Senin, 17 Juni 2013

Cake Mocaf (Part 3)

Kiki mengendarai motornya dengan santai, seperti biasa ia akan menuju tempat Rudi untuk produksi cake mocaf. Ya, sejak percobaan pertama dengan Rudi yang langsung berhasil, Rudi langsung mempromosikan cake itu kepada koleganya, teman – temannya, dan menjadikan cake itu sebagai salah satu menu di restoran ayahnya. Respon yang sangat bagus membuat usaha yang dirintis Rudi cepat berkembang. Untuk membantunya mengembangkan usaha itu, Rudi meminta Kiki untuk bekerjasama dengannya mengurus usaha mocaf itu. Alhasil, pabrik kerupuk kini banyak diurus oleh Sumi, Sumi yang dulunya tidak memahami apapun mengenai pabrik, kini telah melaksanakan segala kegiatan pabrik dengan baik, dan ia menyenangi kesibukannya itu. Bagi Sumi, menjalankan seluruh kegiatan pabrik adalah sebuah bakti yang tertunda untuk suaminya yang telah lama meninggal. Hanya sekali atau dua kali dalam seminggu Kiki menyempatkan untuk datang ke pabrik. Meskipun cukup lelah, hal itu tak masalah bagi Sumi, selama Kiki melakukan hal yang bermanfaat, dan selama itu berhubungan dengan Bondan. Setahu Sumi, lelaki bernama Rudi itu adalah sahabat Bondan, tanpa Sumi tahu bahwa kedatangan Kiki ke rumah Rudi tidak hanya untuk membuat cake mocaf tetapi juga untuk memenuhi dorongan hati seorang gadis yang sedang kasmaran.
Kiki memarkir motornya di dalam garasi rumah Rudi, Rudi sudah menunggunya sejak lama.

“Hari ini pesanan berapa mas?”, Kiki mulai menata bahan baku di dapur rumah Rudi.

“Banyak Ki, hari ini ada temenku yang pesan buat pesta ulang tahunnya entar malem”

“entar malem?”, Kiki mengalihkan fokusnya dari bahan baku itu pada wajah tampan yang terpajang beberapa centimeter di atas kepalanya. Ada sesuatu yang lain yang berjalan bersama aliran darahnya, sesuatu yang juga merah, namun membakar, membuat perasaan tak jelas mulai membuncah, dan melayangkan pikiran dan hati dalam angan yang fana, menenangkan, dan membuai.

“…i…ya..”, jawaban terbata keluar dari mulut Rudi, “Entar… malem”, tenggorokannya tercekat, melihat seraut cantik rupawan yang memandangnya dengan pandangan polos. Tatapan itu, mata itu, bagaikan panah tajam yang menusuk hatinya, tusukan yang tepat di hati yang terdalam. Bibir itu, bagai sebuah pualam yang tersusun dengan rapih, di setiap goresannya terdapat manisnya senyum yang akan merekah di sela lantunan kata – kata halus yang sering terujar dari bibir itu. Garis tawa yang senantiasa menghiasi setiap pertemuan mereka. Pipi yang merah, membuat tak tahan untuk membelainya.

“Oh oke, kita bikinnya kilat aja mas”, suara manis bibir pualam itu memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik. Rudi mengalihkan gerakan tangannya yang tadinya akan berlabuh di pipi merah, kini dilabuhkannya pada rambut ikalnya. Dengan sedikit gerakan kacau, ia menggaruk kepala yang tidak gatal. Dan pipi itu, semakin terlihat merah.

“Iya”, Rudi tak tahu harus berkata apa, “Eh, anu, itu Ki, nanti malem ikut aku ya”, Rudi terbata.

“Kemana mas?”

“ke pesta ulang tahun temenku yang pesan cake ini, sekalian kita anter cake-nya”

“Ah, ndak mas, saya ndak biasa ke pestanya orang kota, orang – orang kaya, nanti mas malu ngajak saya, lagipula saya juga ndak punya baju yang bagus”


“Oh nggak lah, buat apa malu. Bawa bidadari ke pesta kok malu”, Rudi tidak yakin dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, ia hanya melihat, bibir pualam itu tersenyum tipis namun tetap menunduk, matanya fokus pada adoann yang sedang diaduk, “Kalo soal baju, tenang aja,aku udah beliin kamu baju buat nanti malem. Mau ya?”. Kiki kembali menengadahkan kepalanya, dengan ekspresi sedikit kaget, tanpa bisa berkata sepatah katapun. Kini perasaan Kiki semakin melayang jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar