Marmalade
“Saya tidak
ingin PT. Sweet Horshe dengan licik mengambil pasar kita lagi ketika kita
tertidur lelap. Dan yang kalian semua perlu tahu, Sweet Horshe sekarang semakin
gesit. Kalian punya waktu 1 bulan untuk menyelesaikan project ini”, seorang lelaki paruh baya berdiri di depan proyektor,
dengan dasi zebra, air mukanya lebih dari serius, nyaris stress. Mukanya garang membuat ketegangan meradang, memanas,
menggilas, mengeringkan kerongkongan.
Lelaki itu berjalan keluar dari ruang meeting. “Gila! ga bisa gue!”, Ari membanting tumpukan dokumennya
ke atas meja, “ Lo bayangin mi! buah segar? dipikirnya ini perusahaan confectionery1? Pabrik es
krim? fruit cannery2?
Sebulan lagi! “, Ari melangkah kabur meninggalkan ruangan itu.
“Mampus gue! dapet leader project
yang lagi PMS! waktu kerja cuma sebulan, PMS-nya mau berapa lama tuh coba!”, Laksmi
menggantungkan nasib kepalanya di atas meja oval, tempatnya sedari tadi
terduduk dengan mulut menganga menyaksikan presentasi yang berakhir dengan
perintah project gila dari bosnya.
“Hah?”, Siska -yang telah menggeletakkan kepala lebih dulu- mendongakkan
kepalanya, menyorotkan korneanya ke onggokan kepala Laksmi, “bukannya leader lo si Ari?”
“iye! Lu ga liat
dia marah – marah terus kayak cewek lagi PMS?”, Laksmi menyahut lemas.
“Maklum, dia kan
lagi banyak yang dipikirin”, Tara mengemas dokumennya dan keluar dari ruang meeting.
***
“Virna, sayang, lagi apa?”, suara itu terdengar sangat gugup dari mulut
Ari.
“Lagi siap – siap dong sayang, kamu udah di jalan kan?”, suara dari
seberang melengking dengan girang.
“ehm, gini sayang, aku telepon kamu karena aku mau … “, terbata.
“Mau? Hem? Apa? Mau ngebatalin janji kita lagi?”, lengkingan girang
menjelma menajdi lengkingan beruang kelaparan, “please Ari, please! Aku
capek! Bakal berapa kali lagi? ato kita batalin pernikahan kita aja sekalian?
Aku bahkan udah siap berangkat nih Ri, dan
kamu? Ari! apalagi yang harus aku omongin ke kamu, ini bukan yang pertama
kamu ngelakuin ini, batal lagi, batal lagi, pernikahan kita udah tinggal
sebulanan lagi sayang! Kamu tuh! Kamu selalu bilang aku terlalu rempong terlalu
berlebihan terlalu lebay terlalu heboh! gimana ga heboh gimana ga panik kalo
kamu batalin terus janji buat ngurus undangan, ngurus tempat, ngurus catering, ngurus semuanya! Terserah
kamu!”, sisanya adalah bunyi telepon diputus. Dari awal Ari sudah tahu bahwa
tak akan ada kesempatan bicara dalam keadaan seperti itu. tapi itu semua cukup,
yang penting prioritasnya kali ini bisa terselesaikan dulu, kantor, project satu bulan dari bosnya, Pak
Fahri.
“Oke, sory guys, gue harus nyempetin dengerin ceramah pekanan”, Ari
meletakkan handphone-nya,”so? ide
kalian?”, wajah antusias yang dipaksakan, beberapa detik, dan semua orang tetap
bergeming. “Oke oke gini, tarik nafas dalam – dalam, tahan, dan hembuskan…
tenang… kita putar otak kita ke masa lalu… tapi nggak usah lalu lalu banget…
cukup ke masa lalu kita di sore hari kemarin… di saat dalam damai kita duduk
dalam satu meja oval di tengah ruang meeting
yang sangat sejuk oleh irama AC. Ketika suara merdu Pak Fahri mengisi
kekosongan otak kalian… inget?”, bergeming, ”Oke clue-nya adalah Sweet Horshe … pengambil alihan konsumen … buah
segar … “, hening. “Oke guys, lugasnya adalah, demi ambisi Pak Fahri untuk
menjatuhkan Sweet Horshe yang katanya
udah ngambil alih pasarnya Pandan Emas, maka kita seluruh kepala divisi Pandan
Emas dikumpulkan jadi satu dan ditugaskan untuk bikin produk baru yang bertema
buah segar, as usual, produk dengan self life3 yang lama. Dalam
kondisi, dimana kita tahu bahwa perusahaan kita, Pandan Emas yang tercinta ini,
bukan perusahaan es krim, bukan juga perusahaan dairy4, bukan juga perusahaan fruit cannery, bukan juga perusahaan juice. Dan gue berdiri di sini, sebagai project leader yang dipilih oleh Bapak Harfi yang terhormat, untuk
mimpin rapat yang hasil akhirnya nanti adalah ide segar tentang produk baru
kita. Selesai. Satu – satu ungkapkan idenya. Mulai dari lu! Hana, silakan” Ari
menunjuk seorang wanita yang dengan baik memperhatikannya dengan pandangan
kosong.
“gue nggak ada ide”, tukas Hana tanpa nada. Ari mengalihkan pandangan
pada orang di sebelah Hana.
“Buntu”, Laksmi berkata lugas.
“Emm, gue ya? gini ri, ini project
terberat yang pernah kita dapet selama kerja di sini. Biar gue ungkapin
masalahnya dulu ya… kita nggak pernah makai yang namanya buah segar di produk
produk kita, paling banter kita masukin kismis ke dalam cokelat, atau
nyemplungin buah kering ke marshmallow, atau nuangin cream di antara dua biscuit, dan buah segar… itu nggak masuk
rasional otak gue sama sekali. Buah segar dengan kandungan air yang tinggi,
mungkin bakal ngerusak tekstur produk apapun yang kita bikin. Dan lebih dari
itu, buah segar bakal bikin mikrobia gampang masuk karena Aw5-nya
tinggi banget, so, otomatis umur simpan atau self life dari produk kita nggak mungkin bisa lama. Sementara salah
satu syarat buat produk ini adalah punya umur simpan lebih dari setahun. Nah
itu titik masalah yang harus kita pecahkan. Jujur gue nggak ada ide, tapi gue
berharap paparan gue bisa ngebantu lu semua nemuin ide”, Hans Si Tuan Bijak
mengakhiri kalimat terakhirnya dengan menyedekapkan tangan di atas meja.
“Gue tahu!”, Tara menghenyakkan tubuhnya,”Kita cari buah segar yang
kandungan air atau Aw-nya rendah atau bahkan nggak ada!”
“Oke ide lu bagus, konkritnya?”, Tukas Ari.
“Apaan Tar? Apel? Melon? Salak? Nanas? Strawberry?, nggak usah bercanda
deh lo, semua buah punya kandungan air yang banyak kali!”, Hana menimpali.
“Marshmallow kalau dikasih buah segar gimana? Laksmi mengeluarkan suara
sekenanya.
“Nggak mungkin cuy, itu ngerusak tekstur. Gue punya ide, sederhana aja,
tapi gue rasa belum pernah ada biskuit atau butter
cookies yang di dalemnya penuh dengan taburan buah segar”, Hans berusaha
menyelesaikan rapat itu. Forum hanya diam, tampak agak ragu, namun tak tahu
harus berkata apa.
“Oke, ga pake lama, gue ambil keputusan, sepakat sama lu Hans. Tara lu
bentuk team HACCP6, Siska beresin
perencanaan keuangan, BEP7, PBP8, dan lainnya. Hana
siapin team QA9 dan team produksi, rinci alat yang dibutuhi
apa aja. Dan Hans, bahan baku tolong didata ya. Aldo, alat ya. Waktu kita nggak
panjang, 2 hari lagi kita ketemu dalam keadaan beres. Jam dan tempat yang sama.
Siang guys. Gue duluan”, Ari membereskan dokumennya, dan memasang langkah
seribu. Berlari ke mobilnya di parkiran basement.
Ia tak ingin mengecewakan seseorang terlalu banyak. Virna.
1
produk kembang gula yang berbasis gula, coklat, dan
atau lemak.
2pengalengan
buah
3umur
simpan
4produk
dari susu dan olahannya
5kandungan air
6 Hazard
analytical Critical Control Point
(salah satu metode penjagaan keamanan pangan)
7Break Event
Point (Titik impas pengembalian modal)
8Pay Back Periode (Peridoe waktu pengembalian modal)
9Quality
Assurance
Tidak ada komentar:
Posting Komentar