“Piye7 ti? Cukup ndak karungnya?”, seorang lelaki muda
bertubuh jangkung dengan kulit hitam legam menggotong beberapa barang untuk
dimasukkan ke dalam beberapa karung goni yang dibawanya.
“ndak apa – apa mas, agak
dipaksa dikit, ditekan – tekan biar cukup”, jawab seorang gadis berambut pendek
yang sedang sibuk memaksa beberapa barang tersebut untuk masuk ke dalam karung
goni. “lho? Udah ndak ada lagi mas
karungnya?”, si gadis celingukan mencari karung lain yang akan ia gunakan untuk
memasukkan lebih banyak barang.
“udah segitu aja cukup, besok Pakdhe Jarwo cuma ambil dikit kok”, ujar
lelaki itu.
Dengan 5 karung goni penuh yang ditempatkan pada gerobak dorong, berisi
berbungkus – bungkus tepung terigu, tepung tapioka, dan gula pasir, kedua
pemuda pemudi itu melangkahkan kaki dengan tergesa namun sangat hati – hati.
Malam belum larut, namun area tempat mereka berjalan adalah area yang jauh dari
pemukiman dan sangat sepi.
***
Pagi ini, Kiki tidak pergi ke pabrik, ia cukup lelah
setelah menganalisis berbagai permasalahan pabrik selama 3 minggu penuh. Terlebih
lagi setelah kejadian malam itu, yang membuatnya harus meringkuk di belakang
pintu pabrik sampai jam 12 malam, lalu ia pulang ke rumah setelah ia yakin tak
ada suara lagi selain suara nafasnya. Rantai sepedanya sampai putus karena
dikayuh terlalu kencang, bahkan ketika melalui jalan menanjak ia berlari sambil
menggotong sepeda yang sudah tidak bisa dikayuh lagi, rasa takut ternyata
memberikan energi yang sangat besar. Sesampai di rumah, didapatinya sang ibu
menangis tersedu – sedu karena ketakutan kehilangan anak semata wayang. Hari
ini ia memutuskan untuk berjalan – jalan keliling desa, mencoba mengenal
kembali keindahan masa kecilnya yang sempat terkubur 3 tahun belakangan. Selama
menduduki bangku SMA, Kiki terlalu banyak menyibukkan dirinya dengan tugas –
tugas sekolah. Hal itu sengaja ia lakukan untuk melupakan dukanya karena
ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selama – lamanya. 3 tahun yang terasa
mati, meski ia tahu bahwa ibunya sedang berjuang keras untuk menghidupinya dan
membayar uang sekolahnya, terlebih setelah ia tahu bahwa pabrik sedang dalam
masa krisis. Merasa terasing selama itu membuat ia tak mengenal orang – orang
baru yang tinggal di desanya, termasuk bayi – bayi yang kini sudah bisa
berlari, atau pun nyawa – nyawa yang dulu tak ada dan sekarang telah dilahirkan
oleh ibu – ibu muda yang dulunya adalah gadis – gadis desa sebaya Kiki.
“Ki, mau kemana kamu?”, laki – laki bertubuh tambun dengan usia sekitar
55 tahun menghampiri Kiki yang sedang berjalan santai melewati setapak di tepi
sawah. Lelaki itu sepertinya sedang berolahraga pagi, pantas saja tubuhnya
terlihat sehat dan segar.
“Eh Pakdhe Jarwo, lari pagi pakdhe?”, Kiki membalas sapaan lelaki itu.
“Wah ya ndak lari to, pakdhe
udah tua begini mana bisa lari, pegel semua badan, ya cuma jalan – jalan saja”,
lelaki itu menghentikan langkahnya tepat dismping Kiki, “Kamu juga to? udah
lama pakdhe ndak lihat kamu. Udah
lulus kabarnya? Kiki mengangguk sambil tersenyum, “Kata emakmu, kamu ngurus
pabrik sekarang? piye nduk8
pabrikmu sekarang, sudah ada perbaikan?”
“Ndak tahu pakdhe, masih belum
beres, manajemennya itu lo pakdhe, kacau. Ndak
ada pencatatan, ndak ada pengawasan,
tapi mulai 2 minggu yang lalu, saya dan Pak Tejo mulai mencatat dan mengwasi
sih pakdhe” Kiki menjelaskan.
“O begitu, lha piye hasil pengawasane?
akar masalahnya apa?”
“kompleks pakdhe”, Kiki menghela nafas. Pakdhe Jarwo membaca air muka
Kiki yang resah gundah gulana, jiwa kebapakannya mendorong hatinya untuk
menguak lebih banyak permasalah gadis itu, berharap dapat mengurangi
kegelisahan. Pakdhe Jarwo adalah tetangga yang sangat baik, dulu waktu Kiki
kecil beliau suka datang ke rumah dan membawakan beberapa donat dan roti kering
manis untuk Kiki. Sejak dulu Pakdhe Jarwo merupakan salah satu pengusaha sukses
di desa itu, ia membuka industri rumah tangga yang memproduksi makanan kecil
seprti donat, bolu, kue kring, dan lain – lain, dan karena sama – sama
pengusaha, Pakdhe Jarwo pun berteman akrab dengan ayah Kiki. Sifat dasarnya
yang sangat menyukai anak kecil, membuat Pakdhe Jarwo akrab dengan banyak anak
– anak, termasuk Kiki. Dengan sedikit isyarat, Pakdhe Jarwo mengajak Kiki untuk
berbincang di rumahnya yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berbincang.
“Aneh pakdhe”, ujar Kiki seusai menyeruput teh panas
yang disajikan oleh Budhe Jarwo. “Masalah yang utama sekarang sih tentang
kenaikan harga bahan baku pakdhe, besar sekali ternyata pengeluaran pabrik, dan
setelah Kiki perhatikan beberapa hari terakhir ini, penggunaan bahan baku
sepertinya juga bermasalah pakdhe. Stock
bahan baku yang kami beli itu banyak sekali, tapi dalam seminggu bahan baku
sudah habis lagi, padahal barang yang diproduksi juga cuma segitu – segitu saja
pakdhe. Seminggu ini saya sudah nyatet lho pakdhe, tapi sepertinya catetan saya
itu salah pakdhe, soalnya jumlah kerupuk yang dihasilkan itu sedikit sekali, sepertinya
saya lagi kena sakit pusing kepala atau mata jereng pakdhe, setiap menghitung kepingan kerupuk selalu keliru”
“lha kok kamu sendiri yang ngitung? biasanya yang ngitung siapa, ndak ada jumlah pasti hasil produksi?”
“Dulu kepala produksi itu mas Harfian Pakdhe, tapi sekarang kan Mas
harfian sudah pindah ke Sumatera, dan ndak
ada penggantinya, sementara bagian produksi yang lain itu ibu – ibu tua yang
penglihatannya juga sudah rabun, jadi ya mereka itu asal saja gitu pakdhe.”
“sik sik sik9 nduk, memangnya bahan baku apa yang
harganya naik?” Pakdhe Jarwo memotong pembicaraan Kiki.
“Semua Pakdhe, ya tepung – tepung, ya gula”, keluh Kiki.
“Beli dimana to memangnya?”
“Biasa, Cik Eli”
“Berapa harganya sekarang?”
“Kalau tepung terigu itu sekarang sekilonya sampai sepuluh ribu pakdhe,
kalau tapioka itu sekarang sekitar lima sampai tujuh ribu, nah gula ini pakdhe
muahal betul, sekilo saja sudah lima belas sampai dua puluh ribu”
“ngawur tenan10!
Masa to nduk? Seminggu lalu pakdhe
belanja di Cik eli masih wajar kok harganya”
“seminggu lalu? Wajar itu gimana pakdhe? Berapa? Kami belanja di Cik Eli
kan sejak dulu, ndak pernah pindah,
masa pakdhe dikasih harga wajar tapi kami ndak”
“Ndak ndak, Cik Eli itu biar pun pelit tapi orangnya jujur dan ndak pilih – pilih pelanggan”
“Apa mungkin Cik Eli ndak suka
sama pabrik kerupuk kami ya pakdhe?”
“Ndak gitu lah nduk, ndak mungkin gitu, Pakdhe juga sejak dulu kan langganan Cik Eli,
Cik Eli itu orangnya bisa dipercaya. Apa iya ya harganya sudah naik setinggi
itu, pakdhe sudah lama ndak belanja
kesana”
“Oh? Pakdhe dapat langganan toko bahan roti yang baru?”
“Oh ndak ndak, lha ya ini yang bikin pakdhe bertanya – tanya, pakdhe itu
dapat pasokan terigu, gula, sama kadang – kadang tapioka, itu dari si Ijan itu
lho, dia katanya jadi agen langsung dari pabrik tepung, gula, kadang bawa
bawang putih juga, dia jualnya harga murah kok, di bawah harga Cik Eli. Si Ijan
itu kan karyawanmu to nduk? Lha apa
dia itu ndak nyetok ke pabrikmu?”
“Mas Ijan? ndak pakdhe, kok
malah nyetok ke pakdhe ya?”, tiba – tiba ada suatu hal yang terbersit di otak
Kiki.
“Lha ya itu yang bikin pakdhe bingung, kok malah nyetok ke pakdhe, padahal
keadaan pabrikmu sedang sakit dan ada masalah”
“Ya sudah ndak apa – apa
pakdhe, besok Kiki tak tanya ke mas Ijan apa masih punya stock tepung sama gula yang murah”
“Nah iya iya ditanya saja, atau nanti sore tak tanyain sekalian juga
bisa, dia sore ini katanya mau nganter gula”
“Oh gitu… nggih nggih pakdhe, matur nuwun”, Kiki meneguk teh
terakhirnya, “Pakdhe, sudah agak siang ini, Kiki pamit ya pakdhe?”
“Iya iya, ini bawa donat sama bolu ini, buat ibu juga sekalian”
“Wah enak itu kayaknya pakdhe, hehehe”
“Ya enak to, siapa dulu yang punya”, Pakdhe Jarwo memberikan satu bungkus
rantang sayur yang diisinya dengan donat dan bolu.
“Wah… lama ndak makan donatnya
pakdhe, matur nuwun nggih pakdhe”,
Kiki tersenyum, “Budhe? Kiki Pamit Budhe”
“Buk! Iki lho bu’ Kiki pamit”,
Pakdhe Jarwo berteriak.
“o iya… iya…”, Budhe Jarwo muncul dari dalam rumah, “ati – ati yo nduk11”.
“Nggih pakdhe budhe,
Assalamu’alaikum”, Kiki berlalu setelah mencium tangan kedua suami istri itu.
“Wa’alaikumsalam”, ujar Pakdhe Jarwo dan istrinya bersamaan.
7bagaimana
8panggilan
untuk anak perempuan
9sebentar
10sembarangan
sekali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar