Minggu, 09 Juni 2013

Ruang Berterali (part 5)

Malam ini malam jumat, Bondan sebenarnya enggan pergi meninggalkan rumah malam – malam begini, tapi Bondan tidak enak dan kasihan juga pada Pakdhe Jarwo jika harus pergi sendirian. Lima hari yang lalu, Pakdhe Jarwo dan Kiki berkunjung ke rumahnya, mereka berbincang sangat lama, membicarakan mengenai potensi pengembangan mocaf untuk digunakan sebagai bahan baku bagi macam – macam makanan, serta tak lupa membicarakan tentang peluang bisnis dengan Kiki dan Pakdhe Jarwo. Pakdhe Jarwo berencana untuk secara kontinyu meminta pasokan mocaf dari Bondan, sedangkan Kiki berencana untuk memasok beberapa singkong untuk bahan baku mocaf. Bahkan mereka bertiga sempat membuat cake dari mocaf bersama dengan Bu Sosro. Bondan senang melihat Kiki yang sangat cepat belajar, sejak hari itu Kiki suka datang menemui Bu Sosro untuk membuat cake meskipun sebenarnya Bu sosro tidak sedang ingin membuat cake.
Dan sejak hari itu pula, Bondan dihantui rasa khawatir, karena pada saat itu Pakdhe Jarwo juga bercerita mengenai kejadian aneh di pabrik kerupuk milik Kiki, pintu yang bergerak sendiri, dan bahan baku yang sepertinya telah dicuri. Awalnya Bondan berpikir itu adalah maling, tetapi Pakdhe Jarwo menanyakan pada Bondan mengenai ada atau tidaknya kemungkinan tuyul atau semacamnya di pabrik. Bondan yang awalnya berpikir rasional mulai tersugesti dengan pernyataan mistis itu. Seusai Sholat maghrib berbekal senter, tasbih, dan sarung, Bondan menuju rumah Pakdhe Jarwo. Dari rumah Pakdhe Jarwo, mereka bersama menuju Pabrik, untuk meronda.
Pabrik begitu gelap, daerah itu memang daerah yang sepi penduduk, sehingga tak ada penerangan sama sekali, untungnya malam itu langit cerah berbintang dan bulan bersinar terang meskipun hanya separuh. Pakdhe Jarwo melarang Bondan menyalakan senternya, Bondan agak merinding, dia terus memegang sarung yang dikalungkan Pakdhe Jarwo di sebelah bahunya, tanpa diketahui Pakdhe Jarwo tentunya. Sesampai di area belakang pabrik, mereka berhenti di bawah pohon besar yang di sekitarnya terdapat semak belukar rimbun, tempat itulah yang menjadi beteng pengintaian mereka. Pakdhe Jarwo sengaja memilih pengintaian di area belakang pabrik karena area tersebut lebih gelap, dan kejadian yang dialami Kiki beberapa minggu yang lalu juga dicurigai terjadi di area belakang pabrik.
Bondan dan Pakdhe Jarwo tak berkomunikasi sepatah kata pun, mereka hanya berkomunikasi dengan bahasa tubuh, Pakdhe Jarwo malas bersuara, sedangkan Bondan takut bersuara. Saking heningnya suasana itu, Bondan tertidur dan tanpa ia sadari ia membiarkan Pakdhe Jarwo terjaga sendirian, begitu terbangun jam tangan Bondan menunjukkan pukul 4 pagi dan beberapa lama kemudian sayup adzan subuh mulai terdengar. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. “Maaf ya Pakdhe, saya ngantuk sekali”, kata Bondan setelah sampai di tempat yang terang.

Ndak apa – apa”, Pakdhe jarwo menepuk pundak Bondan, “Nanti malam lagi ya Ndan, tadi malam ndak ada apa – apa”.

Bondan terperanjat, “Kalau ndak ada apa – apa berarti mungkin memang ndak ada apa – apa pakdhe, hehe, bagaimana kalau kita cukupkan saja?”

“Tega kamu sama pakdhe?”, Pakdhe Jarwo yang sedari tadi melihat lurus ke depan mulai memalingkan wajah ke arah Bondan yang kemudian hanya bisa diam.

Bondan sangat salut pada Pakdhe Jarwo, setua itu semangatnya masih tinggi sekali, pantas saja usaha rumahan yang dirintisnya tidak pernah redup dan terus berkembang. Dan yang membuat Bondan senang, Pakdhe jarwo memiliki semangat untuk terus menajdi pribadi yang berkembang dan sangat mengharagai ilmu pengetahuan, sering sekali Pakdhe jarwo meminta Bondan untuk mengisahkan ilmu – ilmu yang didapatnya di bangku kuliah. Itulah sebabnya Bondan juga senang membantu Pakdhe Jarwo, meskipun harus merelakan kedinginan dan ketakutan di belakang pabrik kerupuk. Akhirnya selama beberapa malam Bondan menemani Pakdhe Jarwo untuk meronda di belakang pabrik. Berkat Pakdhe Jarwo, kini Bondan sudah mulai terbiasa dengan kondisi yang gelap dan agak mengerikan itu.
Sudah 3 malam berturut – turut mereka berjaga, kini Bondan lebih sering tidur di siang hari seusai mengawasi semua pekerjaan di industri mocaf. Untung saja dia bukan pekerja kantoran yang harus terikat jadwal kerja. Kini waktu adalah miliknya, bukan waktu yang mengaturnya, tetapi ia yang memerintah waktu untuk berjalan sesuai dengan perencanaannya. Namun, meskipun ia dapat mengatur waktu dan pekerjaannya dengan cukup baik, meronda setiap hari membuat ia jadi tak punya waktu untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Rudi, teman kampusnya. Bondan sudah berjanji pada Rudi untuk mempertemukan Rudi dengan Bu Sosro. Rudi ingin belajar membuat cake berbahan dasar tepung mocaf dari Bu Sosro. Bondan masih berusaha mengatur waktunya dengan baik, karena ia tak tahu kapan semangat Pakdhe Jarwo untuk menangkap tuyul, atau genderuwo, atau manusia, atau siluman, itu akan padam.
Malam keempat, langit sangat cerah dipenuhi bintang – bintang, cuaca yang sama dengan malam pertama mereka berjaga dibalik semak – semak itu. Biasanya seusai salat isya’ di masjid kampung, Pakdhe Jarwo dan Bondan langsung berangkat  berjaga, namun tidak seperti biasanya, malam ini mereka baru berangkat berjaga sekitar pukul 9 malam karena Pakdhe Jarwo harus mengantar Budhe Jarwo pergi ke kota membeli peralatan baru untuk membuat donat. Untuk pertama kalinya, Bondan melangkahkan kaki dengan lantang berada di garda terdepan, Pakdhe Jarwo mengikutinya dari belakang sambil tersenyum. Pakdhe Jarwo senang akhirnya si Bondan sudah tidak ketakutan lagi, mungkin karena sudah biasa. Mulai memasuki area persawahan yang jauh dari rumah penduduk, Bondan memelankan langkah lantangnya, pabrik sudah mulai terlihat dari jauh, dengan iseng Bondan mengarahkan lampu senter ke bangunan pabrik, seperti biasa pabrik tetap berdiri pada tempatnya. Bondan memimpin Pakdhe Jarwo menuju ke semak – semak yang sama. Bondan berjalan dengan santai sebelum tiba – tiba sarung yang ia kalungkan di leher ditarik dengan kencang oleh seseorang. Bondan jatuh terjerembab ke semak – semak. Bondan mencoba bangkit, matanya tertutup kain sarungnya sendiri, kakinya ditindih oleh badan seseorang yang sangat berat. Bondan berontak mencoba memukul badan itu namun tangannya terjepit, oleh karena itu tak ada pilihan lain lagi kecuali berteriak meskipun mungkin tak akan ada yang mendengarnya di situ. Bondan telah mengawali teriakannya, belum mulai keluar suara, sebuah tangan besar menutup mulut Bondan.
Bondan terus berontak, sesaat kemudian sebuah tangan mengacak – ngacak sarung yang menutupi mata dan tubuh Bondan. Jantung Bondan tak karuan, tangan itu mengincar mata Bondan.

“Pakdhe Jarwo??!!”, Bondan terperanjat semi berteriak melihat sosok itu. Sosok yang sedari tadi membekapnya, menindihnya, mengacak – acak sarungnya, menariknya dengan kasar ke semak – semak hingga terjerembab dengan sangat keras, adalah Pakdhe Jarwo. Batin Bondan menggelegak, ia bertanya – tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya ada di pikiran Pakdhe Jarwo. Apakah Pakdhe Jarwo membenci Bondan, atau apakah Pakdhe Jarwo adalah pemelihara tuyul yang mencuri bahan – bahan pabrik dan menginginkan Bondan sebagai tumbal, ia tak terlalu mengerti tentang dunia pertuyulan, apakah tuyul butuh tumbal, apakah badan tuyul yang kecil sanggup membawa berkarung – karung terigu dan gula.  Atau mungkin Pakdhe Jarwo memelihara genderuwo yang berbadan tinggi besar dan genderuwo minta tumbal seorang perjaka, kenapa perjaka? Bukankah seharusnya perawan? Atau era sudah berubah? Atau mungkin Pakdhe jarwo adalah bukan Pakdhe Jarwo? Apakah yang di depannya ini Pakdhe Jarwo jadi – jadian? Ya, pasti dia adalah Pakdhe Jarwo jadi – jadian, tak biasanya mereka berangkat berjaga pukul 9 malam, mungkin Pakdhe Jarwo yang asli telah diculik. Ini bukan lagi kasus pencurian, tapi juga penculikan. Bondan merasa terkurung oleh masalah ini, masalah yang bagaikan kotak dengan terali yang kuat, yang membuatnya bingung untuk menjawab segala keganjilan yang terjadi. Ada apa sebenarnya?
Dengan wajahnya yang serius tetapi tetap ramah, Pakdhe Jarwo menempelkan jari telunjuknya ke bibir, memberi isyarat Bondan untuk diam.  Bondan masih dengan wajah kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti Pakdhe Jarwo. Sesaat kemudian Pakdhe Jarwo mengangkat bahu Bondan, membantu Bondan untuk bangkit. Bondan terduduk dengan pose pemain sepak bola yang akan berfoto bersama. Pakdhe Jarwo tidak lagi memedulikan Bondan, ‘ini kesempatan yang baik untuk melarikan diri’, pikir Bondan. Sesaat ia berpikir untuk bangkit dan berlari, namun ia heran melihat Pakdhe Jarwo sudah tidak memedulikan keberadaannya lagi dan fokus mengintip dari semak – semak. Entah apa yang dilihat oleh Pakdhe Jarwo, Bondan memperhatikan lelaki tua ini sangat lama dari arah samping, dan Pakdhe Jarwo diam, tanpa suara, wajahnya serius, dan fokus. Bukan, bukan Pakdhe Jarwo jadi – jadian, tetapi Pakdhe Jarwo asli. “Pakdhe?”, semi berbisik Bondan memberanikan diri bersuara. Pakdhe Jarwo menengok ke arahnya dan lagi – lagi dengan jari telunjuk tertempel di bibir. Bondan terdiam, sesaat setelahnya Pakdhe Jarwo memberi isyarat pada Bondan untuk ikut mengintip ke arah pabrik. Bondan ragu, apakah ia akan melihat tuyul raksasa, atau kuntilanak, atau genderuwo, atau … gerobak. Gerobak? Pintu terbuka? Pintu barik terbuka dan sebuah gerobak kosong terparkir di tepi pintu! Gerobak itu tidak asing.

Kurang lebih 10 menit, tak ada gerakan, tak ada bunyi apapun kecuali jangkrik dan desah nafas Bondan dan Pakdhe Jarwo. Perlahan seberkas cahaya muncul dari dalam pabrik, cahaya lampu senter. Seorang lelaki muda bertubuh tinggi kurus, berkulit gelap segelap malam, keluar dengan menyeret karung goni besar, ia disinari oleh seberkas cahaya yang berasal dari dalam pabrik.  Ya, ada orang lain di dalam pabrik, tapi siapa. Karung goni yang diseretnya itu diangkat dan dilempar ke dalam gerobak dorong, cahaya lampu senter semakin mendekat keluar, sayangnya sosok yang dinantikan tak ikut keluar, hanya berhenti di balik pintu. Lelaki tinggi kurus itu masuk lagi ke dalam pabrik, tak lama kemudian ia keluar lagi bersama karung goni yang lain. Lelaki itu keluar masuk sebanyak tiga kali, setelah ia meletakkan karung goni terakhir di atas gerobaknya, akhirnya keluarlah sosok itu. Sosok itu tak terlalu tinggi, menggunakan celana pendek dan kaos ketat yang menunjukkan lekuk – lekuk tubuhnya, lekuk tubuh seorang wanita, ya dia adalah seorang wanita. Wanita itu menyorot senter ke arah wajah sang lelaki. “Sial! Ijan!”, Bondan mengumpat, Pakdhe Jarwo menyenggol tubuh Bondan dan memberi isyarat untuk diam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar