BIANGLALA
Sore memendarkan
cahaya, dan aku berjingkat menuju tempat sepedaku terparkir. Siang tadi adalah
pertama kalinya aku mencoba masuk ke Dogo Onsen, tempat pemandian air panas di
Matsuyama. Alhasil, aku canggung dan sangat risih berada di dalam sana, pemandangannya…
hemmm… terlalu sedap, sampai aku tak
mampu melihatnya. Tubuh – tubuh yang tak terbalut seutas benang pun, berjalan
bugil dengan santai, tanpa saling memedulikan. Pastinya bagi mereka itu biasa
saja, justru aku yang berpakaian lengkap ini yang jadi perhatian. Terang saja,
aneh sekali berendam air panas dengan pakaian renang lengkap seperti sedang
berenang di kolam renang muslim di Indonesia. Tapi mungkin ada pemakluman
mereka terhadap pakaianku ini, wajar orang Indonesia, mungkin itulah batin
mereka.
Memang kesengajaanku
memilih tempat berlibur akhir pekan di Dogo Onsen, lantaran penasaran. Tapi
setelah tahu begini, aku tak akan datang lagi. Rasa penasaranku memang selalu
tak bisa dibendung, sampai aku kewalahan
dibuatnya. Aku selalu penasaran dengan banyak hal. Banyak kejadian bodoh yang
aku alami gara – gara rasa penasaran yang selalu mendera hidupku tak henti –
henti.
Pernah suatu ketika,
aku berjalan – jalan di Toko Buku Junkudo, aku naik ke lantai tiga, dari
kejauhan aku melihat seorang lelaki kecil gemuk, duduk mojok. Jongkok seperti
orang nongkrong di WC – WC Indonesia, tangannya memegang sebuah buku, matanya
yang berkacamata super tebal membelalak memandangi halaman – halaman buku itu.
Jarak matanya dan buku itu sangat dekat, seolah ia sedang berusaha memasukkan
kepala ke dalam buku itu.
Tapi yang menarik
adalah raut mukanya. Alisnya berkerut, mulutnya manyun, sesekali ia memicingkan
mata, lalu membelalak lagi, menghayati sekali. Kemudian, entah bagaimana awalnya
dan entah kapan aku memulai langkah pertamaku, tapi tiba – tiba aku sudah
berada tepat di belakang lelaki kecil itu, membungkuk dari belakang
punggungnya. Menyodorkan kepalaku untuk melihat lebih dekat buku yang dipegang
si bocah. Menyelami halaman yang dibacanya. Komik. Komik perang – perang nggak jelas. Ya ampun, cuma cerita
begituan dan mukanya seperti sedang membaca trigonometri.
Lelaki kecil
mendongakkan kepalanya ke atas, matanya tepat bertemu dengan mataku. Ekspresi
wajahnya sudah berubah, ekspresi semi kaget, semi penuh tanya, dan heran
setengah mati. Aku terhentak, aku langsung berdiri tegak, menyadari kelakuanku bodohku.
“Gomenasai! Gomenasai!”, maaf maaf,
ujarku seraya lari ngeloyor pergi dan masuk lift.
Ah malunya, aku yakin lelaki kecil itu melihatku lari dengan ekspresi mencibir,
orang Indonesia bodoh. Ah sudahlah,
yang penting seumur hidup aku tak mungkin bertemu dengannya lagi. Dan sudah
sekitar setahun sejak kejadian itu, aku memang tak pernah bertemu dengan dia.
Aku mencemplungkan
200 Yen ke dalam funding machine area
parkir Dogo. Dua kali lipat harga awal, karena aku telah melewati batas jam
parkir pertama. Kutarik sepedaku dari tempatnya terkunci. Lalu bergegas ke terminal
bus dan melanjutkan liburan akhir pekanku di Ikata Town. Akhir pekan ini aku
sedang tidak ada jadwal kerja part time,
aku telah berjanji kepada Ayumi sahabatku untuk menginap di rumahnya di Ikata
Town.
***
Di kota tempat Ayumi
tinggal, ada sebuah bianglala yang sangat tinggi. Pertama kali datang ke kota
ini, hal pertama yang menarik perhatianku adalah bianglala itu. ia menjulang
dan paling terlihat di antara bangunan tinggi lainnya, karena bangunan tinggi lainnya
hanya kotak, sedang ia bundar, berputar, berwarna, cantik tak terkira. Dan jika
malam datang, ia memamerkan lampu warna – warni yang membalut seluruh tubuhnya
yang terus berotasi.
Ayumi mengajakku mengunjungi
bianglala itu, aku girang luar biasa. Bukan hanya karena bisa naik bianglala
yang tinggi, tapi karena bisa naik bianglala gratis. Biasa. Sindrom kere orang
Indonesia.
Aku dan Ayumi duduk
di kursi gantung dengan kerangkeng bercahaya ungu hijau biru dan berhias bunga
– bunga. Bianglala mulai berputar, pelan… aku mulai melihat lampu – lampu di
bawahku menjadi kecil. Bianglala semakin ke atas, wonderfull, bianglala ini begitu tingginya hingga aku bisa melihat
hampir seluruh kota dari puncak bianglala. Mobil – mobil berjalan seperti semut
berjajar, langit hitam bertabur bintang dan bulan sabit menghias dengan cantik.
Di kejauhan terlihat lampu berwarna – warni dari aneka gedung di kota ini. Aku
membalikkan badan, melemparkan pandangan ke sisi yang lain, siluet pegunungan
tergambar dengan jelas, berbatasan dengan langit yang kini menjadi terkesan
lebih abu – abu. luar biasa, sugoi1.
Aku tak mampu mengungkapkannya, ini terlalu indah.
Moment itu kunikmati
sekitar 10 menit dalam tiga kali putaran. Begitu bianglalaku sampai di bawah,
aku melompat turun dari kursi gantungku.
“Jangan melompat,
abunai2!” teriak Ayumi dengan logat bahasa campur – campurnya. Aku
memberikan peringisan iseng ke arahnya. Kugandeng tangan Ayumi, menuju tempat
mobil kami terparkir.
“Kamu tidak bisa
berjalan lurus ke depan kah?”, Ayumi melirikku.
“Ha?”, aku
menoleh,”Hahaha, mataku ini selalu penasaran Ayumi, jadi aku nggak bisa kalau
harus jalan kaki dengan mata fokus lurus ke depan”. Kami terkekeh.
Namun tawaku
terhenti, di depanku aku melihat sesuatu. Bulat, kecil, putih pucat. O-em-ji! Lelaki kecil gemuk dengan
kacamata supertebal, yang aku temui di Junkudo setahun yang lalu. Mati aku, aku
tidak siap malu kali ini. aku mengalihkan pandangan, untuk pertama kalinya aku
memandang fokus ke depan. Tapi bocah itu melihat ke arahku, kami berpapasan,
dan tolehan kepalanya terus ke arahku. Aduh,
masa dia masih ingat aku sih!
Setelah kami sampai
di mobil, dari jauh aku melihat ke arah bianglala, lelaki kecil ternyata naik
bianglala. Ia masuk di kursi bianglala yang kerangkengnya bersinar merah. Kursi
dengan kerangkeng merah itu cantik sekali. Sosok si lelaki kecil terlihat
sangat jelas, karena penglihatanku memang tajam. Entah hanya perasaanku saja,
tapi sepertinya lelaki kecil itu masih melihatku. Rasanya ingin kubuang mukaku
ke tempat sampah.
***
Keesokan malamnya aku
pergi ke bianglala lagi, kali ini sendirian. Aku ketagihan. Aku menyiapkan 250
yen untuk naik ke bianglala dengan menduduki kursi berkerangkeng merah yang
kemarin malam diduduki lelaki kecil itu, pasti sensasinya lebih luar biasa,
karena sepenglihatanku kerangkeng itulah yang paling indah.
“Moushiwakearimasenga, wareware wa dai go no zaseki o
hanbai shite inai” petugas bianglala mengatakan padaku bahwa
kursi nomor 15 – yang berkerangkeng merah itu- tidak disewakan.
“Nani? Hontouni? Nazedesu ka? Watashi ga tanomu ... Watashi wa
noritai ”, Apa? Benarkah? Kenapa? Aku mohon…aku ingin menaikinya, aku berusaha
membujuknya.
“Dekinai! Gomenasai!”, Tidak bisa!
Maaf!, ia masih berkeras. Tapi aku tak menyerah, mati – matian aku berusaha
membujuknya. Dia juga tak menyerah untuk melawan keinginanaku.
Setelah
kami berdebat selama 15 menit, seperti yang kuduga, petugas itu mengalah
padaku. Aku memang tidak akan bisa dilawan. Semakin dilarang, semakin
penasaran.
“Atode sore o sukide wanai baai wa, watashitachi o
semenaide kudasai!”, Jika
nanti anda tidak suka, jangan salahkan kami!, petugas itu memperingatkanku.
Aku tak memedulikannya.
Sang
petugas membukakan pintu kerangkeng itu untukku. Pintu terbuka dan aku
terhenyak, lelaki kecil itu telah duduk di dalam sana. Aku tak tahu harus
bagaimana, sudah kepalang tanggung. Aku memasuki kerangkeng itu, “sumimasen3”, ujarku pada
lelaki kecil sambil tersenyum ramah. Lelaki kecil hanya diam. Dia terus
melihatku.
Bianglala
mulai berputar, lelaki kecil itu aneh. Dia hanya diam sambil menatapku, mungkin
ia dendam dengan kejadian setahun yang lalu. Aku tak tahan dengan keadaan ini,
tak mungkin bisa aku menikmati suasana kalau begini caranya. Dengan canggung
aku bertanya, “Anata wa watashi o oboete
imasu ka?”,
Kamu ingat saya?
Lelaki
kecil hanya diam, melihatku tanpa ekspresi sama sekali. Apakah anak kecil di
Jepang memiliki kelakuan yang seperti itu? Jangan – jangan anak ini dendam
padaku. “Akiraka ni, anata wa watashi
o oboete ita. Sō, Gomen'nasai, Watashi wa… anata ga yonda hon ni tsuite dake kyoumi. Anata
wa totemo shinkoku ni mieru. Watashi wa gai o imi suru monode wa arimasen. Gomen’nasai!”, Pasti kamu ingat saya. Jadi, maaf. Saya…
hanya ingin tahu buku yang kamu baca. Kamu terlihat seiur sekali. Saya tidak
bermaksud jahat. Maaf!, Aku nyerocos panjang lebar, tetapi ia tidak
mempedulikanku.
Baiklah,
dia aneh. Dan aku memutuskan untuk menikmati pemandangan saja, kuanggap ia tak
ada. Putaran terakhir hampir tiba, tiba – tiba lelaki kecil berkata padaku, “Daijoubu4”,
ekspresinya masih sama. Tapi kali ini ia memalingkan wajahnya dan melihat
pemandangan.
Aku
tersenyum padanya, “Anata wa manga ga sukidesu
ka?”, Kamu suka komik ya?, aku membuka
obrolan. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku.
“Manga nani”, Komik apa?, aku melanjutkan.
“Sensou”, Ah sudah kuduga. Dia suka komik
perang.
Bianglala
telah selesai berputar, petugas membukakan pintu untuk kami, aku turun dengan
pelan, menjaga image-ku di depan
bocah aneh itu. Aku menoleh ke arahnya, dia bergeming “Anata ga daun shite ikanai?”, kutanya
ia apakah ia tidak ikut turun, lelaki kecil hanya menggeleng, mungkin ia telah
membayar dua kali lipat untuk berputar dua kali. “ok, ja matta5”,
aku melambai.
“Ja6”, ia menoleh ke arahku.
Wajahnya datar.
Aku
menoleh kepada petugas bianglala yang sedari tadi melihatku dengan tatapan
heran. “Arigatou gozaimasu”, ucapku berterimakasih
seraya membungkuk. Dan ia tak menjawab. Ada apa dengan semua orang hari ini.
Aku
tak peduli, aku duduk di sebuah bangku panjang yang penuh berhiaskan lampu.
Dari kejauhan, kulihat seorang gadis kecil dengan yukata7 yang lucu, menarik – narik lengan ibunya. Gadis
kecil itu menghampiriku, begitu juga dengan ibunya yang menghampiriku dengan
terpaksa. “Anata wa kare o mita?”, kau meliihatnya?, tanya gadis kecil
padaku.
“Nani?”, apa?, aku terheran – heran.
“Futotta shounen”, anak lelaki gemuk, gadis itu terlihat sangat antusias
“Ah, Karan-sha de?”, ah, di bianglala?
“Hai”, ya, si gadis mengangguk mantab.
“Hai”, ya, aku mengangguk sekenanya.
“Okāsan o sanshō shite kudasai! Watashi
wa uso o tsuite imasen yo! Shōnen wa karan-sha ni aru!”, Ibu lihat kan! Aku tidak bohong! Lelaki kecil itu ada di bianglala!, gadis
itu menarik – narik baju ibunya.
“Honki ka?”, kamu serius?, sang ibu menanyaiku dengan
ekspresi tak percaya.
“Nazedeshou ka?”, kenapa tidak?, tukasku yang mulai kesal dengan kelakuan aneh semua
orang. Dan aku semakin kesal ketika melihat sang ibu membawa gadis kecil itu
menyingkir dariku dengan ekspresi ketakutan.
Aku mengalihkan pandagan
dari mereka, mencoba tidak memedulikan. Kuambil sebuah koran dari tasku, Koran
yang telah kugunting enam bulan yang lalu, karena di dalamnya memuat denah
wisata Ikata Town. Kubuka lipatan koran itu, namun belum sempat kubuka total,
gerak tanganku terhenti. Aku melihat foto lelaki kecil gemuk di koran itu,
lengkap dnegan kacamata super tebalnya, kuperhatikan lagi dengan seksama. Ya,
mirip sekali, memang dia. Lalu aku membaca tulisan kanji di sebelah foto lelaki
kecil itu. kueja semampuku, kalau tidak salah, tulisan itu berbunyi : GAGAL
MENDAPATKAN KOMIK FAVORIT, SISWA SEKOLAH DASAR BUNUH DIRI MELOMPAT DARI
BIANGLALA.
1 sugoi : mengagumkan
2
abunai : berbahaya
3sumimasen : permisi
4Daijoubu :
tidak apa - apa
5 ja matta :
sampai jumpa
6Ja :
sampai jumpa
7yukata
: pakaian tradisional musim panas (Jepang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar