Selasa, 25 Juni 2013

Pipit Kecil

Suatu hari, aku bertengger di dahan pohon kenari di halaman rumah besar itu. Rumah bercat biru tua yang warnanya telah berubah menjadi kelabu, kusam, seperti ingin mati. Bangunannya memancang tinggi, melebihi tinggi rumah – rumah lain di sekitarnya. Model bangunannya tua, seperti rumah hantu. Hanya satu yang terlihat jernih, yaitu jendelanya. Jendela yang membingkai lubang kotak di sebuah kamar di lantai dua.
kutengok dari jendela itu, gadis kecil itu masih tertidur dengan lelap. Kadang kala ibunya datang membangunkannya sambil menangis, kadang kala perawatnya memandikan tubuhnya, kadang kala ayahnya mencium kening dan rambutnya untuk pamit berangkat bekerja. Namun gadis itu tak jua bangun. Menurutku, gadis itu telah berubah menjadi sangat pemalas. Karena ia selalu tertidur, tak lagi serajin dulu ketika ia masih sering memberiku makanan dan bercerita kisah-kisah yang tak kumengerti.
Aku betengger di dahan kenari miliknya dari matahari hendak muncul hingga matahari telah setinggi penggalah.  Kadang kala aku bernyanyi, kadang kala aku hanya bersiul ringan, atau kadang kala aku menunjungi kumbang dahan, atau kadang kala aku hanya sekedar mengobrol dengan pipit – pipit lainnya. Membicarakan dia, gadis itu, yang selalu tertidur. Menurut pipit yang lain, gadis itu terserang penyakit yang selalu membuatnya tidur. Menurut pipit yang lain lagi –yang pernah tersesat hingga malam-, ia pernah melihat gadis itu bangun di tengah malam, terhenyak dari kasurnya dengan mata terpejam, lalu tertidur lagi. Ada pula pipit yang berkata bahwa dia hanya bangun di malam hari. Tapi aku tak tahu, pipit-pipit terkadang suka menyebarkan cerita bohong pula. Itulah yang mereka sebut dengan kabar burung.
Pernah di suatu hari yang lain, aku berkunjung ke dahan kenariku –ya, dahan kenari ini telah kuakuisisi- sore hari sebelum aku kembali ke sarangku di dekat sungai, dan aku melihat dia tetap tertidur. Dia hanya tertidur, namun ia cantik sekali. Matanya terpejam dengan bulu mata panjang yang mencuat dengan indah, hidung mungil yang lucu, dan bibirnya diam mengulum serta tersenyum. Senyum yang mengartikan sesuatu.
Dulu, ketika aku baru belajar terbang, dahan pohon kenari ini adalah tempatku berlatih bersama ibu. Dan di dahan ini pulalah pertama kali aku berkenalan dengan gadis itu. Gadis berambut pendek dan tebal. Rambutnya cokelat, matanya biru. Dahulu ia selalu bangun pagi, Ia memberiku remahan roti yang memang selalu ia sisakan untukku. ia suka menggambar di depan jendelanya. Aku senang padanya, aku kunjungi ia setiap hari. Kadang ia memberi aku biji beras lalu membelai kepalaku dengan gerakan kecil tangannya. Ia suka bercerita padaku mengenai gambar-gambarnya.
Ia pernah menggambar ayah, ibu, dan neneknya. Mereka berada di halaman depan rumah mereka yang indah penuh dengan bunga–bunga dan tanaman hijau yang cantik. Bergandengan tangan dan tersenyum ceria. Pernah suatau ketika ia menggambarkan ibunya sedang duduk sendiri di taman samping rumahnya. Duduk di ayunan yang cantik dengan air mata di di pipi, dan ia bercerita padaku sambil menangis pula. Ia bilang ayahnya telah marah besar dan membuat ibunya menangis. Belakangan ia menggambar ibu dan dirinya saja, saling berpelukan. Beberapa gambar terakhirnya menggambarkan dirinya sendiri, dengan rambutnya yang lebat. Ia menunjukkan gambar itu padaku, dalam keadaan rambutnya yang kini telah tinggal sedikit. Dapat kulihat kulit kepalanya menyembul-nyembul di antara rambut-rambut itu. pernah suatu ketika pula, ia menggambarkan dirinya memakai gaun yang cantik dan ada sayap di punggungnya –sayap yang besar dan indah, bahkan aku iri dengan sayap itu, sayapku tak sebesar sayapnya- dan ia terbang tinggi bermain bersama bintang dan bulan yang tersenyum.
Keesokan harinya, ia memberiku sebuah gambar, dimana ada aku dan dia sedang bermain bersama. Ia berkisah :
Scaly… ini aku, ini  kamu. Kita ada di taman depan rumahku. Kau tahu? Taman di depan rumahku sangat indah, aku suka duduk dan bermain di sana.Tapi sudah lama aku tidak bermain di taman depan rumah. Kau tahu mengapa? Kini aku tak sanggup lagi berjalan menuruni tangga, jika aku berjalan panjang, kepalaku akan sakit sekali, seperti tertimpa tubuh ayahku yang besar.
Ah… ayah… ayah kini hanya mengunjungi aku setiap hari minggu. Sejak ibu menangis di taman samping rumah, ayah pergi, mungkin karena ia tak suka ibu menangis.
Lalu ia membelaiku…
Scaly, kamu lucu sekali. Terimakasih telah mau menjadi temanku Scaly, aku tak punya teman lain selain dirimu. Aku sayang padamu.
Ia menitikkan air mata…
Ada yang ingin aku ceritakan padamu Scaly… kemarin lusa, aku berkunjung ke tempat bapak dokter mengobati orang sakit. Bapak dokter menyuruhku berbaring, lalu tubuhku di periksa. Sejak aku pertama kali datang ke tempat itu, setelahnya aku sering diantar ibu datang bertemu dengan bapak dokter. Bapak dokter kadang memberikan aku permen lolly pop yang lezat, namun ia juga menyuruhku memakan pil-pil yang aku tak suka.
Scaly… ini rambutku yang indah –ia menunjuk gambarnya- aku dahulu suka memilinnya dan menghiasnya dengan pita dan bunga, dulu ibu suka membantuku melakukannya. Namun kini aku tak menghias rambutku lagi, karena kini rambutku seakan tak bisa disentuh, ia suka berjatuhan bila kusentuh. Ibu juga tak lagi berani menyentuhnya.
Scaly… berjanjilah kau akan selalu menjadi temanku….
Aku tersenyum, namun ia tak mampu melihat senyum di antara paruhku. Tak apa, ia sudah bahagia dengan kehadiranku, kurasa. Aku pergi dari jendela itu ketika perawatnya datang membawakannya makanan.
Keesokan harinya aku bertengger lagi di jendelanya yang selalu terbuka. Namun ia masih tertidur lelap. Aku berpindah ke dahan kenari. Kutunggu bahkan hingga siang menyengat ubun-ubunku. Namun ia tak jua bangun. Aku melihat ayah, ibu, dan neneknya mengelilinginya, mereka menangis bersama. Ayah dan ibunya berpelukan sambil menangis. Ayahnya membelai rambut ibunya yang terus-menerus menangis di dada ayahnya. Aku rasa ayahnya mulai menyukai ibunya menangis.
Keesokan lagi aku datang, dan dia tetap tertidur. Dan begitulah seterusnya. Dan sejak ia tak terbangun, aku hanya bisa bertengger di dahan kenari ini. Memandanginya.
Seperti hari ini, aku bertengger lagi di sini. Di dahan pohon yang sama. Namun gadis itu telah berpindah tempat tidur. Ia tak ada lagi di tempat tidur yang biasa ia tempati. Aku bertengger ke jendelanya. Lalu terbang memasuki kamarnya. Gambar–gambarnya tertempel di dinding kamar. Gambar itu sangat ceria. Namun kamar ini muram.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku terbang berlari, kembali ke dahan kenariku. Aku melihat ibu dan ayahnya datang, sang ayah mengalungkan tangan di bahu ibunya. Mereka berpakaian hitam. Sang ibu duduk di kasur tempat anak itu biasa tertidur, ia mengelus-elus kasur itu dengan air mata yang ia jatuhkan di mana saja sekenanya. Sang ayah melayangkan pandang ke sekeliling, melihat gambar-gambar di kamar itu. kemudian sang ayah menghampiri jendela. Lalu menutup daun jendela dan gordennya. Dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi di dalam sana.

Esok aku akan tetap bertengger di dahan kenariku, menunggunya hingga matahari setinggi penggalah. Mungkin jika ia memiliki remahan roti atau beberapa biji padi lagi, atau mungkin juga memiliki gambar yang baru, maka mungkin pula suatu saat jendela itu akan terbuka kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar