Pagi ini mendung, tetapi Kiki tetap berangkat ke
pabrik dengan semangat membaranya. Ia yakin semua usahanya ini tak akan sia –
sia, ia pasti akan dapat menyelesaikan permasalah pabriknya. Ia mulai akan
mempelajari proses produksi kerupuk dengan detail, agar ia dapat membandingkan
kapasitas pemakaian bahan baku dengan kapasitas produksi pabrik. Kemudian ia
akan melakukan evaluasi dan perbaikan pada proses operasi yang mungkin terlalu
boros. Kiki mengayuh sepedanya, membuka kunci pintu depan, pintu semua ruangan,
dan pintu belakang. Pagi ini hal yang peertama kali ia lakukan adalah memeriksa
kapasitas bahan baku. Kiki memasuki ruang penyimpanan, diperiksa dan dicatatnya
satu per satu. Hasilnya, bahan baku berkurang drastis dari catatannya di pagi
sebelumnya, apakah pembuatan kerupuk memerlukan
bahan sebanyak itu, pikirnya.
Sepertinya mulai saat ini ia harus mencatat pengambilan bahan baku dari ruangan
penyimpanan bahan baku, kemudian menakar komposisi yang tepat dalam proses
operasi pembuatan kerupuk. Kiki duduk di halaman belakang pabrik, mencatat dan
merencanakan manajemen persediaan bahan baku, ia harus memilih orang yang
dipercaya mengatur pengeluaran bahan baku, harus ada standard operasional procedure yang tepat untuk pembelian dan
penggunaan bahan baku. Pak Tejo, ya, Kiki akan memindah tugaskan Pak Tejo ke
bagian gudang persediaan bahan baku, karena masalah bahan baku sepertinya
sangat krusial.
Satu per satu para pekerja datang dan menyapanya.
Matahari mulai meninggi, terik menyengat Kiki dan membuatnya memutuskan untuk
masuk ke dalam. Dilihatnya jam besar di tengah ruang produksi, sudah pukul
sepuluh, ternyata coretan membingungkan di buku catatan kecilnya telah ia buat
selam 3 jam. “Mbak Kiki”, Pak Tejo berlari gelagapan menemu Kiki. Kiki tak
menjawab, hanya memperhatikan Pak Tejo dengan Wajah bertanya – tanya. “Ada
polisi mbak!”, ujar pak Tejo panik. Kiki sendiri bingung kenapa polisi datang
ke pabriknya, apakah pabriknya telah menyalahi sesuatu atau kerupuknya telah
menyebabkan orang keracunan dan meninggal. Tapi belum tentu yang menyebabkan
orang teracun adalah kerupuknya, bisa saja itu kerupuk milik pabrik lain.
Kenapa polisi datang ke pabrik?
“Selamat siang”, sang polisi bersuara dengan nada tegas, sembari
menempelkan jemari ke pelipis.
“Siang pak”, Kiki menyahut salam itu masih dengan wajah yang bertanya –
tanya.
“Kami dari kepolisian, kami membawa surat penangkapan untuk saudara
Samijan dan Anjar Ariwati”, Ujar sang polisi sambil menyerahkan surat
penangkapan itu kepada Kiki, ‘pencurian dan penyelundupan’.
“Pak Tejo? Samijan itu Mas Ijan?”, Kiki tergagap.
“Nggih mbak”, jawab Pak Tejo.
“Anjar Ariwati?” Kiki bertanya lagi.
“Wati mbak”, jawab Pak Tejo dengan nada yang sama.
“Minta tolong Pak polisinya dianter ke Mas Ijan dan Mbak Wati ya Pak
Tejo”, Kiki masih tidak percaya, Mas Ijan dan Mbak Wati adalah dua orang yang
cukup dapat ia percaya di pabrik.
“Monggo Pak Polisi”, Pak Ijan
mengantar kedua polisi itu menuju halaman belakang untuk menangkap Ijan, dan ke
ruang keuangan untuk menangkap Wati.
Tak lama kemudian, Ijan dan Wati keluar, Ijan menundukkan wajahnya dalam
– dalam, tak mengatakan sepatah kata pun, kedua tangannya diborgol oleh polisi.
Wati terus berteriak histeris, “Mbak Kiki!!! ampun mbak! Saya ndak mau masuk penjara mbak ndak mau mbak ndak mau mbak tolong mbak! Maafkan saya mbak!”, Kiki tak
memperdulikan teriakan itu. Dengan perasaan masih bertanya - tanya Kiki
mengikuti sang polisi keluar, di luar sudah ada Pakdhe Jarwo dan Bondan.
“Ada apa ini sebenarnya?”, Kiki bertanya pada Pakdhe Jarwo.
“Ndak ada yang boros dalam
penggunaan bahan baku di pabrikmu nduk”,
Pakdhe Jarwo tersenyum, “Bahan bakunya itu cepat habis karena dicuri sama
mereka”.
“Bagaimana Pakdhe bisa tahu?”, Kiki kebingungan, takut Pakdhe jarwo
salah menuduh.
“Wah kalau kamu tahu perjuangan kami Ki”, Bondan menyahut, “Empat malam
kami ronda di belakang pabrikmu ini”
“Empat malam? terus? pakdhe dan Mas Bondan melihat mereka mencuri di
pabrik?”, Kiki kaget.
“Ya iya, siapa lagi, Wati juga yang membuat catatan keungan yang aneh
dan ribet untuk menyamarkan pencurian yang terjadi, harga bahan bakumu itu juga
yang naikin bukan Cik Eli, tapi Si Wati, biar dia bisa ambil uang lebih banyak
dari pabrikmu. Dan bahan baku murah yang dipasok sama Ijan ke Pakdhe itu bukan
dari pabrik tepung atau pabrik gula atau penjual bawang di pasar, tapi ya hasil
curian dari pabrikmu”, Pakdhe Jarwo menjelaskan.
“Jadi, kejadian malam itu?”, Kiki tak pernah selega itu atas benang
merah yang telah ia temukan. Pakdhe Jarwo hanya mengangguk.
“Pakdhe, Pakdhe itu masih kuat sekali ya ternyata tenaganya, saya kaget
sekali waktu pakdhe narik saya ke semak – semak, mana badan saya ditindih juga”
“Walah maaf ya le16
ya, ndak sengaja, soalnya posisinya
serba ndak karuan, kacau, hehehe, dan
kamu juga berisik terus, pakdhe takut ketahuan sama mereka berdua”, ujar pakdhe
Jarwo sambil tertawa.
“Haha, iya deh pakdhe, ndak
apa – apa, waktu pakdhe buka sarung yang nutupin mata saya itu, saya pikir itu
ada orang jahat yang mau nyolok mata saya pakdhe, deg – degan saya”, Tukas
Bondan.
Pakdhe jarwo terbahak, Kiki pun penasaran, “eh cerita – cerita to mas,
pakdhe, gimana kejadiannya?”
“Wah seru Ki!”, Bondan pun semangat bercerita. Dengan segenap rasa
bangga Bondan berkisah tentang perjuangannya 4 malam tidak tidur malam, melawan
rasa takut di pabrik yang sepi, dan bercerita pula tentang kisah bodohnya yang
mengira dirinya hampir mati ditumbalkan oleh Pakdhe Jarwo yang dia pikir
memelihara tuyul raksasa.
***
Kiki lega, akhirnya masalah pabriknya terjawab sudah,
perlahan ia mulai mengatur manajemen pabrik dari awal, mulai dari perencanaan
bahan baku, keuangan, pembagian kerja karyawan, penggajian, pendistribusian,
dan sebagainya. Setelah sebulan berjalan tanpa ada lagi masalah bahan baku,
pabriknya mulai bangkit. Kiki sudah berhasil meningkatkan pemasaran hingga ke
desa lain dan ke kota. Dari awal ia sangat yakin bahwa perjuangannya tak pernah
sia – sia, termasuk pengorbanannya untuk tidak kuliah dan memilih merawat
pabrik. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, karena selama ini ia merasa berada
di suatu ruangan yang di dalamnya terdapat berbagai tombol yang dapat ia tekan
sesuka hati untuk menentukan segala kejadian di hidupnya. Dan ia tak akan bisa
lepas dari ruangan itu, karena ruangan itu terlindungi oleh terali – terali
kuat, yang melindunginya agar tak keluar dari garis yang seharusnya. Ruang
berterali itu adalah takdir Tuhan yang akan selalu melindunginya, takdir Tuhan
yang dapat ia usahakan untuk berubah menjadi baik jika ia mau berusaha.
16panggilan
untuk anak laki – laki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar