Senin, 24 Juni 2013

Selak Ijo Mas!

Minggu, 5 Agustus 2012
Panas. Muak. Dunia semakin membakar. Hardi memacu motornya kencang. Ia tergesa menuju kosnya. Tak tahan dengan dunia yang menyengat dan macet yang menggila.
Di traffic light perempatan terakhir sebelum kosnya, Hardi menghentikan motor.
Selak ijo mas! selak ijo! Sewu nggih purun! limangewu nggih purun! Dipekbojo nggih soyo purun!”, suara seorang banci berdada besar dan hidung aneh beradu dengan suara kendaraan.
Niat amat panas – panas, batin Hardi seraya melirik si banci. Si banci yang mengetahui ada lelaki tampan meliriknya, kontan mengerlingkan mata. Hardi tersentak dan memfokuskan mata lurus ke depan.
Wajah aneh banci itu sudah sangat familiar bagi Hardi, karena kemanapun Hardi pergi, ia harus selalu melewati perempatan itu. Perempatan tempat mangkal si banci. Hampir setiap hari Hardi bertemu dengan dia, namun tak pernah sedetik pun ada niat untuk membagi recehan dengan si banci.
Sesampainya di kos, “Aduh gila… gila…! Jogja uda kayak Jakarta!”, Hardi menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah kosnya.
“Darimana lo?”, Koko duduk di samping dnegan sekotak kopi instan.
“Stasiun”
“Mau kemana?”
“Balik ke Jakarta”
“Emang libur?”
“Kagak, cewek gue wisuda”
“Wah, salam ya buat cewek lo!”
“Ogah!”
“Hahahaha!”
***
Rabu, 15 Agustus 2012
Pukul 5.30 pagi, Hardi baru bangun, ia harusnya sudah berada di stasiun. Dengan kecepatan ekstra, dipacunya motor melintasi dinginnya pagi.
Jalanan masih lengang, Hardi dengan leluasa memacu kecepatan tinggi.
“Ijo!”, teriaknya sendiri, ketika ia tiba di perempatan pertama.
Ijo tinggal 5 detik, dan ia masih jauh dari lampu merah, ia melaju dengan lebih kencang. Namun tak sempat. Akhirnya ia terjebak pada detik pertama lampu merah. Ia melirik jamnya, waktunya tidak banyak. Ia memainkan jemarinya pada stang motornya, tanda tak sabar. Fokus. Lurus. Hardi berencana melesat pada detik terakhir sebelum ia sempat melihat traffic light berubah menjadi hijau.
Tiba-tiba Hardi terhentak, ia merasa seseorang menyolek perutnya.
Selak ijo Mas! Selak ijo!  cik icik icik! Selak ijo mas! selak ijo! Werewerewer! Selak ijo mas!”, banci dada besar lagi – lagi mengganggu harinya. Kali ini si banci berani mendekati wajah galak si Hardi.
Sial! Batinnya. Ia teru menatap lurus ke depan. Tak sudi ia member recehannya pada banci yang sudha berani colak-colek itu. “Selak ijo mas! selak ijo!”I Wira heran, banci itu hanya fokus mengganggunya.
Si Banci lagi-lagi memainkan jarinya, kali ini di dagu Wira. Wira menepis tangannya.
“Heh! Anjing! Gue bunuh lo berani kurang ajar!”
“Idih Mas Ganteng galak banget deh”
Lampu hijau sudah terlewat beberapa detik, motor di belakang mulai memainkan belnya dengan galak. Wira memacu motornya dengan kencang dan kesal. 4 tahun dia tinggal di Jogja, 4 tahun juga ia sering bertemu dengan banci itu, tapi baru kali ini si banci berani menggodanya.
Perempatan kedua, lampu hijau tinggal 3 detik. Begitu tiba di dekat traffic light lampu sudah berubah merah, namun ia nekat. Nggak ada polisi, batinnya. Perempatan terakhir, akhirnya, pikirnya. Kereta berangkat 10 menit lagi. namun kali ini ia terjebak 93 detik lampu merah. Sial! Ia menengok kanan kiri. Aman. Tak ada banci terdeteksi.
Tepat pukul 5.59 Wira memasuki gerbong kereta. Tepat saat ia menemukan bangkunya. Kereta berjalan.
***
Pukul 02.00 dini hari, Minggu, 19 Agustus 2012
Wira mengambil motornya yang terparkir di parkir inap stasiun. Langkahnya terhuyung, hari masih gelap. Perjalanannya dari Jakarta banyak menguras tenaga. Motor itu ia keluarkan dengan loyo, tukang parkir sama sekali tak membantunya. Ia kesal. “Nggak tahu orang capek apa!”, gerutunya.
Ia keluar melewati loket penyerahan kartu parkir. Bapak tua yang berjaga di loket parkir mengulurkan tangannya, hendak meminta kartu parkir inap milik Hardi. Namun Hardi tak menghentikan motornya, ia terus memacu motornya dengan kencang. Ia malas mencari kartu parkirnya.
“Woi!”, Penjaga loket parkir bangkit mengacungkan jari tengah pada Hardi.
Hardi terkekeh. “Makan gaji buta!”, ujarnya.
Hardi tiba di perempatan terakhir sebelum kosnya. Ia menengokkan kepala ke kanan kiri. Banci dada besar itu tak ada. Baguslah. Hardi memelankan laju motornya. Perutnya yang kelaparan mendorongnya untuk menengokkan kepala ke kanan kiri mencari angkringan atau warung burjo 24 jam.
Hardi tiba di lorong kosnya, namun ia tak berbelok. Ia memacu motornya lurus, terus mencari sumber makanan.
Lima menit berkeliling, ditemuinya sebuah angkringan remang – remang. Beberapa orang terlihat bertengger di sana. Hardi memarkir motornya di samping angkringan itu. ia memasuki tenda dan menyerobot dua bungkus nasi kucing dan sate usus dari meja.
Pedagang akgringan menyediakan jeruk panas pesanan Hardi, lalu ngeloyor pergi, main ke angkringan sebelah.
Hardi melirik angkringan sebelah. Ia tersedak, disemburnya segumpal nasi ke tanah. Kontan diambilnya wedang jeruk panas dan diteguknya. Disemburnya lagi. Panas. Hardi hanya mampu terbatuk – batuk. Tak ada yang memedulikannya, karena semua pengunjung angkringan sudah pergi.
Setelah ia mampu mengatur nafas dengan baik. Ia melirik lagi ke angkringan sebelah. Banci kaleng itu. tak salah lagi banci kaleng itu. menggunakan kaos oblong berwarna putih kusam, sarung dan peci.
“Yah, mau gimana lagi Jo Parjo, kalau hidup harus dijalani begitu ya begitu, hahahaha!”, ujar si banci seraya menghembuskan asap rokok dari hidungnya.
“Tapi kowe1 niat banget je2 mbancinya! Hahahaha”, lelaki bernama Parjo itu menimpali.
“Yang penting kan anakku bisa sekolah, yang penting aku ndak ngemis!”
“Oh iya, anak perawanmu itu, kemarin aku lihat dia pakai jilbab?”
“Iya, aku yang suruh, biar nggak ada preman yang ganggu. Biar pun bapaknya nggak jelas, anaknya harus jelas. agamanya harus baik. Dia nanti yang bakal ndandani3 hidup hari tuaku”
“Kemarin udah lulusan kan? Lulus ndak dia?”
“Wah jangan tanya, dia itu paling pinter! Dia lulus nomer tiga terbaik di sekolahnya. Sekarang dia keterima di UGM. Gratis. Beasiswa. Ayem4 atiku. Bejo5 aku punya anak kayak dia. Pinter, cantik, baik. Ndak tahu juga Jo, apa dosa dia sampe dikasih bapak kayak aku ini”
“Wajahnya mirip ibunya ya”
Si Banci menggebrak meja. “Dia ndak mirip siapa – siapa. Dia ndak punya ibu. Dia anakku. Bukan anak siapa-siapa lagi selain aku”
Parjo tampak gentar.
“Tolong jangan sebut-sebut lagi hal yang ndak perlu begitu ya Jo”, si banci menurunkan intonasinya.
“Iya Kang, maaf ya”
“Aku ya memang cuma bisa jadi banci ngamen di perempatan sana, tapi semua ini tak jalani bukan buatku. Semuanya demi Hanifah, anakku. Hidupnya itu harus bahagia, harus jadi orang baik, jadi orang kaya yang bisa beramal  ke orang – orang kere di sekitarnya. Kere kayak kita-kita ini. Hahahaha!”
Selak ijo mas! Sela ijo! Selak ijo Mas! Selak ijo!”, Parjo menirukan gaya si banci, disambut dengan gaya asli si banci. Mereka menyanyi bersama.
***
Selasa, 21 Agustus 2012
Baru kali ini Hardi berangkat ke kampus dnegan santai. Motornya melenggang tenang di antara deru motor dan mobil yang memacu kencang. Kuliahnya dimulai 1 jam lagi, sedangkan perjalanan ke kampus hanya butuh waktu setengah jam. Hari ini ia ingin sedikit bersantai.
Lampu hijau sedang menghiasi traffic light di perempatan dekat kosnya. Jarak Hardi dari traffic light tak terlalu jauh, dan lampu hijau tinggal 5 detik. Namun Hardi enggan untuk melaju kencang. Ia berhenti di perempatan itu tepat saat lampu merah menyambut pada detik pertama.
Selak ijo Mas! selak ijo! Selak ijo mas! selak ijo!”, suara yang tak asing datang lagi, “sewu nggih purun, limangewu nggih purun, dipekbojo nggih soyo purun! Icik kiwir icik kiwir! Werewerewer! Selak ijo mas! selak ijo!”
Banci itu tak mendekati Hardi samasekali.
“Hoi!”, Hardi memanggil si banci. banci itu menghampiri Hardi dengan sumringah. Hardi lalu mencemplungkan selembar sepuluh ribu rupiah ke kantong uang si banci.
“Makasih mas Ganteng”, Banci itu mencolek dagu Hardi.

1kowe : kamu
2 je : logat khas orang Yogyakarta
3ndandani : memperbaiki
4Ayem  : tenang
5Bejo : beruntung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar