Kamis, 06 Juni 2013

Pedusa (Part 1)

Pramugari wanita dengan span panjang berwarna biru menghampirimu, dari jauh belahan roknya berkibas – kibas, mungkin penjahit pakaiannya kehabisan benang untuk menjahit sobekan rok itu, pikirmu. Atau mungkin pramugari yang cantik itu sangat lincah hingga roknya sobek saat ia sedang berkegiatan. Sudahlah, kau tak lagi terlalu mempedulikannya, pandanganmu kali ini tertuju pada trolley yang dibawanya. “Excuse me”, sapa pramugari itu padamu, Tomoyo Katsuki namanya, tertulis di tanda pengenal yang ia kaitkan di saku seragam pramugarinya. Pramugari itu meletakkan satu buah nampan berisi aneka menu lengkap untuk menjadi makan malammu. Rasanya bagai menemukan oase di tengah gurun pasir, setelah perjalanan panjang dari Ehime Prefecture dengan kereta, lalu disambung dengan bus menuju Tokyo, kini akhirnya kau sudah berada di tempat duduk samping jendela dan pesawatmu sedang terbang menuju Singapura untuk kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Indonesia.
Kau masih tidak percaya memiliki moment ini, setelah 4 tahun akhirnya kau bisa pulang ke kampung halamanmu di Sidoarjo,  meskipun belum waktunya kau meninggalkan Jepang. Dalam otakmu, tak henti – hentinya kau mensyukuri kesempatan yang telah kau dapatkan ini. Ini semua berkat Nadia, teman sekelasmu di Ehime University yang berasal dari Bandung, yang mengajakmu untuk mencoba masuk ke rumah hantu yang ada di kawasan perbelanjaan Dogo.
 Awalnya kau sangat kesal karena harus mengeluarkan 600 Yen hanya untuk masuk ke rumah hantu bodoh itu, uang makan saja sungguh sebuah perjuangan bagimu, Nadia memang hobi memaksa. Dari awal kau sudah tahu bahwa masuk rumah hantu bukanlah ide yang bagus, tentu saja bukan karena kau takut dengan jadi – jadian bodoh itu, tapi karena ini adalah permainan terkonyol yang pernah kau temui seumur hidup. Hantu – hantu yang awalnya boneka yang hanya bergerak - gerak, di lorong terakhir yang kau lewati ternyata terdapat monster seram yang mengejar hingga keluar dan tak segan – segan mencoret mukamu dengan tinta hitam yang sangat bau, dan monster itu adalah mahasiswa kerja part time. Rumah hantu bodoh, sungguh bodoh orang yang mau membayar 600 Yen hanya untuk ditakut – takuti dan di-bully orang lain, tapi tentunya kau bukan salah satu di antara orang – orang bodoh itu, karena ini paksaan dari Nadia. Namun bagimu lebih bodoh lagi orang yang punya ide membuka usaha rumah hantu, memangya dia pikir pelanggan tidak tahu jika hantu – hantunya palsu? Mereka memang bakka alias bodoh.
Sekeluarnya kau dan Nadia dari rumah hantu sial tak berujung itu, nadia berlari dan berteriak dengan seluruh tenaga yang sepertinya ia miliki. Dia berlalu keluar dan meninggalkanmu yang ternyata telah dicegat oleh dua sosok Sadako yang keluar drai televisi stearofoam. Hatimu tak habis – habis menyimpan makian, sebelum akhirnya si Sadako berbaju merah darah mengeluarkan sebuah papan bertuliskan Omedetogozaimasu!!! alias Selamat!!!. Sial! Kaget banget!. Lalu pegawai rumah hantu itu menyambutmu dengan gembira, nyerocos dengan sangat cepat dalam bahasa Jepang gaul yang tidak kau mengerti. Setelah kau menanyakan kepada mereka dnegan pelan – pelan, mereka menjelaskan padamu bahwa kau adalah pengunjung ke-1000, dan berhak atas hadiah 100.000 yen untuk tiket pesawat kemanapun kau mau. Jadilah sekarang kau pulang ke Indonesia, setelah menunggu mendapatkan tiket seharga itu untuk PP Jepang Indonesia. Mungkin itu adalah berkah di balik kebodohan, pikirmu.
Kau manyantap nasi putih yang disajikan bersama sebuah dadar telur  yang ber-taste ikan, dengan beberapa sashimi, terong goreng, telur goreng, dan daging ayam fillet. Lapar, lapar sekali, sudah berjam- jam kau tidak makan. Nasi putih itu masih panas, kau mengambil sumpit sekali pakai dan menancapkannya di atas nasi panas itu lalu mengambil beberapa dan menyuapkan ke dalam mulutmu. Panas tapi tak terlalu, nasi itu kau kunyah dengan sangat mendalami, dan mengalir ke kerongkonganmu dengan cepat. Dengan lihai, kau memotong dadar telur rasa ikan -yang tak kau tahu namanya- sebesar ibu jari kaki dan memasukkan ke dalam mulutmu, waw, luar biasa, tak pernah kau makan makanan seperti ini, teksturnya sangat lembut dan mudah dikunyah, beberapa kali kau merasakan telah mengunyah sesuatu yang renyah seperti bawang goreng namun terasa manis dan lezat. Adonan telur itu kering dan gurih luar biasa, sangat lezat. Dengan lahap kau habiskan seluruh makananmu tanpa sisa, termasuk seluruh ikan mentah yang disajikan. Kali ini mungkin kau telah mencapai tingkat kelaparan yang di luar ambang batas, biasanya kau hanya mampu menghabiskan 2 lembar ikan salmon mentah tapi kali ini kau telah menelan 5 lembar tanpa merasa mual.
Kau makan dengan sangat cepat, tanpa bekas, kau meneliti dengan seksama karena perutmu belum puas, kau meneguk Ocha hangat yang kau letakkan di sebelah nampan makanmu. Ocha itu tak lagi hangat, karena telah berjam – jam terdiam di meja lipat kursimu. Bibir gelas bertemu dengan bibirmu dan byur! Ocha itu mengguyur mukamu diringi dengan gerakan tidak karuan dari seluruh badan pesawat, kau merasa seperti berada di dalam bus ekonomi yang melewati banyak sekali polisi tidur yang tinggi – tinggi. Detik berikutnya lampu pesawat mengerjap berkali – kali seperti lampu disotik, dan diiringi bunyi sirine yang memekakan telinga. Kau tak lagi mempedulikan gelas Ochamu yang telah terguling entah kemana, kau melihat semua orang sangat panik. Mereka mengenakan alat bantu oksigen yang tiba – tiba terjatuh dari atas kepala mereka, kau mengikuti mereka.
Kau tak pernah sepanik ini seumur hidupmu, saking paniknya kau bahkan bingung memegang alat bantu oksigenmu, seluruh penumpang telah menggunakannya namun kau belum. Dari jauh kau melihat pramugari berlari sempoyongan sambil memperingatkan para penumpang untuk  mengenakan sabuk pengaman mereka. Kau bingung, alat bantu oksigen belum terpasang, sabuk pengaman yang jelas – jelas menempel di kursi pesawat, tiba – tiba menghilang dari pandanganmu. Tiba – tiba pesawat yang kau tumpangi menukik tajam, dan kau terdorong ke depan. Gelap.
Kau mengerjapkan matamu beberapa kali, kemudian kau memejamkannya dengan sangat rapat selama beberapa saat, lalu membukanya kembali. Pandanganmu masih kabur, kepalamu terasa sangat berat, kunang – kunang seperti sedang terbang berputar di atasnya. Rasanya masih sulit bagimu untuk mengenali situasi. Di satu sisi, kau senang karena telah mendapatkan cahaya, setelah kau merasa kegelapan menyelimutimu, namun di sisi lain,  perasaanmu sangat tidak enak.
“Tidak apa kah?”, sebuah suara yang halus dari seorang wanita membantu kesadaranmu bangkit kembali.
Kau membuka matamu, semua yang kabur perlahan menjadi jelas. di atasmu seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih anggun memperhatikanmu seksama, di sekitarmu pepohonan tinggi menjulang menukik ke angkasa. Gadis itu mengangkatmu, dia kurus, kurus sekali, pipinya tirus, kulitnya kuning langsat, kulit asia. Aneh sekali, gadis itu bahkan jauh lebih kurus darimu, tapi dia mengangkatmu dengan mudah.
“Ayo berdiri, aku bantu”, ujarnya. Kau pun berdiri tanpa sepatah kata pun. Gadis itu memapahmu, kepalamu masih agak berat, jika kau tidak salah lihat ada sebuah kereta berbentuk labu, yang di depannya terikat dua ekor kuda berwarana… o my God… merah. Kuda berwarna merah dengan satu tanduk di tengah keningnya, Gosh! Unicorn. Kau memasuki labu itu bersama si gadis. Ajaib, labu sempit itu sangat luas, di dalamnya terdapat rerumputan menghampar, beberapa bangunan dan banyak sekali orang – orang berpakaian putih dan hijau yang dapat terbang.
“Aku Laura, kau?”, Gadis yang sedari tadi memapahmu memperkenalkan diri.
“Aku…”, kau berpikir keras, seingatmu kau berada di sebuah kondisi yang sangat lain dari keadaan ini, “Kita dimana?”, kau tak dapat menahan kebingunganmu.

“Kita ada di Pedusa, dan Pedusa sedang berjalan menuju langit fana tertinggi”, kata Laura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar