Malam ini malam jumat, Bondan sebenarnya enggan pergi
meninggalkan rumah malam – malam begini, tapi Bondan tidak enak dan kasihan
juga pada Pakdhe Jarwo jika harus pergi sendirian. Lima hari yang lalu, Pakdhe
Jarwo dan Kiki berkunjung ke rumahnya, mereka berbincang sangat lama,
membicarakan mengenai potensi pengembangan mocaf
untuk digunakan sebagai bahan baku bagi macam – macam makanan, serta tak lupa
membicarakan tentang peluang bisnis dengan Kiki dan Pakdhe Jarwo. Pakdhe Jarwo
berencana untuk secara kontinyu meminta pasokan mocaf dari Bondan, sedangkan Kiki berencana untuk memasok beberapa
singkong untuk bahan baku mocaf.
Bahkan mereka bertiga sempat membuat cake
dari mocaf bersama dengan Bu Sosro.
Bondan senang melihat Kiki yang sangat cepat belajar, sejak hari itu Kiki suka
datang menemui Bu Sosro untuk membuat cake
meskipun sebenarnya Bu sosro tidak sedang ingin membuat cake.
Dan sejak hari itu pula, Bondan dihantui rasa
khawatir, karena pada saat itu Pakdhe Jarwo juga bercerita mengenai kejadian
aneh di pabrik kerupuk milik Kiki, pintu yang bergerak sendiri, dan bahan baku
yang sepertinya telah dicuri. Awalnya Bondan berpikir itu adalah maling, tetapi
Pakdhe Jarwo menanyakan pada Bondan mengenai ada atau tidaknya kemungkinan
tuyul atau semacamnya di pabrik. Bondan yang awalnya berpikir rasional mulai
tersugesti dengan pernyataan mistis itu. Seusai Sholat maghrib berbekal senter,
tasbih, dan sarung, Bondan menuju rumah Pakdhe Jarwo. Dari rumah Pakdhe Jarwo,
mereka bersama menuju Pabrik, untuk meronda.
Pabrik begitu gelap, daerah itu memang daerah yang
sepi penduduk, sehingga tak ada penerangan sama sekali, untungnya malam itu
langit cerah berbintang dan bulan bersinar terang meskipun hanya separuh.
Pakdhe Jarwo melarang Bondan menyalakan senternya, Bondan agak merinding, dia
terus memegang sarung yang dikalungkan Pakdhe Jarwo di sebelah bahunya, tanpa
diketahui Pakdhe Jarwo tentunya. Sesampai di area belakang pabrik, mereka
berhenti di bawah pohon besar yang di sekitarnya terdapat semak belukar rimbun,
tempat itulah yang menjadi beteng pengintaian mereka. Pakdhe Jarwo sengaja
memilih pengintaian di area belakang pabrik karena area tersebut lebih gelap,
dan kejadian yang dialami Kiki beberapa minggu yang lalu juga dicurigai terjadi
di area belakang pabrik.
Bondan dan Pakdhe Jarwo tak berkomunikasi sepatah kata
pun, mereka hanya berkomunikasi dengan bahasa tubuh, Pakdhe Jarwo malas
bersuara, sedangkan Bondan takut bersuara. Saking heningnya suasana itu, Bondan
tertidur dan tanpa ia sadari ia membiarkan Pakdhe Jarwo terjaga sendirian,
begitu terbangun jam tangan Bondan menunjukkan pukul 4 pagi dan beberapa lama
kemudian sayup adzan subuh mulai terdengar. Akhirnya mereka memutuskan untuk
pulang. “Maaf ya Pakdhe, saya ngantuk sekali”, kata Bondan setelah sampai di tempat
yang terang.
“Ndak apa – apa”, Pakdhe jarwo
menepuk pundak Bondan, “Nanti malam lagi ya Ndan, tadi malam ndak ada apa – apa”.
Bondan terperanjat, “Kalau ndak
ada apa – apa berarti mungkin memang ndak
ada apa – apa pakdhe, hehe, bagaimana kalau kita cukupkan saja?”
“Tega kamu sama pakdhe?”, Pakdhe Jarwo yang sedari tadi melihat lurus ke
depan mulai memalingkan wajah ke arah Bondan yang kemudian hanya bisa diam.
Bondan sangat salut pada Pakdhe Jarwo, setua itu
semangatnya masih tinggi sekali, pantas saja usaha rumahan yang dirintisnya
tidak pernah redup dan terus berkembang. Dan yang membuat Bondan senang, Pakdhe
jarwo memiliki semangat untuk terus menajdi pribadi yang berkembang dan sangat
mengharagai ilmu pengetahuan, sering sekali Pakdhe jarwo meminta Bondan untuk
mengisahkan ilmu – ilmu yang didapatnya di bangku kuliah. Itulah sebabnya
Bondan juga senang membantu Pakdhe Jarwo, meskipun harus merelakan kedinginan
dan ketakutan di belakang pabrik kerupuk. Akhirnya selama beberapa malam Bondan
menemani Pakdhe Jarwo untuk meronda di belakang pabrik. Berkat Pakdhe Jarwo,
kini Bondan sudah mulai terbiasa dengan kondisi yang gelap dan agak mengerikan
itu.
Sudah 3 malam berturut – turut mereka berjaga, kini
Bondan lebih sering tidur di siang hari seusai mengawasi semua pekerjaan di
industri mocaf. Untung saja dia bukan
pekerja kantoran yang harus terikat jadwal kerja. Kini waktu adalah miliknya,
bukan waktu yang mengaturnya, tetapi ia yang memerintah waktu untuk berjalan
sesuai dengan perencanaannya. Namun, meskipun ia dapat mengatur waktu dan
pekerjaannya dengan cukup baik, meronda setiap hari membuat ia jadi tak punya
waktu untuk memenuhi janjinya bertemu dengan Rudi, teman kampusnya. Bondan
sudah berjanji pada Rudi untuk mempertemukan Rudi dengan Bu Sosro. Rudi ingin
belajar membuat cake berbahan dasar
tepung mocaf dari Bu Sosro. Bondan
masih berusaha mengatur waktunya dengan baik, karena ia tak tahu kapan semangat
Pakdhe Jarwo untuk menangkap tuyul, atau genderuwo, atau manusia, atau siluman,
itu akan padam.
Malam keempat, langit sangat cerah dipenuhi bintang –
bintang, cuaca yang sama dengan malam pertama mereka berjaga dibalik semak –
semak itu. Biasanya seusai salat isya’ di masjid kampung, Pakdhe Jarwo dan
Bondan langsung berangkat berjaga, namun
tidak seperti biasanya, malam ini mereka baru berangkat berjaga sekitar pukul 9
malam karena Pakdhe Jarwo harus mengantar Budhe Jarwo pergi ke kota membeli
peralatan baru untuk membuat donat. Untuk pertama kalinya, Bondan melangkahkan
kaki dengan lantang berada di garda terdepan, Pakdhe Jarwo mengikutinya dari
belakang sambil tersenyum. Pakdhe Jarwo senang akhirnya si Bondan sudah tidak
ketakutan lagi, mungkin karena sudah biasa. Mulai memasuki area persawahan yang
jauh dari rumah penduduk, Bondan memelankan langkah lantangnya, pabrik sudah
mulai terlihat dari jauh, dengan iseng Bondan mengarahkan lampu senter ke
bangunan pabrik, seperti biasa pabrik tetap berdiri pada tempatnya. Bondan
memimpin Pakdhe Jarwo menuju ke semak – semak yang sama. Bondan berjalan dengan
santai sebelum tiba – tiba sarung yang ia kalungkan di leher ditarik dengan
kencang oleh seseorang. Bondan jatuh terjerembab ke semak – semak. Bondan
mencoba bangkit, matanya tertutup kain sarungnya sendiri, kakinya ditindih oleh
badan seseorang yang sangat berat. Bondan berontak mencoba memukul badan itu
namun tangannya terjepit, oleh karena itu tak ada pilihan lain lagi kecuali berteriak
meskipun mungkin tak akan ada yang mendengarnya di situ. Bondan telah mengawali
teriakannya, belum mulai keluar suara, sebuah tangan besar menutup mulut
Bondan.
Bondan terus berontak, sesaat kemudian sebuah tangan
mengacak – ngacak sarung yang menutupi mata dan tubuh Bondan. Jantung Bondan
tak karuan, tangan itu mengincar mata Bondan.
“Pakdhe Jarwo??!!”, Bondan terperanjat semi berteriak melihat sosok itu.
Sosok yang sedari tadi membekapnya, menindihnya, mengacak – acak sarungnya,
menariknya dengan kasar ke semak – semak hingga terjerembab dengan sangat
keras, adalah Pakdhe Jarwo. Batin Bondan menggelegak, ia bertanya – tanya
tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya ada di pikiran
Pakdhe Jarwo. Apakah Pakdhe Jarwo membenci Bondan, atau apakah Pakdhe Jarwo
adalah pemelihara tuyul yang mencuri bahan – bahan pabrik dan menginginkan
Bondan sebagai tumbal, ia tak terlalu mengerti tentang dunia pertuyulan, apakah
tuyul butuh tumbal, apakah badan tuyul yang kecil sanggup membawa berkarung –
karung terigu dan gula. Atau mungkin
Pakdhe Jarwo memelihara genderuwo yang berbadan tinggi besar dan genderuwo
minta tumbal seorang perjaka, kenapa perjaka? Bukankah seharusnya perawan? Atau
era sudah berubah? Atau mungkin Pakdhe jarwo adalah bukan Pakdhe Jarwo? Apakah
yang di depannya ini Pakdhe Jarwo jadi – jadian? Ya, pasti dia adalah Pakdhe
Jarwo jadi – jadian, tak biasanya mereka berangkat berjaga pukul 9 malam,
mungkin Pakdhe Jarwo yang asli telah diculik. Ini bukan lagi kasus pencurian,
tapi juga penculikan. Bondan merasa terkurung oleh masalah ini, masalah yang
bagaikan kotak dengan terali yang kuat, yang membuatnya bingung untuk menjawab
segala keganjilan yang terjadi. Ada apa sebenarnya?
Dengan wajahnya yang serius tetapi tetap ramah, Pakdhe
Jarwo menempelkan jari telunjuknya ke bibir, memberi isyarat Bondan untuk
diam. Bondan masih dengan wajah
kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti Pakdhe Jarwo.
Sesaat kemudian Pakdhe Jarwo mengangkat bahu Bondan, membantu Bondan untuk
bangkit. Bondan terduduk dengan pose pemain sepak bola yang akan berfoto
bersama. Pakdhe Jarwo tidak lagi memedulikan Bondan, ‘ini kesempatan yang baik
untuk melarikan diri’, pikir Bondan. Sesaat ia berpikir untuk bangkit dan
berlari, namun ia heran melihat Pakdhe Jarwo sudah tidak memedulikan
keberadaannya lagi dan fokus mengintip dari semak – semak. Entah apa yang
dilihat oleh Pakdhe Jarwo, Bondan memperhatikan lelaki tua ini sangat lama dari
arah samping, dan Pakdhe Jarwo diam, tanpa suara, wajahnya serius, dan fokus.
Bukan, bukan Pakdhe Jarwo jadi – jadian, tetapi Pakdhe Jarwo asli. “Pakdhe?”,
semi berbisik Bondan memberanikan diri bersuara. Pakdhe Jarwo menengok ke
arahnya dan lagi – lagi dengan jari telunjuk tertempel di bibir. Bondan
terdiam, sesaat setelahnya Pakdhe Jarwo memberi isyarat pada Bondan untuk ikut
mengintip ke arah pabrik. Bondan ragu, apakah ia akan melihat tuyul raksasa,
atau kuntilanak, atau genderuwo, atau … gerobak. Gerobak? Pintu terbuka? Pintu
barik terbuka dan sebuah gerobak kosong terparkir di tepi pintu! Gerobak itu
tidak asing.
Kurang lebih 10 menit, tak ada gerakan, tak ada bunyi
apapun kecuali jangkrik dan desah nafas Bondan dan Pakdhe Jarwo. Perlahan
seberkas cahaya muncul dari dalam pabrik, cahaya lampu senter. Seorang lelaki
muda bertubuh tinggi kurus, berkulit gelap segelap malam, keluar dengan
menyeret karung goni besar, ia disinari oleh seberkas cahaya yang berasal dari
dalam pabrik. Ya, ada orang lain di
dalam pabrik, tapi siapa. Karung goni yang diseretnya itu diangkat dan dilempar
ke dalam gerobak dorong, cahaya lampu senter semakin mendekat keluar, sayangnya
sosok yang dinantikan tak ikut keluar, hanya berhenti di balik pintu. Lelaki
tinggi kurus itu masuk lagi ke dalam pabrik, tak lama kemudian ia keluar lagi
bersama karung goni yang lain. Lelaki itu keluar masuk sebanyak tiga kali,
setelah ia meletakkan karung goni terakhir di atas gerobaknya, akhirnya
keluarlah sosok itu. Sosok itu tak terlalu tinggi, menggunakan celana pendek
dan kaos ketat yang menunjukkan lekuk – lekuk tubuhnya, lekuk tubuh seorang
wanita, ya dia adalah seorang wanita. Wanita itu menyorot senter ke arah wajah
sang lelaki. “Sial! Ijan!”, Bondan mengumpat, Pakdhe Jarwo menyenggol tubuh
Bondan dan memberi isyarat untuk diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar