Tumpukan buku – buku aku lempar sekenanya di atas
kasur. Penat luar biasa. kuliahku makin tak terkendali, seperti ular kobra
kelaparan yang terus berusaha mengunyah – ngunyah otakku yang rasanya sudah
termutilasi. Aku turut menghempas ke atas kasur, bertemankan lautan buku.
Kurentangakan tanganku. So many things to
do, pikirku. Tugasku bertumpuk. Tapi otakku sudah tinggal separuh, nafasku
serasa tinggal sampai di hidung saja. Aku akan segera meledak.
Gelap, kupejamkan mataku sejenak. Berbalik ke kanan, brak! terjadi kecelakaan antara kepalaku
dengan buku Ekonomi Makro yang tebalnya minta ampun. Aku melempar pandangan ke
sekeliling, pemandangan yang menjengahkan, Ekonomi Makro, Ekonomi Pertanian,
Analisis Pengambilan Keputusan, Kepuasan Konsumen, Mikrobiologi Industri, Kimia
Biokimia, buku – buku yang tidak hanya menguras dompet dan otak, tapi kesehatan
psikologisku. Semester ini gila! asli sibuk, tidak ada waktu untuk aktualisasi
diri. “Bah bah bah bah! Enough!”, kutarik nafas dalam – dalam,
mencari oksigen yang lebih segar untuk hidupku. “It would be fun kalo aku bisa travelling!”,
aku terdiam, sudah empat bulan aku tidak lagi jalan – jalan, dan empat bulan
juga aku tidak menghubungi Adin dan Rere. Semenjak puncak kekecewaanku pada
Adin atas tragedi Kedung Kayang, dan pikiranku yang tiba – tiba menyadarkanku
bahwa aku berada di antara Adin dan Rere, aku memutuskan untuk menjauhkan diri.
Toh ternyata mereka juga tidak
menghubungiku sama sekali. Bisa jadi karena mereka juga sibuk banget di
semester ini, bisa jadi juga karena mereka sudah menemukan hakikat persahabatan
yang sebenarnya, tanpa aku. Tapi empat bulan tanpa mereka, I miss them.
HP-ku berbunyi, ‘Zendiiiiiiiiiii
gimana kabar???????!! :D, kangeeeeeen’. Aku tersentak, Rere. Sudah lama aku
tidak memikirkan – tepatnya berusaha tidak memikirkan- Rere dan Adin, dan
selama itu juga mereka tidak menghubungiku. Baru kali ini aku sengaja
membenamkan mereka di kolam memoriku, tiba – tiba nama Rere muncul di inbox-ku. ‘:D kangen juga Re ama kamuuuh….aku baek… makin sibuk banget semester
ini, hahahaha. Kamu kayaknya juga busy banget yah?’, aku membalas sms itu.
‘hohoho, lumayan, ketemuan yuuuuk
:3 ’
‘Bertiga?’
‘nggak, berdua, aku pengen ngobrol, hahahaha ^^’
‘Emm, boleh sih, kapan?’
‘malming? ^o^ ’
Boleh. Where?’
‘Café Moscow, kursi nomor 15. Kalo kursinya masih
kosong sih, hahaha :D ’
‘woookkeee :D ’
Anak itu jauh lebih ekspresif di dalam sms, dari pada aslinya.
***
“Kamu ngejauhin kita ya Zen?”, Rere mulai
menginterogasiku. Remang – remang lampu Café Moscow, serasa hannya tersorot
padaku saja. Pertanyaan itu sungguh menampar, rasanya ingin sekali menjawab ‘iya’.
“Perasaan kamu aja kali, haha”, setengah mati aku
berusaha terlihat santai dan ceria.
“Zen, Adin cerita sama aku. Dia katanya takut mau sms
kamu, nyamperin, atau nyapa kamu”
“Eh? kan aku nggak ada masalah apa – apa ama Adin?”
“Iya. Tapi kita berdua ngerasa kamu tuh ngejauhin
kita. Dan Adin ngerasa cara kamu ngeliat dia itu kayaknya ill-feel banget, kalau kalian pas nggak sengaja ketemu. Dan dia
beneran ngerasa bersalah sama kamu”
“Bersalah untuk?”
“Untuk kesalahan yang dia juga nggak tahu”
“Adin, aku, kita berdua kangen sama kamu Zen, main
bareng lagi yuk”
Ingin sekali aku meng-iya-kan ajakan Rere. Tapi otakku merasa tidak bisa
berada di antara mereka berdua lagi. “Kalian aja ya..hehe”, aku berusaha
memberikan senyum terbaikku, “Aku beneran lagi full banget semester ini”
“Iya aku tahu kamu full, kita
juga. Tapi aku yakin bukan karena akademik kamu nolak jalan bareng lagi”, Rere
mendekap tanganku yang nangkring di atas meja, “Zendi, kita sayang kamu, kamu
mungkin jauh, tapi kamu selalu ada di hati kita Zendi. Kita pengen jalan
bareng kamu lagi”
“Zen, beberapa kali terakhir pas kita ketemuan dulu, Adin tu ngerasa
agak nggak klop sama kamu. Kayak kamu tu males banget ngobrol sama dia, dia
jadi bingung mau ngomong apa sama kamu, mau sms apa, dan mau gimana untuk bisa
jalan bareng lagi. Aku juga kangen kita yang dulu, garing banget kita tanpa
kamu Zen”
Aku hanya diam memandangi lemon
tea-ku dengan potongan jeruk nipis yang beradu bersama es batu di dalamnya.
Aku juga kangen banget moment sama kalian,
hatiku mulai ikut andil.
“Kita minta maaf kalau kita nggak
bisa bikin kamu nyaman sama kita. Kita minta maaf kalau kadang topik pembicaraan
kita berdua adlah hal – hal yang kamu nggak ngerti, aku selalu berusaha bikin
kamu untuk terus ada di antara aku dan Adin, karena kalau kamu nggak ada di antara
kita, kita sepi banget.”
“Zendi…”, Rere menitikkan air matanya, “Kamu benci ama aku? Ama Adin?”
Aku menggeleng, terdiam beberapa detik. Dan spontan berdiri ke kursi
Rere di seberangku, mengalungkan lenganku di pundaknya. Ia membalas pelukanku. Hangat.
***
Minggu pagi, aku, Adin, dan Rere, turun dari kereta Prambanan
Express, di Stasiun Balapan Solo.
Wisata kuliner, jalan – jalan ke tempat nggak
jelas, menembus angin segar, dan menyatukan hati. Perfect plan. Kami berjalan keluar, melewati petugas penjaga pintu keluar
statsiun, “Yeay! Solo!”, Adin bersorak.
“Guys”, Rere bergumam pelan, namun kami mendengarnya, “Aku
kangen kalian”
Kami saling menubrukkan tubuh satu sama lain,
menyampirkan tangan di pundak satu sama lain. Pelukan ini memang bukan yang
pertama. Tapi pelukan itu adalah pelukan pertama yang menyadarkanku, bahwa aku,
Adin, dan Rere, adalah tiga orang yang berbeda, dan sama sekali tidak sama. Dan
karena kami berbeda, Tuhan menyatukan kami untuk menyamakan perbedaan, dan
membedakan persamaan. Kami bersama bukan karena kami sama, tapi karena kami
tahu bahwa kami berbeda dalam segala hal. Sahabat itu bukan soal cocok atau
tidak cocok, tapi soal bagaimana cara saling mencocokkan. Sahabat itu bukan
soal pengertian atau tidak pengertian, tapi tentang bagian mana yang harus
dimengerti satu sama lain dan dipelajari. Sahabat itu bukan tentang saling member,
tapi tentang selalu berusaha member tanpa ingin diberi. Sahabat itu tidak harus
selalu ada kapan pun kita butuh, tapi selalu ada di hati dan selalu berusaha
menjaga keberadaan nama masing – masing di hati masing – masing. Sahabat itu
adalah Zandi, Rere, dan Adin. Kami bertiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar