Sabtu, 08 Juni 2013

Cake (Part 1)

“Za, udah selesai belum?”, Adira membuka kain yang menutup mangkuk besar di atas meja dan mendekatkan wajahnya ke isi mangkok itu. Adonan telah berubah ukuran dengan beberapa gelembung udara yang menyembul di permukaannya.
“Ih belum belum belum, jangan kayak gitu dong! Kontam1 entar!”, Za menyingkirkan wajah Adira dari dekat mangkuk besar Adonan.
“Liat doang”, Adira beralasan.
“Kalau sampai gagal, bisa dibunuh entar sama Ibu Tursina!”
“Lebay lu Za, nggak ampe bunuh juga kali, paling lu disiksa sampe cacat”
“Berisik lu, udah ni bantuin garnish2!”
“Yang ini buat siapa?”, Adira mengambil beberapa botol whipped cream dan menuju ke tempat Za berdiri.
“Buat saudaranya Bu Tursina”, Za menghias sebuah cake dengan diameter 30 cm,”Katanya saudaranya ulang tahun”
Za dan Adira menghias kue itu selama satu jam dengan sangat hati hati. “Sampai kapan lu mau kerja Rodi kayak gini Za”, celetuk Adira.
Sudah seminggu Adira pindah tugas dari area penyimpanan bahan baku ke dapur pemrosesan untuk membantu Za membuat kue. Kue – kue itu dibuat untuk dijual oleh Ibu Tursina di Tursina Cakery Shop. Jika bukan karena Ibu kandunnya yang memerlukan biaya operasi mata, Za tak akan sudi dipekerjakan tanpa dibayar oleh Ibu Tursina.Ibunya yang telah 2 tahun buta. Dan sudah seminggu Dokter Azril memberitahukannya bahwa kornea yang cocok dengan mata sang ibu telah tersedia. Tapi Ibu Tursina tak juga memenuhi janjinya.
“Ibu Tursina belum kasih uang untuk biaya operasinya Dok”, Di bawah meja dapur, Za menempelkan HP di telinga kirinya.
“Kamu yakin Bu Tursina akan ngasih jatah uang itu?”, terdengar suara Dokter Azril.
“Entah Dok, tapi Ibu Tursina harus jasih jatah uang itu ke saya, itu warisan ayah untuk saya dan ibu. Ibu Tursina nggak berhak dok”
“Za, korneanya sudah ada sejak seminggu, saya takut keburu orang lain mau pakai kornea itu…gimana kalau biayanya saya bantu dulu aja?”
“Nggak dok, saya akan coba bicara lagi sama Bu Tursina”
“Segera ya Za”
“Iya Dok”
Ibu Tursina adalah istri kedua ayah Za. Dulu semasa ayahnya masih hidup, Ibu Tursina sangat sopan dan ramah pada Za dan Ibunya. Bahkan sangat menghormati Ibunya. Namun sejak dua tahun yang lalu, sejak sebuah tragedi penembakan yang membuat ayah Za meninggal terjadi, Ibu Tursina berubah. Galak, jahat, kejam, dan kurang ajar pada Ibu kandung Za yang jelas – jelas lebih tua daripada Ibu Tursina. Dalam tragedi penembakan itu pula lah, Ibu kandung Za kini tak bisa melihat, entah karena terbentur, atau entah karena apa.
Tragedi penembakan itu terjadi ketika Za usai memanggang kue ulang tahun untuk Ibu Tursina yang dulu sangat disayanginya seperti ia menyayangi ibu kandungnya, di Toko Cake keluarga mereka, Toko Cake yang sekarang telah ganti nama menjadi Tursina Cakery Shop. Bukan hanya Toko Cake yang diambil alih, harta warisan dari sang ayah kini juga telah dikuasai total oleh Ibu Tursina. Ibu Tursina berjanji akan memberikan jatah warisannya bulan lalu, namun sudah lewat sebulan, yang ada Ibu Tursina malah menghukum Za karena dituduh mencuri cincin berlian peninggalan sang ayah.
“Za!”, Teriak Ibu Tursina. “Saya mau ke salon, kamu jaga depan sini!”
“Belum selesai kuenya!”, Za berteriak balik.
“Lelet banget sih jadi anak! Cepet! Saya tunggu 10 menit!
“Nggak bisa masih lama, satu jam!”
“Ih! Kurangajar banget sih kamu!”, Ibu Tursina memasuki dapur dan menyeret Za dengan kasar. Za menepis tangan Ibu Tursina dari lengannya.
“Ibu Tursina kapan bakal ngasih jatah warisan saya dan Ibu?”

“Nanti setelah kamu jaga toko! Sini cepet!, Ibu Tursina mendorong Za hingga menabrak lemari etalase kue.

1Kontaminasi / Pencemaran
2teknik menghias makanan

Kamis, 06 Juni 2013

Pedusa (Part 1)

Pramugari wanita dengan span panjang berwarna biru menghampirimu, dari jauh belahan roknya berkibas – kibas, mungkin penjahit pakaiannya kehabisan benang untuk menjahit sobekan rok itu, pikirmu. Atau mungkin pramugari yang cantik itu sangat lincah hingga roknya sobek saat ia sedang berkegiatan. Sudahlah, kau tak lagi terlalu mempedulikannya, pandanganmu kali ini tertuju pada trolley yang dibawanya. “Excuse me”, sapa pramugari itu padamu, Tomoyo Katsuki namanya, tertulis di tanda pengenal yang ia kaitkan di saku seragam pramugarinya. Pramugari itu meletakkan satu buah nampan berisi aneka menu lengkap untuk menjadi makan malammu. Rasanya bagai menemukan oase di tengah gurun pasir, setelah perjalanan panjang dari Ehime Prefecture dengan kereta, lalu disambung dengan bus menuju Tokyo, kini akhirnya kau sudah berada di tempat duduk samping jendela dan pesawatmu sedang terbang menuju Singapura untuk kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Indonesia.
Kau masih tidak percaya memiliki moment ini, setelah 4 tahun akhirnya kau bisa pulang ke kampung halamanmu di Sidoarjo,  meskipun belum waktunya kau meninggalkan Jepang. Dalam otakmu, tak henti – hentinya kau mensyukuri kesempatan yang telah kau dapatkan ini. Ini semua berkat Nadia, teman sekelasmu di Ehime University yang berasal dari Bandung, yang mengajakmu untuk mencoba masuk ke rumah hantu yang ada di kawasan perbelanjaan Dogo.
 Awalnya kau sangat kesal karena harus mengeluarkan 600 Yen hanya untuk masuk ke rumah hantu bodoh itu, uang makan saja sungguh sebuah perjuangan bagimu, Nadia memang hobi memaksa. Dari awal kau sudah tahu bahwa masuk rumah hantu bukanlah ide yang bagus, tentu saja bukan karena kau takut dengan jadi – jadian bodoh itu, tapi karena ini adalah permainan terkonyol yang pernah kau temui seumur hidup. Hantu – hantu yang awalnya boneka yang hanya bergerak - gerak, di lorong terakhir yang kau lewati ternyata terdapat monster seram yang mengejar hingga keluar dan tak segan – segan mencoret mukamu dengan tinta hitam yang sangat bau, dan monster itu adalah mahasiswa kerja part time. Rumah hantu bodoh, sungguh bodoh orang yang mau membayar 600 Yen hanya untuk ditakut – takuti dan di-bully orang lain, tapi tentunya kau bukan salah satu di antara orang – orang bodoh itu, karena ini paksaan dari Nadia. Namun bagimu lebih bodoh lagi orang yang punya ide membuka usaha rumah hantu, memangya dia pikir pelanggan tidak tahu jika hantu – hantunya palsu? Mereka memang bakka alias bodoh.
Sekeluarnya kau dan Nadia dari rumah hantu sial tak berujung itu, nadia berlari dan berteriak dengan seluruh tenaga yang sepertinya ia miliki. Dia berlalu keluar dan meninggalkanmu yang ternyata telah dicegat oleh dua sosok Sadako yang keluar drai televisi stearofoam. Hatimu tak habis – habis menyimpan makian, sebelum akhirnya si Sadako berbaju merah darah mengeluarkan sebuah papan bertuliskan Omedetogozaimasu!!! alias Selamat!!!. Sial! Kaget banget!. Lalu pegawai rumah hantu itu menyambutmu dengan gembira, nyerocos dengan sangat cepat dalam bahasa Jepang gaul yang tidak kau mengerti. Setelah kau menanyakan kepada mereka dnegan pelan – pelan, mereka menjelaskan padamu bahwa kau adalah pengunjung ke-1000, dan berhak atas hadiah 100.000 yen untuk tiket pesawat kemanapun kau mau. Jadilah sekarang kau pulang ke Indonesia, setelah menunggu mendapatkan tiket seharga itu untuk PP Jepang Indonesia. Mungkin itu adalah berkah di balik kebodohan, pikirmu.
Kau manyantap nasi putih yang disajikan bersama sebuah dadar telur  yang ber-taste ikan, dengan beberapa sashimi, terong goreng, telur goreng, dan daging ayam fillet. Lapar, lapar sekali, sudah berjam- jam kau tidak makan. Nasi putih itu masih panas, kau mengambil sumpit sekali pakai dan menancapkannya di atas nasi panas itu lalu mengambil beberapa dan menyuapkan ke dalam mulutmu. Panas tapi tak terlalu, nasi itu kau kunyah dengan sangat mendalami, dan mengalir ke kerongkonganmu dengan cepat. Dengan lihai, kau memotong dadar telur rasa ikan -yang tak kau tahu namanya- sebesar ibu jari kaki dan memasukkan ke dalam mulutmu, waw, luar biasa, tak pernah kau makan makanan seperti ini, teksturnya sangat lembut dan mudah dikunyah, beberapa kali kau merasakan telah mengunyah sesuatu yang renyah seperti bawang goreng namun terasa manis dan lezat. Adonan telur itu kering dan gurih luar biasa, sangat lezat. Dengan lahap kau habiskan seluruh makananmu tanpa sisa, termasuk seluruh ikan mentah yang disajikan. Kali ini mungkin kau telah mencapai tingkat kelaparan yang di luar ambang batas, biasanya kau hanya mampu menghabiskan 2 lembar ikan salmon mentah tapi kali ini kau telah menelan 5 lembar tanpa merasa mual.
Kau makan dengan sangat cepat, tanpa bekas, kau meneliti dengan seksama karena perutmu belum puas, kau meneguk Ocha hangat yang kau letakkan di sebelah nampan makanmu. Ocha itu tak lagi hangat, karena telah berjam – jam terdiam di meja lipat kursimu. Bibir gelas bertemu dengan bibirmu dan byur! Ocha itu mengguyur mukamu diringi dengan gerakan tidak karuan dari seluruh badan pesawat, kau merasa seperti berada di dalam bus ekonomi yang melewati banyak sekali polisi tidur yang tinggi – tinggi. Detik berikutnya lampu pesawat mengerjap berkali – kali seperti lampu disotik, dan diiringi bunyi sirine yang memekakan telinga. Kau tak lagi mempedulikan gelas Ochamu yang telah terguling entah kemana, kau melihat semua orang sangat panik. Mereka mengenakan alat bantu oksigen yang tiba – tiba terjatuh dari atas kepala mereka, kau mengikuti mereka.
Kau tak pernah sepanik ini seumur hidupmu, saking paniknya kau bahkan bingung memegang alat bantu oksigenmu, seluruh penumpang telah menggunakannya namun kau belum. Dari jauh kau melihat pramugari berlari sempoyongan sambil memperingatkan para penumpang untuk  mengenakan sabuk pengaman mereka. Kau bingung, alat bantu oksigen belum terpasang, sabuk pengaman yang jelas – jelas menempel di kursi pesawat, tiba – tiba menghilang dari pandanganmu. Tiba – tiba pesawat yang kau tumpangi menukik tajam, dan kau terdorong ke depan. Gelap.
Kau mengerjapkan matamu beberapa kali, kemudian kau memejamkannya dengan sangat rapat selama beberapa saat, lalu membukanya kembali. Pandanganmu masih kabur, kepalamu terasa sangat berat, kunang – kunang seperti sedang terbang berputar di atasnya. Rasanya masih sulit bagimu untuk mengenali situasi. Di satu sisi, kau senang karena telah mendapatkan cahaya, setelah kau merasa kegelapan menyelimutimu, namun di sisi lain,  perasaanmu sangat tidak enak.
“Tidak apa kah?”, sebuah suara yang halus dari seorang wanita membantu kesadaranmu bangkit kembali.
Kau membuka matamu, semua yang kabur perlahan menjadi jelas. di atasmu seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih anggun memperhatikanmu seksama, di sekitarmu pepohonan tinggi menjulang menukik ke angkasa. Gadis itu mengangkatmu, dia kurus, kurus sekali, pipinya tirus, kulitnya kuning langsat, kulit asia. Aneh sekali, gadis itu bahkan jauh lebih kurus darimu, tapi dia mengangkatmu dengan mudah.
“Ayo berdiri, aku bantu”, ujarnya. Kau pun berdiri tanpa sepatah kata pun. Gadis itu memapahmu, kepalamu masih agak berat, jika kau tidak salah lihat ada sebuah kereta berbentuk labu, yang di depannya terikat dua ekor kuda berwarana… o my God… merah. Kuda berwarna merah dengan satu tanduk di tengah keningnya, Gosh! Unicorn. Kau memasuki labu itu bersama si gadis. Ajaib, labu sempit itu sangat luas, di dalamnya terdapat rerumputan menghampar, beberapa bangunan dan banyak sekali orang – orang berpakaian putih dan hijau yang dapat terbang.
“Aku Laura, kau?”, Gadis yang sedari tadi memapahmu memperkenalkan diri.
“Aku…”, kau berpikir keras, seingatmu kau berada di sebuah kondisi yang sangat lain dari keadaan ini, “Kita dimana?”, kau tak dapat menahan kebingunganmu.

“Kita ada di Pedusa, dan Pedusa sedang berjalan menuju langit fana tertinggi”, kata Laura.

Rabu, 05 Juni 2013

Bersamamu Tanpa Tapi (Part 1)

“Selamat Pagi, saya Haris Ardiansyah, dari jurusan Teknik Mesin dan Alat Pertanian, kalau di rumah dipanggil Ardi, kalau di SMA dulu biasa dipanggil Haris, monggo temen – temen mau panggil apa aja boleh”
“Oh apa aja ya, mas Apa Aja asalnya dari mana?”, tanya cewek cantik berhidung mancung. Oh bukan, bukan mancung, tapi mancung banget.
Tawa menggelegak, ”Haha, maksudnya panggil Ardi boleh, panggil Haris boleh, haha, aku asalnya dari Semarang”, cowok bongsor berkacamata itu menanggapi.
“Kalo panggil Syasya boleh nggak?”, seorang cowok kurus berteriak, disambut tawa oleh yang lain.
“hemm…ya, boleh deh jeng”, Haris Ardiansyah melambaikan tangannya dengan gaya banci kaleng, tawa kembali bergemuruh.
“Hai semua, aku Harfi, nama panjangnya Harfiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, dari Eduper”, Cowok pendek berjenggot tipis, dengan mata bulat yang seolah ingin meloncat kembali meledakkan tawa.
“Nama panjangnya yang bener siapa dek?”, tanya Mbak Lala seusai tertawa.
“Harfiiiiiiii mbak, 10 harakat”, kata Harfi, sebagian orang tertawa.
“Beneran? Harfi aja?”, Mbak Lala menegaskan, disambut dengan anggukan mantab dari Harfi.
“Hoho, oke oke, silakan duduk Harfi, next”, lanjut Mbak Lala mengendalikan forum.
“Pagi, saya Tyas Ardalena dari jurusan ekonomi pertanian, panggilannya Tyas”
“Pagi semua, nama saya Renita Tandraputri, biasa dipanggil Rere, tapi ada juga yang manggil Nita, tergantung orangnya sih suka manggil apa, hehe. Saya dari jurusan teknik pangan”
“Selamat pagi, saya Alintika Widya Ar-Rahmah, dipanggil Tika, Ekonomi Pertanian”
“Pagi, Afza Kurnia Suciati, panggilaan Afza, TMAP”
 “Anjar Hafidzah, dari jurusan Manajemen Industri Pertanian, biasa dipanggil Anjar”
“Pagi, nama saya Adinta Prihatini, dari tekpang”

“Panggilannya dek?”, tanya Mbak Lala

“o iya, Adin mbak”

“Pagi, Nama saya Zandrina Lazuardi, biasa dipanggil Zendi, dari jurusan Manajemen Industri Pertanian”, aku memelankan suaraku, karena tanpa aku minta seluruh forum memperhatikanku dan membuat suasana menjadi sangat hening.

Perkenalan terus dilanjutkan, ada 20 orang yang harus memperkenalkan dirinya satu per satu di acara gathering KOSIP ini. KOSIP, Kelompok Studi Industri Pertanian, salah satu organisasi di fakultasku yang anggotanya hanya segelintir. Namun dari segelintir yang harus memperkenalkan diri itu, sudah cukup membuatku merasa bahwa forum perkenalan ini sangat panjang bagiku, aku memperhatikan dengan seksama, tetapi tetap saja aku lupa siapa nama mereka satu per satu. Otakku sungguh sulit diajak bekerjasama untuk mengingat nama, orang tidak akan bisa berkenalan denganku hanya sekali, setiap aku usai berkenalan dengan seseorang, beberapa menit atau jam atau hari kemudian aku pasti akan menanyakan lagi namanya siapa. Tapi yang bikin kesal adalah jika nama itu sulit diucapkan.
Aku pernah memiliki teman SMP yang namanya membuatku stress, Prazantiara Farina An-Najma Ibnu Ardi Wiwaha, entah nama berapa kakek moyangnya yang tertempel di nama belakangnya, dan yang lebih parah, dia suka dipanggil Prazantiara, tanpa kurang sedikitpun, “Ih kamu jangan ganti – ganti namaku dong, yang lengkap!”, itulah yang sering ia katakan padaku, karena aku hanya suka memanggilnya Rara, enough, itu lebih tidak merepotkan.
Forum perkenalan memang selalu menyusahkan, namun dalam forum perkenalan yang panjang itulah pertama kalinya aku berkenalan dengan dua bocah yang sekarang jadi sahabatku. Yang tak akan terpisahkan walau badai menghempas angin mengamuk lautan bergelombang gunung muntah darah bumi gonjang ganjing langit menggemuruh dan petir menghantam. Ya, lebay dan sok puitis, itulah aku, tidak seperti Adin yang lugas, tegas, dan sedikit terpercaya, tidak juga seperti Rere yang tidak punya ekspresi. Tapi mereka berdua adalah sahabat terbaik di dunia yang pernah aku miliki. Semua hariku selalu diisi dengan kisah – kisah konyol kami. Hampir setiap hari, kami selalu menyempatkan jalan – jalan bersama seusai kuliah. Meskipun aku beda jurusan dengan mereka, untungnya jadwalku dan jadwal mereka tidak terlalu sulit untuk disatukan, mungkin itu namanya soulmate.
Setiap akhari libur, kami mengisinya dengan jalan – jalan ke tempat yang jauh, seperti pantai di daerah Bantul, Gunung Kidul, dataran tinggi di daerah Magelang, Wisata Budaya di Kota Gedhe, Tugu Jogja, Keraton Jogja, Tamansari, dan keliling kota Solo. Rasanya hidup begitu menyenangkan dan tanpa beban. Jalan – jalan, jalan – jalan, dan jalan- jalan. Sepertinya kami memang kurang kerjaan, tetapi sebenarnya kami sangat sibuk. Banyak sekali tempat yang belum kami kunjungi di dunia ini. suatu saat aku, Adin, dan Rere berencana ke Paris, lalu keliling Swedia, Italia, dan German, kami telah merencanakan itu semua dengan sangat detail, mulai dari tempat yang akan kami kunjungi, perkiraan biaya yang akan kami keluarkan, perbekalan yang akan kami bawa, tempat kami menginap, dan semuanya sudah sangat terencana kecuali satu, waktu, haha, entah kapan kami dapat mewujudkan mimpi itu. Tapi, nanti, aku yakin pasti, kami yakin pasti. Inilah yang menyatukan kami, jiwa liar, travelling, melanglang buana, bebas lepas, menemui hal baru.
***
“Darimana kamu Zen?”, tanya Mbak Lia yang tiba – tiba keluar dari dapur.

“Mbak Lia? Kapan dateng?”, aku balik tanya.

“Tadi siang, kamu darimana, capek banget kayaknya”

“Biasa mbak, muter – muter Jogja ama temen – temen”

“Temen – temen yang mana lagi nih?”

“Adin sama Rere”

“Kamu kumpulnya ama mereka terus?”

“Ya nggak pa-pa lah mbak”, ujarku sambil menoleh ke arah Mbak Lia yang ternyata sudah mengacak – acak tasku, “Ih Mbak Lia apaan sih!”

“TE – EM – A – PE, apaan tuh TMAP?”, tanya Mbak lia seraya membolak – balik buku panduan akademik di tasku.

“Teknik mesin dan Alat Pertanian”, jawabku ketus.

“MIP?”

“Manajemen Industri Pertanian. Tekpang tu teknik Pangan, Eduper tu Ekonomi Industri Pertanian. Udah nggak usah tanya – tanya lagi, pusing aku mbak, mau tidur”, kataku seraya merebahkan diri di sofa.

“Kamu? Jurusan apa?”

“Ih Mbak Lia apaan sih, kemarin kan udah tanya jurusanku apa, kemarinnya lagi juga udah, dulu – dulu juga udah tanya”

“Kan lupa”, Mbak Lia beralasan, aku acuh dan memejamkan mata. Tapi ternyata memejamkan mata adalah keputusan yang salah, aku dihajar tangan Mbak Lia, tubuhku digoyang ke depan belakang samping kanan kiri, “Kamu jurusan apa Zendi?”

“Aduh, MIP MIP mbak MIP, awas nanya lagi!”, jawabku terpaksa.

“Oh MIP.. kok nggak tekpang? Kamu kan suka tentang pangan – pangan gitu?”

“Nggak keterima, berisik ah, udah mbak pulang sana, ditungguin mas Adit tuh di rumah”

“Aku mau nginep sini tau!”

“Mbak nggak berantem lagi sama Mas Adit kan?”, aku bangun dari sofa dan merendahkan nada bicaraku. Mbak Lia, kakak kandungku yang baru saja 4 bulan menikah, tapi kerjaannya hanya bertengkar saja dengan suaminya. Mbak Lia sering datang ke rumah, mengadu pada mama, mengganggu aku yang sedang mengerjakan tugas kuliah, membuka – buka isi tasku, membaca diariku, dan segala hal yang bisa menyibukkannya. Sebenarnya aku kasihan pada Mbak Lia, dia tidak punya kegiatan, Mas Adit melarangnya bekerja, padahal Mbak Lia adalah orang yang tidak bisa diam, jadilah mereka selalu bertengkar dan Mbak Lia selalu kabur ke rumah untuk mencari pekerjaan yang membuatku jengkel. Kadang dia menhabiskan mie instan yang aku buat tengah malam, kadang dia mengganti acara TV kesukaanku, kadang juga dia merebut laptop yang sedang aku pakai mengerjakan tugas untuk main Plan versus Zombie1. Nggak penting banget ni orang.

“Ya iyalah aku berantem sama Adit, kalau nggak berantem pasti aku sekarang lagi manfaatin tiket ini”, katanya sambil menunjukkan dua buah tiket nonton.

“Jam berapa mainnya? Ayo nonton sama aku aja”, aku berasa menghibur Mbak Lia dan menyenangkannya meskipun sebenarnya aku lelah sekali.
***
“Eh gila Re! kemarin Bu Erni kasih kuis lagi! mendadak!”, Adin berkata dengan heboh saat kami sedang makan malam di sebuah café Jalan Malioboro.

“Hah? Iya? Lagi? kemarin kan katanya habis kuis? Untung aja aku nggak ikut kelasnya Bu Erni lagi. males banget”

Sepuluh menit aku hanya diam, tidak terlalu paham dengan cerita mereka, maklum aku MIP dan mereka tekpang, dan aku selalu paling tidak nyambung dengan apa yang mereka bicarakan apalagi tentang kuliah, “Bu Erni itu ibu – ibu yang gendut yang suka pakai syal itu ya?”, aku berusaha masuk ke dalam pembicaraan mereka.

“Iya Zen, kamu tahu nggak Zen, Ibu itu nggak jelas banget orangnya, kalau kuliah itu ngomongnya cuepet kayak kereta kebelet, mana yang diomongin pas kuliah tu nggak nyambung sama sekali sama apa yang dia keluarin di kuiz, apalagi kalau pas ujian, wuih nggak nyambung banget soalnya, stress gue”, ujar Adin menggebu – gebu.

“Kamu gimana Zen? Udah selesai ngerjain analisis waktu produksinya?”, tanya Rere yang sepertinya berusa membuatku interest dengan kongko – kongko kami malam ini.

“Belum, aku udah coba ngitung tapi salah terus, nggak match ama kunci jawabannya”

“Emang analisisnya itu buat apa sih?”, Rere bertanya lagi.

“Ya buat ngitung waktu yang paling efektif dalam proses produksi gitu, supaya setiap tahapan proses bisa berjalan beriringan dan nggak ada waktu tunda”

“Itu kuliah produktivitas yang kamu certain kemarin?”, Tanya Adin, yang aku lanjutkan dengan anggukanku.

“Waw!! Yamapi!!” teriak Adin tiba – tiba, sambil menunjuk ke arah televisi yang disiarkan oleh café tempat kami makan, aku pun menoleh.

“Oh? Cowok itu? Itu yang maen di film yang kamu kasih aku itu ya Din? Proposa…l emmm?”, tanyaku pada Adin.

“Proposal Daisakusen”, Rere melengkapi kata – kataku.

“Iya, ya ampun Yamapi tu aktor Jepang terkeren yang pernah aku tau!”, Adin berteriak lagi.

“Oh iya ya? menurutku biasa aja sih”, aku menggumam, tidak ada yang mendengarku.

“Iya sih dia lumayan, tapi aku lebih suka dia pas main di Kurosaki”, ujar Rere agak datar, Rere memang tidak punya nada bicara dan tidak punya ekspresi.

“Kuro apa?”, aku menyahut, aku tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan, mereka berdua memang Japan Holic yang sangat parah, terutama si Adin, dia selalu heboh, Yamapi-lah, Kuro – kuro apalah, Shun Oguri lah, Misuhiro-lah, inilah itulah.

“Kurosaki”, kata Rere

“Iya keren banget tau Re, lebih karismatik gitu pas dia jadi Kurosagi”, Adin tak dapat meredam emosi kekagumannya, dan aku hanya diam.

“Iya aku juga suka pas dia jadi Kurosagi dari pada dia jadi Ken, berantakan banget orangya, dan bodoh gitu”, Rere menimpali, lagi – lagi tanpa ekspresi, “Jadi tuh filmya judulnya Kurosaki Zen, Yamapi-nya itu maen jadi Kurosagi, dia itu perannya jadi penipu baik”, Rere menjelaskan padaku.

“Yamapi itu yang jadi Iwase Ken di Proposal daisakusen?”, aku bertanya lagi.

“Iya, jadi Si Yamapi itu nipu penipu – penipu lain, uang hasil tipuannya itu dibalikin ke korban yang kena tipu”, lanjut Rere.

“Oo gitu”, ujarku sambil mengangguk pelan.

Keesokan harinya, aku pergi bersama Adin, kami ke stasiun untuk mengurus tiket kereta ke Bandung. Aku, Rere, dan Adin berencana untuk travelling ke Bandung. Adin memboncengkanku menaiki motornya, sepanjang perjalanan Adin tidak berhenti bercerita tentang dirinya, beberapa kali aku mengiyakan, dan mencoba menanggapi sebisaku. Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan semua ceritanya, karena dia suka mengulang cerita yang sama, dan tidak pernah memberi aku kesempatan berbicara. Aku agak sulit menjadi satu dengan Adin memang, tapi ya sudahlah, kami tetap sahabat yang tak terpisahkan. Dan aku akan tetep sayang sama dia.

“Bandung sudah habis sejak dua hari yang lalu mbak”, kata petugas kereta, setibanya kami di loket stasiun.

“Bahkan baru dua hari yang lalu kita ngerencanain mau ke Bandung”, keluh Adin saat kami akan meninggalkan stasiun.

“Gimana kalau kita ke Magelang lagi aja, ke air terjunnya, kedung apa itu?”

“Kedung Kayang?”

“Iya, kemarin kan belum jadi?”

“Iya sih, boleh deh yuk, Rere juga pasti mau”
***
Aku nangkring di atas motor yang kuparkir di Jalan Magelang KM 6, Rere duduk tanpa ekspresi di pinggir trotoar. Setengah jam berlalu, Adin belum datang. Kami sudah kelaparan, akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar jalanan itu. Kami nangkring di warung bubur ayam yang ada di sekitar jalan itu. Aku tidak terlalu suka bubur ayam, tetapi perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dan di sekitar jalanan ini hanya ada warung bubur ayam. Satu jam berlalu, Adin tidak mengangkat teleponku dan tidak menjawab sms Rere. Rere masih tidak berekspresi, aku memperhatikan dia yang sedang sibuk menghabiskan kerupuknya. Tiba – tiba terlintas di pikiranku, aku merasa seperti orang yang memaksakan diri. Aku merasa berada di antara Rere dan Adin, sebelum ada aku yang bertemu mereka di gathering KOSIP, mereka sudah berteman lebih dulu, meskipun hanya beberapa bulan lebih awal. Mereka juga satu jurusan, otak mereka sepertinya hampir mirip meskipun sepertinya karakter mereka sama sekali tidak cocok.

“Zen, Adin bales nih”, Rere berkata datar.

“Dimana dia?”, Tanyaku heboh.

“Guys, maaf, aku ketiduran, aku nggak jadi ikut ya”, Rere membaca sms di HP-nya.

“What?”, aku terhentak, ”semudah itu? satu setengah jam Re kita..”, aku tidak habis pikir dengan orang satu itu.

“Iya sih dia itu cuek banget orangnya, ayo deh kita berangkat sendiri”

Akhirnya perjalanan ke air terjun Kedung Kayang Magelang kutempuh berdua bersama Rere. Aku agak kesal dengan kejadian hari ini, bukan agak kesal, tapi kesal sekali banget sangat amat. Adin sering sekali melakukan hal semacam ini, mengecewakan kami, atau hanya aku yang kecewa? Aku tidak terlalu tahu apa yang ada di hati dan pikiran Rere, sahabatku yang satu itu benar – benar tidak punya ekspresi, aku juga tidak pernah tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya tentang berbagai hal yang terjadi di antara kami bertiga. Aku juga tidak tahu apa dia tertarik atau tidak dengan topic pembicaraan yang aku usulkan, dia selalu menanggapiku dengan baik, mencoba membuat aku paham dengan apa yang dibicarakannya dengan Adin, menanggapi obrolanku dengan kalimat yang menunjukkan ketertarikan, meskipun semuanya tetap tanpa ekspresi tapi Rere menghargaiku, setidaknya aku merasakan itu. Dengan Rere aku bisa bercerita banyak hal, tapi dengan Adin, aku merasa hanya sedikit sekali mempunyai kesempatan berbicara.
Kedung Kayang, sebuah tempat wisata yang tak banyak diketahui oleh orang luar kota, air terjun ini terletak di dataran tinggi yang terletak di daerah Magelang. Kami telah memasuki kawasan Ketep, dan sudah mendekati gapura desa yang menuju air terjun. Rere mengendarai motor tanpa suara sama sekali, mungkin dia memikirkan sesuatu. Cuaca yang sejuk dan segar membuatku melupakan segala kerisauan hatiku pagi ini, udara di sini sangat dingin, aku sedikit mengalami gangguan telinga karena perbedaan tekanan dari dataran rendah ke dataran tinggi.

“Turun cuy!”, kata Rere membuyarkan lamunanku, aku turun dari motor dan membayar tiket masuk yang sangat murah.

“Berapa pak? Dua ribu?”, tanyaku meyakinkan.

“Iya mbak, dua orang jadi empat ribu”, kata si bapak penjaga loket yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek.

Aku dan Rere masuk mendekati Air terjun yang bergemuruh, kami menuruni sebuah jalan licin menuju bagian bawah air terjun. Kami harus sangat hati – hati, karena jalan ini sangat potensial membuat kami terpeleset dan akibatnya sangat fatal, tempat turun menuju air terjun ini hanya beralaskan tanah yang akan jauh lebih licin jika turun hujan. Oleh karena itu, jika hujan turun jalan ini tidak boleh dilalui oleh pengunjung.

Bagian bawah air terjun sudah sangat dekat, kami melalui sungai yang berbatu dengan air dangkal yang mengalir bergemericik. Suara air terjun bergemuruh manyamankan hati, air terjun adalah suara berisik terindah yang pernah aku dengar selama ini. di bawah air terjun banyak bapak – bapak , ibu – ibu, dan anak – anak kecil bermandian, ada juga muda mudi yang sedang berduaan. Memang tempat ini sangat nyaman. Aku dan Rere duduk di bebatuan, sejenak mengistirahatkan badan setelah berkendara selama dua jam dari Jogja.

Selasa, 04 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 4)

“Pakdhe, lamlekooom?”, teriak Ijan.

“Wa’alaikumsalam, bapak lagi tindak12 Mas Ijan, ditaruh di tempat biasa aja barangnya”, Budhe Jarwo keluar dari dalam rumah. “berapa itu mas?”

“Ini terigunya lima kilo kemarin pakdhe minta, kalau gula sama tapiokanya seperti biasa budhe, sepuluh kilo”,kata Ijan sambil menggotong gula pasir di atas punggungnya.

“Maturnuwun13 ya mas, uangnya sudah to kemarin?”, Budhe Jarwo tersenyum.

“nggih, sudah budhe”, Ijan mengangguk sopan, “Kula pamit dulu nggih budhe, samlekom”.

“wa’alaikumsalam warrahmatullah”, sahut Budhe Jarwo sambil merapikan barang – barang yang diletakkan sembarangan oleh Ijan. Budhe Jarwo sangat bersyukur, berkat pasokan bahan baku murah dari Ijan, keuntungan yang dihasilkan oleh usaha yang dirintisnya bersama sang suami semakin meningkat, bahkan mereka bisa menaikkan gaji 30 orang pegawai mereka, dan tentunya tak lupa membelikan Kiki pakaian baru. Budhe Jarwo sangat sayang pada Kiki, baginya Kiki sudah seperti anak sendiri, wajar saja, sudah 35 tahun menikah, Budhe Jarwo belum mendapat anugerah seorang anak. Pakdhe Jarwo yang bersahabat akrab dengan ayah Kiki membuat hubungan dua keluarga itu menjadi sangat dekat, selama tiga tahun belakangan ini, Pakdhe dan Budhe Jarwolah yang banyak membantu Ibu Kiki untuk mencukupi kebutuhan sekolah Kiki, tanpa Kiki ketahui.

“Assalamu’alaikum”, sebuah suara datang dari halaman depan rumah.

“Wa’alaikumsalam”, Budhe Jarwo mengenal jelas suara itu, “Barusan saja Ijan datang pak, itu barangnya, katanya terigunya minta lima saja ya pak?”

“Oh, iya bu, soalnya bu, aku mau coba resep baru pakai bahan lokal”, jawab Pakdhe Jarwo sembari duduk di teras depan rumah mereka.

“Bahan lokal?”, Budhe Jarwo duduk di kursi sebelah Pakdhe Jarwo.

“Iya bu, namanya mocaf”, Pakdhe Jarwo menekankan kalimatnya pada istilah baru yang akan ia paparkan kepada istrinya.

“apa pak apa?”, Budhe Jarwo ingin mempertegas ucapan suaminya.

“mocaf  bu moooo – kaaaf”, Pakdhe Jarwo mengeja, “ Jadi tepung mocaf itu terbuatnya dari singkong bu. Kemarin itu bapak ketemu si Bondan, anaknya Pak Sosro, yang kuliah di UGM itu lho bu, terus tadi ngobrol – ngobrol, si Bondan itu sudah lulus ternyata, terus sekarang dia buka usaha pengolahan mocaf itu bu, itu tepungnya bagus katanya, bisa menggantikan tepung terigu, katanya kualitasnya ndak jauh beda”

“lha kalau terbuat dari singkong berati ya tepung singkong itu to pak, ya ndak bisalah pak buat ngganti terigu, ndak bisa ngembang nanti, donatnya bisa bantat”, Budhe Jarwo protes.

“ndak ndak, beda bu, mocaf itu tepung baru, beda sama tepung singkong, pokoknya mbikinnya itu pake teknologi ramah lingkungan gitu bu, ndak ngerti aku gimana. Ya memang belum bisa sepenuhnya menggantikan terigu kalau buat donat atau roti, tapi kalau buat bolu jadi bagus kok bu, tadi aku disuguhi bolu waktu mampir sekalian ke rumah Pak Sosro, bolunya terbuat dari tepung mocaf itu, enak kok bu, empuk. Harganya sih nyaris sama kayak terigu kok bu, malah bisa dibawah terigu”, Pakdhe Jarwo meyakinkan Istrinya.

“Ah bapak ini ada – ada saja, nanti kalau jajannya ndak enak piye pak, ndak laku nanti, ndak usah aneh – aneh lah pak, pakai terigu saja sudah bisa kok, ndak usah coba – coba yang ndak jelas”, Budhe Jarwo agak kesal dengan sumainya yang suka sekali mencoba banyak hal baru, sebenarnya itu bagus, tapi menurut Budhe Jarwo hal seperti itu terlalu beresiko, padahal sekarang mereka memiliki pasokan terigu murah dari Ijan, pakai acara ganti tepung aneh segala.

“Eh ya ndak gitu to bu”, Pakdhe Jarwo mencoba memahamkan, “Terigu itu kan impor bu, dikirim dari luar negeri, karena negara kita itu belum mampu menghasilkan terigu yang banyak. Kan lebih baik to bu kalau kita memakai produk dalam negeri, memanfaatkan hasil bumi kita sendiri, singkong itu kan di Indonesia buuuuanyak to, apalagi di desa kita ini, buanyak buanget, Dik Sumi itu juga punya to kebun singkong, tapi singkongnya cuma direbus terus, kan lumayan bu kalau Dik Sumi mau masok singkongnya ke si Bondan, dapat uang itu”

“Eh iya ya pak, lumayan itu buat Dik Sumi dan Kiki bisa jadi pemasok singkong untuk si Bondan. Tapi apa benar ndak apa – apa itu pak kita buat jajan kita pakai tepung apa tadi?, Budhe Jarwo masih ragu.

“Ndak apa – apa, kita coba saja, tapi kalau buat donat sama roti kita campur sedikit saja bu sama terigu, kalau buat bolu ndak apa – apa pakai mocaf semua, begitu bu kata Bondan”, Ujar Pak jarwo.

“Yowislah14 terserah bapak, tapi jangan banyak – banyak dulu belinya pak, coba sedikit sedikit, nanti kalau rugi”,

“Iya bu, bapak kira – kira kok”

“Ini kita jadi ke rumah Dik Sumi ndak pak, ibu udah buat kolak buat Kiki juga, sekalian nganter baju baru yang Ibu beli buat Kiki”

“O iya iya iya, sampai lupa, ayo bu berangkat sekarang saja”

“Lho? Sekarang? Bapak ndak capek baru pulang”

“Ndak ndak ayo”, Pak Jarwo beranjak.

Sumi sedang memasak di dapur saat Budhe dan Pakdhe Jarwo datang berkunjung. Kiki baru saja pulang dari pabrik , hari ini Kiki sengaja pulang siang, entah kenapa dia sedang malas hari ini. “Eh pakdhe, budhe”, Kiki mencium tangan dua suami istri itu.

“Cah ayu, sudah pulang to siang siang begini?”, Budhe Jarwo membelai rambut Kiki.

“Iya budhe, lagi males, hehe”, kata Kiki sambil nyengir.

“Ya ndak apa – apa, kerja itu yang penting nyaman dan dinikmati, istirahat itu juga penting”, Budhe Jarwo melayangkan senyum penuh kasih sayang pada Kiki, “Ibu ada?”

“Di dapur budhe”, jawab Kiki, sambil tersenyum Budhe jarwo menuju dapur. “ Monggo pakdhe duduk dulu”, Kiki ikut ngeloyor ke dapur untuk mengmbilkan air putih.

“Ada apa nduk? Pasti ada sesuatu sampai kamu sudah pulang dari pabrik siang – siang begini”, tanya Pakdhe Jarwo begitu Kiki kembali untuk mengantar air putih.

“Ndak kok pakdhe, ndak ada apa – apa, ndak tahu kenapa pakdhe, hawanya males aja”, ujar kiki sambil tersenyum.

“Ya sudah kalau begitu”, Pakdhe Jarwo melempar senyum ramah, ia tidak ingin memaksa Kiki untuk bercerita, meskipun ia tahu bahwa Kiki menyimpan sesuatu dalam benaknya. “Eh nduk, ini lho, pakdhe mau cerita”

“O iya pakdhe, cerita apa?”, raut wajah Kiki berubah sumringah, ia suka berbincang ringan dengan Pakdhe Jarwo.

“Jadi pakdhe itu kemarin ketemu sama Bondan, anaknya Pak Sosro, Bondan itu sekarang jadi pengusaha tepung mocaf, tahu ndak tepung mocaf?”

“oo mocaf… tahu pakdhe, sempat baca di internet pas di sekolah dulu”

“Nah, pakdhe itu punya rencana untuk ganti tepung terigu yang selama ini pakdhe pakai, dengan tepung itu, kata Bondan itu bagus, cuma kalau untuk roti – rotian masih harus pakai terigu ya katanya? tahu ndak nduk?”, Pakdhe jarwo menggebu – gebu.

“Oh begitu, wah bagus itu pakdhe, pengembangan potensi komoditas lokal. Saya baca sedikit di internet sih pakdhe, mocaf  itu singkatan pakdhe, modified cassava flour, jadi itu tepung yang dibuat dari singkong, tapi sudah dimodifikasi, sudah direka – reka gitulah pakdhe, supaya hasilnya bagus. Membuatnya itu pakai proses yang namanya fermentasi, fermentasi itu caranya cuma dengan mendiamkan saja pakdhe, biar bakterinya bereaksi”, Kiki senang bisa membicarakan tentang ilmunya dnegan orang lain, selama ini tak ada orang yang mengerti dengan hal – hal yang sedikit ilmiah yang sering ia ucapkan,”Saya kurang tahu sih pakdhe kalau untuk roti – rotian, mungkin karena akalau bikin roti atau donat itu butuh gluten yang cuma ada di tepung terigu, jadi mungkin masih harus pakai terigu, tapi kalau bolu atau kue apa gitu mungkin bisa pakdhe, sifat tepungnya hampir mirip sama terigu kok pakdhe. Mungkin kalau untuk donatnya pakdhe itu tepungnya dicampur terigu saja pakdhe”

“Iya nduk, rencana pakdhe juga campur – campur dulu begitu, bisa ajari pakdhe ndak nduk mbuatnya?”

“Aduh, kan saya ndak pinter buat jajan pakdhe, atau nanti kita belajar saja sama Mas Bondan, mungkin Mas Bondan sedikit paham tentang kadar penggunaannya pakdhe?”

“Oh iya ya, besok malam kita kesana ya nduk”, ajakan Pakdhe Jarwo disambut oleh anggukan Kiki, “Sama ini nduk, pakdhe itu kepikiran, kan kamu itu ada kebun singkong di  kebun, daripada cuma direbus, mendingan itu dipasok ke si Bondan itu nduk, kan lumayan nduk”

“Oh? Betul juga pakdhe, besok sekalian kita membicarakan itu ya pakdhe sama Mas Bondan, siapa tahu juga kerupuk saya bisa dibuat dari mocaf pakdhe, terigu sudah naik sekali sekarang”, raut muka Kiki berubah.

“Nduk, pakdhe sejujurnya pengen tahu lebih banyak tentang perkembangan pabrik nduk, apa betul ndak ada yang bisa pakdhe bantu?”, Pakdhe Jarwo mencoba memancing Kiki untuk bercerita. Kiki diam sangat lama, lalu mulai berbicara dengan ragu – ragu.

“Sebenarnya Kiki pengen cerita sesuatu pakdhe, Kiki belum pernah cerita ini ke siapa – siapa”, Kiki mengawali, “Sekarang Kiki ndak berani pulang malem lagi pakdhe, Kiki takut, beberapa minggu yang lalu waktu Kiki tinggal sendirian di pabrik, ada yang aneh”

“Maksudnya nduk?”, Pakdhe Jarwo menebak – nebak dalam hatinya.

“Jadi itu ceritanya Kiki sudah mau pulang, terus Kiki matikan semua saklar, pas Kiki mau nutup pintu depan, tiba – tiba Kiki dengar suara pintu bergerak di belakang pakdhe, entah dibuka entah ditutup, pokoknya ada suara pintu gerak, Kiki takut sekali itu pakdhe. Kiki diam lama, terus pelan – pelan Kiki mojok ke belakang pintu yang masih separo terbuka, sampai jam 12 malam Kiki di situ jongkok, takut banget pakdhe. Pas Kiki yakin sudah ndak ada suara baru Kiki pergi dan ngunci pintu”, Kiki cerita dengan berbisik.

“Astaghfirullah nduk nduk…sampai jam segitu kamu?”, nada Pakdhe Jarwo agak meninggi, “Kok ya baru cerita sekarang lho ya”

“Maaf pakdhe”, Kiki murung.

“Tapi nduk kamu yakin itu suara pintu? Angin mungkin nduk?”, Pakdhe jarwo mencoba menelisik.

“Pakdhe, Kiki kan hafal sekali sama suara pintu tua itu pakdhe, suara mesin aduk, bahkan sampai nada suara jepretan Mbak Laras pas mbungkusi kerupuk saja Kiki hafal. Kiki yakin sekali itu suara pintu pakdhe, Kiki merasa konyol sih pakdhe tapi apa ada tuyul atau hantu di pabrik ya pakdhe?”, Kiki merinding.

“Kita coba berpikir rasional dulu saja nduk. Mungkin kamu lupa kunci pintu belakang, terus ada angdin yang mendorong pintu itu?”

“Yakin sudah dikunci semua pakdhe, dan besoknya waktu Kiki ke pabrik, pintu belakang juga dalam keadaan terkunci”

“Apa betul itu makhluk halus, pakdhe jadi penasaran”

Kiki merasa sangat lega setelah menceritakan ganjalan di hatinya pada Pakdhe Jarwo. Sejak ia menceritakan ganjalan hatinya itu, kini Kiki bisa lebih fokus untuk mengurus semua permasalahan yang harus ditangani di pabrik. Selama sebulan Kiki bekerja keras di pabrik, terdapat banyak peningkatan, Kiki berhasil meningkatkan jumlah agen kerupuk dan memasarkannya hingga ke desa – desa lain. Kuantitas produksi pabrik juga semakin meningkat, walaupun pencatatan belum stabil dan masalah bahan baku yang cepat habis juga masih terus terjadi, namun ia merasa akhir – akhir ini pabriknya banyak menghemat tepung terigu, yang biasanya seminggu sudah habis sekarang sampai dua minggu masih ada persediaan. Kiki juga semakin semangat bekerja dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Budhe Jarwo sewaktu berkunjung ke rumah beberapa hari yang lalu.
12pergi
13terimakasih

15ya sudahlah