Selasa, 25 Juni 2013

Pipit Kecil

Suatu hari, aku bertengger di dahan pohon kenari di halaman rumah besar itu. Rumah bercat biru tua yang warnanya telah berubah menjadi kelabu, kusam, seperti ingin mati. Bangunannya memancang tinggi, melebihi tinggi rumah – rumah lain di sekitarnya. Model bangunannya tua, seperti rumah hantu. Hanya satu yang terlihat jernih, yaitu jendelanya. Jendela yang membingkai lubang kotak di sebuah kamar di lantai dua.
kutengok dari jendela itu, gadis kecil itu masih tertidur dengan lelap. Kadang kala ibunya datang membangunkannya sambil menangis, kadang kala perawatnya memandikan tubuhnya, kadang kala ayahnya mencium kening dan rambutnya untuk pamit berangkat bekerja. Namun gadis itu tak jua bangun. Menurutku, gadis itu telah berubah menjadi sangat pemalas. Karena ia selalu tertidur, tak lagi serajin dulu ketika ia masih sering memberiku makanan dan bercerita kisah-kisah yang tak kumengerti.
Aku betengger di dahan kenari miliknya dari matahari hendak muncul hingga matahari telah setinggi penggalah.  Kadang kala aku bernyanyi, kadang kala aku hanya bersiul ringan, atau kadang kala aku menunjungi kumbang dahan, atau kadang kala aku hanya sekedar mengobrol dengan pipit – pipit lainnya. Membicarakan dia, gadis itu, yang selalu tertidur. Menurut pipit yang lain, gadis itu terserang penyakit yang selalu membuatnya tidur. Menurut pipit yang lain lagi –yang pernah tersesat hingga malam-, ia pernah melihat gadis itu bangun di tengah malam, terhenyak dari kasurnya dengan mata terpejam, lalu tertidur lagi. Ada pula pipit yang berkata bahwa dia hanya bangun di malam hari. Tapi aku tak tahu, pipit-pipit terkadang suka menyebarkan cerita bohong pula. Itulah yang mereka sebut dengan kabar burung.
Pernah di suatu hari yang lain, aku berkunjung ke dahan kenariku –ya, dahan kenari ini telah kuakuisisi- sore hari sebelum aku kembali ke sarangku di dekat sungai, dan aku melihat dia tetap tertidur. Dia hanya tertidur, namun ia cantik sekali. Matanya terpejam dengan bulu mata panjang yang mencuat dengan indah, hidung mungil yang lucu, dan bibirnya diam mengulum serta tersenyum. Senyum yang mengartikan sesuatu.
Dulu, ketika aku baru belajar terbang, dahan pohon kenari ini adalah tempatku berlatih bersama ibu. Dan di dahan ini pulalah pertama kali aku berkenalan dengan gadis itu. Gadis berambut pendek dan tebal. Rambutnya cokelat, matanya biru. Dahulu ia selalu bangun pagi, Ia memberiku remahan roti yang memang selalu ia sisakan untukku. ia suka menggambar di depan jendelanya. Aku senang padanya, aku kunjungi ia setiap hari. Kadang ia memberi aku biji beras lalu membelai kepalaku dengan gerakan kecil tangannya. Ia suka bercerita padaku mengenai gambar-gambarnya.
Ia pernah menggambar ayah, ibu, dan neneknya. Mereka berada di halaman depan rumah mereka yang indah penuh dengan bunga–bunga dan tanaman hijau yang cantik. Bergandengan tangan dan tersenyum ceria. Pernah suatau ketika ia menggambarkan ibunya sedang duduk sendiri di taman samping rumahnya. Duduk di ayunan yang cantik dengan air mata di di pipi, dan ia bercerita padaku sambil menangis pula. Ia bilang ayahnya telah marah besar dan membuat ibunya menangis. Belakangan ia menggambar ibu dan dirinya saja, saling berpelukan. Beberapa gambar terakhirnya menggambarkan dirinya sendiri, dengan rambutnya yang lebat. Ia menunjukkan gambar itu padaku, dalam keadaan rambutnya yang kini telah tinggal sedikit. Dapat kulihat kulit kepalanya menyembul-nyembul di antara rambut-rambut itu. pernah suatu ketika pula, ia menggambarkan dirinya memakai gaun yang cantik dan ada sayap di punggungnya –sayap yang besar dan indah, bahkan aku iri dengan sayap itu, sayapku tak sebesar sayapnya- dan ia terbang tinggi bermain bersama bintang dan bulan yang tersenyum.
Keesokan harinya, ia memberiku sebuah gambar, dimana ada aku dan dia sedang bermain bersama. Ia berkisah :
Scaly… ini aku, ini  kamu. Kita ada di taman depan rumahku. Kau tahu? Taman di depan rumahku sangat indah, aku suka duduk dan bermain di sana.Tapi sudah lama aku tidak bermain di taman depan rumah. Kau tahu mengapa? Kini aku tak sanggup lagi berjalan menuruni tangga, jika aku berjalan panjang, kepalaku akan sakit sekali, seperti tertimpa tubuh ayahku yang besar.
Ah… ayah… ayah kini hanya mengunjungi aku setiap hari minggu. Sejak ibu menangis di taman samping rumah, ayah pergi, mungkin karena ia tak suka ibu menangis.
Lalu ia membelaiku…
Scaly, kamu lucu sekali. Terimakasih telah mau menjadi temanku Scaly, aku tak punya teman lain selain dirimu. Aku sayang padamu.
Ia menitikkan air mata…
Ada yang ingin aku ceritakan padamu Scaly… kemarin lusa, aku berkunjung ke tempat bapak dokter mengobati orang sakit. Bapak dokter menyuruhku berbaring, lalu tubuhku di periksa. Sejak aku pertama kali datang ke tempat itu, setelahnya aku sering diantar ibu datang bertemu dengan bapak dokter. Bapak dokter kadang memberikan aku permen lolly pop yang lezat, namun ia juga menyuruhku memakan pil-pil yang aku tak suka.
Scaly… ini rambutku yang indah –ia menunjuk gambarnya- aku dahulu suka memilinnya dan menghiasnya dengan pita dan bunga, dulu ibu suka membantuku melakukannya. Namun kini aku tak menghias rambutku lagi, karena kini rambutku seakan tak bisa disentuh, ia suka berjatuhan bila kusentuh. Ibu juga tak lagi berani menyentuhnya.
Scaly… berjanjilah kau akan selalu menjadi temanku….
Aku tersenyum, namun ia tak mampu melihat senyum di antara paruhku. Tak apa, ia sudah bahagia dengan kehadiranku, kurasa. Aku pergi dari jendela itu ketika perawatnya datang membawakannya makanan.
Keesokan harinya aku bertengger lagi di jendelanya yang selalu terbuka. Namun ia masih tertidur lelap. Aku berpindah ke dahan kenari. Kutunggu bahkan hingga siang menyengat ubun-ubunku. Namun ia tak jua bangun. Aku melihat ayah, ibu, dan neneknya mengelilinginya, mereka menangis bersama. Ayah dan ibunya berpelukan sambil menangis. Ayahnya membelai rambut ibunya yang terus-menerus menangis di dada ayahnya. Aku rasa ayahnya mulai menyukai ibunya menangis.
Keesokan lagi aku datang, dan dia tetap tertidur. Dan begitulah seterusnya. Dan sejak ia tak terbangun, aku hanya bisa bertengger di dahan kenari ini. Memandanginya.
Seperti hari ini, aku bertengger lagi di sini. Di dahan pohon yang sama. Namun gadis itu telah berpindah tempat tidur. Ia tak ada lagi di tempat tidur yang biasa ia tempati. Aku bertengger ke jendelanya. Lalu terbang memasuki kamarnya. Gambar–gambarnya tertempel di dinding kamar. Gambar itu sangat ceria. Namun kamar ini muram.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku terbang berlari, kembali ke dahan kenariku. Aku melihat ibu dan ayahnya datang, sang ayah mengalungkan tangan di bahu ibunya. Mereka berpakaian hitam. Sang ibu duduk di kasur tempat anak itu biasa tertidur, ia mengelus-elus kasur itu dengan air mata yang ia jatuhkan di mana saja sekenanya. Sang ayah melayangkan pandang ke sekeliling, melihat gambar-gambar di kamar itu. kemudian sang ayah menghampiri jendela. Lalu menutup daun jendela dan gordennya. Dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana.

Esok aku akan tetap bertengger di dahan kenariku, menunggunya hingga matahari setinggi penggalah. Mungkin jika ia memiliki remahan roti atau beberapa biji padi lagi, atau mungkin juga memiliki gambar yang baru, maka mungkin pula suatu saat jendela itu akan terbuka kembali.

Senin, 24 Juni 2013

Selak Ijo Mas!

Minggu, 5 Agustus 2012
Panas. Muak. Dunia semakin membakar. Hardi memacu motornya kencang. Ia tergesa menuju kosnya. Tak tahan dengan dunia yang menyengat dan macet yang menggila.
Di traffic light perempatan terakhir sebelum kosnya, Hardi menghentikan motor.
Selak ijo mas! selak ijo! Sewu nggih purun! limangewu nggih purun! Dipekbojo nggih soyo purun!”, suara seorang banci berdada besar dan hidung aneh beradu dengan suara kendaraan.
Niat amat panas – panas, batin Hardi seraya melirik si banci. Si banci yang mengetahui ada lelaki tampan meliriknya, kontan mengerlingkan mata. Hardi tersentak dan memfokuskan mata lurus ke depan.
Wajah aneh banci itu sudah sangat familiar bagi Hardi, karena kemanapun Hardi pergi, ia harus selalu melewati perempatan itu. Perempatan tempat mangkal si banci. Hampir setiap hari Hardi bertemu dengan dia, namun tak pernah sedetik pun ada niat untuk membagi recehan dengan si banci.
Sesampainya di kos, “Aduh gila… gila…! Jogja uda kayak Jakarta!”, Hardi menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah kosnya.
“Darimana lo?”, Koko duduk di samping dnegan sekotak kopi instan.
“Stasiun”
“Mau kemana?”
“Balik ke Jakarta”
“Emang libur?”
“Kagak, cewek gue wisuda”
“Wah, salam ya buat cewek lo!”
“Ogah!”
“Hahahaha!”
***
Rabu, 15 Agustus 2012
Pukul 5.30 pagi, Hardi baru bangun, ia harusnya sudah berada di stasiun. Dengan kecepatan ekstra, dipacunya motor melintasi dinginnya pagi.
Jalanan masih lengang, Hardi dengan leluasa memacu kecepatan tinggi.
“Ijo!”, teriaknya sendiri, ketika ia tiba di perempatan pertama.
Ijo tinggal 5 detik, dan ia masih jauh dari lampu merah, ia melaju dengan lebih kencang. Namun tak sempat. Akhirnya ia terjebak pada detik pertama lampu merah. Ia melirik jamnya, waktunya tidak banyak. Ia memainkan jemarinya pada stang motornya, tanda tak sabar. Fokus. Lurus. Hardi berencana melesat pada detik terakhir sebelum ia sempat melihat traffic light berubah menjadi hijau.
Tiba-tiba Hardi terhentak, ia merasa seseorang menyolek perutnya.
Selak ijo Mas! Selak ijo!  cik icik icik! Selak ijo mas! selak ijo! Werewerewer! Selak ijo mas!”, banci dada besar lagi – lagi mengganggu harinya. Kali ini si banci berani mendekati wajah galak si Hardi.
Sial! Batinnya. Ia teru menatap lurus ke depan. Tak sudi ia member recehannya pada banci yang sudha berani colak-colek itu. “Selak ijo mas! selak ijo!”I Wira heran, banci itu hanya fokus mengganggunya.
Si Banci lagi-lagi memainkan jarinya, kali ini di dagu Wira. Wira menepis tangannya.
“Heh! Anjing! Gue bunuh lo berani kurang ajar!”
“Idih Mas Ganteng galak banget deh”
Lampu hijau sudah terlewat beberapa detik, motor di belakang mulai memainkan belnya dengan galak. Wira memacu motornya dengan kencang dan kesal. 4 tahun dia tinggal di Jogja, 4 tahun juga ia sering bertemu dengan banci itu, tapi baru kali ini si banci berani menggodanya.
Perempatan kedua, lampu hijau tinggal 3 detik. Begitu tiba di dekat traffic light lampu sudah berubah merah, namun ia nekat. Nggak ada polisi, batinnya. Perempatan terakhir, akhirnya, pikirnya. Kereta berangkat 10 menit lagi. namun kali ini ia terjebak 93 detik lampu merah. Sial! Ia menengok kanan kiri. Aman. Tak ada banci terdeteksi.
Tepat pukul 5.59 Wira memasuki gerbong kereta. Tepat saat ia menemukan bangkunya. Kereta berjalan.
***
Pukul 02.00 dini hari, Minggu, 19 Agustus 2012
Wira mengambil motornya yang terparkir di parkir inap stasiun. Langkahnya terhuyung, hari masih gelap. Perjalanannya dari Jakarta banyak menguras tenaga. Motor itu ia keluarkan dengan loyo, tukang parkir sama sekali tak membantunya. Ia kesal. “Nggak tahu orang capek apa!”, gerutunya.
Ia keluar melewati loket penyerahan kartu parkir. Bapak tua yang berjaga di loket parkir mengulurkan tangannya, hendak meminta kartu parkir inap milik Hardi. Namun Hardi tak menghentikan motornya, ia terus memacu motornya dengan kencang. Ia malas mencari kartu parkirnya.
“Woi!”, Penjaga loket parkir bangkit mengacungkan jari tengah pada Hardi.
Hardi terkekeh. “Makan gaji buta!”, ujarnya.
Hardi tiba di perempatan terakhir sebelum kosnya. Ia menengokkan kepala ke kanan kiri. Banci dada besar itu tak ada. Baguslah. Hardi memelankan laju motornya. Perutnya yang kelaparan mendorongnya untuk menengokkan kepala ke kanan kiri mencari angkringan atau warung burjo 24 jam.
Hardi tiba di lorong kosnya, namun ia tak berbelok. Ia memacu motornya lurus, terus mencari sumber makanan.
Lima menit berkeliling, ditemuinya sebuah angkringan remang – remang. Beberapa orang terlihat bertengger di sana. Hardi memarkir motornya di samping angkringan itu. ia memasuki tenda dan menyerobot dua bungkus nasi kucing dan sate usus dari meja.
Pedagang akgringan menyediakan jeruk panas pesanan Hardi, lalu ngeloyor pergi, main ke angkringan sebelah.
Hardi melirik angkringan sebelah. Ia tersedak, disemburnya segumpal nasi ke tanah. Kontan diambilnya wedang jeruk panas dan diteguknya. Disemburnya lagi. Panas. Hardi hanya mampu terbatuk – batuk. Tak ada yang memedulikannya, karena semua pengunjung angkringan sudah pergi.
Setelah ia mampu mengatur nafas dengan baik. Ia melirik lagi ke angkringan sebelah. Banci kaleng itu. tak salah lagi banci kaleng itu. menggunakan kaos oblong berwarna putih kusam, sarung dan peci.
“Yah, mau gimana lagi Jo Parjo, kalau hidup harus dijalani begitu ya begitu, hahahaha!”, ujar si banci seraya menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
“Tapi kowe1 niat banget je2 mbancinya! Hahahaha”, lelaki bernama Parjo itu menimpali.
“Yang penting kan anakku bisa sekolah, yang penting aku ndak ngemis!”
“Oh iya, anak perawanmu itu, kemarin aku lihat dia pakai jilbab?”
“Iya, aku yang suruh, biar nggak ada preman yang ganggu. Biar pun bapaknya nggak jelas, anaknya harus jelas. agamanya harus baik. Dia nanti yang bakal ndandani3 hidup hari tuaku”
“Kemarin udah lulusan kan? Lulus ndak dia?”
“Wah jangan tanya, dia itu paling pinter! Dia lulus nomer tiga terbaik di sekolahnya. Sekarang dia keterima di UGM. Gratis. Beasiswa. Ayem4 atiku. Bejo5 aku punya anak kayak dia. Pinter, cantik, baik. Ndak tahu juga Jo, apa dosa dia sampe dikasih bapak kayak aku ini”
“Wajahnya mirip ibunya ya”
Si Banci menggebrak meja. “Dia ndak mirip siapa – siapa. Dia ndak punya ibu. Dia anakku. Bukan anak siapa-siapa lagi selain aku”
Parjo tampak gentar.
“Tolong jangan sebut-sebut lagi hal yang ndak perlu begitu ya Jo”, si banci menurunkan intonasinya.
“Iya Kang, maaf ya”
“Aku ya memang cuma bisa jadi banci ngamen di perempatan sana, tapi semua ini tak jalani bukan buatku. Semuanya demi Hanifah, anakku. Hidupnya itu harus bahagia, harus jadi orang baik, jadi orang kaya yang bisa beramal  ke orang – orang kere di sekitarnya. Kere kayak kita-kita ini. Hahahaha!”
Selak ijo mas! Sela ijo! Selak ijo Mas! Selak ijo!”, Parjo menirukan gaya si banci, disambut dengan gaya asli si banci. Mereka menyanyi bersama.
***
Selasa, 21 Agustus 2012
Baru kali ini Hardi berangkat ke kampus dnegan santai. Motornya melenggang tenang di antara deru motor dan mobil yang memacu kencang. Kuliahnya dimulai 1 jam lagi, sedangkan perjalanan ke kampus hanya butuh waktu setengah jam. Hari ini ia ingin sedikit bersantai.
Lampu hijau sedang menghiasi traffic light di perempatan dekat kosnya. Jarak Hardi dari traffic light tak terlalu jauh, dan lampu hijau tinggal 5 detik. Namun Hardi enggan untuk melaju kencang. Ia berhenti di perempatan itu tepat saat lampu merah menyambut pada detik pertama.
Selak ijo Mas! selak ijo! Selak ijo mas! selak ijo!”, suara yang tak asing datang lagi, “sewu nggih purun, limangewu nggih purun, dipekbojo nggih soyo purun! Icik kiwir icik kiwir! Werewerewer! Selak ijo mas! selak ijo!”
Banci itu tak mendekati Hardi samasekali.
“Hoi!”, Hardi memanggil si banci. banci itu menghampiri Hardi dengan sumringah. Hardi lalu mencemplungkan selembar sepuluh ribu rupiah ke kantong uang si banci.
“Makasih mas Ganteng”, Banci itu mencolek dagu Hardi.

1kowe : kamu
2 je : logat khas orang Yogyakarta
3ndandani : memperbaiki
4Ayem  : tenang
5Bejo : beruntung

Minggu, 23 Juni 2013

DIALAH KEBANGGAAN SEORANG AYAH

“Duduk aja Wira, nggak ada ngaruhnya kamu mondar-mandir begitu”, wanita tua dengan kerudung biru itu kesal dengan tingkah laku anak lelakinya . Wira masih saja berjalan ke utara lalu ke selatan, utara selatan, utara selatan.
“Aku ga mungkin bisa duduk Ma”
Pintu terbuka. Wira mengubah langkah cepatnya menjadi lari kecil menuju ke pintu. “Bagaimana Dok?” Wira, orang tua, dan mertuanya berdiri mengerumuni dokter yang membuka pintu itu.
“Selamat Pak Wira, bayi anda laki – laki, sehat. Suster sedang mengurusnya. Ibu Arma, sementara masih belum sadarkan diri, beliau terlalu lemah, tapi tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu Arma hanya butuh istirahat”
“Boleh kami masuk Dok?”
“Boleh, tapi jangan membuat gaduh ya”, Dokter Hadi tersenyum ramah.
Arma masih tergeletak lemah. Matanya terkatup. Tapi wajahnya tetap cantik.
Dan Sosok itu menggeliat di gendongan suster, kulitnya masih merah, tubuhnya kecil mungil. Tubuh itu terlihat sangat rentan untuk disentuh. Tubuh mungil itu masih dibersihkan dari darah – darah yang menyelimuti tubuhnya.
Wira hanya melihat, tak kuasa menahan pecahnya telaga matanya. Sosok mungil itu. Anaknya. Masih tak percaya. Itu anaknya. Anak lelakinya. Yang suatu saat nanti akan menjadi kebanggaannya. Yang suatu saat nanti akan ia kenalkan pada dunia, akan ia antarkan pada keteguhan menghadapi hidup, akan ia kenalkan pada kerasnya dunia, agar lelaki mungil itu kelak akan menjadi sosok gagah perkasa. Pelindung. Pelindungnya ketika ia tua. Pelindung ibunya ketika ia sedang lengah. Dan pelindung wanita yang akan disandingnya kelak.  Dialah, kebanggaan seorang ayah.
Ada kedamaian yang tak mampu terelakkan. Wira terus menatap lekat-lekat. Sebongkah es telah mencair di dalam dadanya, nyess, ada sensai mint yang mengaliri seluruh tubuhnya. Dialah, kebanggan seorang ayah. Anakku.
“Bapak ingin coba menggendong?”, Tiba-tiba suster itu menyodorkan bayi merah itu kearahnya, tubuhnya sudah bersih.
Wira ragu, menyodorkan tangannya, namun menariknya kembali. “Saya takut sus, kecil sekali”
“Tidak apa-apa Pak, saya ajari menggendongnya”
Wira meraih tubuh kecil itu, benar – benar kecil. Ia merasakan aliran darahnya memacu dengan kencang. Anakku. Dipeluknya erat. Anakku. Dialah kebanggan seorang ayah. Matanya lebar, namun belum bisa membuka sempurna, beberapa kali mata itu membuka dan menutup. Mata itu terkadang juga mengerjap, merapatkan kelopaknya. Bulu mata tampak belum muncul melindungi mata bulat itu. hidung mungil, tak terlalu mancung, tapi indah, serupa hidungnya. Mulut mungilnya bergerak – gerak seperti sedang makan permen. Sesekali ia mengeluarkan lidahnya yang lucu. Mertua dan orang tuaya mengerumuni.
“Namanya Banyu”, Ujar ayah mertuanya.
“Ah, Pak Harun, itu terlalu Jawa Pak, jangan Banyu. Yang lebih gagah gitu Pak”, Ibunya protes.
“Iya ah, Papa nih ngasih nama gaul dikit pa”, Ibu mertuanya ikut bersuara, “Namanya Farel aja”
“Oh bagus juga”
“Aduh kalian berdua ini kebanyakan nonton sinetron, terus kalau anak perempuan dikasih nama Fitri gitu. Nggak! jangan Farel!”
Sang bayi memulai tangisnya lagi, “Aduh sus, kok nangis? Gimana ini”, Wira panik.
“Tuh kan, kalian bertiga berisik sih”, Ujar ayah Wira.
Suster meraih tubuh itu, serya tersenyum. Dibungkusnya tubuh itu, kemudian dibawanya bayi itu keluar dari ruang rawat untuk menuju ruang inkubator. Keempat orang tuanya yang terus berisik mengikuti suster itu.
Wira mengalihkan pandangan pada tubuh cantik yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Wira menggenggam tangan Arma dengan sangat kuat, seolah khawatir tangan itu tak brsamanya lagi. Dokter bilang nggak ada yang perlu dikhawatirkan Wira, ujar batinnya menenangkan. Diciumnya berkali– kali tangan yang terkulai lemah itu. sesekali ia tersnyum memandangi wajah Arma yang teduh. Terimakasih Arma, untuk perjuangan kamu demi anak kita. Kita akan jaga dia bareng-bareng ya sayang”
Tangan itu mulai bergerak, Wira tersentak.
“Mas, anak kita mana?”, Arma mengeja sekuat tenaga. Wira hanya tersenyum.
 “Ada sayang, kamu masih kecapekan istirahat dulu aja”, lagi – lagi Wira menyungging senyumnya. Sungguh ia tak tahan untuk tidak tersenyum. “Anak kita laki-laki”
Arma tersenyum. “Kita kasih nama siapa ya mas?”
“Nanti kita pikirin sayang, jangan bikin aku khawatir dangan kebanyakan mikir yang belum perlu kayak gitu, kamu harus banyak istirahat”
Senyum bulan sabit dari mulut Arma tersungging. Senyum yang selalu meluluhkan hatinya, menenangkan jiwanya, meredam emosinya, dan membuainya dalam keindahan hidup rumah tangganya yang telah 5 tahun berjalan dengan bahagia. Berjalan hanya berdua. Dan kini, bertiga. Anakku. Dialah kebanggan seorang ayah.
***
Anak itu sangat mungil, terbaring dengan lemah di inkubator. Kini warna kulitnya berubah menjadi agak kekuningan, suster sedang menanganinya.
“Kenapa tiba – tiba jadi gitu Ma”, getaran itu terdengar jelas pada nada suara Wira.
“Nggak tahu Wir, itu bukan karena kita yang berisik kok, tapi emang tubuh banyinya yang tiba – tiba melemah. Tapi lagi ditangani suster kok “
“Kok punggungnya biru gitu ya?”
“Tadi nafasnya juga nggak kembang kempis gitu”
“Kok nggak melek lagi ya?”
“Masih nafas yang penting”
“Aduh Pa, kok kayaknya gerak nafasnya berubah lemah gitu ya Pa. Cucu kita Pa…itu nggak pa-pa kan ya Pa?”
Suara-suara itu menggaung memenuhi kepala dan hati Wira. Dia harus baik-baik aja, dia anakku. Dialah kebanggaan seorang ayah.
***
Wira menggendong bayi itu menuju ruang rawat istrinya. Tubuh sang bayi terbalut, tangan dan kakinya yang mungil tak bisa bergerak.  Bayi itu tertidur. Matanya terkatup. Mulutnya tak lagi bergerak-gerak seperti makan permen. Lidahnya juga tak lagi dikeluarkan dengan lucu. Hanya alis mata hitamnya yang terlihat tegas menantang. Tidurnya begitu tenang.
Wira tiba di depan pintu yang masih ditutup, Ibu mertuanya memegang handle pintu, hendak membukakan pintu untuk Wira.
“Tunggu Ma, jangan dibuka dulu”, Wira menarik nafas panjang. Air matanya yang sedari tadi menetes, kini semakin deras. Ia perhatikan lagi sang bayi yang sedang tertidur. Bangun nak, Papa mohon…
Sang bayi tetap tertidur, bergeming. Air mata Wira semakin deras.
“Wira…”, Sang mertua mengelus pundaknya.
Wira memundurkan langkahnya. Dadanya sesak. Dilihatnya sang mertua.
Wira menarik nafas panjang. Terimakasih telah sempat mengisi hidup papa sayang, walaupun cuma 20 menit. Wira memasuki ruang rawat istrinya.
Arma menyambut mereka dengan wajah yang indah, sumringah, tak dapat ia tahan ekspresi bahagia. Langsung diraihnya bayi itu. Didekapkan ke dadanya, dipeluk, dicium, dan tak henti tangannya membelai rambut sang bayi.
“Tidurnya tenang banget ya mas”, Arma tersenyum, tetap tak mengalihkan pandangan pada bayinya.
Wira tak dapat menahan pecahnya telaga yang bergenangan di bola matanya. Diusapnya segera.
“Besok kalau ke kantor aku bisa pamerin ke temen – temen mas, boleh ya mas aku bawa ke kantor?”, Masih tersenyum, Arma memandang wajah suaminya. Wira membalas senyum itu.
Makasih ya sayang, udah hadir dalam kehidupan kami. Pelupuk mata Arma menghangat, namun senyum tak henti tersungging. Mama akan selalu jaga kamu, mama akan kasih yang terbaik untuk kamu. Air mata itu mulai menghias pipi Arma. Mama bahagia, sayang.  Dipeluknya tubuh mungil tak bernyawa itu.
Wira tak  mampu melihat adegan itu. Ia mengalihkan perhatiannya pada sang ibu mertua yang sudah berderaian air mata. “Mama, gimana kalau mama ambilin gambar buat kita bertiga?”, Wira berusaha terlihat girang. Sang mertua terhentak.
“Mama nangisnya lebay deh, kayak sedih banget gitu?”, Arma tertawa.
“Hahaha, mama bahagia sayang, mama cuma terharu banget ngelihat kamu dan anakmu”, Ujar Sang Ibu ingkar.
Wira memberikan smartphone-nya pada sang mertua. Sang Ibu mertua mengambil posisi untuk memotret.
Wira memeluk istri dan buah hatinya. Berpose sebahagia mungkin. Arma tersenyum cantik, dapat tergambar letupan kebahagiaan tak terkira pada senyum itu. Sang bayi masih tertidur. Tidur lelap yang panjang. Untuk selamanya.
***
Angin malam menusuk tulang belulang yang menusun tubuh Wira. Wira terduduk tanpa kata di taman rumah sakit. Ia hanya bisa menitikkan air mata memandangi gambar bahagia di smartphone-nya. Terimakasih sempat memberikan dia untukku Tuhan. Dialah kebanggaan seorang ayah. Aku mohon jaga dia di sisi-Mu.

Sabtu, 22 Juni 2013

BIANGLALA

BIANGLALA

Sore memendarkan cahaya, dan aku berjingkat menuju tempat sepedaku terparkir. Siang tadi adalah pertama kalinya aku mencoba masuk ke Dogo Onsen, tempat pemandian air panas di Matsuyama. Alhasil, aku canggung dan sangat risih berada di dalam sana, pemandangannya… hemmm… terlalu sedap, sampai aku tak mampu melihatnya. Tubuh – tubuh yang tak terbalut seutas benang pun, berjalan bugil dengan santai, tanpa saling memedulikan. Pastinya bagi mereka itu biasa saja, justru aku yang berpakaian lengkap ini yang jadi perhatian. Terang saja, aneh sekali berendam air panas dengan pakaian renang lengkap seperti sedang berenang di kolam renang muslim di Indonesia. Tapi mungkin ada pemakluman mereka terhadap pakaianku ini, wajar orang Indonesia, mungkin itulah batin mereka.
Memang kesengajaanku memilih tempat berlibur akhir pekan di Dogo Onsen, lantaran penasaran. Tapi setelah tahu begini, aku tak akan datang lagi. Rasa penasaranku memang selalu tak bisa dibendung, sampai aku kewalahan dibuatnya. Aku selalu penasaran dengan banyak hal. Banyak kejadian bodoh yang aku alami gara – gara rasa penasaran yang selalu mendera hidupku tak henti – henti.
Pernah suatu ketika, aku berjalan – jalan di Toko Buku Junkudo, aku naik ke lantai tiga, dari kejauhan aku melihat seorang lelaki kecil gemuk, duduk mojok. Jongkok seperti orang nongkrong di WC – WC Indonesia, tangannya memegang sebuah buku, matanya yang berkacamata super tebal membelalak memandangi halaman – halaman buku itu. Jarak matanya dan buku itu sangat dekat, seolah ia sedang berusaha memasukkan kepala ke dalam buku itu.
Tapi yang menarik adalah raut mukanya. Alisnya berkerut, mulutnya manyun, sesekali ia memicingkan mata, lalu membelalak lagi, menghayati sekali. Kemudian, entah bagaimana awalnya dan entah kapan aku memulai langkah pertamaku, tapi tiba – tiba aku sudah berada tepat di belakang lelaki kecil itu, membungkuk dari belakang punggungnya. Menyodorkan kepalaku untuk melihat lebih dekat buku yang dipegang si bocah. Menyelami halaman yang dibacanya. Komik. Komik perang – perang nggak jelas. Ya ampun, cuma cerita begituan dan mukanya seperti sedang membaca trigonometri.
Lelaki kecil mendongakkan kepalanya ke atas, matanya tepat bertemu dengan mataku. Ekspresi wajahnya sudah berubah, ekspresi semi kaget, semi penuh tanya, dan heran setengah mati. Aku terhentak, aku langsung berdiri tegak, menyadari kelakuanku bodohku. “Gomenasai! Gomenasai!”, maaf maaf, ujarku seraya lari ngeloyor pergi dan masuk lift. Ah malunya, aku yakin lelaki kecil itu melihatku lari dengan ekspresi mencibir, orang Indonesia bodoh. Ah sudahlah, yang penting seumur hidup aku tak mungkin bertemu dengannya lagi. Dan sudah sekitar setahun sejak kejadian itu, aku memang tak pernah bertemu dengan dia.
Aku mencemplungkan 200 Yen ke dalam funding machine area parkir Dogo. Dua kali lipat harga awal, karena aku telah melewati batas jam parkir pertama. Kutarik sepedaku dari tempatnya terkunci. Lalu bergegas ke terminal bus dan melanjutkan liburan akhir pekanku di Ikata Town. Akhir pekan ini aku sedang tidak ada jadwal kerja part time, aku telah berjanji kepada Ayumi sahabatku untuk menginap di rumahnya di Ikata Town.
***
Di kota tempat Ayumi tinggal, ada sebuah bianglala yang sangat tinggi. Pertama kali datang ke kota ini, hal pertama yang menarik perhatianku adalah bianglala itu. ia menjulang dan paling terlihat di antara bangunan tinggi lainnya, karena bangunan tinggi lainnya hanya kotak, sedang ia bundar, berputar, berwarna, cantik tak terkira. Dan jika malam datang, ia memamerkan lampu warna – warni yang membalut seluruh tubuhnya yang terus berotasi.
Ayumi mengajakku mengunjungi bianglala itu, aku girang luar biasa. Bukan hanya karena bisa naik bianglala yang tinggi, tapi karena bisa naik bianglala gratis. Biasa. Sindrom kere orang Indonesia.
Aku dan Ayumi duduk di kursi gantung dengan kerangkeng bercahaya ungu hijau biru dan berhias bunga – bunga. Bianglala mulai berputar, pelan… aku mulai melihat lampu – lampu di bawahku menjadi kecil. Bianglala semakin ke atas, wonderfull, bianglala ini begitu tingginya hingga aku bisa melihat hampir seluruh kota dari puncak bianglala. Mobil – mobil berjalan seperti semut berjajar, langit hitam bertabur bintang dan bulan sabit menghias dengan cantik. Di kejauhan terlihat lampu berwarna – warni dari aneka gedung di kota ini. Aku membalikkan badan, melemparkan pandangan ke sisi yang lain, siluet pegunungan tergambar dengan jelas, berbatasan dengan langit yang kini menjadi terkesan lebih abu – abu. luar biasa, sugoi1. Aku tak mampu mengungkapkannya, ini terlalu indah.
Moment itu kunikmati sekitar 10 menit dalam tiga kali putaran. Begitu bianglalaku sampai di bawah, aku melompat turun dari kursi gantungku.
“Jangan melompat, abunai2!” teriak Ayumi dengan logat bahasa campur – campurnya. Aku memberikan peringisan iseng ke arahnya. Kugandeng tangan Ayumi, menuju tempat mobil kami terparkir.
“Kamu tidak bisa berjalan lurus ke depan kah?”, Ayumi melirikku.
“Ha?”, aku menoleh,”Hahaha, mataku ini selalu penasaran Ayumi, jadi aku nggak bisa kalau harus jalan kaki dengan mata fokus lurus ke depan”. Kami terkekeh.
Namun tawaku terhenti, di depanku aku melihat sesuatu. Bulat, kecil, putih pucat. O-em-ji! Lelaki kecil gemuk dengan kacamata supertebal, yang aku temui di Junkudo setahun yang lalu. Mati aku, aku tidak siap malu kali ini. aku mengalihkan pandangan, untuk pertama kalinya aku memandang fokus ke depan. Tapi bocah itu melihat ke arahku, kami berpapasan, dan tolehan kepalanya terus ke arahku. Aduh, masa dia masih ingat aku sih!
Setelah kami sampai di mobil, dari jauh aku melihat ke arah bianglala, lelaki kecil ternyata naik bianglala. Ia masuk di kursi bianglala yang kerangkengnya bersinar merah. Kursi dengan kerangkeng merah itu cantik sekali. Sosok si lelaki kecil terlihat sangat jelas, karena penglihatanku memang tajam. Entah hanya perasaanku saja, tapi sepertinya lelaki kecil itu masih melihatku. Rasanya ingin kubuang mukaku ke tempat sampah.
***
Keesokan malamnya aku pergi ke bianglala lagi, kali ini sendirian. Aku ketagihan. Aku menyiapkan 250 yen untuk naik ke bianglala dengan menduduki kursi berkerangkeng merah yang kemarin malam diduduki lelaki kecil itu, pasti sensasinya lebih luar biasa, karena sepenglihatanku kerangkeng itulah yang paling indah.
Moushiwakearimasenga, wareware wa dai go no zaseki o hanbai shite inai” petugas bianglala mengatakan padaku bahwa kursi nomor 15 – yang berkerangkeng merah itu- tidak disewakan.
Nani? Hontouni? Nazedesu ka? Watashi ga tanomu ... Watashi wa noritai, Apa? Benarkah? Kenapa? Aku mohon…aku ingin menaikinya, aku berusaha membujuknya.
Dekinai! Gomenasai!”, Tidak bisa! Maaf!, ia masih berkeras. Tapi aku tak menyerah, mati – matian aku berusaha membujuknya. Dia juga tak menyerah untuk melawan keinginanaku.
Setelah kami berdebat selama 15 menit, seperti yang kuduga, petugas itu mengalah padaku. Aku memang tidak akan bisa dilawan. Semakin dilarang, semakin penasaran.
Atode sore o sukide wanai baai wa, watashitachi o semenaide kudasai!”, Jika nanti anda tidak suka, jangan salahkan kami!, petugas itu memperingatkanku. Aku tak memedulikannya.
Sang petugas membukakan pintu kerangkeng itu untukku. Pintu terbuka dan aku terhenyak, lelaki kecil itu telah duduk di dalam sana. Aku tak tahu harus bagaimana, sudah kepalang tanggung. Aku memasuki kerangkeng itu, “sumimasen3”, ujarku pada lelaki kecil sambil tersenyum ramah. Lelaki kecil hanya diam. Dia terus melihatku.
Bianglala mulai berputar, lelaki kecil itu aneh. Dia hanya diam sambil menatapku, mungkin ia dendam dengan kejadian setahun yang lalu. Aku tak tahan dengan keadaan ini, tak mungkin bisa aku menikmati suasana kalau begini caranya. Dengan canggung aku bertanya, “Anata wa watashi o oboete imasu ka?”, Kamu ingat saya?
Lelaki kecil hanya diam, melihatku tanpa ekspresi sama sekali. Apakah anak kecil di Jepang memiliki kelakuan yang seperti itu? Jangan – jangan anak ini dendam padaku. “Akiraka ni, anata wa watashi o oboete ita. , Gomen'nasai, Watashi waanata ga yonda hon ni tsuite dake kyoumi. Anata wa totemo shinkoku ni mieru. Watashi wa gai o imi suru monode wa arimasen. Gomen’nasai!”, Pasti kamu ingat saya. Jadi, maaf. Saya… hanya ingin tahu buku yang kamu baca. Kamu terlihat seiur sekali. Saya tidak bermaksud jahat. Maaf!, Aku nyerocos panjang lebar, tetapi ia tidak mempedulikanku.
Baiklah, dia aneh. Dan aku memutuskan untuk menikmati pemandangan saja, kuanggap ia tak ada. Putaran terakhir hampir tiba, tiba – tiba lelaki kecil berkata padaku, “Daijoubu4”, ekspresinya masih sama. Tapi kali ini ia memalingkan wajahnya dan melihat pemandangan.
Aku tersenyum padanya, “Anata wa manga ga sukidesu ka?”, Kamu suka komik ya?, aku membuka obrolan. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku.
“Manga nani”, Komik apa?,  aku melanjutkan.
Sensou”, Ah sudah kuduga. Dia suka komik perang.
Bianglala telah selesai berputar, petugas membukakan pintu untuk kami, aku turun dengan pelan, menjaga image-ku di depan bocah aneh itu. Aku menoleh ke arahnya, dia bergeming “Anata ga daun shite ikanai?”, kutanya ia apakah ia tidak ikut turun, lelaki kecil hanya menggeleng, mungkin ia telah membayar dua kali lipat untuk berputar dua kali. “ok, ja matta5”, aku melambai.
Ja6”, ia menoleh ke arahku. Wajahnya datar.
Aku menoleh kepada petugas bianglala yang sedari tadi melihatku dengan tatapan heran. “Arigatou gozaimasu”, ucapku berterimakasih seraya membungkuk. Dan ia tak menjawab. Ada apa dengan semua orang hari ini.
Aku tak peduli, aku duduk di sebuah bangku panjang yang penuh berhiaskan lampu. Dari kejauhan, kulihat seorang gadis kecil dengan yukata7 yang lucu, menarik – narik lengan ibunya. Gadis kecil itu menghampiriku, begitu juga dengan ibunya yang menghampiriku dengan terpaksa. “Anata wa kare o mita?”, kau meliihatnya?, tanya gadis kecil padaku.
Nani?”, apa?, aku terheran – heran.
Futotta shounen”, anak lelaki gemuk, gadis itu terlihat sangat antusias
Ah, Karan-sha de?”, ah, di bianglala?
Hai”, ya, si gadis mengangguk mantab.
Hai”, ya, aku mengangguk sekenanya.
Okāsan o sanshō shite kudasai! Watashi wa uso o tsuite imasen yo! Shōnen wa karan-sha ni aru!”, Ibu lihat kan! Aku tidak bohong! Lelaki kecil itu ada di bianglala!, gadis itu menarik – narik baju ibunya.
Honki ka?”, kamu serius?, sang ibu menanyaiku dengan ekspresi tak percaya.
Nazedeshou ka?”, kenapa tidak?, tukasku yang mulai kesal dengan kelakuan aneh semua orang. Dan aku semakin kesal ketika melihat sang ibu membawa gadis kecil itu menyingkir dariku dengan ekspresi ketakutan.
Aku mengalihkan pandagan dari mereka, mencoba tidak memedulikan. Kuambil sebuah koran dari tasku, Koran yang telah kugunting enam bulan yang lalu, karena di dalamnya memuat denah wisata Ikata Town. Kubuka lipatan koran itu, namun belum sempat kubuka total, gerak tanganku terhenti. Aku melihat foto lelaki kecil gemuk di koran itu, lengkap dnegan kacamata super tebalnya, kuperhatikan lagi dengan seksama. Ya, mirip sekali, memang dia. Lalu aku membaca tulisan kanji di sebelah foto lelaki kecil itu. kueja semampuku, kalau tidak salah, tulisan itu berbunyi : GAGAL MENDAPATKAN KOMIK FAVORIT, SISWA SEKOLAH DASAR BUNUH DIRI MELOMPAT DARI BIANGLALA.


1 sugoi : mengagumkan
2 abunai : berbahaya
3sumimasen : permisi
4Daijoubu : tidak apa - apa
5 ja matta : sampai jumpa
6Ja : sampai jumpa
7yukata : pakaian tradisional musim panas (Jepang)