Matahari pagi mulai menggeliat, ia berusaha mengeluarkan diri dengan cerah untuk mengubah gelap menjadi muntahan cahaya, sayangnya mendung sedang menyergap langit. Bondan mengawali harinya dengan membereskan tiga karung singkong siap olah, yang baru saja diantar oleh Kiki dan Pakdhe Jarwo beberapa hari yang lalu. Sudah berjalan 6 bulan sejak Kiki rutin mengantar hasil panen singkongnya ke industri mocaf milik Bondan. Industri yang dirintisnya sejak lulus kuliah itu, kini telah berkembang pesat. Kian hari, kian banyak bermunculan pengusaha baru di bidang pangan yang menggunakan mocaf sebagai bahan dasar industri mereka.
Bondan melempar singkong terakhir ke tumpukan kotak bahan baku. Ia bersegera untuk menemui Rudi pagi itu juga. Bondan dan Rudi berencana untuk melakukan orientasi pembuatan produk cake mocaf. Rudi adalah anak orang kaya yang tinggal di kompleks perumahan Griya Mataram, agak jauh dari desa tempat tinggal Bondan.
Rudi adalah salah satu sahabat Bondan semasa kuliah, mereka adalah sahabat super akrab dan tak terpisahkan. Mereka memiliki orientasi hidup yang sama, mengembangkan ilmu untuk menciptakan peluang usaha baru dan menciptakan lapangan kerja padat karya bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, keduanya sangat menggilai kewirausahaan, mereka pernah ikut berbagai macam lomba kewirausahaan, bahkan pernah memenangkannya, namun usaha yang mereka rintis sambil kuliah tidak dapat bertahan lama karena kalah saing dengan kegiatan kuliah yang padat. Akhirnya setelah lulus, Bondan memutuskan untuk mengembangkan industri mocaf di desanya, awalnya pemasaran masih sangat sulit karena tidak banyak orang yang mengenal mocaf dan mau menggunakannya sebagai bahan pengganti atau bahan tambahan dalam pembuatan aneka macam kue dan jajanan. Namun, kelamaan mocaf mulai banyak dikenal masyarakat dan banyak diguakan sebagai bahan alternatif.
Sedangkan Rudi, setelah lulus langsung bekerja sebagai direktur di restoran yang telah dirintis oleh ayahnya selama puluhan tahun. Rudi seorang perfeksionis yang tak bisa tahan meyimpan impian – impiannya. Bukannya Rudi tak mau meneruskan usaha keluarga, tapi Rudi ingin memulai usahanya dari nol dan mengembangkan ide bisnisnya sendiri. Sudah sejak lama Rudi berencana membuka outlet aneka makanan yang terbuat dari mocaf, Rudi berencana bekerjasama dengan Bondan sebagai pemasok bahan bakunya nanti. Oeh karena itu, hari ini Rudi memutuskan untuk tidak datang ke restorannya demi orientasi pembuatan produk yang sudah direncanakan bersama Bondan.
“Kamu udah ada semua bahannya?”, tanya Bondan sambil meneguk sirup jeruk yang baru saja diletakkan Rudi meja ruang tamu Rudi.
“Udah kok, gue udah beli semuanya. Gue juga udah searching cara – cara pembuatan kue yang ada di internet, ada beberapa alternatif sih, ntar kita coba aja semua”, jawab Rudi sambil kemudian meneguk minuman yang ia buat sendiri untuk mejamu tamunya itu,”Tapi sori nih bro, dapur gue agak kacau, pembantu gue pulang kampung udah seminggu, repot juga gue ngebersihin rumah segedhe ini, mana resto juga lagi sibuk banget. Alhamdulillah ini lagi agak longgar waktu gue, jadi kita bisa eksperimen”.
“santai aja bro”, jawab Bondan sambil tertawa.
“betewe, thanks ya lu dah mau bantu gue buat eksperimen cake gue”
“Santai aja, kan kalo kamu jadi buka usaha, kamu bisa jadi salah satu pelanggan tetapku, haha, mutualisme-lah bro”
“Eh, katanya lu ada temen yang juga tertarik belajar buat cake baareng kita?”
“Oh Kiki, iya, tapi untuk hari ini aku belum ajak dia, soalnya ini kan baru orientasi awal kita, nanti takut kelamaan, dan dia nggak nyaman, hehe. Lagipula ini hari aktif, dia harus pergi ke pabrik”
“Dia kerja di pabrik?”
“Dia punya pabrik”
“Wow keren”
“Pabrik kecil, pabrik sederhana, pabrik kerupuk putih”
“Ah ya ya ya”, Rudi mengangguk – angguk takzim.
“Tapi cool, udah bisa punya pabrik sendiri, kamu bilang usianya di bawah kita kan?”
“Iya, dia baru lulus SMA setahun yang lalu. Itu pabrik peninggalan ayahnya, dia cuma nerusin usaha ayahnya, ayahnya udah meninggal”
“Ow, gitu ya”, Rudi tak bisa menyembunyikan kekecewaan pada nada bicaranya.
“Tapi anak itu cerdas banget”, Bondan segera menimpali, tak ingin Rudi memiliki pandangan yang salah terhadap Kiki yang kreatif, pintar, dan cepat belajar. Kiki yang selalu suka pada hal baru, Kiki yang selalu menerima saran dan kritik dengan tangan terbuka, Kiki yang selalu membuatnya kagum dalam segala hal, Kiki yang…mengagumkan, Kiki yang…entahlah…mungkin…sedikit spesial. “Pabrik kerupuk punya ayahnya itu udah hampir bangkrut, sejak ayahnya meninggal pabrik kerupuk itu dipasrahin ke ibunya Kiki tapi Ibunya yang nggak paham apa – apa tentang dunia pabrik cuma masrahin pabrik itu ke orang kepercayaan”
“Orang kepercayaan itu mengkhianati?”, Rudi menebak.
“Oh nggak, orang kepercayaannya itu juga nggak banyak ngerti seluk beluk pabrik yang terlalu dalam, cuma paham tataran teknis. Tapi begitu Kiki handle semuanya, pabrik mulai bangkit lagi, bahkan kemarin sempat ada tragedi”
“Oh ya?”, Rudi mulai tertarik lagi.
“Ternyata ada orang dalam yang curang di pabrik, dia nyelundupin bahan baku pabrik terus dijual murah ke orang lain, dan satu lagi, bagian keuangan pabrik yang selama ini sangat dipercaya ternyata malah bikin laporan keuangan palsu. Dan mereka berdualah yang sebenernya jadi pelaku utama bangkrutnya pabrik”
“Terus sekarang?”
“Mereka udah dipenjara”
“Sekarang pabrik sudah berjalan normal?”
“Normal. Bahkan better, Kiki emang cerdas. Dia bisa meningkatkan pemasaran, memperbaiki manajemen yang kacau, bikin job desc baru buat seluruh pekerja. dan dia juga terjun langsung”, Bondan terdiam sejenak,”Dia hebat, calon wirausahawati sukses”
“Oh great. Jadi pengen kenal dia, pengen tahu kayak gimana pabrik yang senyatanya, pengen bisa belajar dari anak lulusan SMA yang luarbiasa itu, haha, lo kayaknya kagum banget ya sama dia”
“Haha, ya, lumayan, track record-nya bagus dalam hal wirausaha”
“Oke oke. Ini resep yang gue searching”, Rudi menyerahkan tablet-nya pada Bondan. Bondan membaca dengan seksama, resepnya hampir mirip dengan buatan ibunya. Sepertinya. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai hal – hal yang berhubungan dengan pembuatan produk siap makan, dia cuma peduli makan, tapi tentunya demi kepentingan orientasi produk hari ini, dia sudah belajar sedikit banyak dari ibunya.
Rudi dan Bondan mulai bermain – main dengan gambaran yang sama sekali samar tentang sebuah benda yang biasa disebut cake. Ada sebersit rasa sesal di hati mereka berdua yang selama ini hanya tahu makan saja, sedikit pun tidak dapat mengenali tekstur, taste, kombinasi, komposisi, dan berbagai hal yang menciptakan satu kata yang mereka sebut dengan ‘enak’. Telur,mocaf, vanili, baking powder, dan segala hal yang mereka baca diinternet dimasukkan satu per satu ke dalam wadahyang sedang teraduk – aduk dengan putaran cepat oleh mixer yang baru dibeli Rudi.
“Mungkin ini udah ya? tinggal panggang”, Kata Bondan dengan sedikit tidak yakin.
“Udah? yakin? nyokap lo bikin, begini hasil akhirnya?”
“Ya nggaklah, hasil akhirnya cake yang enak. Bukan adonan gini, ini masih harus dipanggang bro”
“Iya, maksud gue hasil akhir pra panggang, hasil semi akhir deh”
“Ehm.. mungkin sih, lupa, otakku susah mencerna hal – hal kayak gini bro”, Bondan diam sejenak dan memutuskan dnegan ragu, “Baiklah saudara Rudi, kita panggang saja”
“Yakin lo ya?”, Nada sedikit mengancam dari Rudi.
“Namanya juga eksperimen bro”
“Okelah, tahap satu”
Bondan menghentikan mixer dan membersihkannya dari sisa adonan yang menempel. Rudi segera menyiapkan loyang berbentuk hati yang telah dioles dengan margarin dan ditabur dengan tepung. Adonan yang semi cair itu dituang ke dalam loyang, Bondan membersihkan sisa adonan yang menempel di wadah mixer untuk dimasukkan ke dalam loyang sampai tidak ada yang bersisa.
“Udah bro”
“Bentar masih banyak yang nempel”
“Yaelah, nggak pa-pa bro”
“Sayang bro, harus bersih”
“Oke deh”, Rudi pasrah dalam ketidaksabaran menanti sahabatnya yang terlampau telaten itu. Dan berbahagia sekali ketika akhirnya proses pembersihan itu selsai, hingga adonan siap masuk ke dalam oven yang sudah dipanaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar