Minggu, 23 Juni 2013

DIALAH KEBANGGAAN SEORANG AYAH

“Duduk aja Wira, nggak ada ngaruhnya kamu mondar-mandir begitu”, wanita tua dengan kerudung biru itu kesal dengan tingkah laku anak lelakinya . Wira masih saja berjalan ke utara lalu ke selatan, utara selatan, utara selatan.
“Aku ga mungkin bisa duduk Ma”
Pintu terbuka. Wira mengubah langkah cepatnya menjadi lari kecil menuju ke pintu. “Bagaimana Dok?” Wira, orang tua, dan mertuanya berdiri mengerumuni dokter yang membuka pintu itu.
“Selamat Pak Wira, bayi anda laki – laki, sehat. Suster sedang mengurusnya. Ibu Arma, sementara masih belum sadarkan diri, beliau terlalu lemah, tapi tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu Arma hanya butuh istirahat”
“Boleh kami masuk Dok?”
“Boleh, tapi jangan membuat gaduh ya”, Dokter Hadi tersenyum ramah.
Arma masih tergeletak lemah. Matanya terkatup. Tapi wajahnya tetap cantik.
Dan Sosok itu menggeliat di gendongan suster, kulitnya masih merah, tubuhnya kecil mungil. Tubuh itu terlihat sangat rentan untuk disentuh. Tubuh mungil itu masih dibersihkan dari darah – darah yang menyelimuti tubuhnya.
Wira hanya melihat, tak kuasa menahan pecahnya telaga matanya. Sosok mungil itu. Anaknya. Masih tak percaya. Itu anaknya. Anak lelakinya. Yang suatu saat nanti akan menjadi kebanggaannya. Yang suatu saat nanti akan ia kenalkan pada dunia, akan ia antarkan pada keteguhan menghadapi hidup, akan ia kenalkan pada kerasnya dunia, agar lelaki mungil itu kelak akan menjadi sosok gagah perkasa. Pelindung. Pelindungnya ketika ia tua. Pelindung ibunya ketika ia sedang lengah. Dan pelindung wanita yang akan disandingnya kelak.  Dialah, kebanggaan seorang ayah.
Ada kedamaian yang tak mampu terelakkan. Wira terus menatap lekat-lekat. Sebongkah es telah mencair di dalam dadanya, nyess, ada sensai mint yang mengaliri seluruh tubuhnya. Dialah, kebanggan seorang ayah. Anakku.
“Bapak ingin coba menggendong?”, Tiba-tiba suster itu menyodorkan bayi merah itu kearahnya, tubuhnya sudah bersih.
Wira ragu, menyodorkan tangannya, namun menariknya kembali. “Saya takut sus, kecil sekali”
“Tidak apa-apa Pak, saya ajari menggendongnya”
Wira meraih tubuh kecil itu, benar – benar kecil. Ia merasakan aliran darahnya memacu dengan kencang. Anakku. Dipeluknya erat. Anakku. Dialah kebanggan seorang ayah. Matanya lebar, namun belum bisa membuka sempurna, beberapa kali mata itu membuka dan menutup. Mata itu terkadang juga mengerjap, merapatkan kelopaknya. Bulu mata tampak belum muncul melindungi mata bulat itu. hidung mungil, tak terlalu mancung, tapi indah, serupa hidungnya. Mulut mungilnya bergerak – gerak seperti sedang makan permen. Sesekali ia mengeluarkan lidahnya yang lucu. Mertua dan orang tuaya mengerumuni.
“Namanya Banyu”, Ujar ayah mertuanya.
“Ah, Pak Harun, itu terlalu Jawa Pak, jangan Banyu. Yang lebih gagah gitu Pak”, Ibunya protes.
“Iya ah, Papa nih ngasih nama gaul dikit pa”, Ibu mertuanya ikut bersuara, “Namanya Farel aja”
“Oh bagus juga”
“Aduh kalian berdua ini kebanyakan nonton sinetron, terus kalau anak perempuan dikasih nama Fitri gitu. Nggak! jangan Farel!”
Sang bayi memulai tangisnya lagi, “Aduh sus, kok nangis? Gimana ini”, Wira panik.
“Tuh kan, kalian bertiga berisik sih”, Ujar ayah Wira.
Suster meraih tubuh itu, serya tersenyum. Dibungkusnya tubuh itu, kemudian dibawanya bayi itu keluar dari ruang rawat untuk menuju ruang inkubator. Keempat orang tuanya yang terus berisik mengikuti suster itu.
Wira mengalihkan pandangan pada tubuh cantik yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Wira menggenggam tangan Arma dengan sangat kuat, seolah khawatir tangan itu tak brsamanya lagi. Dokter bilang nggak ada yang perlu dikhawatirkan Wira, ujar batinnya menenangkan. Diciumnya berkali– kali tangan yang terkulai lemah itu. sesekali ia tersnyum memandangi wajah Arma yang teduh. Terimakasih Arma, untuk perjuangan kamu demi anak kita. Kita akan jaga dia bareng-bareng ya sayang”
Tangan itu mulai bergerak, Wira tersentak.
“Mas, anak kita mana?”, Arma mengeja sekuat tenaga. Wira hanya tersenyum.
 “Ada sayang, kamu masih kecapekan istirahat dulu aja”, lagi – lagi Wira menyungging senyumnya. Sungguh ia tak tahan untuk tidak tersenyum. “Anak kita laki-laki”
Arma tersenyum. “Kita kasih nama siapa ya mas?”
“Nanti kita pikirin sayang, jangan bikin aku khawatir dangan kebanyakan mikir yang belum perlu kayak gitu, kamu harus banyak istirahat”
Senyum bulan sabit dari mulut Arma tersungging. Senyum yang selalu meluluhkan hatinya, menenangkan jiwanya, meredam emosinya, dan membuainya dalam keindahan hidup rumah tangganya yang telah 5 tahun berjalan dengan bahagia. Berjalan hanya berdua. Dan kini, bertiga. Anakku. Dialah kebanggan seorang ayah.
***
Anak itu sangat mungil, terbaring dengan lemah di inkubator. Kini warna kulitnya berubah menjadi agak kekuningan, suster sedang menanganinya.
“Kenapa tiba – tiba jadi gitu Ma”, getaran itu terdengar jelas pada nada suara Wira.
“Nggak tahu Wir, itu bukan karena kita yang berisik kok, tapi emang tubuh banyinya yang tiba – tiba melemah. Tapi lagi ditangani suster kok “
“Kok punggungnya biru gitu ya?”
“Tadi nafasnya juga nggak kembang kempis gitu”
“Kok nggak melek lagi ya?”
“Masih nafas yang penting”
“Aduh Pa, kok kayaknya gerak nafasnya berubah lemah gitu ya Pa. Cucu kita Pa…itu nggak pa-pa kan ya Pa?”
Suara-suara itu menggaung memenuhi kepala dan hati Wira. Dia harus baik-baik aja, dia anakku. Dialah kebanggaan seorang ayah.
***
Wira menggendong bayi itu menuju ruang rawat istrinya. Tubuh sang bayi terbalut, tangan dan kakinya yang mungil tak bisa bergerak.  Bayi itu tertidur. Matanya terkatup. Mulutnya tak lagi bergerak-gerak seperti makan permen. Lidahnya juga tak lagi dikeluarkan dengan lucu. Hanya alis mata hitamnya yang terlihat tegas menantang. Tidurnya begitu tenang.
Wira tiba di depan pintu yang masih ditutup, Ibu mertuanya memegang handle pintu, hendak membukakan pintu untuk Wira.
“Tunggu Ma, jangan dibuka dulu”, Wira menarik nafas panjang. Air matanya yang sedari tadi menetes, kini semakin deras. Ia perhatikan lagi sang bayi yang sedang tertidur. Bangun nak, Papa mohon…
Sang bayi tetap tertidur, bergeming. Air mata Wira semakin deras.
“Wira…”, Sang mertua mengelus pundaknya.
Wira memundurkan langkahnya. Dadanya sesak. Dilihatnya sang mertua.
Wira menarik nafas panjang. Terimakasih telah sempat mengisi hidup papa sayang, walaupun cuma 20 menit. Wira memasuki ruang rawat istrinya.
Arma menyambut mereka dengan wajah yang indah, sumringah, tak dapat ia tahan ekspresi bahagia. Langsung diraihnya bayi itu. Didekapkan ke dadanya, dipeluk, dicium, dan tak henti tangannya membelai rambut sang bayi.
“Tidurnya tenang banget ya mas”, Arma tersenyum, tetap tak mengalihkan pandangan pada bayinya.
Wira tak dapat menahan pecahnya telaga yang bergenangan di bola matanya. Diusapnya segera.
“Besok kalau ke kantor aku bisa pamerin ke temen – temen mas, boleh ya mas aku bawa ke kantor?”, Masih tersenyum, Arma memandang wajah suaminya. Wira membalas senyum itu.
Makasih ya sayang, udah hadir dalam kehidupan kami. Pelupuk mata Arma menghangat, namun senyum tak henti tersungging. Mama akan selalu jaga kamu, mama akan kasih yang terbaik untuk kamu. Air mata itu mulai menghias pipi Arma. Mama bahagia, sayang.  Dipeluknya tubuh mungil tak bernyawa itu.
Wira tak  mampu melihat adegan itu. Ia mengalihkan perhatiannya pada sang ibu mertua yang sudah berderaian air mata. “Mama, gimana kalau mama ambilin gambar buat kita bertiga?”, Wira berusaha terlihat girang. Sang mertua terhentak.
“Mama nangisnya lebay deh, kayak sedih banget gitu?”, Arma tertawa.
“Hahaha, mama bahagia sayang, mama cuma terharu banget ngelihat kamu dan anakmu”, Ujar Sang Ibu ingkar.
Wira memberikan smartphone-nya pada sang mertua. Sang Ibu mertua mengambil posisi untuk memotret.
Wira memeluk istri dan buah hatinya. Berpose sebahagia mungkin. Arma tersenyum cantik, dapat tergambar letupan kebahagiaan tak terkira pada senyum itu. Sang bayi masih tertidur. Tidur lelap yang panjang. Untuk selamanya.
***
Angin malam menusuk tulang belulang yang menusun tubuh Wira. Wira terduduk tanpa kata di taman rumah sakit. Ia hanya bisa menitikkan air mata memandangi gambar bahagia di smartphone-nya. Terimakasih sempat memberikan dia untukku Tuhan. Dialah kebanggaan seorang ayah. Aku mohon jaga dia di sisi-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar