. Dengan uang tabungannya, Kiki telah membeli sebuah buku catatan kecil untuk misinya menelisik pabrik hari ini. Usai berbenah rumah dan membersihkan badan, dengan sebuah kemeja hijau dan rok panjang Kiki bergegas ke pabrik, rambut tipis panjangnya diikat di bagian belakang kepala dan berkibar – kibar menabrak angin yang diciptakan oleh kayuhan sepedanya.
Sesampainya di Pabrik, Kiki didampingi Pak Tejo berkeliling, ia berkenalan dengan beberapa pekerja di pabrik, mulai dari yang masih remaja, ibu – ibu dan bapak - bapak lulusan SD dan SMP, sampai mbah – mbah yang tenaganya tak redup oleh usia. Pabrik kerupuk itu adalah milik keluarga almarhum ayah Kiki, turun temurun pabrik kerupuk itu diwariskan ke anak cucu, hingga akhirnya jatuh ke tangan ayah Kiki yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga itu. Kini, siapa lagi yang mewarisi dan akan mengurus pabrik itu jika bukan Kiki, anak semata wayang. Bangunannya tidak terlalu besar dan tidak pula luas, hanya terdiri dari beberapa ruangan yang sekiranya cukup untuk bekerja, dan terdapat sebuah halaman luas di area belakang pabrik yang difungsikan sebagai tempat menjemur kerupuk. Pabrik itu memproduksi kerupuk matang yang dijual dalam bentuk karung plastik besar maupun kemasan – kemasan kecil yang diambil para agen untuk dijual di toko kelontong. Dulu, ratusan ribu kerupuk dapat dihasilkan oleh pabrik ini, namun sekarang jumlahnya kian merosot entah berapa. Tak ada jumlah pasti mengenai apapun di pabrik ini, tak ada pencatatan mengenai hasil produksi, persediaan bahan baku, jumlah karyawan, jumlah agen, dan sebagainya, satu – satunya catatan angka yang ia temui hanyalah catatan keuangn milik Wati, bendahara pabrik, dan catatan itu pun kacau dan tidak sesuai, “Saya sendiri juga pusing mbak, ndak pernah pas”, keluh Wati saat diajak berbincang oleh Kiki. Kompleks. Pabrik ini benar – benar harus dimulai dari awal.
Kini, hari – hari Kiki dihabiskan untuk keluar masuk pabrik, bahkan kadang hingga petang datang Kiki masih belum pulang dari pabrik. Pukul 7 malam, Pabrik yang tak seberapa luas tiba – tiba terasa sangat lebar dan besar, membuat langkah Kiki menuju pintu keluar seolah tak sampai – sampai, sunyi sepi sendiri. Jangankan detik jarum jam bahkan desah nafas Kiki terdengar jelas oleh telinganya sendiri. Akhirnya langkah Kiki mulai mendekati pintu keluar pabrik, Kiki berbelok ke kiri menuju saklar dan mematikan lampu ruangan itu. Gelap sekejap. Dengan sedikit meraba, Kiki meraih handle5 pintu, kreeek bunyi pintu tua pabrik. Hampir seluruh peralatan dan bagian pabrik, termasuk daun pintu, jendela, dan mesin pencampur adonan selalu mengeluarkan bunyi yang menandakan usia uzurnya. Tapi, bunyi yang baru saja didengar Kiki tidak wajar, tiba – tiba jantung Kiki berdetak kencang, ada yang aneh, bulu kuduk Kiki berdiri dan ia mulai waspada. Kiki merajut pikirannya, Pertama, Kiki mempertanyakan kesadaran dirinya pada detik itu, dan 2 detik berikutnya ia memutuskan bahwa dirinya memang berada pada kesadaran penuh. Kedua, Kiki mencoba menelaah keadaan sekitarnya, dan dengan modal kesadaran penuh ia sangat yakin bahwa tangannya yang sedari tadi menempel di handle pintu, belum menggerakkan pintu itu sama sekali.
Jantung Kiki semakin tidak terkendali, Kiki jelas – jelas tidak menggerakkan apalagi membunyikan apapun di ruangan itu. Dan ia sangat yakin bahwa ia adalah orang terakhir di pabrik itu dan juga yakin bahwa ia sudah mengunci semua pintu. Jantungnya semakin berlari, ini keadaan yang tak pernah ia alami, antara takut, khawatir, penasaran, dan merasa konyol karena ketakutan sendiri. Kiki terpaku, ia masih dengan posisi yang sama, berdiri memegang handle pintu yang setengah terbuka, ia menahan nafasnya.
2ya
3saya
4silakan
5pegangan

6rumit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar