Suatu
hari, aku bertengger di dahan pohon kenari di halaman rumah besar itu. Rumah bercat
biru tua yang warnanya telah berubah menjadi kelabu, kusam, seperti ingin mati.
Bangunannya memancang tinggi, melebihi tinggi rumah – rumah lain di sekitarnya.
Model bangunannya tua, seperti rumah hantu. Hanya satu yang terlihat jernih,
yaitu jendelanya. Jendela yang membingkai lubang kotak di sebuah kamar di
lantai dua.
kutengok
dari jendela itu, gadis kecil itu masih tertidur dengan lelap. Kadang kala
ibunya datang membangunkannya sambil menangis, kadang kala perawatnya memandikan
tubuhnya, kadang kala ayahnya mencium kening dan rambutnya untuk pamit berangkat
bekerja. Namun gadis itu tak jua bangun. Menurutku, gadis itu telah berubah
menjadi sangat pemalas. Karena ia selalu tertidur, tak lagi serajin dulu ketika
ia masih sering memberiku makanan dan bercerita kisah-kisah yang tak
kumengerti.
Aku betengger
di dahan kenari miliknya dari matahari hendak muncul hingga matahari telah setinggi
penggalah. Kadang kala aku bernyanyi,
kadang kala aku hanya bersiul ringan, atau kadang kala aku menunjungi kumbang
dahan, atau kadang kala aku hanya sekedar mengobrol dengan pipit – pipit
lainnya. Membicarakan dia, gadis itu, yang selalu tertidur. Menurut pipit yang
lain, gadis itu terserang penyakit yang selalu membuatnya tidur. Menurut pipit
yang lain lagi –yang pernah tersesat hingga malam-, ia pernah melihat gadis itu
bangun di tengah malam, terhenyak dari kasurnya dengan mata terpejam, lalu tertidur
lagi. Ada pula pipit yang berkata bahwa dia hanya bangun di malam hari. Tapi aku
tak tahu, pipit-pipit terkadang suka menyebarkan cerita bohong pula. Itulah
yang mereka sebut dengan kabar burung.
Pernah
di suatu hari yang lain, aku berkunjung ke dahan kenariku –ya, dahan kenari ini
telah kuakuisisi- sore hari sebelum aku kembali ke sarangku di dekat sungai, dan
aku melihat dia tetap tertidur. Dia hanya tertidur, namun ia cantik sekali. Matanya
terpejam dengan bulu mata panjang yang mencuat dengan indah, hidung mungil yang
lucu, dan bibirnya diam mengulum serta tersenyum. Senyum yang mengartikan
sesuatu.
Dulu,
ketika aku baru belajar terbang, dahan pohon kenari ini adalah tempatku
berlatih bersama ibu. Dan di dahan ini pulalah pertama kali aku berkenalan
dengan gadis itu. Gadis berambut pendek dan tebal. Rambutnya cokelat, matanya
biru. Dahulu ia selalu bangun pagi, Ia memberiku remahan roti yang memang
selalu ia sisakan untukku. ia suka menggambar di depan jendelanya. Aku senang
padanya, aku kunjungi ia setiap hari. Kadang ia memberi aku biji beras lalu
membelai kepalaku dengan gerakan kecil tangannya. Ia suka bercerita padaku
mengenai gambar-gambarnya.
Ia pernah
menggambar ayah, ibu, dan neneknya. Mereka berada di halaman depan rumah mereka
yang indah penuh dengan bunga–bunga dan tanaman hijau yang cantik. Bergandengan
tangan dan tersenyum ceria. Pernah suatau ketika ia menggambarkan ibunya sedang
duduk sendiri di taman samping rumahnya. Duduk di ayunan yang cantik dengan air
mata di di pipi, dan ia bercerita padaku sambil menangis pula. Ia bilang
ayahnya telah marah besar dan membuat ibunya menangis. Belakangan ia menggambar
ibu dan dirinya saja, saling berpelukan. Beberapa gambar terakhirnya
menggambarkan dirinya sendiri, dengan rambutnya yang lebat. Ia menunjukkan
gambar itu padaku, dalam keadaan rambutnya yang kini telah tinggal sedikit. Dapat
kulihat kulit kepalanya menyembul-nyembul di antara rambut-rambut itu. pernah
suatu ketika pula, ia menggambarkan dirinya memakai gaun yang cantik dan ada
sayap di punggungnya –sayap yang besar dan indah, bahkan aku iri dengan sayap
itu, sayapku tak sebesar sayapnya- dan ia terbang tinggi bermain bersama bintang
dan bulan yang tersenyum.
Keesokan
harinya, ia memberiku sebuah gambar, dimana ada aku dan dia sedang bermain
bersama. Ia berkisah :
Scaly… ini aku, ini kamu. Kita ada di taman depan rumahku. Kau tahu? Taman di depan rumahku
sangat indah, aku suka duduk dan bermain di sana.Tapi sudah lama aku tidak
bermain di taman depan rumah. Kau tahu mengapa? Kini aku tak sanggup lagi
berjalan menuruni tangga, jika aku berjalan panjang, kepalaku akan sakit
sekali, seperti tertimpa tubuh ayahku yang besar.
Ah… ayah… ayah kini hanya mengunjungi aku setiap hari
minggu. Sejak ibu menangis di taman samping rumah, ayah pergi, mungkin karena
ia tak suka ibu menangis.
Lalu
ia membelaiku…
Scaly, kamu lucu sekali. Terimakasih telah mau menjadi
temanku Scaly, aku tak punya teman lain selain dirimu. Aku sayang padamu.
Ia menitikkan
air mata…
Ada yang ingin aku ceritakan padamu Scaly… kemarin
lusa, aku berkunjung ke tempat bapak dokter mengobati orang sakit. Bapak dokter
menyuruhku berbaring, lalu tubuhku di periksa. Sejak aku pertama kali datang ke
tempat itu, setelahnya aku sering diantar ibu datang bertemu dengan bapak
dokter. Bapak dokter kadang memberikan aku permen lolly pop yang lezat, namun
ia juga menyuruhku memakan pil-pil yang aku tak suka.
Scaly… ini rambutku yang indah –ia menunjuk gambarnya- aku dahulu suka memilinnya dan menghiasnya dengan pita dan bunga, dulu
ibu suka membantuku melakukannya. Namun kini aku tak menghias rambutku lagi,
karena kini rambutku seakan tak bisa disentuh, ia suka berjatuhan bila
kusentuh. Ibu juga tak lagi berani menyentuhnya.
Scaly… berjanjilah kau akan selalu menjadi temanku….
Aku tersenyum,
namun ia tak mampu melihat senyum di antara paruhku. Tak apa, ia sudah bahagia
dengan kehadiranku, kurasa. Aku pergi dari jendela itu ketika perawatnya datang
membawakannya makanan.
Keesokan
harinya aku bertengger lagi di jendelanya yang selalu terbuka. Namun ia masih
tertidur lelap. Aku berpindah ke dahan kenari. Kutunggu bahkan hingga siang
menyengat ubun-ubunku. Namun ia tak jua bangun. Aku melihat ayah, ibu, dan
neneknya mengelilinginya, mereka menangis bersama. Ayah dan ibunya berpelukan
sambil menangis. Ayahnya membelai rambut ibunya yang terus-menerus menangis di
dada ayahnya. Aku rasa ayahnya mulai menyukai ibunya menangis.
Keesokan
lagi aku datang, dan dia tetap tertidur. Dan begitulah seterusnya. Dan sejak ia
tak terbangun, aku hanya bisa bertengger di dahan kenari ini. Memandanginya.
Seperti
hari ini, aku bertengger lagi di sini. Di dahan pohon yang sama. Namun gadis
itu telah berpindah tempat tidur. Ia tak ada lagi di tempat tidur yang biasa ia
tempati. Aku bertengger ke jendelanya. Lalu terbang memasuki kamarnya. Gambar–gambarnya
tertempel di dinding kamar. Gambar itu sangat ceria. Namun kamar ini muram.
Tiba-tiba
pintu kamar terbuka. Aku terbang berlari, kembali ke dahan kenariku. Aku melihat
ibu dan ayahnya datang, sang ayah mengalungkan tangan di bahu ibunya. Mereka berpakaian
hitam. Sang ibu duduk di kasur tempat anak itu biasa tertidur, ia mengelus-elus
kasur itu dengan air mata yang ia jatuhkan di mana saja sekenanya. Sang ayah
melayangkan pandang ke sekeliling, melihat gambar-gambar di kamar itu. kemudian
sang ayah menghampiri jendela. Lalu menutup daun jendela dan gordennya. Dan aku
tak tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana.
Esok
aku akan tetap bertengger di dahan kenariku, menunggunya hingga matahari
setinggi penggalah. Mungkin jika ia memiliki remahan roti atau beberapa biji
padi lagi, atau mungkin juga memiliki gambar yang baru, maka mungkin pula suatu
saat jendela itu akan terbuka kembali.