Seorang lelaki muda berkacamata memasuki Toko, ekspresinya terlihat
sangat kaget melihat adegan dorong – dorongan di dalam toko.
“Ah! Mas Isa”, Ibu Tursnia menyambut dengan girang, lebih tepatnya
genit, “Ayo ayo silakan duduk, mau di kursi biasa?”, lelaki itu mengangguk
sambil tersenyum, senyum yang menawan.
Za hanya diam memandang tingkah Ibu Tursina melayani tamu gantengnya
itu.
“Mau pesan apa Mas?”, nada bicara Ibu Tursina semakin genit.
“Chocolate Cake buatan Za bu, biasa”, Ujar Lelaki itu sopan.
“Minumnya? Biasa juga?”
Lelaki itu mengangguk dnegan tersenyum.
Ibu Tursina menghampiri Za yang berdiri tegak di belakang etalase. “Heh!
Denger ya kamu bocah! Layani tamu itu dnegan baik atau jatah warisan kamu nggak
akan saya kasih! Dan ibu kamu yang jelek itu bakal buta selamanya!”, Ibu
Tursina menempelkan muka sinis dan mulut komat - kamit berbisik, di depan wajah
Za. Lalu melempar pandangan ke arah tamunya, dengan ekspresi yang seketika
berubah ramah, “Tunggu sebentar ya Mas Isa”, Ujarnya seraya ngeloyor pergi.
Ibu TursinaZa menghidangkan sepiring kecil Cake cokelat yang berisi es krim cokelat, dengan taburan almond dan butiran choco chip di dalamnya. “Silakan. Minumnya apa Mas?”, tukas Za
sinis
“Saya cukup ngeliat senyum kau dan haus saya ilang”, Ujar lelaki itu.
“Minumnya apa Mas?”, Za mengulang pertanyaannya.
“Za, boleh saya minta kamu duduk sebentar di meja ini”
“Mas nggak jadi pesan minum? Kalau nggak jadi saya mau ke belakang,
masih banyak kerjaan. Permisi”, dengan kesal Za memutar tubuhnya 180 derajat.
Namun kakinya tak bisa melangkah ke dapur, karena lengannua telah berada dalam
kekuasaan genggaman Isa.
“Please Za, saya cuma mau
ngomongin tentang hasil penyelidikan polisi tentang kecelakaan ayah kamu”
Duduk. Nggak. Duduk. Nggak. Za tenggelam dlaam dilemma.
“Nggak lama ya”, Tandas Za seraya duduk di depan Isa. Isa tersenyum.
Lalu menyendok cake buatan Za. “Kamu
pinter banget bikin cake Za, enak
banget, bikin saya ketagihan terus datang kesini”, Isa memandang wajah yang
terus dilipat itu.
“Jadi ngomong apa nggak?”
Isa tersenyum, “Za, kapan sih kamu mau ramah ke saya”
“Ya udah kalau nggak jadi ngomong!”, Za bangkit dari kursinya.
“Iya iya, oke oke”, Isa menghalanginya, Za duduk dengan melempar
pandangan ke jalan raya. “Hemm, oke. Jadi Za… polisi udah nemuin petunjuk baru
atas kasus pembunuhan ayah kamu”
“Petunjuk apalagi Mas, udah dua tahun kasus ini lewat, saya udah capek”
Isa mengeluarkan sebuah cincin bersepuh emas. Pada cincin itu terukir
nama Haris Tara.
“Haris Tara? Ini cincin ayah saya?”
“Kamu yakin Haris yang dimaksud di sini adalah nama ayah kamu?”
“Tara itu nama ibu saya, kalau tulisannya Haris Tara, berarti itu cincin
ayah saya. Tapi saya nggak pernah lihat cincin ini”
“Cincin ini ditemukan di dekat pistol yang jatuh saat tragedi penembakan
itu”
“Bisa saja itu jatuh dari jari ayah, atau kantong bajunya”
“Ya bisa jadi sih, tapi kata polisi, ini member petunjuk untuk beberapa
hal”
“Udahlah Mas Isa, terserah aja, saya udah nggak peduli tentang pembunuh
ayah saya, yang penting buat saya
sekarang adalah ngedapetin jatah warisan saya yang didekemin ama Ibu Tursina.
Maaf saya banyak kerjaan. Permisi”
Isa hanya tersenyum melihat tingkah Za yang semakin lama semakin
pensaran. Pasti bisa ditaklukin,
batin Isa sambil memandangi langkah Za menuju ke dapur. Sudah lama Isa menjadi
pelanggan setia toko cake keluarga
Za, sejak nama toko itu masih Sweety
Cakery hingga kini berubah menjadi Tursina Cakery Shop. Bukan hanya karena aneka jenis kue yang enak dan
lezat, - terutama chocolate cake
buatan Za-, tapi juga untuk tujuan ngapelin
Za yang manis. Za yang jutek, Za yang selalu sinis padanya, Za yang semakin
membuatnya tertarik. Dua kali dalam seminggu, Isa datang hanya untuk melihat Za
yang sibuk menata kue – kue di etalase display,
menyapu lantai toko, atau pun mengintip
Za yang hanya trelihat kapalanya saja saat Za ada di dapur.
Isa sudah kenal dekat dengan keluarga Za, termasuk almarhum ayahnya dan
Ibunya. Beberapa kali Isa juga mengunjungi Ibu kandung Za untuk sekedar mengajaknya
jalan – jalan ke taman. Za sendiri terlalu sibuk dikuras tenaganya oleh Ibu
Tursina, sehingga tak ada lagi waktu untuk mengajak jalan – jalan ibunya yang
tidak bisa melihat. Bagi Isa keluarga Za sudah seperti keluarganya sendiri. Dan
Isa-lah yang ngotot agar kasus pembunuhan itu terselesaikan. Tanpa
sepengetahuan Ibu Tursina, Isa telah banyak membantu polisi untuk menyelidiki
kasus pembunuhan yang terjadi di toko Ibu Tursina.
***
Senja menggeliat di antara cahaya yang menyelinap di dedaunan pohon mahoni
yang terpancang kokoh di depan Tursina
Cakery Shop. Za duduk memandangi matahari yang nyaris bersembunyi. Senja
ini begitu tenang, langit telah merona merah. Burung – burung berbaris
membentuk huruf V, hendak pulang ke kandang. Tanpa sadar, Za menyungging
senyumnya. Isa terpaku. Terkesima denga senyuman manis yang jarang sekali ia
lihat, bukan lagi jarang, bahkan tak pernah. Telah 15 menit , Isa menyembulkan
kepala di balik pohon mahoni, hanya untuk memandangi wajah sinis yang kali ini
denngan sangat beruntung ia mendapatkan senyuman bulan sabit.
Tiba – tiba, senyum itu lenyap, “Ngapain disitu Mas?”, Za berteriak. Isa
tersentak. Lalu keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan menghampiri
Za, yang kini memasang tampang marah. Ia duduk di bangku tempat Za duduk. “mau
pesen cake chocolate? Bentar ya”, Za
beranjak, dan lagi – lagi, langkahnya terhenti oleh genggaman tangan Isa pada
lengannya. “Pembunuh ayahmu udah ketemu Za”. Za menoleh kaget, “Mas Isa yakin?
Siapa?”,
“Polisi akan nangkep pelakunya malam ini”, Ujar Isa sambil tersenyum.
***
Sepi. Hening. Za berdiri terpaku. Baru saja polisi menyeret Ibu Tursina
yang meraung – raung meminta di lepaskan. Dengan badannya yang penuh lemak,
ditendangnya tiga orang polisi hingga berjatuhan. Isa membantu para polisi
untuk mengendalikan tubuh gemuk yang terus meronta itu. Za hanya diam terpaku
tak menyangka melihat smeua kejadian itu. Penangkapan itu diakhiri dengan
bersarangnya timah panas di betis kanan Ibu Tursina. Ibu Tursina yang telah
merencanakan semuanya dnegan sangat sempurna, kematian ayahnya, kebutaan
ibunya, dan dirinya yang dijadikan pembantu tanpa gaji.
Meskipun uang warisan itu ternyata telah raib untuk foya – foya, namun
Za merasa hidupnya jauh lebih tenang. “Mas Isa, makasih banget atas semua
bantuan mas Isa, saya minta maaf udah sering kasar sama Mas Isa. Saya nggak
tahu gimana harus membalas semua yang udah Mas Isa lakuin buat saya dan Ibu”,
untuk pertama kalinya Za memberikan senyum bulan sabitnya untuk Isa.
“Asal saya diizinin datang ke sini setiap hari, dan makan cake kamu”, Ujar Isa dengan berbunga –
bunga atas senyum bulan sabit yang didaptnya, ‘Dan asal saya bisa dapetin senyum kamu tiap saya datang kesini’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar