“Selamat siang teman – teman”, Ari membuka rapat.
“Lesu banget muka lu Ri? Kayak orang setahun nggak tidur”, Aldo
nyeletuk.
“Oke kita mulai rapat hari ini”, Ari mengacuhkan celetukan itu. “Hari
ini gue rapat bukan dengan tangan kosong guys”,
Ari mengeluarkan sebotol marmalade
yang sempat ia beli di minimarket 24 jam, “Gue bawa sesuatu buat kalian”
“Selai?”, tara mulai melepaskan tangannya dari dagu yang disangganya.
“No no no. Ya, emang semacam
selai, tapi ini bukan selai. Hana you
know this?”, Ari menyerahkan botol itu pada Hana.
“Mar… ma… let”, Hana mengeja tulisan di label botol yang dipegangnya,”Marmalade? buat apa?”
“Yap. Marmalade. Sunkist Marmalade. itu adalah ide segar
di tengah muka kusut gue hari ini”, Ari mengukir senyum setengah – setengah,
kegetiran hatinya akan kejadian pilu semalam masih membekas.
“Tapi kan marmalade bukan buah
segar Ri”
“Tapi inovatif. Kayak yang kalian smeua tahu, buah segar itu nggak
rasional kecuali kita emnag cuma mau jual buah segar tanpa diapa – apain. Gue
akan coba lobby Pak Fahri untuk
ngolah buah jadi marmalade. menurut
gue ini great, karena selama ini
nggak ada snack kemasan yang pake marmalade. Marmalade pasti jadi penyegaran tersendiri buat konsumen, taste-nya yang manis asem dari sari
buahnya, terus rasa getir dari kulit jeruknya yang bakal mainin lidah lo, terus
teksturnya yang yang semi padat dan lumer di mulut, dan geronjalan krenyes –
krenyes kulit jeruk di dalemnya. Digabungin sama softcake atau waffle atau
bread. Tasty. Belum pernah ada! Inovasi bro!”
“Softcake?”, Hana melempar
pandangannya ke awang – awang, menerobos imajinasinya yang bermain dengan marmalade softcake. “Enak juga kayaknya,
apalagi citarasa asemnya itu ngasih sensasi fresh
di mulut”.
“Menurut gue waffle oke juga”, Ujar Siska sambil mengutak – atik keyboard laptopnya. “Kalau emang kita
ngejar inovasi, menurut gue waffle,
karena belum pernah ada waffle empuk
dalam kemasan, kalau softcake kan
udah banyak”
“Tapi kan nggak isi marmalade
Sis… “, protes Hana.
“Emm, boleh masuk?”, Aldo mengalihkan pandangannya dari layar laptop, “Jujur
aja nih, oke mungkin gue katro, tapi asli, gue nggak tahu marmalade itu apa”, ia diam, melempar pandangan ke sekeliling. “Gue
belum pernah makan, gue nggak tahu rasanya, teksturnya dan sebagainya, dan yang
makin gue nggak tahu adalah cara buatnya. Dan kalau gue nggak tahu cara
buatnya, gue nggak jamin gue bisa kabulin konsep ini, karena gue nggak tahu
harus nyediain alat apa untuk proses produksi marmalade kalian. So? Siapa
aja, would you like to explain?”
“Haha, santai Do. Marmalade itu sederhana, kita cuma bikin bubur buah,
disaring, terus dicemplungin potongan – potongan kulit buah yang udah direndam
larutan garam. Hasilnya kayak selai, tapi di dalemnya ada potongan kulit buah. Easy”
“Kulit buah?”
“Iya, buah yang banyak pektin18-nya.
Enak kok. Lo coba makan ini”, Hana menyodorkan botol marmalade kepada Aldo.
***
Sebulan lebih mengurung diri di rumah membuat Virna
muak dan mual sendiri dengan kesedihannya. Sejak perpisahan terpaksanya dengan
Ari, pasokan lemak – lemak di dalam tubuhnya mulai luruh karena habis terpakai
untuk menangis dan bergundah-gulana. Minggu pagi telah menyongsong, dan
Virna memutuskan untuk mengepak masa
lalunya dan memulai hari baru dengan semangat barunya. Diikatnya sepasang tali
sepatu yang telah membalut telapak kakinya. Bermodal handuk yang tersampir di
leher, Virna bergegas untuk bergabung dengan dunia di jogging track kompleks perumahannya, menghirup matahari pagi di
area lembaran baru hidupnya. Dengan senyum merekah yang sangat diusahakan,
Virna membuka pintu ruang tamu. Dan menendang sesuatu. Sesuatu yang sepertinya
telah bertengger di bawah pintu ruang tamunya sejak semalam. Sebuah kotak merah
dengan pita emas. Virna memungut kotak itu, di dalamnya terdapat 2 bungkus snack kemasan, dengan warna orange cerah, ‘VIRNA. MARMALADE WAFFLE’.
“Hah? Maksudnya apa nih? Nama gue dijadiin merk dagang? Nggak jelas banget,
siapa sih, jangan – jangan beracun”, Gerutunya sendiri.
Lalu diambilnya selembar kertas yang terlipat di
antara dua bungkusan snack itu.
Mungkin kita
berdua memang seperti marmalade. Kamu adalah kulit jeruk yang terasa getir di
mulut. Dan aku adalah cairan sari buah yang manis yang mengepungmu. Aku tak
tahu bagaimana lagi mengungkapkannya, tapi itulah caraku untuk melindungimu
dari bakteri yang beterbangan di udara dan membuatmu busuk. Di dalam cintaku
kamu akan selalu aku jaga. Awet. Dan tak pernah mati. Masih sayang kamu. Your
Ari.
18
senyawa polisakarida kompleks yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan dan
dapat ditemukan dalam berbagai jenis tanaman pangan, misalnya buah – buahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar