Selasa, 04 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 4)

“Pakdhe, lamlekooom?”, teriak Ijan.

“Wa’alaikumsalam, bapak lagi tindak12 Mas Ijan, ditaruh di tempat biasa aja barangnya”, Budhe Jarwo keluar dari dalam rumah. “berapa itu mas?”

“Ini terigunya lima kilo kemarin pakdhe minta, kalau gula sama tapiokanya seperti biasa budhe, sepuluh kilo”,kata Ijan sambil menggotong gula pasir di atas punggungnya.

Maturnuwun13 ya mas, uangnya sudah to kemarin?”, Budhe Jarwo tersenyum.

nggih, sudah budhe”, Ijan mengangguk sopan, “Kula pamit dulu nggih budhe, samlekom”.

“wa’alaikumsalam warrahmatullah”, sahut Budhe Jarwo sambil merapikan barang – barang yang diletakkan sembarangan oleh Ijan. Budhe Jarwo sangat bersyukur, berkat pasokan bahan baku murah dari Ijan, keuntungan yang dihasilkan oleh usaha yang dirintisnya bersama sang suami semakin meningkat, bahkan mereka bisa menaikkan gaji 30 orang pegawai mereka, dan tentunya tak lupa membelikan Kiki pakaian baru. Budhe Jarwo sangat sayang pada Kiki, baginya Kiki sudah seperti anak sendiri, wajar saja, sudah 35 tahun menikah, Budhe Jarwo belum mendapat anugerah seorang anak. Pakdhe Jarwo yang bersahabat akrab dengan ayah Kiki membuat hubungan dua keluarga itu menjadi sangat dekat, selama tiga tahun belakangan ini, Pakdhe dan Budhe Jarwolah yang banyak membantu Ibu Kiki untuk mencukupi kebutuhan sekolah Kiki, tanpa Kiki ketahui.

“Assalamu’alaikum”, sebuah suara datang dari halaman depan rumah.

“Wa’alaikumsalam”, Budhe Jarwo mengenal jelas suara itu, “Barusan saja Ijan datang pak, itu barangnya, katanya terigunya minta lima saja ya pak?”

“Oh, iya bu, soalnya bu, aku mau coba resep baru pakai bahan lokal”, jawab Pakdhe Jarwo sembari duduk di teras depan rumah mereka.

“Bahan lokal?”, Budhe Jarwo duduk di kursi sebelah Pakdhe Jarwo.

“Iya bu, namanya mocaf”, Pakdhe Jarwo menekankan kalimatnya pada istilah baru yang akan ia paparkan kepada istrinya.

“apa pak apa?”, Budhe Jarwo ingin mempertegas ucapan suaminya.

mocaf  bu moooo – kaaaf”, Pakdhe Jarwo mengeja, “ Jadi tepung mocaf itu terbuatnya dari singkong bu. Kemarin itu bapak ketemu si Bondan, anaknya Pak Sosro, yang kuliah di UGM itu lho bu, terus tadi ngobrol – ngobrol, si Bondan itu sudah lulus ternyata, terus sekarang dia buka usaha pengolahan mocaf itu bu, itu tepungnya bagus katanya, bisa menggantikan tepung terigu, katanya kualitasnya ndak jauh beda”

“lha kalau terbuat dari singkong berati ya tepung singkong itu to pak, ya ndak bisalah pak buat ngganti terigu, ndak bisa ngembang nanti, donatnya bisa bantat”, Budhe Jarwo protes.

ndak ndak, beda bu, mocaf itu tepung baru, beda sama tepung singkong, pokoknya mbikinnya itu pake teknologi ramah lingkungan gitu bu, ndak ngerti aku gimana. Ya memang belum bisa sepenuhnya menggantikan terigu kalau buat donat atau roti, tapi kalau buat bolu jadi bagus kok bu, tadi aku disuguhi bolu waktu mampir sekalian ke rumah Pak Sosro, bolunya terbuat dari tepung mocaf itu, enak kok bu, empuk. Harganya sih nyaris sama kayak terigu kok bu, malah bisa dibawah terigu”, Pakdhe Jarwo meyakinkan Istrinya.

“Ah bapak ini ada – ada saja, nanti kalau jajannya ndak enak piye pak, ndak laku nanti, ndak usah aneh – aneh lah pak, pakai terigu saja sudah bisa kok, ndak usah coba – coba yang ndak jelas”, Budhe Jarwo agak kesal dengan sumainya yang suka sekali mencoba banyak hal baru, sebenarnya itu bagus, tapi menurut Budhe Jarwo hal seperti itu terlalu beresiko, padahal sekarang mereka memiliki pasokan terigu murah dari Ijan, pakai acara ganti tepung aneh segala.

“Eh ya ndak gitu to bu”, Pakdhe Jarwo mencoba memahamkan, “Terigu itu kan impor bu, dikirim dari luar negeri, karena negara kita itu belum mampu menghasilkan terigu yang banyak. Kan lebih baik to bu kalau kita memakai produk dalam negeri, memanfaatkan hasil bumi kita sendiri, singkong itu kan di Indonesia buuuuanyak to, apalagi di desa kita ini, buanyak buanget, Dik Sumi itu juga punya to kebun singkong, tapi singkongnya cuma direbus terus, kan lumayan bu kalau Dik Sumi mau masok singkongnya ke si Bondan, dapat uang itu”

“Eh iya ya pak, lumayan itu buat Dik Sumi dan Kiki bisa jadi pemasok singkong untuk si Bondan. Tapi apa benar ndak apa – apa itu pak kita buat jajan kita pakai tepung apa tadi?, Budhe Jarwo masih ragu.

Ndak apa – apa, kita coba saja, tapi kalau buat donat sama roti kita campur sedikit saja bu sama terigu, kalau buat bolu ndak apa – apa pakai mocaf semua, begitu bu kata Bondan”, Ujar Pak jarwo.

Yowislah14 terserah bapak, tapi jangan banyak – banyak dulu belinya pak, coba sedikit sedikit, nanti kalau rugi”,

“Iya bu, bapak kira – kira kok”

“Ini kita jadi ke rumah Dik Sumi ndak pak, ibu udah buat kolak buat Kiki juga, sekalian nganter baju baru yang Ibu beli buat Kiki”

“O iya iya iya, sampai lupa, ayo bu berangkat sekarang saja”

“Lho? Sekarang? Bapak ndak capek baru pulang”

Ndak ndak ayo”, Pak Jarwo beranjak.

Sumi sedang memasak di dapur saat Budhe dan Pakdhe Jarwo datang berkunjung. Kiki baru saja pulang dari pabrik , hari ini Kiki sengaja pulang siang, entah kenapa dia sedang malas hari ini. “Eh pakdhe, budhe”, Kiki mencium tangan dua suami istri itu.

“Cah ayu, sudah pulang to siang siang begini?”, Budhe Jarwo membelai rambut Kiki.

“Iya budhe, lagi males, hehe”, kata Kiki sambil nyengir.

“Ya ndak apa – apa, kerja itu yang penting nyaman dan dinikmati, istirahat itu juga penting”, Budhe Jarwo melayangkan senyum penuh kasih sayang pada Kiki, “Ibu ada?”

“Di dapur budhe”, jawab Kiki, sambil tersenyum Budhe jarwo menuju dapur. “ Monggo pakdhe duduk dulu”, Kiki ikut ngeloyor ke dapur untuk mengmbilkan air putih.

“Ada apa nduk? Pasti ada sesuatu sampai kamu sudah pulang dari pabrik siang – siang begini”, tanya Pakdhe Jarwo begitu Kiki kembali untuk mengantar air putih.

Ndak kok pakdhe, ndak ada apa – apa, ndak tahu kenapa pakdhe, hawanya males aja”, ujar kiki sambil tersenyum.

“Ya sudah kalau begitu”, Pakdhe Jarwo melempar senyum ramah, ia tidak ingin memaksa Kiki untuk bercerita, meskipun ia tahu bahwa Kiki menyimpan sesuatu dalam benaknya. “Eh nduk, ini lho, pakdhe mau cerita”

“O iya pakdhe, cerita apa?”, raut wajah Kiki berubah sumringah, ia suka berbincang ringan dengan Pakdhe Jarwo.

“Jadi pakdhe itu kemarin ketemu sama Bondan, anaknya Pak Sosro, Bondan itu sekarang jadi pengusaha tepung mocaf, tahu ndak tepung mocaf?

“oo mocaf… tahu pakdhe, sempat baca di internet pas di sekolah dulu”

“Nah, pakdhe itu punya rencana untuk ganti tepung terigu yang selama ini pakdhe pakai, dengan tepung itu, kata Bondan itu bagus, cuma kalau untuk roti – rotian masih harus pakai terigu ya katanya? tahu ndak nduk?”, Pakdhe jarwo menggebu – gebu.

“Oh begitu, wah bagus itu pakdhe, pengembangan potensi komoditas lokal. Saya baca sedikit di internet sih pakdhe, mocaf  itu singkatan pakdhe, modified cassava flour, jadi itu tepung yang dibuat dari singkong, tapi sudah dimodifikasi, sudah direka – reka gitulah pakdhe, supaya hasilnya bagus. Membuatnya itu pakai proses yang namanya fermentasi, fermentasi itu caranya cuma dengan mendiamkan saja pakdhe, biar bakterinya bereaksi”, Kiki senang bisa membicarakan tentang ilmunya dnegan orang lain, selama ini tak ada orang yang mengerti dengan hal – hal yang sedikit ilmiah yang sering ia ucapkan,”Saya kurang tahu sih pakdhe kalau untuk roti – rotian, mungkin karena akalau bikin roti atau donat itu butuh gluten yang cuma ada di tepung terigu, jadi mungkin masih harus pakai terigu, tapi kalau bolu atau kue apa gitu mungkin bisa pakdhe, sifat tepungnya hampir mirip sama terigu kok pakdhe. Mungkin kalau untuk donatnya pakdhe itu tepungnya dicampur terigu saja pakdhe”

“Iya nduk, rencana pakdhe juga campur – campur dulu begitu, bisa ajari pakdhe ndak nduk mbuatnya?”

“Aduh, kan saya ndak pinter buat jajan pakdhe, atau nanti kita belajar saja sama Mas Bondan, mungkin Mas Bondan sedikit paham tentang kadar penggunaannya pakdhe?”

“Oh iya ya, besok malam kita kesana ya nduk”, ajakan Pakdhe Jarwo disambut oleh anggukan Kiki, “Sama ini nduk, pakdhe itu kepikiran, kan kamu itu ada kebun singkong di  kebun, daripada cuma direbus, mendingan itu dipasok ke si Bondan itu nduk, kan lumayan nduk

“Oh? Betul juga pakdhe, besok sekalian kita membicarakan itu ya pakdhe sama Mas Bondan, siapa tahu juga kerupuk saya bisa dibuat dari mocaf pakdhe, terigu sudah naik sekali sekarang”, raut muka Kiki berubah.

Nduk, pakdhe sejujurnya pengen tahu lebih banyak tentang perkembangan pabrik nduk, apa betul ndak ada yang bisa pakdhe bantu?”, Pakdhe Jarwo mencoba memancing Kiki untuk bercerita. Kiki diam sangat lama, lalu mulai berbicara dengan ragu – ragu.

“Sebenarnya Kiki pengen cerita sesuatu pakdhe, Kiki belum pernah cerita ini ke siapa – siapa”, Kiki mengawali, “Sekarang Kiki ndak berani pulang malem lagi pakdhe, Kiki takut, beberapa minggu yang lalu waktu Kiki tinggal sendirian di pabrik, ada yang aneh”

“Maksudnya nduk?”, Pakdhe Jarwo menebak – nebak dalam hatinya.

“Jadi itu ceritanya Kiki sudah mau pulang, terus Kiki matikan semua saklar, pas Kiki mau nutup pintu depan, tiba – tiba Kiki dengar suara pintu bergerak di belakang pakdhe, entah dibuka entah ditutup, pokoknya ada suara pintu gerak, Kiki takut sekali itu pakdhe. Kiki diam lama, terus pelan – pelan Kiki mojok ke belakang pintu yang masih separo terbuka, sampai jam 12 malam Kiki di situ jongkok, takut banget pakdhe. Pas Kiki yakin sudah ndak ada suara baru Kiki pergi dan ngunci pintu”, Kiki cerita dengan berbisik.

“Astaghfirullah nduk nduk…sampai jam segitu kamu?”, nada Pakdhe Jarwo agak meninggi, “Kok ya baru cerita sekarang lho ya”

“Maaf pakdhe”, Kiki murung.

“Tapi nduk kamu yakin itu suara pintu? Angin mungkin nduk?”, Pakdhe jarwo mencoba menelisik.

“Pakdhe, Kiki kan hafal sekali sama suara pintu tua itu pakdhe, suara mesin aduk, bahkan sampai nada suara jepretan Mbak Laras pas mbungkusi kerupuk saja Kiki hafal. Kiki yakin sekali itu suara pintu pakdhe, Kiki merasa konyol sih pakdhe tapi apa ada tuyul atau hantu di pabrik ya pakdhe?”, Kiki merinding.

“Kita coba berpikir rasional dulu saja nduk. Mungkin kamu lupa kunci pintu belakang, terus ada angdin yang mendorong pintu itu?”

“Yakin sudah dikunci semua pakdhe, dan besoknya waktu Kiki ke pabrik, pintu belakang juga dalam keadaan terkunci”

“Apa betul itu makhluk halus, pakdhe jadi penasaran”

Kiki merasa sangat lega setelah menceritakan ganjalan di hatinya pada Pakdhe Jarwo. Sejak ia menceritakan ganjalan hatinya itu, kini Kiki bisa lebih fokus untuk mengurus semua permasalahan yang harus ditangani di pabrik. Selama sebulan Kiki bekerja keras di pabrik, terdapat banyak peningkatan, Kiki berhasil meningkatkan jumlah agen kerupuk dan memasarkannya hingga ke desa – desa lain. Kuantitas produksi pabrik juga semakin meningkat, walaupun pencatatan belum stabil dan masalah bahan baku yang cepat habis juga masih terus terjadi, namun ia merasa akhir – akhir ini pabriknya banyak menghemat tepung terigu, yang biasanya seminggu sudah habis sekarang sampai dua minggu masih ada persediaan. Kiki juga semakin semangat bekerja dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Budhe Jarwo sewaktu berkunjung ke rumah beberapa hari yang lalu.
12pergi
13terimakasih

15ya sudahlah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar