Senin, 17 Juni 2013

Cake Mocaf (Part 2)

Sumi berkutat dengan buku yang penuh dengan angka – angka, memusingkan, tapi harus ia telan. Setelah satu jam belajar mengenai sesuatu yang disebut anaknya dengan ‘manajemen stock’, kini ia harus menjejali otaknya lagi dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, keuangan. Keuangan yang dulu dipegang Wati si pencuri, tapi hitungan ini tidak serumit hitungan yang pernah ditunjukkan Wati padanya, karena hitungannya lebih rasional dan dapat dinalar, hasil rancangan anaknya. Walaupun cukup sederhana, tetapi tetap saja Sumi perlu tenaga ekstra untuk memahaminya.

“Gimana bu?”, Kiki masuk ke ruangan tempat Sumi merenung dnegan membawa dua cangkir susu cokelat panas.

“Ribet juga ya nduk, tapi ibu lumayan paham sedikit”, Sumi sedikit mengernyitkan dahinya.

“Nanti kalau sudah terbiasa gampang dipahami kok bu”, Kiki tersenyum, menyajikan susu cokelat panas itu kepada sang ibu. Di ruang sempit pabrik itulah mereka kini sering berbincang, ibunya tak lagi menghabiskan waktu untuk berangkat pagi – paggi ke kebun di tengah udara yang tak bersahabat, lalu berjalan kaki melawan kelemahan otot untuk berjualan kangkung. daun ketela, dan daun singkong di pasar.
Sumi mulai menikmati ini, duduk dan belajar tentang pabrik rintisan keluarga besar suaminya ini tak mudah, tapi membuatnya tak harus bangun sepagi itu dan menyiksa gemeretak tulangnya untuk menahan suhu yang sangat dingin. Daun singkong dan daun papaya tak lagi dijualnya dipasar, tapi dedaunan itu kini diangkut oleh Eko, salah satu pegawai yang baru saja dimasukkan Kiki ke dalam pabrik, tugasnya adalah mengambil daun pepaya dan daun singkong dari kebun mereka ke pabrik untuk kemudian dibuat menjadi keripik daun singkong dan keripik daun papaya. Ya, sekarang pabrik keruupuk itu memiliki divisi baru, divisi keripik, baru kecil – kecilan, tetapi lumayan untuk menaikkan uang makan bagi para pegawai. Keripik dedaunan itu sudah dipasarkan oleh tetangga – tetangganya yang sering berjualan di halaman sekolah, respon anak – anak SD cukup baik dengan jenis makanan baru di desa mereka itu.
Sumi sangat bersyukur dengan keadaan mereka sekarang, Sumi tak lagi khawatir dengan kehidupan mereka mendatang. Sumi tak lagi memilki tanggungan yang berat, hidupnya kini terasa ringan. Ia seperti seekor burung yang terbang tanpa halang rintang, telah sampai ke langit yang tinggi yang tak lagi tergapai oleh pepohonan. Sayapnya pun  lebih mudah membentang, tak lagi sesulit dulu ketika tulang – tulangnya berbenturan karena menahan dingin pagi hari. Ternyata bekerja di balik bangku lebih memudahkan fisiknya yang sudah tua. Selama ini ia terus ngeyel dengan paksaan Kiki untuk melepaskan usaha yang ditekuni sejak sang suami meninggal, jika bukan karena alternatif baru yang diciptakan Kiki untuk mengolah dedaunan kebunnya, ia tak akan mungkin mau berhenti berjualan di pasar. Ia kini sadar, sebuah kesalahan besar jika ia tak mempercayai anaknya. Kini, esok, dan seterusnya, Kiki adalah andalannya, gadis yang paling ia percaya di dunia ini.
Petang menjelang, Kiki memboncengkan Sumi dengan sepeda motor barunya yang ia beli dengan kredit. Meskipun harus kredit, tapi dalam keadaan ini sepeda motor adalah prioritas, seorang pemimpin perusahaan – meskipun hanya pabrik kerupuk kecil -  tetap butuh mobile. Lelah juga jika dia harus mengayuh sepedanya, terlebih lagi ia harus menghadapi tanjakan tajam yang jalannya berbatu, rasanya nafas tinggal separuh jalan. Dengan kecepatan rendah, mereka kembali menuju rumah mereka yang beberapa bulan yang lalu baru saja direnovasi. Motor Kiki memasuki halaman kecil yang hanya cukup untu parkir 5 buah sepeda motor. Sang ibu turun dari motor dan membuka kunci pintu, pintu itu berat untuk dibuka, sejak diperbaiki, pintu itu justru jadi macet, entah kenapa. Kiki masih berada di atas motor dan tidak mematikan mesin motornya, “Bu, pamit ya, asslamualaikum”, ujar Kiki.

“Wa’alaikumsalam. Ndak malem – malem ya nduk pulangnya, salam buat Bondan”, dari balik pintu Sang Ibu menyahut.

“Iya bu”, Kiki memacu motornya, ia menuju rumah Bondan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Senja telah datang, sungguh jarang ibunya member iizin Kiki untuk keluar malam menuju kota. Jika bukan bersama Bondan, pasti ibunya tidak mengizinkan. Entah kenapa ibunya snagat percaya kepada Bodan, apapun yang Bondan katakan, ibunya seperti kena santet. Dan terlihat jelas bahwa Sang Ibu telah high expectation terhadap hubungan Kiki dan Bondan.
Tidak sampai 5 menit, Kiki sudah sampai di depan rumah Bondan, Bondan sudah menunggu di depan rumahnya,”Ayo Ki langsung aja”, Bondan memacu motornya ke arah selatan, menuju kota. Kiki mengikutinya tanpa bersuara. Kiki tak pernah pergi ke kota di malam hari, malam ini adalah malam yang spesial dan pastinya menyenangkan. Kesempatan yang langka. Terlebih lagi dia akan bertemu dengan teman baru, Rudi, teman kuliah Bondan, mereka akan membuat cake mocaf bersama. Dalam hati, ada kebanggaan tersendiri yang menyelinap, Kiki kini telah bergaul dengan para wirausahawan lulusan universitas. Sedikit minder, tapi prestasinya di pabrik yang terus menerus dipuji oleh Bondan dan Pakdhe Jarwo, telah cukup untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Kiki dengar Rudi akan membuka usaha cake mocaf, hebat sekali Rudi itu, anak orang kaya namun mandiri. Padahal Rudi telah memimpin restoran besar milik ayahnya, yang artinya di mata Kiki, Rudi telah mapan semapan – mapannya. Kiki tak juga mengerti hal apa yang membuat Rudi ingin memulai usaha dari nol.
Halaman luas, taman bunga lengkap dengan air mancur berjejalan dengan tertib di sudut halaman. Di seberangnya terdapat jalan setapak menuju pintu yang terbuat dari kayu jati, terlihat sangat tebal, elegan, cantik, teduh. Siapapun yang melihat halaman rumah itu, pasti akan membayangkan bagian dalam rumah dengan sempurna. Keindahan istana yang sempurna. Pintu terbuka, cahaya yang sangat terang memancar keluar, cahaya yang berasal dari lampu hias yang mengagantung tinggi di langit - langit yang bersih. Cat putih dan  bebatuan pualam yang banyak tertempel di dinding memberikan kesan sangat menawan dan mewah. Sesosok tinggi kurus tampan, dengan rambut sedikit ikal, melemparkan senyum pangeran charming kepada Kiki dan Bondan. Tangan yang memegang handle pintu terlihat sangat halus dan tertata dalam setiap design jemarinya. Kaos oblong merah dengan celana pendek yang menempel sekenannya tidak menutup kesan sempurna dari dirinya. Bahkan Bondan yang memakai kaos berkerah dengan celana jeans pun kalah dibanding sosok itu. Wajahnya bersih dengan kacamata yang menutupi mata bulat tegas dan alis tebal.
Kiki dan Bondan memasuki ruangan yang sepertinya difungsikan sebagai ruang tamu, luas, cantik, tertata, tanpa debu, semua sempurna. Kiki menghenyakkan diri di sofa yang sangat empuk, kulit sofa terbuat dari rajutan benang berwarna emas dengan sedikit bordir 4 dimensi di bagian sandaran.

“Kiki ya?”, Sosok itu mengarahkan pandangan pada Kiki. Kiki hanya sanggup mengangguk, tak lepas ia mengagumi kesempurnaan yang rasanya terlalu berlebihan baginya. Gadis desa yang hanya sering keluar masuk rumah orang – orang desa. Gadis desa yang hanya mampu melihat pemuda – pemuda desa yang lusuh, berkeringat, dan tak punya sinar yang dipancarkan oleh sosok charming di depannya itu. “Saya Rudi”, sosok itu membuka mulutnya lagi dengan lihai namun berhati – hati.

“Iya Rud, Kiki sering buat cake mocaf sama ibuku, dia udah pinter banget bikinnya”, Bondan menimpali.

“Wah sip banget, ayo langsung ke dapur, ada cemilan sama minuman juga udah gue siapin di dapur”, Rudi berdiri sambil memberi isyarat untuk mengikutinya.
Kiki dan Bondan beranjak dari sofa empuk mereka, mengikuti lenggangan kaki Rudi menuju sebuah tempat yang ia sebut dapur. Langkah mereka terhenti di sebah ruangan dengan beberapa perabot masak tertata dengan anggun, dinding dan meja porselin yang bersih dan megkilap, seperti yang biasa ia lihat di TV yang baru dibelinya beberapa bulan lalu sebelum perbaikan rumah. Ini dapur? Hati Kiki berdecak kagum, setahunya dapur adalah tempat yang paling kotor dan jorok setelah kamar mandi, bukan ruang secantik ini. di meja porselin yang lebih luas, Kiki melihat Rudi berdiri di depan peralatan yang bagus dan bahan baku cake  yang telah tertata dengan rapi.

“Jadi gimana Ki?”, Rudi melempar pandangan pada Kiki. Kiki beranjak dari tempatnya terkagum – kagum. Dengan lihai tanpa bicara Kiki memasukkan bahan – bahan dan memainkan mixer, Rudi berusaha mengambil alih, ”Kamu ajarin saya dong Ki, jangan dikerjain sendiri, hahahahaha”, kata Rudi.

“Oh iya mas, maaf, ini”, sambil tersenyum diserahkannya mixer itu pada Rudi, “setelah ini minyak dan susu cairnya dimasukkan”. Rudi terus menarikan jemarinya di antara semua bahan dan adonan itu, di bawah instruksi Kiki semua terasa lebih mudah. Bondan membantu mereka berdua sekenanya, hanya sekenanya, ada sesuatu yang sepertinya salah baginya. Ia tak ikut andil banyak dalam kegiatan malam ini, yah memang begitulah seharusnya, pikirnya. Rudi dan Kiki bekerja sambil berbincang renyah, dari mulai perbincangan yang berhubungan dengan adonan yang mereka kerjakan hingga obrolan tidak penting. Obrolan yang tak pernah Bondan berani bicarakan pada Kiki. suasana di antara keduanya menghangat, keakraban yang perlahan tapi pasti, seperti jet coaster yang sedang meniti rel lajunya, pelan – pelan dan nantinya akan berlari kencang menciptakan sebuah teriakan yang meledakkan jantung. Gadis desa yang cantik dan pemuda kota yang tampan, semangat yang sama – sama membara, kecintaan pada wirausaha, cocok. Kenyataan yang entah kenapa tidak terlalu menyenangkan bagi Bondan.

“Udah mas, ini tinggal dioven aja”, logat Kiki mulai menyesuaikan dengan logat santai Rudi.

“Woooke”, Rudi menuang adonan ke dalam loyang berbentuk hati, membuka pintu oven dengan tangan berlapis kain lalu memasukkannya ke dalam oven listrik yang sudah ia panaskan. Bondan hanya menyaksikan, satu jam menjadi figuran bukan sebuah hal yang dapat dinikmati, seperti mengunyah permen karet yang sudah tinggal sepah saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar