“Selamat Pagi, saya Haris Ardiansyah, dari jurusan Teknik Mesin dan Alat
Pertanian, kalau di rumah dipanggil Ardi, kalau di SMA dulu biasa dipanggil
Haris, monggo temen – temen mau
panggil apa aja boleh”
“Oh apa aja ya, mas Apa Aja asalnya dari mana?”, tanya cewek cantik
berhidung mancung. Oh bukan, bukan mancung, tapi mancung banget.
Tawa menggelegak, ”Haha, maksudnya panggil Ardi boleh, panggil Haris
boleh, haha, aku asalnya dari Semarang”, cowok bongsor berkacamata itu
menanggapi.
“Kalo panggil Syasya boleh nggak?”, seorang cowok kurus berteriak,
disambut tawa oleh yang lain.
“hemm…ya, boleh deh jeng”, Haris Ardiansyah melambaikan tangannya dengan
gaya banci kaleng, tawa kembali bergemuruh.
“Hai semua, aku Harfi, nama panjangnya Harfiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,
dari Eduper”, Cowok pendek berjenggot tipis, dengan mata bulat yang seolah
ingin meloncat kembali meledakkan tawa.
“Nama panjangnya yang bener siapa dek?”, tanya Mbak Lala seusai tertawa.
“Harfiiiiiiii mbak, 10 harakat”, kata Harfi, sebagian orang tertawa.
“Beneran? Harfi aja?”, Mbak Lala menegaskan, disambut dengan anggukan
mantab dari Harfi.
“Hoho, oke oke, silakan duduk Harfi, next”,
lanjut Mbak Lala mengendalikan forum.
“Pagi, saya Tyas Ardalena dari jurusan ekonomi pertanian, panggilannya
Tyas”
“Pagi semua, nama saya Renita Tandraputri, biasa dipanggil Rere, tapi
ada juga yang manggil Nita, tergantung orangnya sih suka manggil apa, hehe.
Saya dari jurusan teknik pangan”
“Selamat pagi, saya Alintika Widya Ar-Rahmah, dipanggil Tika, Ekonomi
Pertanian”
“Pagi, Afza Kurnia Suciati, panggilaan Afza, TMAP”
“Anjar Hafidzah, dari jurusan
Manajemen Industri Pertanian, biasa dipanggil Anjar”
“Pagi, nama saya Adinta Prihatini, dari tekpang”
“Panggilannya dek?”, tanya Mbak Lala
“o iya, Adin mbak”
“Pagi, Nama saya Zandrina Lazuardi, biasa dipanggil Zendi, dari jurusan
Manajemen Industri Pertanian”, aku memelankan suaraku, karena tanpa aku minta
seluruh forum memperhatikanku dan membuat suasana menjadi sangat hening.
Perkenalan terus dilanjutkan, ada 20 orang yang harus
memperkenalkan dirinya satu per satu di acara gathering KOSIP ini. KOSIP, Kelompok Studi Industri Pertanian,
salah satu organisasi di fakultasku yang anggotanya hanya segelintir. Namun
dari segelintir yang harus memperkenalkan diri itu, sudah cukup membuatku
merasa bahwa forum perkenalan ini sangat panjang bagiku, aku memperhatikan
dengan seksama, tetapi tetap saja aku lupa siapa nama mereka satu per satu.
Otakku sungguh sulit diajak bekerjasama untuk mengingat nama, orang tidak akan
bisa berkenalan denganku hanya sekali, setiap aku usai berkenalan dengan seseorang,
beberapa menit atau jam atau hari kemudian aku pasti akan menanyakan lagi
namanya siapa. Tapi yang bikin kesal adalah jika nama itu sulit diucapkan.
Aku pernah memiliki teman SMP yang namanya membuatku stress, Prazantiara Farina An-Najma Ibnu
Ardi Wiwaha, entah nama berapa kakek moyangnya yang tertempel di nama belakangnya,
dan yang lebih parah, dia suka dipanggil Prazantiara, tanpa kurang sedikitpun, “Ih
kamu jangan ganti – ganti namaku dong, yang lengkap!”, itulah yang sering ia katakan
padaku, karena aku hanya suka memanggilnya Rara, enough, itu lebih tidak merepotkan.
Forum perkenalan memang selalu menyusahkan, namun
dalam forum perkenalan yang panjang itulah pertama kalinya aku berkenalan
dengan dua bocah yang sekarang jadi sahabatku. Yang tak akan terpisahkan walau
badai menghempas angin mengamuk lautan bergelombang gunung muntah darah bumi
gonjang ganjing langit menggemuruh dan petir menghantam. Ya, lebay dan sok puitis, itulah aku, tidak
seperti Adin yang lugas, tegas, dan sedikit terpercaya, tidak juga seperti Rere
yang tidak punya ekspresi. Tapi mereka berdua adalah sahabat terbaik di dunia
yang pernah aku miliki. Semua hariku selalu diisi dengan kisah – kisah konyol
kami. Hampir setiap hari, kami selalu menyempatkan jalan – jalan bersama seusai
kuliah. Meskipun aku beda jurusan dengan mereka, untungnya jadwalku dan jadwal
mereka tidak terlalu sulit untuk disatukan, mungkin itu namanya soulmate.
Setiap akhari libur, kami mengisinya dengan jalan –
jalan ke tempat yang jauh, seperti pantai di daerah Bantul, Gunung Kidul,
dataran tinggi di daerah Magelang, Wisata Budaya di Kota Gedhe, Tugu Jogja,
Keraton Jogja, Tamansari, dan keliling kota Solo. Rasanya hidup begitu
menyenangkan dan tanpa beban. Jalan – jalan, jalan – jalan, dan jalan- jalan.
Sepertinya kami memang kurang kerjaan, tetapi sebenarnya kami sangat sibuk.
Banyak sekali tempat yang belum kami kunjungi di dunia ini. suatu saat aku,
Adin, dan Rere berencana ke Paris, lalu keliling Swedia, Italia, dan German,
kami telah merencanakan itu semua dengan sangat detail, mulai dari tempat yang
akan kami kunjungi, perkiraan biaya yang akan kami keluarkan, perbekalan yang
akan kami bawa, tempat kami menginap, dan semuanya sudah sangat terencana kecuali
satu, waktu, haha, entah kapan kami dapat mewujudkan mimpi itu. Tapi, nanti,
aku yakin pasti, kami yakin pasti. Inilah yang menyatukan kami, jiwa liar, travelling, melanglang buana, bebas
lepas, menemui hal baru.
***
“Darimana kamu Zen?”, tanya Mbak Lia yang tiba – tiba keluar dari dapur.
“Mbak Lia? Kapan dateng?”, aku balik tanya.
“Tadi siang, kamu darimana, capek banget kayaknya”
“Biasa mbak, muter – muter Jogja ama temen – temen”
“Temen – temen yang mana lagi nih?”
“Adin sama Rere”
“Kamu kumpulnya ama mereka terus?”
“Ya nggak pa-pa lah mbak”, ujarku sambil menoleh ke arah Mbak Lia yang
ternyata sudah mengacak – acak tasku, “Ih Mbak Lia apaan sih!”
“TE – EM – A – PE, apaan tuh TMAP?”, tanya Mbak lia seraya membolak –
balik buku panduan akademik di tasku.
“Teknik mesin dan Alat Pertanian”, jawabku ketus.
“MIP?”
“Manajemen Industri Pertanian. Tekpang tu teknik Pangan, Eduper tu
Ekonomi Industri Pertanian. Udah nggak usah tanya – tanya lagi, pusing aku
mbak, mau tidur”, kataku seraya merebahkan diri di sofa.
“Kamu? Jurusan apa?”
“Ih Mbak Lia apaan sih, kemarin kan udah tanya jurusanku apa, kemarinnya
lagi juga udah, dulu – dulu juga udah tanya”
“Kan lupa”, Mbak Lia beralasan, aku acuh dan memejamkan mata. Tapi
ternyata memejamkan mata adalah keputusan yang salah, aku dihajar tangan Mbak
Lia, tubuhku digoyang ke depan belakang samping kanan kiri, “Kamu jurusan apa
Zendi?”
“Aduh, MIP MIP mbak MIP, awas nanya lagi!”, jawabku terpaksa.
“Oh MIP.. kok nggak tekpang? Kamu kan suka tentang pangan – pangan
gitu?”
“Nggak keterima, berisik ah, udah mbak pulang sana, ditungguin mas Adit
tuh di rumah”
“Aku mau nginep sini tau!”
“Mbak nggak berantem lagi sama Mas Adit kan?”, aku bangun dari sofa dan
merendahkan nada bicaraku. Mbak Lia, kakak kandungku yang baru saja 4 bulan menikah,
tapi kerjaannya hanya bertengkar saja dengan suaminya. Mbak Lia sering datang
ke rumah, mengadu pada mama, mengganggu aku yang sedang mengerjakan tugas
kuliah, membuka – buka isi tasku, membaca diariku, dan segala hal yang bisa
menyibukkannya. Sebenarnya aku kasihan pada Mbak Lia, dia tidak punya kegiatan,
Mas Adit melarangnya bekerja, padahal Mbak Lia adalah orang yang tidak bisa
diam, jadilah mereka selalu bertengkar dan Mbak Lia selalu kabur ke rumah untuk
mencari pekerjaan yang membuatku jengkel. Kadang dia menhabiskan mie instan
yang aku buat tengah malam, kadang dia mengganti acara TV kesukaanku, kadang
juga dia merebut laptop yang sedang aku pakai mengerjakan tugas untuk main Plan versus Zombie1. Nggak
penting banget ni orang.
“Ya iyalah aku berantem sama Adit, kalau nggak berantem pasti aku
sekarang lagi manfaatin tiket ini”, katanya sambil menunjukkan dua buah tiket
nonton.
“Jam berapa mainnya? Ayo nonton sama aku aja”, aku berasa menghibur Mbak
Lia dan menyenangkannya meskipun sebenarnya aku lelah sekali.
***
“Eh gila Re! kemarin Bu Erni kasih kuis lagi!
mendadak!”, Adin berkata dengan heboh saat kami sedang makan malam di sebuah café
Jalan Malioboro.
“Hah? Iya? Lagi? kemarin kan katanya habis kuis? Untung aja aku nggak ikut
kelasnya Bu Erni lagi. males banget”
Sepuluh menit aku hanya diam, tidak terlalu paham dengan cerita mereka,
maklum aku MIP dan mereka tekpang, dan aku selalu paling tidak nyambung dengan
apa yang mereka bicarakan apalagi tentang kuliah, “Bu Erni itu ibu – ibu yang
gendut yang suka pakai syal itu ya?”, aku berusaha masuk ke dalam pembicaraan
mereka.
“Iya Zen, kamu tahu nggak Zen, Ibu itu nggak jelas banget orangnya,
kalau kuliah itu ngomongnya cuepet kayak kereta kebelet, mana yang diomongin
pas kuliah tu nggak nyambung sama sekali sama apa yang dia keluarin di kuiz,
apalagi kalau pas ujian, wuih nggak nyambung banget soalnya, stress gue”, ujar Adin menggebu – gebu.
“Kamu gimana Zen? Udah selesai ngerjain analisis waktu produksinya?”,
tanya Rere yang sepertinya berusa membuatku interest
dengan kongko – kongko kami malam ini.
“Belum, aku udah coba ngitung tapi salah terus, nggak match ama kunci jawabannya”
“Emang analisisnya itu buat apa sih?”, Rere bertanya lagi.
“Ya buat ngitung waktu yang paling efektif dalam proses produksi gitu,
supaya setiap tahapan proses bisa berjalan beriringan dan nggak ada waktu
tunda”
“Itu kuliah produktivitas yang kamu certain kemarin?”, Tanya Adin, yang
aku lanjutkan dengan anggukanku.
“Waw!! Yamapi!!” teriak Adin tiba – tiba, sambil menunjuk ke arah
televisi yang disiarkan oleh café
tempat kami makan, aku pun menoleh.
“Oh? Cowok itu? Itu yang maen di film yang kamu kasih aku itu ya Din? Proposa…l emmm?”, tanyaku pada Adin.
“Proposal Daisakusen”, Rere
melengkapi kata – kataku.
“Iya, ya ampun Yamapi tu aktor Jepang terkeren yang pernah aku tau!”,
Adin berteriak lagi.
“Oh iya ya? menurutku biasa aja sih”, aku menggumam, tidak ada yang
mendengarku.
“Iya sih dia lumayan, tapi aku lebih suka dia pas main di Kurosaki”,
ujar Rere agak datar, Rere memang tidak punya nada bicara dan tidak punya
ekspresi.
“Kuro apa?”, aku menyahut, aku tidak terlalu paham dengan apa yang
mereka bicarakan, mereka berdua memang Japan
Holic yang sangat parah, terutama si Adin, dia selalu heboh, Yamapi-lah,
Kuro – kuro apalah, Shun Oguri lah, Misuhiro-lah, inilah itulah.
“Kurosaki”, kata Rere
“Iya keren banget tau Re, lebih karismatik gitu pas dia jadi Kurosagi”,
Adin tak dapat meredam emosi kekagumannya, dan aku hanya diam.
“Iya aku juga suka pas dia jadi Kurosagi dari pada dia jadi Ken, berantakan
banget orangya, dan bodoh gitu”, Rere menimpali, lagi – lagi tanpa ekspresi,
“Jadi tuh filmya judulnya Kurosaki Zen, Yamapi-nya itu maen jadi Kurosagi, dia
itu perannya jadi penipu baik”, Rere menjelaskan padaku.
“Yamapi itu yang jadi Iwase Ken di Proposal
daisakusen?”, aku bertanya lagi.
“Iya, jadi Si Yamapi itu nipu penipu – penipu lain, uang hasil tipuannya
itu dibalikin ke korban yang kena tipu”, lanjut Rere.
“Oo gitu”, ujarku sambil mengangguk pelan.
Keesokan harinya, aku pergi bersama Adin, kami ke
stasiun untuk mengurus tiket kereta ke Bandung. Aku, Rere, dan Adin berencana
untuk travelling ke Bandung. Adin
memboncengkanku menaiki motornya, sepanjang perjalanan Adin tidak berhenti
bercerita tentang dirinya, beberapa kali aku mengiyakan, dan mencoba menanggapi
sebisaku. Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan semua ceritanya, karena
dia suka mengulang cerita yang sama, dan tidak pernah memberi aku kesempatan
berbicara. Aku agak sulit menjadi satu dengan Adin memang, tapi ya sudahlah,
kami tetap sahabat yang tak terpisahkan. Dan aku akan tetep sayang sama dia.
“Bandung sudah habis sejak dua hari yang lalu mbak”, kata petugas kereta,
setibanya kami di loket stasiun.
“Bahkan baru dua hari yang lalu kita ngerencanain mau ke Bandung”, keluh
Adin saat kami akan meninggalkan stasiun.
“Gimana kalau kita ke Magelang lagi aja, ke air terjunnya, kedung apa
itu?”
“Kedung Kayang?”
“Iya, kemarin kan belum jadi?”
“Iya sih, boleh deh yuk, Rere juga pasti mau”
***
Aku nangkring di atas motor yang kuparkir di Jalan
Magelang KM 6, Rere duduk tanpa ekspresi di pinggir trotoar. Setengah jam
berlalu, Adin belum datang. Kami sudah kelaparan, akhirnya kami memutuskan
untuk mencari sarapan di sekitar jalanan itu. Kami nangkring di warung bubur
ayam yang ada di sekitar jalan itu. Aku tidak terlalu suka bubur ayam, tetapi
perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dan di sekitar jalanan ini hanya
ada warung bubur ayam. Satu jam berlalu, Adin tidak mengangkat teleponku dan tidak
menjawab sms Rere. Rere masih tidak berekspresi, aku memperhatikan dia yang
sedang sibuk menghabiskan kerupuknya. Tiba – tiba terlintas di pikiranku, aku
merasa seperti orang yang memaksakan diri. Aku merasa berada di antara Rere dan
Adin, sebelum ada aku yang bertemu mereka di gathering KOSIP, mereka sudah berteman lebih dulu, meskipun hanya
beberapa bulan lebih awal. Mereka juga satu jurusan, otak mereka sepertinya
hampir mirip meskipun sepertinya karakter mereka sama sekali tidak cocok.
“Zen, Adin bales nih”, Rere berkata datar.
“Dimana dia?”, Tanyaku heboh.
“Guys, maaf, aku ketiduran, aku
nggak jadi ikut ya”, Rere membaca sms di HP-nya.
“What?”, aku terhentak, ”semudah
itu? satu setengah jam Re kita..”, aku tidak habis pikir dengan orang satu itu.
“Iya sih dia itu cuek banget orangnya, ayo deh kita berangkat sendiri”
Akhirnya perjalanan ke air terjun Kedung Kayang
Magelang kutempuh berdua bersama Rere. Aku agak kesal dengan kejadian hari ini,
bukan agak kesal, tapi kesal sekali banget sangat amat. Adin sering sekali
melakukan hal semacam ini, mengecewakan kami, atau hanya aku yang kecewa? Aku
tidak terlalu tahu apa yang ada di hati dan pikiran Rere, sahabatku yang satu
itu benar – benar tidak punya ekspresi, aku juga tidak pernah tahu bagaimana perasaannya
yang sebenarnya tentang berbagai hal yang terjadi di antara kami bertiga. Aku
juga tidak tahu apa dia tertarik atau tidak dengan topic pembicaraan yang aku
usulkan, dia selalu menanggapiku dengan baik, mencoba membuat aku paham dengan
apa yang dibicarakannya dengan Adin, menanggapi obrolanku dengan kalimat yang
menunjukkan ketertarikan, meskipun semuanya tetap tanpa ekspresi tapi Rere
menghargaiku, setidaknya aku merasakan itu. Dengan Rere aku bisa bercerita
banyak hal, tapi dengan Adin, aku merasa hanya sedikit sekali mempunyai
kesempatan berbicara.
Kedung Kayang, sebuah tempat wisata yang tak banyak
diketahui oleh orang luar kota, air terjun ini terletak di dataran tinggi yang
terletak di daerah Magelang. Kami telah memasuki kawasan Ketep, dan sudah
mendekati gapura desa yang menuju air terjun. Rere mengendarai motor tanpa
suara sama sekali, mungkin dia memikirkan sesuatu. Cuaca yang sejuk dan segar
membuatku melupakan segala kerisauan hatiku pagi ini, udara di sini sangat dingin,
aku sedikit mengalami gangguan telinga karena perbedaan tekanan dari dataran
rendah ke dataran tinggi.
“Turun cuy!”, kata Rere membuyarkan lamunanku, aku turun dari motor dan
membayar tiket masuk yang sangat murah.
“Berapa pak? Dua ribu?”, tanyaku meyakinkan.
“Iya mbak, dua orang jadi empat ribu”, kata si bapak penjaga loket yang
mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
Aku dan Rere masuk mendekati Air terjun yang bergemuruh, kami menuruni
sebuah jalan licin menuju bagian bawah air terjun. Kami harus sangat hati –
hati, karena jalan ini sangat potensial membuat kami terpeleset dan akibatnya
sangat fatal, tempat turun menuju air terjun ini hanya beralaskan tanah yang
akan jauh lebih licin jika turun hujan. Oleh karena itu, jika hujan turun jalan
ini tidak boleh dilalui oleh pengunjung.
Bagian bawah air terjun sudah sangat dekat, kami
melalui sungai yang berbatu dengan air dangkal yang mengalir bergemericik.
Suara air terjun bergemuruh manyamankan hati, air terjun adalah suara berisik
terindah yang pernah aku dengar selama ini. di bawah air terjun banyak bapak –
bapak , ibu – ibu, dan anak – anak kecil bermandian, ada juga muda mudi yang
sedang berduaan. Memang tempat ini sangat nyaman. Aku dan Rere duduk di
bebatuan, sejenak mengistirahatkan badan setelah berkendara selama dua jam dari
Jogja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar