“Pakdhe,
lamlekooom?”, teriak Ijan.
“Wa’alaikumsalam, bapak lagi tindak12
Mas Ijan, ditaruh di tempat biasa aja barangnya”, Budhe Jarwo keluar
dari dalam rumah. “berapa itu mas?”
“Ini terigunya lima kilo kemarin pakdhe minta, kalau gula sama
tapiokanya seperti biasa budhe, sepuluh kilo”,kata Ijan sambil menggotong gula
pasir di atas punggungnya.
“Maturnuwun13 ya
mas, uangnya sudah to kemarin?”, Budhe Jarwo tersenyum.
“nggih, sudah budhe”, Ijan
mengangguk sopan, “Kula pamit dulu
nggih budhe, samlekom”.
“wa’alaikumsalam warrahmatullah”, sahut Budhe Jarwo sambil merapikan
barang – barang yang diletakkan sembarangan oleh Ijan. Budhe Jarwo sangat
bersyukur, berkat pasokan bahan baku murah dari Ijan, keuntungan yang
dihasilkan oleh usaha yang dirintisnya bersama sang suami semakin meningkat,
bahkan mereka bisa menaikkan gaji 30 orang pegawai mereka, dan tentunya tak
lupa membelikan Kiki pakaian baru. Budhe Jarwo sangat sayang pada Kiki, baginya
Kiki sudah seperti anak sendiri, wajar saja, sudah 35 tahun menikah, Budhe
Jarwo belum mendapat anugerah seorang anak. Pakdhe Jarwo yang bersahabat akrab
dengan ayah Kiki membuat hubungan dua keluarga itu menjadi sangat dekat, selama
tiga tahun belakangan ini, Pakdhe dan Budhe Jarwolah yang banyak membantu Ibu
Kiki untuk mencukupi kebutuhan sekolah Kiki, tanpa Kiki ketahui.
“Assalamu’alaikum”, sebuah suara datang dari halaman depan rumah.
“Wa’alaikumsalam”, Budhe Jarwo mengenal jelas suara itu, “Barusan saja
Ijan datang pak, itu barangnya, katanya terigunya minta lima saja ya pak?”
“Oh, iya bu, soalnya bu, aku mau coba resep baru pakai bahan lokal”,
jawab Pakdhe Jarwo sembari duduk di teras depan rumah mereka.
“Bahan lokal?”, Budhe Jarwo duduk di kursi sebelah Pakdhe Jarwo.
“Iya bu, namanya mocaf”,
Pakdhe Jarwo menekankan kalimatnya pada istilah baru yang akan ia paparkan
kepada istrinya.
“apa pak apa?”, Budhe Jarwo ingin mempertegas ucapan suaminya.
“mocaf bu moooo
– kaaaf”, Pakdhe Jarwo mengeja, “ Jadi tepung mocaf itu terbuatnya dari singkong bu. Kemarin itu bapak ketemu si
Bondan, anaknya Pak Sosro, yang kuliah di UGM itu lho bu, terus tadi ngobrol –
ngobrol, si Bondan itu sudah lulus ternyata, terus sekarang dia buka usaha
pengolahan mocaf itu bu, itu
tepungnya bagus katanya, bisa menggantikan tepung terigu, katanya kualitasnya ndak jauh beda”
“lha kalau terbuat dari singkong berati ya tepung singkong itu to pak,
ya ndak bisalah pak buat ngganti
terigu, ndak bisa ngembang nanti,
donatnya bisa bantat”, Budhe Jarwo protes.
“ndak ndak, beda bu, mocaf itu
tepung baru, beda sama tepung singkong, pokoknya mbikinnya itu pake teknologi
ramah lingkungan gitu bu, ndak ngerti
aku gimana. Ya memang belum bisa sepenuhnya menggantikan terigu kalau buat
donat atau roti, tapi kalau buat bolu jadi bagus kok bu, tadi aku disuguhi bolu
waktu mampir sekalian ke rumah Pak Sosro, bolunya terbuat dari tepung mocaf itu, enak kok bu, empuk. Harganya
sih nyaris sama kayak terigu kok bu, malah bisa dibawah terigu”, Pakdhe Jarwo
meyakinkan Istrinya.
“Ah bapak ini ada – ada saja, nanti kalau jajannya ndak enak piye pak, ndak laku nanti, ndak usah aneh – aneh lah pak, pakai terigu saja sudah bisa kok, ndak usah coba – coba yang ndak jelas”, Budhe Jarwo agak kesal
dengan sumainya yang suka sekali mencoba banyak hal baru, sebenarnya itu bagus,
tapi menurut Budhe Jarwo hal seperti itu terlalu beresiko, padahal sekarang mereka
memiliki pasokan terigu murah dari Ijan, pakai acara ganti tepung aneh segala.
“Eh ya ndak gitu to bu”,
Pakdhe Jarwo mencoba memahamkan, “Terigu itu kan impor bu, dikirim dari luar
negeri, karena negara kita itu belum mampu menghasilkan terigu yang banyak. Kan
lebih baik to bu kalau kita memakai produk dalam negeri, memanfaatkan hasil
bumi kita sendiri, singkong itu kan di Indonesia buuuuanyak to, apalagi di desa
kita ini, buanyak buanget, Dik Sumi itu juga punya to kebun singkong, tapi
singkongnya cuma direbus terus, kan lumayan bu kalau Dik Sumi mau masok
singkongnya ke si Bondan, dapat uang itu”
“Eh iya ya pak, lumayan itu buat Dik Sumi dan Kiki bisa jadi pemasok
singkong untuk si Bondan. Tapi apa benar ndak
apa – apa itu pak kita buat jajan kita pakai tepung apa tadi?, Budhe Jarwo
masih ragu.
“Ndak apa – apa, kita coba
saja, tapi kalau buat donat sama roti kita campur sedikit saja bu sama terigu,
kalau buat bolu ndak apa – apa pakai mocaf semua, begitu bu kata Bondan”,
Ujar Pak jarwo.
“Yowislah14
terserah bapak, tapi jangan banyak – banyak dulu belinya pak, coba sedikit
sedikit, nanti kalau rugi”,
“Iya bu, bapak kira – kira kok”
“Ini kita jadi ke rumah Dik Sumi ndak
pak, ibu udah buat kolak buat Kiki juga, sekalian nganter baju baru yang Ibu
beli buat Kiki”
“O iya iya iya, sampai lupa, ayo bu berangkat sekarang saja”
“Lho? Sekarang? Bapak ndak
capek baru pulang”
“Ndak ndak ayo”, Pak Jarwo beranjak.
Sumi sedang memasak di dapur saat Budhe dan Pakdhe Jarwo datang
berkunjung. Kiki baru saja pulang dari pabrik , hari ini Kiki sengaja pulang
siang, entah kenapa dia sedang malas hari ini. “Eh pakdhe, budhe”, Kiki mencium
tangan dua suami istri itu.
“Cah ayu, sudah
pulang to siang siang begini?”, Budhe Jarwo membelai rambut Kiki.
“Iya budhe, lagi
males, hehe”, kata Kiki sambil nyengir.
“Ya ndak apa – apa, kerja itu yang penting
nyaman dan dinikmati, istirahat itu juga penting”, Budhe Jarwo melayangkan
senyum penuh kasih sayang pada Kiki, “Ibu ada?”
“Di dapur
budhe”, jawab Kiki, sambil tersenyum Budhe jarwo menuju dapur. “ Monggo pakdhe
duduk dulu”, Kiki ikut ngeloyor ke dapur untuk mengmbilkan air putih.
“Ada apa nduk? Pasti ada sesuatu sampai kamu
sudah pulang dari pabrik siang – siang begini”, tanya Pakdhe Jarwo begitu Kiki
kembali untuk mengantar air putih.
“Ndak kok pakdhe, ndak ada apa – apa, ndak
tahu kenapa pakdhe, hawanya males aja”, ujar kiki sambil tersenyum.
“Ya sudah kalau
begitu”, Pakdhe Jarwo melempar senyum ramah, ia tidak ingin memaksa Kiki untuk
bercerita, meskipun ia tahu bahwa Kiki menyimpan sesuatu dalam benaknya. “Eh nduk, ini lho, pakdhe mau cerita”
“O iya pakdhe,
cerita apa?”, raut wajah Kiki berubah sumringah, ia suka berbincang ringan
dengan Pakdhe Jarwo.
“Jadi pakdhe itu
kemarin ketemu sama Bondan, anaknya Pak Sosro, Bondan itu sekarang jadi pengusaha
tepung mocaf, tahu ndak tepung mocaf?”
“oo mocaf… tahu pakdhe, sempat baca di
internet pas di sekolah dulu”
“Nah, pakdhe itu
punya rencana untuk ganti tepung terigu yang selama ini pakdhe pakai, dengan
tepung itu, kata Bondan itu bagus, cuma kalau untuk roti – rotian masih harus
pakai terigu ya katanya? tahu ndak nduk?”, Pakdhe jarwo menggebu – gebu.
“Oh begitu, wah
bagus itu pakdhe, pengembangan potensi komoditas lokal. Saya baca sedikit di
internet sih pakdhe, mocaf itu singkatan pakdhe, modified cassava flour, jadi itu tepung yang dibuat dari singkong,
tapi sudah dimodifikasi, sudah direka – reka gitulah pakdhe, supaya hasilnya
bagus. Membuatnya itu pakai proses yang namanya fermentasi, fermentasi itu
caranya cuma dengan mendiamkan saja pakdhe, biar bakterinya bereaksi”, Kiki
senang bisa membicarakan tentang ilmunya dnegan orang lain, selama ini tak ada
orang yang mengerti dengan hal – hal yang sedikit ilmiah yang sering ia
ucapkan,”Saya kurang tahu sih pakdhe kalau untuk roti – rotian, mungkin karena
akalau bikin roti atau donat itu butuh gluten yang cuma ada di tepung terigu,
jadi mungkin masih harus pakai terigu, tapi kalau bolu atau kue apa gitu
mungkin bisa pakdhe, sifat tepungnya hampir mirip sama terigu kok pakdhe.
Mungkin kalau untuk donatnya pakdhe itu tepungnya dicampur terigu saja pakdhe”
“Iya nduk, rencana pakdhe juga campur –
campur dulu begitu, bisa ajari pakdhe ndak
nduk mbuatnya?”
“Aduh, kan saya ndak pinter buat jajan pakdhe, atau
nanti kita belajar saja sama Mas Bondan, mungkin Mas Bondan sedikit paham tentang
kadar penggunaannya pakdhe?”
“Oh iya ya,
besok malam kita kesana ya nduk”, ajakan
Pakdhe Jarwo disambut oleh anggukan Kiki, “Sama ini nduk, pakdhe itu kepikiran, kan kamu itu ada kebun singkong di kebun, daripada cuma direbus, mendingan itu
dipasok ke si Bondan itu nduk, kan
lumayan nduk”
“Oh? Betul juga pakdhe, besok sekalian kita membicarakan itu ya pakdhe
sama Mas Bondan, siapa tahu juga kerupuk saya bisa dibuat dari mocaf pakdhe, terigu sudah naik sekali
sekarang”, raut muka Kiki berubah.
“Nduk, pakdhe sejujurnya
pengen tahu lebih banyak tentang perkembangan pabrik nduk, apa betul ndak ada
yang bisa pakdhe bantu?”, Pakdhe Jarwo mencoba memancing Kiki untuk bercerita.
Kiki diam sangat lama, lalu mulai berbicara dengan ragu – ragu.
“Sebenarnya Kiki pengen cerita sesuatu pakdhe, Kiki belum pernah cerita
ini ke siapa – siapa”, Kiki mengawali, “Sekarang Kiki ndak berani pulang malem lagi pakdhe, Kiki takut, beberapa minggu
yang lalu waktu Kiki tinggal sendirian di pabrik, ada yang aneh”
“Maksudnya nduk?”, Pakdhe
Jarwo menebak – nebak dalam hatinya.
“Jadi itu ceritanya Kiki sudah mau pulang, terus Kiki matikan semua
saklar, pas Kiki mau nutup pintu depan, tiba – tiba Kiki dengar suara pintu
bergerak di belakang pakdhe, entah dibuka entah ditutup, pokoknya ada suara
pintu gerak, Kiki takut sekali itu pakdhe. Kiki diam lama, terus pelan – pelan
Kiki mojok ke belakang pintu yang masih separo terbuka, sampai jam 12 malam
Kiki di situ jongkok, takut banget pakdhe. Pas Kiki yakin sudah ndak ada suara baru Kiki pergi dan
ngunci pintu”, Kiki cerita dengan berbisik.
“Astaghfirullah nduk nduk…sampai jam segitu kamu?”, nada
Pakdhe Jarwo agak meninggi, “Kok ya baru cerita sekarang lho ya”
“Maaf pakdhe”, Kiki murung.
“Tapi nduk kamu yakin itu
suara pintu? Angin mungkin nduk?”,
Pakdhe jarwo mencoba menelisik.
“Pakdhe, Kiki kan hafal sekali sama suara pintu tua itu pakdhe, suara
mesin aduk, bahkan sampai nada suara jepretan Mbak Laras pas mbungkusi kerupuk
saja Kiki hafal. Kiki yakin sekali itu suara pintu pakdhe, Kiki merasa konyol
sih pakdhe tapi apa ada tuyul atau hantu di pabrik ya pakdhe?”, Kiki merinding.
“Kita coba berpikir rasional dulu saja nduk. Mungkin kamu lupa kunci pintu belakang, terus ada angdin yang
mendorong pintu itu?”
“Yakin sudah dikunci semua pakdhe, dan besoknya waktu Kiki ke pabrik,
pintu belakang juga dalam keadaan terkunci”
“Apa betul itu makhluk halus, pakdhe jadi penasaran”
Kiki merasa sangat lega setelah menceritakan ganjalan
di hatinya pada Pakdhe Jarwo. Sejak ia menceritakan ganjalan hatinya itu, kini
Kiki bisa lebih fokus untuk mengurus semua permasalahan yang harus ditangani di
pabrik. Selama sebulan Kiki bekerja keras di pabrik, terdapat banyak
peningkatan, Kiki berhasil meningkatkan jumlah agen kerupuk dan memasarkannya
hingga ke desa – desa lain. Kuantitas produksi pabrik juga semakin meningkat,
walaupun pencatatan belum stabil dan masalah bahan baku yang cepat habis juga
masih terus terjadi, namun ia merasa akhir – akhir ini pabriknya banyak
menghemat tepung terigu, yang biasanya seminggu sudah habis sekarang sampai dua
minggu masih ada persediaan. Kiki juga semakin semangat bekerja dengan pakaian
baru yang dibelikan oleh Budhe Jarwo sewaktu berkunjung ke rumah beberapa hari
yang lalu.
12pergi
13terimakasih
15ya
sudahlah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar