Senin, 03 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 3)

Piye7 ti? Cukup ndak karungnya?”, seorang lelaki muda bertubuh jangkung dengan kulit hitam legam menggotong beberapa barang untuk dimasukkan ke dalam beberapa karung goni yang dibawanya.
ndak apa – apa mas, agak dipaksa dikit, ditekan – tekan biar cukup”, jawab seorang gadis berambut pendek yang sedang sibuk memaksa beberapa barang tersebut untuk masuk ke dalam karung goni. “lho? Udah ndak ada lagi mas karungnya?”, si gadis celingukan mencari karung lain yang akan ia gunakan untuk memasukkan lebih banyak barang.
“udah segitu aja cukup, besok Pakdhe Jarwo cuma ambil dikit kok”, ujar lelaki itu.
Dengan 5 karung goni penuh yang ditempatkan pada gerobak dorong, berisi berbungkus – bungkus tepung terigu, tepung tapioka, dan gula pasir, kedua pemuda pemudi itu melangkahkan kaki dengan tergesa namun sangat hati – hati. Malam belum larut, namun area tempat mereka berjalan adalah area yang jauh dari pemukiman dan sangat sepi. 
***
Pagi ini, Kiki tidak pergi ke pabrik, ia cukup lelah setelah menganalisis berbagai permasalahan pabrik selama 3 minggu penuh. Terlebih lagi setelah kejadian malam itu, yang membuatnya harus meringkuk di belakang pintu pabrik sampai jam 12 malam, lalu ia pulang ke rumah setelah ia yakin tak ada suara lagi selain suara nafasnya. Rantai sepedanya sampai putus karena dikayuh terlalu kencang, bahkan ketika melalui jalan menanjak ia berlari sambil menggotong sepeda yang sudah tidak bisa dikayuh lagi, rasa takut ternyata memberikan energi yang sangat besar. Sesampai di rumah, didapatinya sang ibu menangis tersedu – sedu karena ketakutan kehilangan anak semata wayang. Hari ini ia memutuskan untuk berjalan – jalan keliling desa, mencoba mengenal kembali keindahan masa kecilnya yang sempat terkubur 3 tahun belakangan. Selama menduduki bangku SMA, Kiki terlalu banyak menyibukkan dirinya dengan tugas – tugas sekolah. Hal itu sengaja ia lakukan untuk melupakan dukanya karena ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selama – lamanya. 3 tahun yang terasa mati, meski ia tahu bahwa ibunya sedang berjuang keras untuk menghidupinya dan membayar uang sekolahnya, terlebih setelah ia tahu bahwa pabrik sedang dalam masa krisis. Merasa terasing selama itu membuat ia tak mengenal orang – orang baru yang tinggal di desanya, termasuk bayi – bayi yang kini sudah bisa berlari, atau pun nyawa – nyawa yang dulu tak ada dan sekarang telah dilahirkan oleh ibu – ibu muda yang dulunya adalah gadis – gadis desa sebaya Kiki.
“Ki, mau kemana kamu?”, laki – laki bertubuh tambun dengan usia sekitar 55 tahun menghampiri Kiki yang sedang berjalan santai melewati setapak di tepi sawah. Lelaki itu sepertinya sedang berolahraga pagi, pantas saja tubuhnya terlihat sehat dan segar.
“Eh Pakdhe Jarwo, lari pagi pakdhe?”, Kiki membalas sapaan lelaki itu.
“Wah ya ndak lari to, pakdhe udah tua begini mana bisa lari, pegel semua badan, ya cuma jalan – jalan saja”, lelaki itu menghentikan langkahnya tepat dismping Kiki, “Kamu juga to? udah lama pakdhe ndak lihat kamu. Udah lulus kabarnya? Kiki mengangguk sambil tersenyum, “Kata emakmu, kamu ngurus pabrik sekarang? piye nduk8 pabrikmu sekarang, sudah ada perbaikan?”
Ndak tahu pakdhe, masih belum beres, manajemennya itu lo pakdhe, kacau. Ndak ada pencatatan, ndak ada pengawasan, tapi mulai 2 minggu yang lalu, saya dan Pak Tejo mulai mencatat dan mengwasi sih pakdhe” Kiki menjelaskan.
“O begitu, lha piye hasil pengawasane? akar masalahnya apa?”
“kompleks pakdhe”, Kiki menghela nafas. Pakdhe Jarwo membaca air muka Kiki yang resah gundah gulana, jiwa kebapakannya mendorong hatinya untuk menguak lebih banyak permasalah gadis itu, berharap dapat mengurangi kegelisahan. Pakdhe Jarwo adalah tetangga yang sangat baik, dulu waktu Kiki kecil beliau suka datang ke rumah dan membawakan beberapa donat dan roti kering manis untuk Kiki. Sejak dulu Pakdhe Jarwo merupakan salah satu pengusaha sukses di desa itu, ia membuka industri rumah tangga yang memproduksi makanan kecil seprti donat, bolu, kue kring, dan lain – lain, dan karena sama – sama pengusaha, Pakdhe Jarwo pun berteman akrab dengan ayah Kiki. Sifat dasarnya yang sangat menyukai anak kecil, membuat Pakdhe Jarwo akrab dengan banyak anak – anak, termasuk Kiki. Dengan sedikit isyarat, Pakdhe Jarwo mengajak Kiki untuk berbincang di rumahnya yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berbincang.
“Aneh pakdhe”, ujar Kiki seusai menyeruput teh panas yang disajikan oleh Budhe Jarwo. “Masalah yang utama sekarang sih tentang kenaikan harga bahan baku pakdhe, besar sekali ternyata pengeluaran pabrik, dan setelah Kiki perhatikan beberapa hari terakhir ini, penggunaan bahan baku sepertinya juga bermasalah pakdhe. Stock bahan baku yang kami beli itu banyak sekali, tapi dalam seminggu bahan baku sudah habis lagi, padahal barang yang diproduksi juga cuma segitu – segitu saja pakdhe. Seminggu ini saya sudah nyatet lho pakdhe, tapi sepertinya catetan saya itu salah pakdhe, soalnya jumlah kerupuk yang dihasilkan itu sedikit sekali, sepertinya saya lagi kena sakit pusing kepala atau mata jereng pakdhe, setiap menghitung kepingan kerupuk selalu keliru”
“lha kok kamu sendiri yang ngitung? biasanya yang ngitung siapa, ndak ada jumlah pasti hasil produksi?”
“Dulu kepala produksi itu mas Harfian Pakdhe, tapi sekarang kan Mas harfian sudah pindah ke Sumatera, dan ndak ada penggantinya, sementara bagian produksi yang lain itu ibu – ibu tua yang penglihatannya juga sudah rabun, jadi ya mereka itu asal saja gitu pakdhe.”
sik sik sik9 nduk, memangnya bahan baku apa yang harganya naik?” Pakdhe Jarwo memotong pembicaraan Kiki.
“Semua Pakdhe, ya tepung – tepung, ya gula”, keluh Kiki.
“Beli dimana to memangnya?”
“Biasa, Cik Eli”
“Berapa harganya sekarang?”
“Kalau tepung terigu itu sekarang sekilonya sampai sepuluh ribu pakdhe, kalau tapioka itu sekarang sekitar lima sampai tujuh ribu, nah gula ini pakdhe muahal betul, sekilo saja sudah lima belas sampai dua puluh ribu”
ngawur tenan10! Masa to nduk? Seminggu lalu pakdhe belanja di Cik eli masih wajar kok harganya”
“seminggu lalu? Wajar itu gimana pakdhe? Berapa? Kami belanja di Cik Eli kan sejak dulu, ndak pernah pindah, masa pakdhe dikasih harga wajar tapi kami ndak
Ndak ndak, Cik Eli itu biar pun pelit tapi orangnya jujur dan ndak pilih – pilih pelanggan”
“Apa mungkin Cik Eli ndak suka sama pabrik kerupuk kami ya pakdhe?” 
Ndak gitu lah nduk, ndak mungkin gitu, Pakdhe juga sejak dulu kan langganan Cik Eli, Cik Eli itu orangnya bisa dipercaya. Apa iya ya harganya sudah naik setinggi itu, pakdhe sudah lama ndak belanja kesana”
“Oh? Pakdhe dapat langganan toko bahan roti yang baru?”
“Oh ndak ndak, lha ya ini yang bikin pakdhe bertanya – tanya, pakdhe itu dapat pasokan terigu, gula, sama kadang – kadang tapioka, itu dari si Ijan itu lho, dia katanya jadi agen langsung dari pabrik tepung, gula, kadang bawa bawang putih juga, dia jualnya harga murah kok, di bawah harga Cik Eli. Si Ijan itu kan karyawanmu to nduk? Lha apa dia itu ndak nyetok ke pabrikmu?”
“Mas Ijan? ndak pakdhe, kok malah nyetok ke pakdhe ya?”, tiba – tiba ada suatu hal yang terbersit di otak Kiki.
“Lha ya itu yang bikin pakdhe bingung, kok malah nyetok ke pakdhe, padahal keadaan pabrikmu sedang sakit dan ada masalah”
“Ya sudah ndak apa – apa pakdhe, besok Kiki tak tanya ke mas Ijan apa masih punya stock tepung sama gula yang murah”
“Nah iya iya ditanya saja, atau nanti sore tak tanyain sekalian juga bisa, dia sore ini katanya mau nganter gula”
“Oh gitu… nggih nggih pakdhe, matur nuwun”, Kiki meneguk teh terakhirnya, “Pakdhe, sudah agak siang ini, Kiki pamit ya pakdhe?”
“Iya iya, ini bawa donat sama bolu ini, buat ibu juga sekalian”
“Wah enak itu kayaknya pakdhe, hehehe”
“Ya enak to, siapa dulu yang punya”, Pakdhe Jarwo memberikan satu bungkus rantang sayur yang diisinya dengan donat dan bolu.
“Wah… lama ndak makan donatnya pakdhe, matur nuwun nggih pakdhe”, Kiki tersenyum, “Budhe? Kiki Pamit Budhe”
“Buk! Iki lho bu’ Kiki pamit”, Pakdhe Jarwo berteriak.
“o iya… iya…”, Budhe Jarwo muncul dari dalam rumah, “ati – ati yo nduk11”.
Nggih pakdhe budhe, Assalamu’alaikum”, Kiki berlalu setelah mencium tangan kedua suami istri itu.
“Wa’alaikumsalam”, ujar Pakdhe Jarwo dan istrinya bersamaan.

7bagaimana
8panggilan untuk anak perempuan
9sebentar
10sembarangan sekali

11hati – hati ya nak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar