Minggu, 09 Juni 2013

Ruang Berterali (Part 6)

Pagi ini mendung, tetapi Kiki tetap berangkat ke pabrik dengan semangat membaranya. Ia yakin semua usahanya ini tak akan sia – sia, ia pasti akan dapat menyelesaikan permasalah pabriknya. Ia mulai akan mempelajari proses produksi kerupuk dengan detail, agar ia dapat membandingkan kapasitas pemakaian bahan baku dengan kapasitas produksi pabrik. Kemudian ia akan melakukan evaluasi dan perbaikan pada proses operasi yang mungkin terlalu boros. Kiki mengayuh sepedanya, membuka kunci pintu depan, pintu semua ruangan, dan pintu belakang. Pagi ini hal yang peertama kali ia lakukan adalah memeriksa kapasitas bahan baku. Kiki memasuki ruang penyimpanan, diperiksa dan dicatatnya satu per satu. Hasilnya, bahan baku berkurang drastis dari catatannya di pagi sebelumnya, apakah pembuatan kerupuk memerlukan bahan sebanyak itu,  pikirnya. Sepertinya mulai saat ini ia harus mencatat pengambilan bahan baku dari ruangan penyimpanan bahan baku, kemudian menakar komposisi yang tepat dalam proses operasi pembuatan kerupuk. Kiki duduk di halaman belakang pabrik, mencatat dan merencanakan manajemen persediaan bahan baku, ia harus memilih orang yang dipercaya mengatur pengeluaran bahan baku, harus ada standard operasional procedure yang tepat untuk pembelian dan penggunaan bahan baku. Pak Tejo, ya, Kiki akan memindah tugaskan Pak Tejo ke bagian gudang persediaan bahan baku, karena masalah bahan baku sepertinya sangat krusial.
Satu per satu para pekerja datang dan menyapanya. Matahari mulai meninggi, terik menyengat Kiki dan membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Dilihatnya jam besar di tengah ruang produksi, sudah pukul sepuluh, ternyata coretan membingungkan di buku catatan kecilnya telah ia buat selam 3 jam. “Mbak Kiki”, Pak Tejo berlari gelagapan menemu Kiki. Kiki tak menjawab, hanya memperhatikan Pak Tejo dengan Wajah bertanya – tanya. “Ada polisi mbak!”, ujar pak Tejo panik. Kiki sendiri bingung kenapa polisi datang ke pabriknya, apakah pabriknya telah menyalahi sesuatu atau kerupuknya telah menyebabkan orang keracunan dan meninggal. Tapi belum tentu yang menyebabkan orang teracun adalah kerupuknya, bisa saja itu kerupuk milik pabrik lain. Kenapa polisi datang ke pabrik?

“Selamat siang”, sang polisi bersuara dengan nada tegas, sembari menempelkan jemari ke pelipis.

“Siang pak”, Kiki menyahut salam itu masih dengan wajah yang bertanya – tanya.

“Kami dari kepolisian, kami membawa surat penangkapan untuk saudara Samijan dan Anjar Ariwati”, Ujar sang polisi sambil menyerahkan surat penangkapan itu kepada Kiki, ‘pencurian dan penyelundupan’.

“Pak Tejo? Samijan itu Mas Ijan?”, Kiki tergagap.

Nggih mbak”, jawab Pak Tejo.

“Anjar Ariwati?” Kiki bertanya lagi.

“Wati mbak”, jawab Pak Tejo dengan nada yang sama.

“Minta tolong Pak polisinya dianter ke Mas Ijan dan Mbak Wati ya Pak Tejo”, Kiki masih tidak percaya, Mas Ijan dan Mbak Wati adalah dua orang yang cukup dapat ia percaya di pabrik.

Monggo Pak Polisi”, Pak Ijan mengantar kedua polisi itu menuju halaman belakang untuk menangkap Ijan, dan ke ruang keuangan untuk menangkap Wati.

Tak lama kemudian, Ijan dan Wati keluar, Ijan menundukkan wajahnya dalam – dalam, tak mengatakan sepatah kata pun, kedua tangannya diborgol oleh polisi. Wati terus berteriak histeris, “Mbak Kiki!!! ampun mbak! Saya ndak mau masuk penjara mbak ndak mau mbak ndak mau mbak tolong mbak! Maafkan saya mbak!”, Kiki tak memperdulikan teriakan itu. Dengan perasaan masih bertanya - tanya Kiki mengikuti sang polisi keluar, di luar sudah ada Pakdhe Jarwo dan Bondan.

“Ada apa ini sebenarnya?”, Kiki bertanya pada Pakdhe Jarwo.

Ndak ada yang boros dalam penggunaan bahan baku di pabrikmu nduk”, Pakdhe Jarwo tersenyum, “Bahan bakunya itu cepat habis karena dicuri sama mereka”.

“Bagaimana Pakdhe bisa tahu?”, Kiki kebingungan, takut Pakdhe jarwo salah menuduh.

“Wah kalau kamu tahu perjuangan kami Ki”, Bondan menyahut, “Empat malam kami ronda di belakang pabrikmu ini”

“Empat malam? terus? pakdhe dan Mas Bondan melihat mereka mencuri di pabrik?”, Kiki kaget.

“Ya iya, siapa lagi, Wati juga yang membuat catatan keungan yang aneh dan ribet untuk menyamarkan pencurian yang terjadi, harga bahan bakumu itu juga yang naikin bukan Cik Eli, tapi Si Wati, biar dia bisa ambil uang lebih banyak dari pabrikmu. Dan bahan baku murah yang dipasok sama Ijan ke Pakdhe itu bukan dari pabrik tepung atau pabrik gula atau penjual bawang di pasar, tapi ya hasil curian dari pabrikmu”, Pakdhe Jarwo menjelaskan.

“Jadi, kejadian malam itu?”, Kiki tak pernah selega itu atas benang merah yang telah ia temukan. Pakdhe Jarwo hanya mengangguk.

“Pakdhe, Pakdhe itu masih kuat sekali ya ternyata tenaganya, saya kaget sekali waktu pakdhe narik saya ke semak – semak, mana badan saya ditindih juga”

“Walah maaf ya le16 ya, ndak sengaja, soalnya posisinya serba ndak karuan, kacau, hehehe, dan kamu juga berisik terus, pakdhe takut ketahuan sama mereka berdua”, ujar pakdhe Jarwo sambil tertawa.

“Haha, iya deh pakdhe, ndak apa – apa, waktu pakdhe buka sarung yang nutupin mata saya itu, saya pikir itu ada orang jahat yang mau nyolok mata saya pakdhe, deg – degan saya”, Tukas Bondan.

Pakdhe jarwo terbahak, Kiki pun penasaran, “eh cerita – cerita to mas, pakdhe, gimana kejadiannya?”

“Wah seru Ki!”, Bondan pun semangat bercerita. Dengan segenap rasa bangga Bondan berkisah tentang perjuangannya 4 malam tidak tidur malam, melawan rasa takut di pabrik yang sepi, dan bercerita pula tentang kisah bodohnya yang mengira dirinya hampir mati ditumbalkan oleh Pakdhe Jarwo yang dia pikir memelihara tuyul raksasa.
***
Kiki lega, akhirnya masalah pabriknya terjawab sudah, perlahan ia mulai mengatur manajemen pabrik dari awal, mulai dari perencanaan bahan baku, keuangan, pembagian kerja karyawan, penggajian, pendistribusian, dan sebagainya. Setelah sebulan berjalan tanpa ada lagi masalah bahan baku, pabriknya mulai bangkit. Kiki sudah berhasil meningkatkan pemasaran hingga ke desa lain dan ke kota. Dari awal ia sangat yakin bahwa perjuangannya tak pernah sia – sia, termasuk pengorbanannya untuk tidak kuliah dan memilih merawat pabrik. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, karena selama ini ia merasa berada di suatu ruangan yang di dalamnya terdapat berbagai tombol yang dapat ia tekan sesuka hati untuk menentukan segala kejadian di hidupnya. Dan ia tak akan bisa lepas dari ruangan itu, karena ruangan itu terlindungi oleh terali – terali kuat, yang melindunginya agar tak keluar dari garis yang seharusnya. Ruang berterali itu adalah takdir Tuhan yang akan selalu melindunginya, takdir Tuhan yang dapat ia usahakan untuk berubah menjadi baik jika ia mau berusaha.


16panggilan untuk anak laki – laki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar