Kiki mengendarai motornya dengan santai, seperti biasa
ia akan menuju tempat Rudi untuk produksi cake
mocaf. Ya, sejak percobaan pertama dengan Rudi yang langsung berhasil, Rudi
langsung mempromosikan cake itu
kepada koleganya, teman – temannya, dan menjadikan cake itu sebagai salah satu menu
di restoran ayahnya. Respon yang sangat bagus membuat usaha yang dirintis Rudi
cepat berkembang. Untuk membantunya mengembangkan usaha itu, Rudi meminta Kiki
untuk bekerjasama dengannya mengurus usaha mocaf
itu. Alhasil, pabrik kerupuk kini banyak diurus oleh Sumi, Sumi yang
dulunya tidak memahami apapun mengenai pabrik, kini telah melaksanakan segala
kegiatan pabrik dengan baik, dan ia menyenangi kesibukannya itu. Bagi Sumi,
menjalankan seluruh kegiatan pabrik adalah sebuah bakti yang tertunda untuk
suaminya yang telah lama meninggal. Hanya sekali atau dua kali dalam seminggu
Kiki menyempatkan untuk datang ke pabrik. Meskipun cukup lelah, hal itu tak
masalah bagi Sumi, selama Kiki melakukan hal yang bermanfaat, dan selama itu
berhubungan dengan Bondan. Setahu Sumi, lelaki bernama Rudi itu adalah sahabat
Bondan, tanpa Sumi tahu bahwa kedatangan Kiki ke rumah Rudi tidak hanya untuk
membuat cake mocaf tetapi juga untuk
memenuhi dorongan hati seorang gadis yang sedang kasmaran.
Kiki memarkir motornya di dalam garasi rumah Rudi,
Rudi sudah menunggunya sejak lama.
“Hari ini pesanan berapa mas?”, Kiki mulai menata bahan baku di dapur
rumah Rudi.
“Banyak Ki, hari ini ada temenku yang pesan buat pesta ulang tahunnya entar
malem”
“entar malem?”, Kiki mengalihkan fokusnya dari bahan baku itu pada wajah
tampan yang terpajang beberapa centimeter di atas kepalanya. Ada sesuatu yang
lain yang berjalan bersama aliran darahnya, sesuatu yang juga merah, namun
membakar, membuat perasaan tak jelas mulai membuncah, dan melayangkan pikiran
dan hati dalam angan yang fana, menenangkan, dan membuai.
“…i…ya..”, jawaban terbata keluar dari mulut Rudi, “Entar… malem”, tenggorokannya tercekat, melihat seraut cantik
rupawan yang memandangnya dengan pandangan polos. Tatapan itu, mata itu,
bagaikan panah tajam yang menusuk hatinya, tusukan yang tepat di hati yang
terdalam. Bibir itu, bagai sebuah pualam yang tersusun dengan rapih, di setiap
goresannya terdapat manisnya senyum yang akan merekah di sela lantunan kata –
kata halus yang sering terujar dari bibir itu. Garis tawa yang senantiasa
menghiasi setiap pertemuan mereka. Pipi yang merah, membuat tak tahan untuk
membelainya.
“Oh oke, kita bikinnya kilat aja mas”, suara manis bibir pualam itu
memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik. Rudi mengalihkan gerakan
tangannya yang tadinya akan berlabuh di pipi merah, kini dilabuhkannya pada
rambut ikalnya. Dengan sedikit gerakan kacau, ia menggaruk kepala yang tidak
gatal. Dan pipi itu, semakin terlihat merah.
“Iya”, Rudi tak tahu harus berkata apa, “Eh, anu, itu Ki, nanti malem ikut
aku ya”, Rudi terbata.
“Kemana mas?”
“ke pesta ulang tahun temenku yang pesan cake ini, sekalian kita anter cake-nya”
“Ah, ndak mas, saya ndak biasa ke pestanya orang kota, orang – orang
kaya, nanti mas malu ngajak saya, lagipula saya juga ndak punya baju yang
bagus”
“Oh nggak lah, buat apa malu. Bawa bidadari ke pesta kok malu”, Rudi tidak
yakin dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, ia hanya melihat, bibir
pualam itu tersenyum tipis namun tetap menunduk, matanya fokus pada adoann yang
sedang diaduk, “Kalo soal baju, tenang aja,aku udah beliin kamu baju buat nanti
malem. Mau ya?”. Kiki kembali menengadahkan kepalanya, dengan ekspresi sedikit
kaget, tanpa bisa berkata sepatah katapun. Kini perasaan Kiki semakin melayang
jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar