Sabtu, 08 Juni 2013

Cake (Part 1)

“Za, udah selesai belum?”, Adira membuka kain yang menutup mangkuk besar di atas meja dan mendekatkan wajahnya ke isi mangkok itu. Adonan telah berubah ukuran dengan beberapa gelembung udara yang menyembul di permukaannya.
“Ih belum belum belum, jangan kayak gitu dong! Kontam1 entar!”, Za menyingkirkan wajah Adira dari dekat mangkuk besar Adonan.
“Liat doang”, Adira beralasan.
“Kalau sampai gagal, bisa dibunuh entar sama Ibu Tursina!”
“Lebay lu Za, nggak ampe bunuh juga kali, paling lu disiksa sampe cacat”
“Berisik lu, udah ni bantuin garnish2!”
“Yang ini buat siapa?”, Adira mengambil beberapa botol whipped cream dan menuju ke tempat Za berdiri.
“Buat saudaranya Bu Tursina”, Za menghias sebuah cake dengan diameter 30 cm,”Katanya saudaranya ulang tahun”
Za dan Adira menghias kue itu selama satu jam dengan sangat hati hati. “Sampai kapan lu mau kerja Rodi kayak gini Za”, celetuk Adira.
Sudah seminggu Adira pindah tugas dari area penyimpanan bahan baku ke dapur pemrosesan untuk membantu Za membuat kue. Kue – kue itu dibuat untuk dijual oleh Ibu Tursina di Tursina Cakery Shop. Jika bukan karena Ibu kandunnya yang memerlukan biaya operasi mata, Za tak akan sudi dipekerjakan tanpa dibayar oleh Ibu Tursina.Ibunya yang telah 2 tahun buta. Dan sudah seminggu Dokter Azril memberitahukannya bahwa kornea yang cocok dengan mata sang ibu telah tersedia. Tapi Ibu Tursina tak juga memenuhi janjinya.
“Ibu Tursina belum kasih uang untuk biaya operasinya Dok”, Di bawah meja dapur, Za menempelkan HP di telinga kirinya.
“Kamu yakin Bu Tursina akan ngasih jatah uang itu?”, terdengar suara Dokter Azril.
“Entah Dok, tapi Ibu Tursina harus jasih jatah uang itu ke saya, itu warisan ayah untuk saya dan ibu. Ibu Tursina nggak berhak dok”
“Za, korneanya sudah ada sejak seminggu, saya takut keburu orang lain mau pakai kornea itu…gimana kalau biayanya saya bantu dulu aja?”
“Nggak dok, saya akan coba bicara lagi sama Bu Tursina”
“Segera ya Za”
“Iya Dok”
Ibu Tursina adalah istri kedua ayah Za. Dulu semasa ayahnya masih hidup, Ibu Tursina sangat sopan dan ramah pada Za dan Ibunya. Bahkan sangat menghormati Ibunya. Namun sejak dua tahun yang lalu, sejak sebuah tragedi penembakan yang membuat ayah Za meninggal terjadi, Ibu Tursina berubah. Galak, jahat, kejam, dan kurang ajar pada Ibu kandung Za yang jelas – jelas lebih tua daripada Ibu Tursina. Dalam tragedi penembakan itu pula lah, Ibu kandung Za kini tak bisa melihat, entah karena terbentur, atau entah karena apa.
Tragedi penembakan itu terjadi ketika Za usai memanggang kue ulang tahun untuk Ibu Tursina yang dulu sangat disayanginya seperti ia menyayangi ibu kandungnya, di Toko Cake keluarga mereka, Toko Cake yang sekarang telah ganti nama menjadi Tursina Cakery Shop. Bukan hanya Toko Cake yang diambil alih, harta warisan dari sang ayah kini juga telah dikuasai total oleh Ibu Tursina. Ibu Tursina berjanji akan memberikan jatah warisannya bulan lalu, namun sudah lewat sebulan, yang ada Ibu Tursina malah menghukum Za karena dituduh mencuri cincin berlian peninggalan sang ayah.
“Za!”, Teriak Ibu Tursina. “Saya mau ke salon, kamu jaga depan sini!”
“Belum selesai kuenya!”, Za berteriak balik.
“Lelet banget sih jadi anak! Cepet! Saya tunggu 10 menit!
“Nggak bisa masih lama, satu jam!”
“Ih! Kurangajar banget sih kamu!”, Ibu Tursina memasuki dapur dan menyeret Za dengan kasar. Za menepis tangan Ibu Tursina dari lengannya.
“Ibu Tursina kapan bakal ngasih jatah warisan saya dan Ibu?”

“Nanti setelah kamu jaga toko! Sini cepet!, Ibu Tursina mendorong Za hingga menabrak lemari etalase kue.

1Kontaminasi / Pencemaran
2teknik menghias makanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar