Pramugari wanita dengan span panjang berwarna biru
menghampirimu, dari jauh belahan roknya berkibas – kibas, mungkin penjahit
pakaiannya kehabisan benang untuk menjahit sobekan rok itu, pikirmu. Atau
mungkin pramugari yang cantik itu sangat lincah hingga roknya sobek saat ia
sedang berkegiatan. Sudahlah, kau tak lagi terlalu mempedulikannya, pandanganmu
kali ini tertuju pada trolley yang
dibawanya. “Excuse me”, sapa
pramugari itu padamu, Tomoyo Katsuki namanya, tertulis di tanda pengenal yang
ia kaitkan di saku seragam pramugarinya. Pramugari itu meletakkan satu buah
nampan berisi aneka menu lengkap untuk menjadi makan malammu. Rasanya bagai
menemukan oase di tengah gurun pasir, setelah perjalanan panjang dari Ehime Prefecture dengan kereta, lalu
disambung dengan bus menuju Tokyo, kini akhirnya kau sudah berada di tempat
duduk samping jendela dan pesawatmu sedang terbang menuju Singapura untuk
kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Indonesia.
Kau masih tidak percaya memiliki moment ini, setelah 4 tahun akhirnya kau bisa pulang ke kampung
halamanmu di Sidoarjo, meskipun belum
waktunya kau meninggalkan Jepang. Dalam otakmu, tak henti – hentinya kau
mensyukuri kesempatan yang telah kau dapatkan ini. Ini semua berkat Nadia, teman
sekelasmu di Ehime University yang
berasal dari Bandung, yang mengajakmu untuk mencoba masuk ke rumah hantu yang
ada di kawasan perbelanjaan Dogo.
Awalnya kau
sangat kesal karena harus mengeluarkan 600 Yen hanya untuk masuk ke rumah hantu
bodoh itu, uang makan saja sungguh sebuah perjuangan bagimu, Nadia memang hobi
memaksa. Dari awal kau sudah tahu bahwa masuk rumah hantu bukanlah ide yang
bagus, tentu saja bukan karena kau takut dengan jadi – jadian bodoh itu, tapi
karena ini adalah permainan terkonyol yang pernah kau temui seumur hidup. Hantu
– hantu yang awalnya boneka yang hanya bergerak - gerak, di lorong terakhir
yang kau lewati ternyata terdapat monster seram yang mengejar hingga keluar dan
tak segan – segan mencoret mukamu dengan tinta hitam yang sangat bau, dan monster
itu adalah mahasiswa kerja part time.
Rumah hantu bodoh, sungguh bodoh orang yang mau membayar 600 Yen hanya untuk
ditakut – takuti dan di-bully orang
lain, tapi tentunya kau bukan salah satu di antara orang – orang bodoh itu,
karena ini paksaan dari Nadia. Namun bagimu lebih bodoh lagi orang yang punya ide
membuka usaha rumah hantu, memangya dia pikir pelanggan tidak tahu jika hantu –
hantunya palsu? Mereka memang bakka
alias bodoh.
Sekeluarnya kau dan Nadia dari rumah hantu sial tak
berujung itu, nadia berlari dan berteriak dengan seluruh tenaga yang sepertinya
ia miliki. Dia berlalu keluar dan meninggalkanmu yang ternyata telah dicegat
oleh dua sosok Sadako yang keluar drai televisi stearofoam. Hatimu tak habis – habis menyimpan makian, sebelum
akhirnya si Sadako berbaju merah darah mengeluarkan sebuah papan bertuliskan Omedetogozaimasu!!! alias Selamat!!!.
Sial! Kaget banget!. Lalu pegawai rumah hantu itu menyambutmu dengan gembira,
nyerocos dengan sangat cepat dalam bahasa Jepang gaul yang tidak kau mengerti.
Setelah kau menanyakan kepada mereka dnegan pelan – pelan, mereka menjelaskan
padamu bahwa kau adalah pengunjung ke-1000, dan berhak atas hadiah 100.000 yen
untuk tiket pesawat kemanapun kau mau. Jadilah sekarang kau pulang ke
Indonesia, setelah menunggu mendapatkan tiket seharga itu untuk PP Jepang
Indonesia. Mungkin itu adalah berkah di balik kebodohan, pikirmu.
Kau manyantap nasi putih yang disajikan bersama sebuah
dadar telur yang ber-taste ikan, dengan beberapa sashimi, terong goreng, telur goreng,
dan daging ayam fillet. Lapar, lapar sekali, sudah berjam- jam kau tidak makan.
Nasi putih itu masih panas, kau mengambil sumpit sekali pakai dan menancapkannya
di atas nasi panas itu lalu mengambil beberapa dan menyuapkan ke dalam mulutmu.
Panas tapi tak terlalu, nasi itu kau kunyah dengan sangat mendalami, dan
mengalir ke kerongkonganmu dengan cepat. Dengan lihai, kau memotong dadar telur
rasa ikan -yang tak kau tahu namanya- sebesar ibu jari kaki dan memasukkan ke
dalam mulutmu, waw, luar biasa, tak pernah kau makan makanan seperti ini,
teksturnya sangat lembut dan mudah dikunyah, beberapa kali kau merasakan telah
mengunyah sesuatu yang renyah seperti bawang goreng namun terasa manis dan
lezat. Adonan telur itu kering dan gurih luar biasa, sangat lezat. Dengan lahap
kau habiskan seluruh makananmu tanpa sisa, termasuk seluruh ikan mentah yang
disajikan. Kali ini mungkin kau telah mencapai tingkat kelaparan yang di luar
ambang batas, biasanya kau hanya mampu menghabiskan 2 lembar ikan salmon mentah
tapi kali ini kau telah menelan 5 lembar tanpa merasa mual.
Kau makan dengan sangat cepat, tanpa bekas, kau
meneliti dengan seksama karena perutmu belum puas, kau meneguk Ocha hangat yang kau letakkan di sebelah
nampan makanmu. Ocha itu tak lagi hangat, karena telah berjam – jam terdiam di
meja lipat kursimu. Bibir gelas bertemu dengan bibirmu dan byur! Ocha itu
mengguyur mukamu diringi dengan gerakan tidak karuan dari seluruh badan
pesawat, kau merasa seperti berada di dalam bus ekonomi yang melewati banyak
sekali polisi tidur yang tinggi – tinggi. Detik berikutnya lampu pesawat
mengerjap berkali – kali seperti lampu disotik, dan diiringi bunyi sirine yang
memekakan telinga. Kau tak lagi mempedulikan gelas Ochamu yang telah terguling
entah kemana, kau melihat semua orang sangat panik. Mereka mengenakan alat
bantu oksigen yang tiba – tiba terjatuh dari atas kepala mereka, kau mengikuti
mereka.
Kau tak pernah sepanik ini seumur hidupmu, saking paniknya
kau bahkan bingung memegang alat bantu oksigenmu, seluruh penumpang telah
menggunakannya namun kau belum. Dari jauh kau melihat pramugari berlari
sempoyongan sambil memperingatkan para penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman mereka. Kau
bingung, alat bantu oksigen belum terpasang, sabuk pengaman yang jelas – jelas
menempel di kursi pesawat, tiba – tiba menghilang dari pandanganmu. Tiba – tiba
pesawat yang kau tumpangi menukik tajam, dan kau terdorong ke depan. Gelap.
Kau mengerjapkan matamu beberapa kali, kemudian kau
memejamkannya dengan sangat rapat selama beberapa saat, lalu membukanya
kembali. Pandanganmu masih kabur, kepalamu terasa sangat berat, kunang – kunang
seperti sedang terbang berputar di atasnya. Rasanya masih sulit bagimu untuk
mengenali situasi. Di satu sisi, kau senang karena telah mendapatkan cahaya, setelah
kau merasa kegelapan menyelimutimu, namun di sisi lain, perasaanmu sangat tidak enak.
“Tidak apa kah?”, sebuah suara yang halus dari seorang wanita membantu
kesadaranmu bangkit kembali.
Kau membuka matamu, semua yang kabur perlahan menjadi jelas. di atasmu
seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih anggun memperhatikanmu seksama,
di sekitarmu pepohonan tinggi menjulang menukik ke angkasa. Gadis itu
mengangkatmu, dia kurus, kurus sekali, pipinya tirus, kulitnya kuning langsat,
kulit asia. Aneh sekali, gadis itu bahkan jauh lebih kurus darimu, tapi dia
mengangkatmu dengan mudah.
“Ayo berdiri, aku bantu”, ujarnya. Kau pun berdiri tanpa sepatah kata
pun. Gadis itu memapahmu, kepalamu masih agak berat, jika kau tidak salah lihat
ada sebuah kereta berbentuk labu, yang di depannya terikat dua ekor kuda
berwarana… o my God… merah. Kuda berwarna merah dengan satu tanduk di tengah
keningnya, Gosh! Unicorn. Kau memasuki labu itu bersama si gadis. Ajaib, labu sempit
itu sangat luas, di dalamnya terdapat rerumputan menghampar, beberapa bangunan
dan banyak sekali orang – orang berpakaian putih dan hijau yang dapat terbang.
“Aku Laura, kau?”, Gadis yang sedari tadi memapahmu memperkenalkan diri.
“Aku…”, kau berpikir keras, seingatmu kau berada di sebuah kondisi yang
sangat lain dari keadaan ini, “Kita dimana?”, kau tak dapat menahan
kebingunganmu.
“Kita ada di Pedusa, dan Pedusa sedang berjalan menuju langit fana
tertinggi”, kata Laura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar