“Za, udah
selesai belum?”, Adira membuka kain yang menutup mangkuk besar di atas meja dan
mendekatkan wajahnya ke isi mangkok itu. Adonan telah berubah ukuran dengan
beberapa gelembung udara yang menyembul di permukaannya.
“Ih belum belum
belum, jangan kayak gitu dong! Kontam1
entar!”, Za menyingkirkan wajah Adira dari dekat mangkuk besar Adonan.
“Liat doang”,
Adira beralasan.
“Kalau sampai
gagal, bisa dibunuh entar sama Ibu Tursina!”
“Lebay lu Za, nggak
ampe bunuh juga kali, paling lu disiksa sampe cacat”
“Berisik lu,
udah ni bantuin garnish2!”
“Yang ini buat
siapa?”, Adira mengambil beberapa botol whipped
cream dan menuju ke tempat Za berdiri.
“Buat saudaranya
Bu Tursina”, Za menghias sebuah cake dengan diameter 30 cm,”Katanya saudaranya
ulang tahun”
Za dan Adira menghias kue itu selama satu jam dengan sangat hati hati. “Sampai
kapan lu mau kerja Rodi kayak gini Za”, celetuk Adira.
Sudah seminggu
Adira pindah tugas dari area penyimpanan bahan baku ke dapur pemrosesan untuk membantu
Za membuat kue. Kue – kue itu dibuat untuk dijual oleh Ibu Tursina di Tursina
Cakery Shop. Jika bukan karena Ibu kandunnya yang memerlukan biaya operasi
mata, Za tak akan sudi dipekerjakan tanpa dibayar oleh Ibu Tursina.Ibunya yang
telah 2 tahun buta. Dan sudah seminggu Dokter Azril memberitahukannya bahwa
kornea yang cocok dengan mata sang ibu telah tersedia. Tapi Ibu Tursina tak
juga memenuhi janjinya.
“Ibu Tursina belum kasih uang untuk biaya operasinya Dok”, Di bawah meja
dapur, Za menempelkan HP di telinga kirinya.
“Kamu yakin Bu Tursina akan ngasih jatah uang itu?”, terdengar suara
Dokter Azril.
“Entah Dok, tapi Ibu Tursina harus jasih jatah uang itu ke saya, itu
warisan ayah untuk saya dan ibu. Ibu Tursina nggak berhak dok”
“Za, korneanya sudah ada sejak seminggu, saya takut keburu orang lain
mau pakai kornea itu…gimana kalau biayanya saya bantu dulu aja?”
“Nggak dok, saya akan coba bicara lagi sama Bu Tursina”
“Segera ya Za”
“Iya Dok”
Ibu Tursina adalah istri kedua ayah Za. Dulu semasa ayahnya masih hidup,
Ibu Tursina sangat sopan dan ramah pada Za dan Ibunya. Bahkan sangat
menghormati Ibunya. Namun sejak dua tahun yang lalu, sejak sebuah tragedi
penembakan yang membuat ayah Za meninggal terjadi, Ibu Tursina berubah. Galak,
jahat, kejam, dan kurang ajar pada Ibu kandung Za yang jelas – jelas lebih tua
daripada Ibu Tursina. Dalam tragedi penembakan itu pula lah, Ibu kandung Za
kini tak bisa melihat, entah karena terbentur, atau entah karena apa.
Tragedi penembakan itu terjadi ketika Za usai memanggang kue ulang tahun
untuk Ibu Tursina yang dulu sangat disayanginya seperti ia menyayangi ibu
kandungnya, di Toko Cake keluarga mereka, Toko Cake yang sekarang telah ganti nama menjadi Tursina Cakery Shop. Bukan hanya Toko Cake yang diambil alih, harta warisan
dari sang ayah kini juga telah dikuasai total oleh Ibu Tursina. Ibu Tursina
berjanji akan memberikan jatah warisannya bulan lalu, namun sudah lewat
sebulan, yang ada Ibu Tursina malah menghukum Za karena dituduh mencuri cincin
berlian peninggalan sang ayah.
“Za!”, Teriak Ibu Tursina. “Saya mau ke salon, kamu jaga depan sini!”
“Belum selesai kuenya!”, Za berteriak balik.
“Lelet banget sih jadi anak! Cepet! Saya tunggu 10 menit!
“Nggak bisa masih lama, satu jam!”
“Ih! Kurangajar banget sih kamu!”, Ibu Tursina memasuki dapur dan
menyeret Za dengan kasar. Za menepis tangan Ibu Tursina dari lengannya.
“Ibu Tursina kapan bakal ngasih jatah warisan saya dan Ibu?”
“Nanti setelah kamu jaga toko! Sini cepet!, Ibu Tursina mendorong Za
hingga menabrak lemari etalase kue.
1Kontaminasi / Pencemaran
2teknik menghias makanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar