Minggu, 5 Agustus 2012
Panas. Muak. Dunia semakin membakar. Hardi memacu
motornya kencang. Ia tergesa menuju kosnya. Tak tahan dengan dunia yang menyengat
dan macet yang menggila.
Di traffic light perempatan terakhir sebelum kosnya, Hardi menghentikan
motor.
“Selak ijo mas!
selak ijo! Sewu nggih purun! limangewu nggih purun! Dipekbojo nggih soyo purun!”,
suara seorang banci berdada besar dan hidung aneh beradu dengan suara
kendaraan.
Niat amat panas
– panas, batin Hardi seraya melirik si
banci. Si banci yang mengetahui ada lelaki tampan meliriknya, kontan
mengerlingkan mata. Hardi tersentak dan memfokuskan mata lurus ke depan.
Wajah aneh banci itu sudah sangat familiar bagi Hardi,
karena kemanapun Hardi pergi, ia harus selalu melewati perempatan itu.
Perempatan tempat mangkal si banci. Hampir setiap hari Hardi bertemu dengan
dia, namun tak pernah sedetik pun ada niat untuk membagi recehan dengan si
banci.
Sesampainya di kos, “Aduh gila… gila…! Jogja uda kayak
Jakarta!”, Hardi menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah kosnya.
“Darimana lo?”, Koko duduk di samping dnegan sekotak
kopi instan.
“Stasiun”
“Mau kemana?”
“Balik ke Jakarta”
“Emang libur?”
“Kagak, cewek gue wisuda”
“Wah, salam ya buat cewek lo!”
“Ogah!”
“Hahahaha!”
***
Rabu, 15 Agustus 2012
Pukul 5.30 pagi, Hardi baru bangun, ia harusnya sudah
berada di stasiun. Dengan kecepatan ekstra, dipacunya motor melintasi dinginnya
pagi.
Jalanan masih lengang, Hardi dengan leluasa memacu
kecepatan tinggi.
“Ijo!”, teriaknya sendiri, ketika ia tiba di
perempatan pertama.
Ijo tinggal 5 detik, dan ia masih jauh dari lampu
merah, ia melaju dengan lebih kencang. Namun tak sempat. Akhirnya ia terjebak
pada detik pertama lampu merah. Ia melirik jamnya, waktunya tidak banyak. Ia
memainkan jemarinya pada stang
motornya, tanda tak sabar. Fokus. Lurus. Hardi berencana melesat pada detik
terakhir sebelum ia sempat melihat traffic
light berubah menjadi hijau.
Tiba-tiba Hardi terhentak, ia merasa seseorang
menyolek perutnya.
“Selak ijo Mas!
Selak ijo! cik icik icik! Selak ijo mas!
selak ijo! Werewerewer! Selak ijo mas!”, banci dada besar lagi – lagi
mengganggu harinya. Kali ini si banci berani mendekati wajah galak si Hardi.
Sial! Batinnya. Ia teru menatap lurus ke depan. Tak sudi ia
member recehannya pada banci yang sudha berani colak-colek itu. “Selak ijo mas! selak ijo!”I Wira heran,
banci itu hanya fokus mengganggunya.
Si Banci lagi-lagi memainkan jarinya, kali ini di dagu
Wira. Wira menepis tangannya.
“Heh! Anjing! Gue bunuh lo berani kurang ajar!”
“Idih Mas Ganteng galak banget deh”
Lampu hijau sudah terlewat beberapa detik, motor di
belakang mulai memainkan belnya dengan galak. Wira memacu motornya dengan
kencang dan kesal. 4 tahun dia tinggal di Jogja, 4 tahun juga ia sering bertemu
dengan banci itu, tapi baru kali ini si banci berani menggodanya.
Perempatan kedua, lampu hijau tinggal 3 detik. Begitu
tiba di dekat traffic light lampu
sudah berubah merah, namun ia nekat. Nggak
ada polisi, batinnya. Perempatan terakhir, akhirnya, pikirnya. Kereta berangkat 10 menit lagi. namun kali ini
ia terjebak 93 detik lampu merah. Sial!
Ia menengok kanan kiri. Aman. Tak ada banci terdeteksi.
Tepat pukul 5.59 Wira memasuki gerbong kereta. Tepat
saat ia menemukan bangkunya. Kereta berjalan.
***
Pukul 02.00 dini hari, Minggu, 19 Agustus 2012
Wira mengambil motornya yang terparkir di parkir inap
stasiun. Langkahnya terhuyung, hari masih gelap. Perjalanannya dari Jakarta
banyak menguras tenaga. Motor itu ia keluarkan dengan loyo, tukang parkir sama
sekali tak membantunya. Ia kesal. “Nggak tahu orang capek apa!”, gerutunya.
Ia keluar melewati loket penyerahan kartu parkir. Bapak
tua yang berjaga di loket parkir mengulurkan tangannya, hendak meminta kartu
parkir inap milik Hardi. Namun Hardi tak menghentikan motornya, ia terus memacu
motornya dengan kencang. Ia malas mencari kartu parkirnya.
“Woi!”, Penjaga loket parkir bangkit mengacungkan jari
tengah pada Hardi.
Hardi terkekeh. “Makan gaji buta!”, ujarnya.
Hardi tiba di perempatan terakhir sebelum kosnya. Ia
menengokkan kepala ke kanan kiri. Banci dada besar itu tak ada. Baguslah. Hardi
memelankan laju motornya. Perutnya yang kelaparan mendorongnya untuk
menengokkan kepala ke kanan kiri mencari angkringan atau warung burjo 24 jam.
Hardi tiba di lorong kosnya, namun ia tak berbelok. Ia
memacu motornya lurus, terus mencari sumber makanan.
Lima menit berkeliling, ditemuinya sebuah angkringan
remang – remang. Beberapa orang terlihat bertengger di sana. Hardi memarkir
motornya di samping angkringan itu. ia memasuki tenda dan menyerobot dua
bungkus nasi kucing dan sate usus dari meja.
Pedagang akgringan menyediakan jeruk panas pesanan
Hardi, lalu ngeloyor pergi, main ke angkringan sebelah.
Hardi melirik angkringan sebelah. Ia tersedak,
disemburnya segumpal nasi ke tanah. Kontan diambilnya wedang jeruk panas dan diteguknya. Disemburnya lagi. Panas. Hardi
hanya mampu terbatuk – batuk. Tak ada yang memedulikannya, karena semua
pengunjung angkringan sudah pergi.
Setelah ia mampu mengatur nafas dengan baik. Ia
melirik lagi ke angkringan sebelah. Banci kaleng itu. tak salah lagi banci
kaleng itu. menggunakan kaos oblong berwarna putih kusam, sarung dan peci.
“Yah, mau gimana lagi Jo Parjo, kalau hidup harus
dijalani begitu ya begitu, hahahaha!”, ujar si banci seraya menghembuskan asap
rokok dari hidungnya.
“Tapi kowe1
niat banget je2 mbancinya!
Hahahaha”, lelaki bernama Parjo itu menimpali.
“Yang penting kan anakku bisa sekolah, yang penting
aku ndak ngemis!”
“Oh iya, anak perawanmu itu, kemarin aku lihat dia
pakai jilbab?”
“Iya, aku yang suruh, biar nggak ada preman yang
ganggu. Biar pun bapaknya nggak jelas, anaknya harus jelas. agamanya harus
baik. Dia nanti yang bakal ndandani3
hidup hari tuaku”
“Kemarin udah lulusan kan? Lulus ndak dia?”
“Wah jangan tanya, dia itu paling pinter! Dia lulus nomer tiga terbaik di sekolahnya.
Sekarang dia keterima di UGM. Gratis. Beasiswa. Ayem4 atiku. Bejo5
aku punya anak kayak dia. Pinter, cantik, baik. Ndak tahu juga Jo, apa dosa dia sampe dikasih bapak kayak aku ini”
“Wajahnya mirip ibunya ya”
Si Banci menggebrak meja. “Dia ndak mirip siapa – siapa. Dia ndak
punya ibu. Dia anakku. Bukan anak siapa-siapa lagi selain aku”
Parjo tampak gentar.
“Tolong jangan sebut-sebut lagi hal yang ndak perlu begitu ya Jo”, si banci
menurunkan intonasinya.
“Iya Kang, maaf ya”
“Aku ya memang cuma bisa jadi banci ngamen di
perempatan sana, tapi semua ini tak jalani bukan buatku. Semuanya demi Hanifah,
anakku. Hidupnya itu harus bahagia, harus jadi orang baik, jadi orang kaya yang
bisa beramal ke orang – orang kere di
sekitarnya. Kere kayak kita-kita ini. Hahahaha!”
“Selak ijo mas!
Sela ijo! Selak ijo Mas! Selak ijo!”, Parjo menirukan gaya si banci,
disambut dengan gaya asli si banci. Mereka menyanyi bersama.
***
Selasa, 21 Agustus 2012
Baru kali ini Hardi berangkat ke kampus dnegan santai.
Motornya melenggang tenang di antara deru motor dan mobil yang memacu kencang.
Kuliahnya dimulai 1 jam lagi, sedangkan perjalanan ke kampus hanya butuh waktu
setengah jam. Hari ini ia ingin sedikit bersantai.
Lampu hijau sedang menghiasi traffic light di perempatan dekat kosnya. Jarak Hardi dari traffic light tak terlalu jauh, dan lampu
hijau tinggal 5 detik. Namun Hardi enggan untuk melaju kencang. Ia berhenti di
perempatan itu tepat saat lampu merah menyambut pada detik pertama.
“Selak ijo Mas! selak ijo! Selak ijo mas! selak ijo!”,
suara yang tak asing datang lagi, “sewu
nggih purun, limangewu nggih purun, dipekbojo nggih soyo purun! Icik kiwir icik kiwir! Werewerewer! Selak
ijo mas! selak ijo!”
Banci itu tak mendekati Hardi samasekali.
“Hoi!”, Hardi memanggil si banci. banci itu
menghampiri Hardi dengan sumringah.
Hardi lalu mencemplungkan selembar sepuluh ribu rupiah ke kantong uang si
banci.
“Makasih mas Ganteng”, Banci itu mencolek dagu Hardi.
1kowe
: kamu
2 je
: logat khas orang Yogyakarta
3ndandani
: memperbaiki
4Ayem
: tenang
5Bejo : beruntung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar