Sabtu, 22 Juni 2013

BIANGLALA

BIANGLALA

Sore memendarkan cahaya, dan aku berjingkat menuju tempat sepedaku terparkir. Siang tadi adalah pertama kalinya aku mencoba masuk ke Dogo Onsen, tempat pemandian air panas di Matsuyama. Alhasil, aku canggung dan sangat risih berada di dalam sana, pemandangannya… hemmm… terlalu sedap, sampai aku tak mampu melihatnya. Tubuh – tubuh yang tak terbalut seutas benang pun, berjalan bugil dengan santai, tanpa saling memedulikan. Pastinya bagi mereka itu biasa saja, justru aku yang berpakaian lengkap ini yang jadi perhatian. Terang saja, aneh sekali berendam air panas dengan pakaian renang lengkap seperti sedang berenang di kolam renang muslim di Indonesia. Tapi mungkin ada pemakluman mereka terhadap pakaianku ini, wajar orang Indonesia, mungkin itulah batin mereka.
Memang kesengajaanku memilih tempat berlibur akhir pekan di Dogo Onsen, lantaran penasaran. Tapi setelah tahu begini, aku tak akan datang lagi. Rasa penasaranku memang selalu tak bisa dibendung, sampai aku kewalahan dibuatnya. Aku selalu penasaran dengan banyak hal. Banyak kejadian bodoh yang aku alami gara – gara rasa penasaran yang selalu mendera hidupku tak henti – henti.
Pernah suatu ketika, aku berjalan – jalan di Toko Buku Junkudo, aku naik ke lantai tiga, dari kejauhan aku melihat seorang lelaki kecil gemuk, duduk mojok. Jongkok seperti orang nongkrong di WC – WC Indonesia, tangannya memegang sebuah buku, matanya yang berkacamata super tebal membelalak memandangi halaman – halaman buku itu. Jarak matanya dan buku itu sangat dekat, seolah ia sedang berusaha memasukkan kepala ke dalam buku itu.
Tapi yang menarik adalah raut mukanya. Alisnya berkerut, mulutnya manyun, sesekali ia memicingkan mata, lalu membelalak lagi, menghayati sekali. Kemudian, entah bagaimana awalnya dan entah kapan aku memulai langkah pertamaku, tapi tiba – tiba aku sudah berada tepat di belakang lelaki kecil itu, membungkuk dari belakang punggungnya. Menyodorkan kepalaku untuk melihat lebih dekat buku yang dipegang si bocah. Menyelami halaman yang dibacanya. Komik. Komik perang – perang nggak jelas. Ya ampun, cuma cerita begituan dan mukanya seperti sedang membaca trigonometri.
Lelaki kecil mendongakkan kepalanya ke atas, matanya tepat bertemu dengan mataku. Ekspresi wajahnya sudah berubah, ekspresi semi kaget, semi penuh tanya, dan heran setengah mati. Aku terhentak, aku langsung berdiri tegak, menyadari kelakuanku bodohku. “Gomenasai! Gomenasai!”, maaf maaf, ujarku seraya lari ngeloyor pergi dan masuk lift. Ah malunya, aku yakin lelaki kecil itu melihatku lari dengan ekspresi mencibir, orang Indonesia bodoh. Ah sudahlah, yang penting seumur hidup aku tak mungkin bertemu dengannya lagi. Dan sudah sekitar setahun sejak kejadian itu, aku memang tak pernah bertemu dengan dia.
Aku mencemplungkan 200 Yen ke dalam funding machine area parkir Dogo. Dua kali lipat harga awal, karena aku telah melewati batas jam parkir pertama. Kutarik sepedaku dari tempatnya terkunci. Lalu bergegas ke terminal bus dan melanjutkan liburan akhir pekanku di Ikata Town. Akhir pekan ini aku sedang tidak ada jadwal kerja part time, aku telah berjanji kepada Ayumi sahabatku untuk menginap di rumahnya di Ikata Town.
***
Di kota tempat Ayumi tinggal, ada sebuah bianglala yang sangat tinggi. Pertama kali datang ke kota ini, hal pertama yang menarik perhatianku adalah bianglala itu. ia menjulang dan paling terlihat di antara bangunan tinggi lainnya, karena bangunan tinggi lainnya hanya kotak, sedang ia bundar, berputar, berwarna, cantik tak terkira. Dan jika malam datang, ia memamerkan lampu warna – warni yang membalut seluruh tubuhnya yang terus berotasi.
Ayumi mengajakku mengunjungi bianglala itu, aku girang luar biasa. Bukan hanya karena bisa naik bianglala yang tinggi, tapi karena bisa naik bianglala gratis. Biasa. Sindrom kere orang Indonesia.
Aku dan Ayumi duduk di kursi gantung dengan kerangkeng bercahaya ungu hijau biru dan berhias bunga – bunga. Bianglala mulai berputar, pelan… aku mulai melihat lampu – lampu di bawahku menjadi kecil. Bianglala semakin ke atas, wonderfull, bianglala ini begitu tingginya hingga aku bisa melihat hampir seluruh kota dari puncak bianglala. Mobil – mobil berjalan seperti semut berjajar, langit hitam bertabur bintang dan bulan sabit menghias dengan cantik. Di kejauhan terlihat lampu berwarna – warni dari aneka gedung di kota ini. Aku membalikkan badan, melemparkan pandangan ke sisi yang lain, siluet pegunungan tergambar dengan jelas, berbatasan dengan langit yang kini menjadi terkesan lebih abu – abu. luar biasa, sugoi1. Aku tak mampu mengungkapkannya, ini terlalu indah.
Moment itu kunikmati sekitar 10 menit dalam tiga kali putaran. Begitu bianglalaku sampai di bawah, aku melompat turun dari kursi gantungku.
“Jangan melompat, abunai2!” teriak Ayumi dengan logat bahasa campur – campurnya. Aku memberikan peringisan iseng ke arahnya. Kugandeng tangan Ayumi, menuju tempat mobil kami terparkir.
“Kamu tidak bisa berjalan lurus ke depan kah?”, Ayumi melirikku.
“Ha?”, aku menoleh,”Hahaha, mataku ini selalu penasaran Ayumi, jadi aku nggak bisa kalau harus jalan kaki dengan mata fokus lurus ke depan”. Kami terkekeh.
Namun tawaku terhenti, di depanku aku melihat sesuatu. Bulat, kecil, putih pucat. O-em-ji! Lelaki kecil gemuk dengan kacamata supertebal, yang aku temui di Junkudo setahun yang lalu. Mati aku, aku tidak siap malu kali ini. aku mengalihkan pandangan, untuk pertama kalinya aku memandang fokus ke depan. Tapi bocah itu melihat ke arahku, kami berpapasan, dan tolehan kepalanya terus ke arahku. Aduh, masa dia masih ingat aku sih!
Setelah kami sampai di mobil, dari jauh aku melihat ke arah bianglala, lelaki kecil ternyata naik bianglala. Ia masuk di kursi bianglala yang kerangkengnya bersinar merah. Kursi dengan kerangkeng merah itu cantik sekali. Sosok si lelaki kecil terlihat sangat jelas, karena penglihatanku memang tajam. Entah hanya perasaanku saja, tapi sepertinya lelaki kecil itu masih melihatku. Rasanya ingin kubuang mukaku ke tempat sampah.
***
Keesokan malamnya aku pergi ke bianglala lagi, kali ini sendirian. Aku ketagihan. Aku menyiapkan 250 yen untuk naik ke bianglala dengan menduduki kursi berkerangkeng merah yang kemarin malam diduduki lelaki kecil itu, pasti sensasinya lebih luar biasa, karena sepenglihatanku kerangkeng itulah yang paling indah.
Moushiwakearimasenga, wareware wa dai go no zaseki o hanbai shite inai” petugas bianglala mengatakan padaku bahwa kursi nomor 15 – yang berkerangkeng merah itu- tidak disewakan.
Nani? Hontouni? Nazedesu ka? Watashi ga tanomu ... Watashi wa noritai, Apa? Benarkah? Kenapa? Aku mohon…aku ingin menaikinya, aku berusaha membujuknya.
Dekinai! Gomenasai!”, Tidak bisa! Maaf!, ia masih berkeras. Tapi aku tak menyerah, mati – matian aku berusaha membujuknya. Dia juga tak menyerah untuk melawan keinginanaku.
Setelah kami berdebat selama 15 menit, seperti yang kuduga, petugas itu mengalah padaku. Aku memang tidak akan bisa dilawan. Semakin dilarang, semakin penasaran.
Atode sore o sukide wanai baai wa, watashitachi o semenaide kudasai!”, Jika nanti anda tidak suka, jangan salahkan kami!, petugas itu memperingatkanku. Aku tak memedulikannya.
Sang petugas membukakan pintu kerangkeng itu untukku. Pintu terbuka dan aku terhenyak, lelaki kecil itu telah duduk di dalam sana. Aku tak tahu harus bagaimana, sudah kepalang tanggung. Aku memasuki kerangkeng itu, “sumimasen3”, ujarku pada lelaki kecil sambil tersenyum ramah. Lelaki kecil hanya diam. Dia terus melihatku.
Bianglala mulai berputar, lelaki kecil itu aneh. Dia hanya diam sambil menatapku, mungkin ia dendam dengan kejadian setahun yang lalu. Aku tak tahan dengan keadaan ini, tak mungkin bisa aku menikmati suasana kalau begini caranya. Dengan canggung aku bertanya, “Anata wa watashi o oboete imasu ka?”, Kamu ingat saya?
Lelaki kecil hanya diam, melihatku tanpa ekspresi sama sekali. Apakah anak kecil di Jepang memiliki kelakuan yang seperti itu? Jangan – jangan anak ini dendam padaku. “Akiraka ni, anata wa watashi o oboete ita. , Gomen'nasai, Watashi waanata ga yonda hon ni tsuite dake kyoumi. Anata wa totemo shinkoku ni mieru. Watashi wa gai o imi suru monode wa arimasen. Gomen’nasai!”, Pasti kamu ingat saya. Jadi, maaf. Saya… hanya ingin tahu buku yang kamu baca. Kamu terlihat seiur sekali. Saya tidak bermaksud jahat. Maaf!, Aku nyerocos panjang lebar, tetapi ia tidak mempedulikanku.
Baiklah, dia aneh. Dan aku memutuskan untuk menikmati pemandangan saja, kuanggap ia tak ada. Putaran terakhir hampir tiba, tiba – tiba lelaki kecil berkata padaku, “Daijoubu4”, ekspresinya masih sama. Tapi kali ini ia memalingkan wajahnya dan melihat pemandangan.
Aku tersenyum padanya, “Anata wa manga ga sukidesu ka?”, Kamu suka komik ya?, aku membuka obrolan. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku.
“Manga nani”, Komik apa?,  aku melanjutkan.
Sensou”, Ah sudah kuduga. Dia suka komik perang.
Bianglala telah selesai berputar, petugas membukakan pintu untuk kami, aku turun dengan pelan, menjaga image-ku di depan bocah aneh itu. Aku menoleh ke arahnya, dia bergeming “Anata ga daun shite ikanai?”, kutanya ia apakah ia tidak ikut turun, lelaki kecil hanya menggeleng, mungkin ia telah membayar dua kali lipat untuk berputar dua kali. “ok, ja matta5”, aku melambai.
Ja6”, ia menoleh ke arahku. Wajahnya datar.
Aku menoleh kepada petugas bianglala yang sedari tadi melihatku dengan tatapan heran. “Arigatou gozaimasu”, ucapku berterimakasih seraya membungkuk. Dan ia tak menjawab. Ada apa dengan semua orang hari ini.
Aku tak peduli, aku duduk di sebuah bangku panjang yang penuh berhiaskan lampu. Dari kejauhan, kulihat seorang gadis kecil dengan yukata7 yang lucu, menarik – narik lengan ibunya. Gadis kecil itu menghampiriku, begitu juga dengan ibunya yang menghampiriku dengan terpaksa. “Anata wa kare o mita?”, kau meliihatnya?, tanya gadis kecil padaku.
Nani?”, apa?, aku terheran – heran.
Futotta shounen”, anak lelaki gemuk, gadis itu terlihat sangat antusias
Ah, Karan-sha de?”, ah, di bianglala?
Hai”, ya, si gadis mengangguk mantab.
Hai”, ya, aku mengangguk sekenanya.
Okāsan o sanshō shite kudasai! Watashi wa uso o tsuite imasen yo! Shōnen wa karan-sha ni aru!”, Ibu lihat kan! Aku tidak bohong! Lelaki kecil itu ada di bianglala!, gadis itu menarik – narik baju ibunya.
Honki ka?”, kamu serius?, sang ibu menanyaiku dengan ekspresi tak percaya.
Nazedeshou ka?”, kenapa tidak?, tukasku yang mulai kesal dengan kelakuan aneh semua orang. Dan aku semakin kesal ketika melihat sang ibu membawa gadis kecil itu menyingkir dariku dengan ekspresi ketakutan.
Aku mengalihkan pandagan dari mereka, mencoba tidak memedulikan. Kuambil sebuah koran dari tasku, Koran yang telah kugunting enam bulan yang lalu, karena di dalamnya memuat denah wisata Ikata Town. Kubuka lipatan koran itu, namun belum sempat kubuka total, gerak tanganku terhenti. Aku melihat foto lelaki kecil gemuk di koran itu, lengkap dnegan kacamata super tebalnya, kuperhatikan lagi dengan seksama. Ya, mirip sekali, memang dia. Lalu aku membaca tulisan kanji di sebelah foto lelaki kecil itu. kueja semampuku, kalau tidak salah, tulisan itu berbunyi : GAGAL MENDAPATKAN KOMIK FAVORIT, SISWA SEKOLAH DASAR BUNUH DIRI MELOMPAT DARI BIANGLALA.


1 sugoi : mengagumkan
2 abunai : berbahaya
3sumimasen : permisi
4Daijoubu : tidak apa - apa
5 ja matta : sampai jumpa
6Ja : sampai jumpa
7yukata : pakaian tradisional musim panas (Jepang)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar