“Duduk aja Wira,
nggak ada ngaruhnya kamu mondar-mandir begitu”, wanita tua dengan kerudung biru
itu kesal dengan tingkah laku anak lelakinya . Wira masih saja berjalan ke
utara lalu ke selatan, utara selatan, utara selatan.
“Aku ga mungkin bisa
duduk Ma”
Pintu terbuka. Wira
mengubah langkah cepatnya menjadi lari kecil menuju ke pintu. “Bagaimana Dok?” Wira,
orang tua, dan mertuanya berdiri mengerumuni dokter yang membuka pintu itu.
“Selamat Pak Wira,
bayi anda laki – laki, sehat. Suster sedang mengurusnya. Ibu Arma, sementara
masih belum sadarkan diri, beliau terlalu lemah, tapi tidak apa-apa, tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Ibu Arma hanya butuh istirahat”
“Boleh kami masuk
Dok?”
“Boleh, tapi jangan
membuat gaduh ya”, Dokter Hadi tersenyum ramah.
Arma masih tergeletak
lemah. Matanya terkatup. Tapi wajahnya tetap cantik.
Dan Sosok itu
menggeliat di gendongan suster, kulitnya masih merah, tubuhnya kecil mungil.
Tubuh itu terlihat sangat rentan untuk disentuh. Tubuh mungil itu masih
dibersihkan dari darah – darah yang menyelimuti tubuhnya.
Wira hanya melihat,
tak kuasa menahan pecahnya telaga matanya. Sosok mungil itu. Anaknya. Masih tak
percaya. Itu anaknya. Anak lelakinya. Yang suatu saat nanti akan menjadi
kebanggaannya. Yang suatu saat nanti akan ia kenalkan pada dunia, akan ia
antarkan pada keteguhan menghadapi hidup, akan ia kenalkan pada kerasnya dunia,
agar lelaki mungil itu kelak akan menjadi sosok gagah perkasa. Pelindung.
Pelindungnya ketika ia tua. Pelindung ibunya ketika ia sedang lengah. Dan
pelindung wanita yang akan disandingnya kelak.
Dialah, kebanggaan seorang ayah.
Ada kedamaian yang
tak mampu terelakkan. Wira terus menatap lekat-lekat. Sebongkah es telah mencair
di dalam dadanya, nyess, ada sensai mint yang mengaliri seluruh tubuhnya.
Dialah, kebanggan seorang ayah. Anakku.
“Bapak ingin coba
menggendong?”, Tiba-tiba suster itu menyodorkan bayi merah itu kearahnya,
tubuhnya sudah bersih.
Wira ragu,
menyodorkan tangannya, namun menariknya kembali. “Saya takut sus, kecil sekali”
“Tidak apa-apa Pak,
saya ajari menggendongnya”
Wira meraih tubuh
kecil itu, benar – benar kecil. Ia merasakan aliran darahnya memacu dengan
kencang. Anakku. Dipeluknya erat. Anakku. Dialah kebanggan seorang ayah. Matanya
lebar, namun belum bisa membuka sempurna, beberapa kali mata itu membuka dan
menutup. Mata itu terkadang juga mengerjap, merapatkan kelopaknya. Bulu mata
tampak belum muncul melindungi mata bulat itu. hidung mungil, tak terlalu
mancung, tapi indah, serupa hidungnya. Mulut mungilnya bergerak – gerak seperti
sedang makan permen. Sesekali ia mengeluarkan lidahnya yang lucu. Mertua dan
orang tuaya mengerumuni.
“Namanya Banyu”, Ujar
ayah mertuanya.
“Ah, Pak Harun, itu
terlalu Jawa Pak, jangan Banyu. Yang lebih gagah gitu Pak”, Ibunya protes.
“Iya ah, Papa nih
ngasih nama gaul dikit pa”, Ibu mertuanya ikut bersuara, “Namanya Farel aja”
“Oh bagus juga”
“Aduh kalian berdua
ini kebanyakan nonton sinetron, terus kalau anak perempuan dikasih nama Fitri
gitu. Nggak! jangan Farel!”
Sang bayi memulai
tangisnya lagi, “Aduh sus, kok nangis? Gimana ini”, Wira panik.
“Tuh kan, kalian
bertiga berisik sih”, Ujar ayah Wira.
Suster meraih tubuh
itu, serya tersenyum. Dibungkusnya tubuh itu, kemudian dibawanya bayi itu
keluar dari ruang rawat untuk menuju ruang inkubator. Keempat orang tuanya yang
terus berisik mengikuti suster itu.
Wira mengalihkan pandangan
pada tubuh cantik yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Wira menggenggam
tangan Arma dengan sangat kuat, seolah khawatir tangan itu tak brsamanya lagi. Dokter bilang nggak ada yang perlu
dikhawatirkan Wira, ujar batinnya menenangkan. Diciumnya berkali– kali
tangan yang terkulai lemah itu. sesekali ia tersnyum memandangi wajah Arma yang
teduh. Terimakasih Arma, untuk perjuangan
kamu demi anak kita. Kita akan jaga
dia bareng-bareng ya sayang”
Tangan itu mulai
bergerak, Wira tersentak.
“Mas, anak kita
mana?”, Arma mengeja sekuat tenaga. Wira hanya tersenyum.
“Ada sayang, kamu masih kecapekan istirahat dulu aja”, lagi – lagi Wira menyungging
senyumnya. Sungguh ia tak tahan untuk tidak tersenyum. “Anak kita laki-laki”
Arma tersenyum. “Kita
kasih nama siapa ya mas?”
“Nanti kita pikirin
sayang, jangan bikin aku khawatir dangan kebanyakan mikir yang belum perlu
kayak gitu, kamu harus banyak istirahat”
Senyum bulan sabit
dari mulut Arma tersungging. Senyum yang selalu meluluhkan hatinya, menenangkan
jiwanya, meredam emosinya, dan membuainya dalam keindahan hidup rumah tangganya
yang telah 5 tahun berjalan dengan bahagia. Berjalan hanya berdua. Dan kini,
bertiga. Anakku. Dialah kebanggan seorang
ayah.
***
Anak itu sangat
mungil, terbaring dengan lemah di inkubator. Kini warna kulitnya berubah
menjadi agak kekuningan, suster sedang menanganinya.
“Kenapa tiba – tiba
jadi gitu Ma”, getaran itu terdengar jelas pada nada suara Wira.
“Nggak tahu Wir, itu
bukan karena kita yang berisik kok, tapi emang tubuh banyinya yang tiba – tiba
melemah. Tapi lagi ditangani suster kok “
“Kok punggungnya biru
gitu ya?”
“Tadi nafasnya juga
nggak kembang kempis gitu”
“Kok nggak melek lagi
ya?”
“Masih nafas yang
penting”
“Aduh Pa, kok
kayaknya gerak nafasnya berubah lemah gitu ya Pa. Cucu kita Pa…itu nggak pa-pa
kan ya Pa?”
Suara-suara itu
menggaung memenuhi kepala dan hati Wira. Dia
harus baik-baik aja, dia anakku. Dialah kebanggaan seorang ayah.
***
Wira menggendong bayi
itu menuju ruang rawat istrinya. Tubuh sang bayi terbalut, tangan dan kakinya
yang mungil tak bisa bergerak. Bayi itu
tertidur. Matanya terkatup. Mulutnya tak lagi bergerak-gerak seperti makan
permen. Lidahnya juga tak lagi dikeluarkan dengan lucu. Hanya alis mata
hitamnya yang terlihat tegas menantang. Tidurnya begitu tenang.
Wira tiba di depan
pintu yang masih ditutup, Ibu mertuanya memegang handle pintu, hendak membukakan pintu untuk Wira.
“Tunggu Ma, jangan
dibuka dulu”, Wira menarik nafas panjang. Air matanya yang sedari tadi menetes,
kini semakin deras. Ia perhatikan lagi sang bayi yang sedang tertidur. Bangun nak, Papa mohon…
Sang bayi tetap tertidur,
bergeming. Air mata Wira semakin deras.
“Wira…”, Sang mertua
mengelus pundaknya.
Wira memundurkan
langkahnya. Dadanya sesak. Dilihatnya sang mertua.
Wira menarik nafas
panjang. Terimakasih telah sempat mengisi
hidup papa sayang, walaupun cuma 20 menit. Wira memasuki ruang rawat
istrinya.
Arma menyambut mereka
dengan wajah yang indah, sumringah,
tak dapat ia tahan ekspresi bahagia. Langsung diraihnya bayi itu. Didekapkan ke
dadanya, dipeluk, dicium, dan tak henti tangannya membelai rambut sang bayi.
“Tidurnya tenang
banget ya mas”, Arma tersenyum, tetap tak mengalihkan pandangan pada bayinya.
Wira tak dapat
menahan pecahnya telaga yang bergenangan di bola matanya. Diusapnya segera.
“Besok kalau ke
kantor aku bisa pamerin ke temen – temen mas, boleh ya mas aku bawa ke
kantor?”, Masih tersenyum, Arma memandang wajah suaminya. Wira membalas senyum
itu.
Makasih ya sayang, udah hadir dalam kehidupan kami. Pelupuk mata Arma menghangat, namun senyum tak henti
tersungging. Mama akan selalu jaga kamu,
mama akan kasih yang terbaik untuk kamu. Air mata itu mulai menghias pipi
Arma. Mama bahagia, sayang. Dipeluknya tubuh mungil tak bernyawa itu.
Wira tak mampu melihat adegan itu. Ia mengalihkan
perhatiannya pada sang ibu mertua yang sudah berderaian air mata. “Mama, gimana
kalau mama ambilin gambar buat kita bertiga?”, Wira berusaha terlihat girang.
Sang mertua terhentak.
“Mama nangisnya lebay
deh, kayak sedih banget gitu?”, Arma tertawa.
“Hahaha, mama bahagia
sayang, mama cuma terharu banget ngelihat kamu dan anakmu”, Ujar Sang Ibu
ingkar.
Wira memberikan smartphone-nya pada sang mertua. Sang
Ibu mertua mengambil posisi untuk memotret.
Wira memeluk istri
dan buah hatinya. Berpose sebahagia mungkin. Arma tersenyum cantik, dapat
tergambar letupan kebahagiaan tak terkira pada senyum itu. Sang bayi masih
tertidur. Tidur lelap yang panjang. Untuk selamanya.
***
Angin malam menusuk
tulang belulang yang menusun tubuh Wira. Wira terduduk tanpa kata di taman
rumah sakit. Ia hanya bisa menitikkan air mata memandangi gambar bahagia di smartphone-nya. Terimakasih sempat memberikan dia untukku Tuhan. Dialah kebanggaan
seorang ayah. Aku mohon jaga dia di sisi-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar