Selasa, 18 Juni 2013

MARMALADE (PART 3)

“Selamat siang teman – teman”, Ari membuka rapat.
“Lesu banget muka lu Ri? Kayak orang setahun nggak tidur”, Aldo nyeletuk.
“Oke kita mulai rapat hari ini”, Ari mengacuhkan celetukan itu. “Hari ini gue rapat bukan dengan tangan kosong guys”, Ari mengeluarkan sebotol marmalade yang sempat ia beli di minimarket 24 jam, “Gue bawa sesuatu buat kalian”
“Selai?”, tara mulai melepaskan tangannya dari dagu yang disangganya.
No no no. Ya, emang semacam selai, tapi ini bukan selai. Hana you know this?”, Ari menyerahkan botol itu pada Hana.
“Mar… ma… let”, Hana mengeja tulisan di label botol yang dipegangnya,”Marmalade? buat apa?”
“Yap. Marmalade. Sunkist Marmalade. itu adalah ide segar di tengah muka kusut gue hari ini”, Ari mengukir senyum setengah – setengah, kegetiran hatinya akan kejadian pilu semalam masih membekas.
“Tapi kan marmalade bukan buah segar Ri”
“Tapi inovatif. Kayak yang kalian smeua tahu, buah segar itu nggak rasional kecuali kita emnag cuma mau jual buah segar tanpa diapa – apain. Gue akan coba lobby Pak Fahri untuk ngolah buah jadi marmalade. menurut gue ini great, karena selama ini nggak ada snack kemasan yang pake marmalade. Marmalade pasti jadi penyegaran tersendiri buat konsumen, taste-nya yang manis asem dari sari buahnya, terus rasa getir dari kulit jeruknya yang bakal mainin lidah lo, terus teksturnya yang yang semi padat dan lumer di mulut, dan geronjalan krenyes – krenyes kulit jeruk di dalemnya. Digabungin sama softcake atau waffle atau bread. Tasty. Belum pernah ada! Inovasi bro!”
Softcake?”, Hana melempar pandangannya ke awang – awang, menerobos imajinasinya yang bermain dengan marmalade softcake. “Enak juga kayaknya, apalagi citarasa asemnya itu ngasih sensasi fresh di mulut”.
“Menurut gue waffle oke juga, Ujar Siska sambil mengutak – atik keyboard laptopnya. “Kalau emang kita ngejar inovasi, menurut gue waffle, karena belum pernah ada waffle empuk dalam kemasan, kalau softcake kan udah banyak”
“Tapi kan nggak isi marmalade Sis… “, protes Hana.
“Emm, boleh masuk?”, Aldo mengalihkan pandangannya dari layar laptop, “Jujur aja nih, oke mungkin gue katro, tapi asli, gue nggak tahu marmalade itu apa”, ia diam, melempar pandangan ke sekeliling. “Gue belum pernah makan, gue nggak tahu rasanya, teksturnya dan sebagainya, dan yang makin gue nggak tahu adalah cara buatnya. Dan kalau gue nggak tahu cara buatnya, gue nggak jamin gue bisa kabulin konsep ini, karena gue nggak tahu harus nyediain alat apa untuk proses produksi marmalade kalian. So? Siapa aja, would you like to  explain?
“Haha, santai Do. Marmalade  itu sederhana, kita cuma bikin bubur buah, disaring, terus dicemplungin potongan – potongan kulit buah yang udah direndam larutan garam. Hasilnya kayak selai, tapi di dalemnya ada potongan kulit buah. Easy
“Kulit buah?”
“Iya, buah yang banyak pektin18-nya. Enak kok. Lo coba makan ini”, Hana menyodorkan botol marmalade kepada Aldo.
***
Sebulan lebih mengurung diri di rumah membuat Virna muak dan mual sendiri dengan kesedihannya. Sejak perpisahan terpaksanya dengan Ari, pasokan lemak – lemak di dalam tubuhnya mulai luruh karena habis terpakai untuk menangis dan bergundah-gulana. Minggu pagi telah menyongsong, dan Virna  memutuskan untuk mengepak masa lalunya dan memulai hari baru dengan semangat barunya. Diikatnya sepasang tali sepatu yang telah membalut telapak kakinya. Bermodal handuk yang tersampir di leher, Virna bergegas untuk bergabung dengan dunia di jogging track kompleks perumahannya, menghirup matahari pagi di area lembaran baru hidupnya. Dengan senyum merekah yang sangat diusahakan, Virna membuka pintu ruang tamu. Dan menendang sesuatu. Sesuatu yang sepertinya telah bertengger di bawah pintu ruang tamunya sejak semalam. Sebuah kotak merah dengan pita emas. Virna memungut kotak itu, di dalamnya terdapat 2 bungkus snack kemasan, dengan warna orange cerah, ‘VIRNA. MARMALADE WAFFLE’. “Hah? Maksudnya apa nih? Nama gue dijadiin merk dagang? Nggak jelas banget, siapa sih, jangan – jangan beracun”, Gerutunya sendiri.
Lalu diambilnya selembar kertas yang terlipat di antara dua bungkusan snack itu.

Mungkin kita berdua memang seperti marmalade. Kamu adalah kulit jeruk yang terasa getir di mulut. Dan aku adalah cairan sari buah yang manis yang mengepungmu. Aku tak tahu bagaimana lagi mengungkapkannya, tapi itulah caraku untuk melindungimu dari bakteri yang beterbangan di udara dan membuatmu busuk. Di dalam cintaku kamu akan selalu aku jaga. Awet. Dan tak pernah mati. Masih sayang kamu. Your Ari.

18 senyawa polisakarida kompleks yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan dan dapat ditemukan dalam berbagai jenis tanaman pangan, misalnya buah – buahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar