Senin, 17 Juni 2013

Cake Mocaf (Part 4)

Gemerlapan lampu menyerang bangunan megah tempat Kiki bernaung di dalamnya. Hentakan musik yang memekakan telinga. Para gadis yang entah masih gadis atau tidak, yang mengenakan rok mini, gaun ketat, dada yang menyembul ke aneka penjuru. Kiki bersyukur Rudi tidak membelikannya pakaian mini seperti itu, Kiki duduk di sofa bersama Rudi dan beberapa teman Rudi yang sedari tadi berbincang tentang hal yang tak Kiki mengerti. Ia merasa anggun dengan balutan blouse merah yang menutupi lututnya. Kiki menutup baju model kemben yang seperti dikenakan artis – artis televisi itu, dengan sebuah jaket bulu yang cantik berpita merah. Rambut panjangnya yang biasa dikucir kuda, kini tergerai dengan sedikti gelombang di bagian ujungnya, mas – mas salon yang genit telah mengubahnya menjadi sangat sempurna.

“Gue pikir lu anti cewek Rud, akhirnya bisa gandeng lawan jenis juga”, kata seorang laki – laki muda yang telah memperkenalkan diri pada Kiki dnegan nama Aldo.

“Haha, lu pikir gue homo! Gue bukan kolektor cewek kayak lu bro, haha”, Ujar Rudi sambil merangkul pundak Kiki. Jantung Kiki berdegup kencang, tak pernah satu pun lelaki yang pernah melakukan itu padanya.
Perbincangan itu terus berlanjut tanpa dimengerti oleh Kiki, sedari tadi Kiki hanya mengisi waktunya untuk duduk, minum juice jeruk, memakan beberapa snack, melayangkan pandang ke sekeliling dan menjawab pertanyaan sekenanya yang diajukan padanya. Jelas ada raut tak nyaman di wajahnya. Beruntung Rudi memahami ketidaknyamanan itu dan segera mengajak Kiki pulang.

“Ki, kita ke rumahku dulu aja ya, ganti baju nanti aku anter pulang ke rumah”, kata Rudi sambil berusaha memfokuskan matanya di belakang kemudi.

“Tapi saya kan bawa motor mas”, Kiki melihat wajah itu dengan ragu, ada yang berbeda dengan keadaan Rudi.

“Motormu besok aku anter ke rumah, sekalian aku mau main ke rumahmu, boleh?”, Rudi mengatakan dengan mantap namun bernada kacau.

“Mas Rudi baik – baik aja?”, Kiki mulai khawatir.

“Nggak tahu nih Ki, agak pusing, tadi sedikit nyoba whine-nya si Aldo sih, tapi cuma sesruput, ternyata tubuhku ga kuat kayaknya”

“Kenapa mas coba – coba minum barang seperti itu segala”, Kiki mengernyitkan kening, bukan nada bicara biasanya.

“Tadi kan kamu lihat sendiri Ki, aku dipaksa sama mereka”

“Memangnya dalam keadaan begitu mas bisa antar saya pulang?”

“Mungkin aku butuh tidur 5 menit”, ujar Rudi sambil memasukkan mobil itu ke garasi rumahnya. Rudi turun terhuyung, Kiki berlari membantunya.

“Aku nggak apa – apa Ki”, Rudi meyakinkan dengan tidak yakin. Kiki menggandeng tangan Rudi menuju ke lantai dua, kamar Rudi.

Rudi tak tahan lagi dengan kepalanya yang sudah hampir jatuh, ia mneghempaskan dirinya di ranjang empuk. Tubuhnya memantul ringan beberapa kali, lalu menghenyak lelap. Ia berusaha menidurkan diri, namun tak tertidur, kepalanya terasa berat, memejamkan mata hanya memberi efek penghilangan cahaya. Itu tak banyak membantu. Kiki mulai khawatir, dengan sigap ia melepaskan sepatu Rudi. Membalik tubuh Rudi yang tengkurap, dengan segenap tenaga yang dimiliki oleh tubuh kecilnya. Kiki meraih selimut yang ada di sisi seberang kasur. Menutupkan selimut itu ke tubuh Rudi, Rudi sudah tak bisa diharapkan lagi, Kiki memutuskan untuk pulang dengan mengendarai sepeda motornya. Sejenak Kiki terdiam, duduk di samping tubuh yang hanya mengembang kempiskan perutnya itu. Dengan ragu, tangan Kiki menuju rambut Rudi, dibelainya rambut ikal itu, hitam pekat, halus, wangi, tak pernah ia lihat yang serupa di desa. Kiki terdiam, seolah tersihir, mata itu memejam, sesekali mengernyitkan dahi, alis hitam tebal yang membingkai mata itu. Mata yang jika membuka, menggambarkan seraut wajah dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang tak kuasa menahan senyum setiap berada disamping mata itu.
Perut Kiki terasa geli, mungkinkah gejolak hatinya membuat seluruh tubuhnya menjadi tidak karuan? Bukan, bukan gejolak hati, tapi dua buah telapak tangan, yang kini telah mencapai punggung gadis itu. Telapak tangan itu menariknya dengan kuat, hingga Kiki terhempas ke atas tubuh gagah Rudi. Sejenak Kiki tak tahu harus bagaimana, ia terpaku, diam. Telapak tangan itu terus mendekapnya dengan kuat. Detak jantung dua tubuh itu meningkat, Kiki merasakan suhu tubuhnya naik, darahnya seperti mendidih dan tak mengalir lagi. kedua telapak tangan terus berkelana, mencari pelabuhan yang paling nyaman. Kiki merasakan didihan darahnya semakin tinggi, dan ia hanya diam, membiarkan telapak tangan itu membenamkan tubuhnya di kasur empuk yang tak dimilikinya di rumah. Tubuh gagah itu menindihnya, dan para telapak tangan terus beraksi melucuti segala rupa penutup tubuh molek yang tertindih.
Detak jantung keduanya mulai meledak, namun ledakan pada jantung Kiki mulai berbeda. Kiki tersadar, dirinya sedang terancam dalam lingkaran nafsu setan, Kiki terus berusaha bangkit. Memukul – mukul telapak tangan yang sedari tadi meraba tubuhnya, dengan sekuat tenaga ia menendang, meninju, memukul, menggeliatkan tubuhnya untuk menampik segala perlakuan dari tubuh gagah itu. Semakin kuat Kiki memberontak, semakin kuat Rudi mencengkeram. Kedua kaki Kiki terus bergerak kacau, mencoba melindungi diri, mencoba melawan, namun tak seimbang. Kiki dengan tenaga kecilnya nyaris kehabisan energi, Rudi dan badan kurusnya tak kesulitan menghadapi pemberontakan itu. Raib. Kiki tak sanggup lagi bergerak, cengkeraman semakin kuat, dan kesuciannya telah raib.
***
Sumi duduk bersimpuh di atas tikar yang tergelar di ruang tamu kecil rumahnya, Budhe Jarwo memeluk dan menepuk bahu Sumi. Pakdhe Jarwo datang tergopoh – gopoh membawa Bondan yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Nak Bondan, Kiki mana?”, melihat Bondan datang, sumi bangkit dan mengguncang bahu Bondan.

“Kiki?”, Bondan melemparkan pandang ke semua orang yang ada di runagan itu, berharap jawaban, namun yang ia dapat hanya pandangan balasan dari mereka, “Bulik1, ada apa ini? saya ndak tahu Kiki dimana, memangnya Kiki kemana Bulik?”

“Kiki dari kemarin pergi, katanya mau ke rumah sahabatmu itu, Bukannya kamu menemani Kiki to le2?”

“Apa?”, Bondan merasakan aliran darahnya memuncak seperti merapi yang ingin muntah, berani – beraninya Rudi membawa Kiki pergi tanpa sepengetahuan Bondan, “Bulik, saya ndak tahu menahu tentang ini, Kiki tidak memberi tahu saya sama sekali. Bulik tenang saja, saya akan ke rumah Rudi sekarang juga”, Sumi terus meraung – raung.

“Tunggu le, Pakdhe ikut”, Pakdhe Jarwo bangkit dari tempat duduknya.

“Wis3 to dik Sumi, wis, sabar dulu, Bondan bantu cari Kiki. wong ya Kiki itu sudah gedhe, sudah bisa jaga diri”, Budhe jarwo berusaha menenangkan Sumi, meski batinnya sendiri tak tenang dan tak yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Assalamu’alaikum”, suara lantang seorang pemuda menggaungi rumah itu. langkah Bondan terhenti di depan pintu, amarahnya memuncak, melihat Rudi menggandeng tangan Kiki yang bersembunyi di belakangnya. Bahkan sejak kecil, tak pernah sedikitpun Bondan  berani menyentuh Kiki.

“Kiki!”, Sumi bangkit menuju pintu dan memeluk sang anak dnegan erat, lebih erat, dan sangat erat. Kiki hanya diam, tak membalas pelukan itu. Kepalanya tertunduk, bibir pualamnya tertutup rapat, dan perlahan, pipinya basah oleh air yang berasal dari matanya. “Nduk4? Ada apa nduk? Bilang sama ibu nduk ada apa?”

“Maaf Ibu, Bapak, dan Bondan, boleh saya masuk dan berbicara dengan orang tua Kiki?”, Rudi berkata dengan pelan.

“Ada apa dengan Kiki nak?”, Sumi mengincar.

“Ibu, mungkin langsung saja, kedatangan saya kesini adalah untuk melamar Kiki”, Rudi berikrar dengan tegas. Semua mata terbelalak, Bondan merasakan hatinya remuk redam, gadis pujaan hatinya, dilamar oleh sahabatnya sendiri yang saat ini menggandeng tangan sang gadis dengan erat. Bondan ingin berontak, namun siapa dia, keluarga bukan, pacar bukan, suami bukan. Emosi di hati Bondan menyeruak tak karuan, tangan kanannya menggenggam dengan erat, ingin memukul wajah tampan yang telah merebut pujaan hatinya itu, tapi untuk alasan apa pukulan itu ia berikan?. Akhirnya, Bondan hanya bisa termangu.

“Apa?”, antara sedih dan senang, namun ragu. Seorang lelaki tampan, yang memarkir mobil di seberang rumahnya ingin mempersunting anaknya. Namun, siapa lelaki itu? ia tak kenal samasekali, “kenapa mendadak sekali? Anda siapa?”

“Lebih baik, kita bicara di dalam saja sambil duduk”, Budhe Jarwo berusaha menengahi.

Kiki duduk di samping ibunya yang tak mau melepaskan tangan dari pundak Kiki. Rudi duduk di dekat pintu, “Sebelumnya perkenalkan bu, nama saya Rudi. Saya sahabat Bondan, yang sekarang ini berbisnis cake mocaf dengan Kiki. kedatangan saya kesini, ingin mempertanggungjawabkan apa yang telah saya perbuat”, Rudi tertunduk.

“Apa maksudnya?”, Ekspresi Sumi yang sudah tenang kembali serius.

“Saya telah memperkosa Kiki”, Rudi berkata pelan, namun jelas. wajahnya hanya tertunduk, tak berani menengadah. Seketika Bondan berdiri dan melayangkan tinjunya ke wajah Rudi, Rudi tak ingin melawannya meski bisa, ia hanya menutup kepalanya dengan tangan. Sementara Bondan terus menghujaninya dengan pukulan dan Pakdhe Jarwo berusaha menghentikan Bondan sekuat tenaga. Kiki bangkit menghalangi tangan Bondan yang tak henti memukul. Sumi tak henti menghalangi tubuh Kiki, begitu pula dengan Budhe Jarwo yang terus berusaha memeluk Kiki dan Sumi.

***
Senja mulai menyapa, Bondan berjalan pulang usai menemani Pakdhe Jarwo yang ingin membeli beberapa hektar lahan di sawah. Langit merah merona, seolah menggelar karpet tempat sang matahari berjalan pulang memadamkan sinarnya bagi bumi. Langkahnya yang mantab perlahan berubah pelan, matanya tertuju pada pemandangan indah yang menyesakkan. Dirham kecil, mengangkat kedua tangannya ke atas, minta digendong oleh sang ayah yang baru pulang dari tempat kerjanya. Sang ibu tersenyum melihat pemandangan itu, Sang ibu yang masih tetap anggun dan cantik seperti masa mudanya dulu. Sang ibu yang hingga saat ini masih memiliki tempat tersendiri di hati Bondan.

“Assalamualaikum Dirham”, sapa Bondan sambil tersenyum kepada anak kecil itu.

“Eh…ada Om Bondan tuh, wa’alaikumsalam Om Bondan”, Kiki menyahut sambil menggerakkan tangan kanan anaknya, menciptakan gerakan lambaian kecil.

“Hai bro, darimana?”, Rudi menurunkan Dirham dari gendongannya.

“Ini, nemenin Pakdhe Jarwo lihat sawah”

“Lihat sawah Pakdhe? Memangnya Pakdhe belum pernah lihat sawah?”, Kiki menimpali.

“Hahaha, ndak nduk, Pakdhe mau beli sawah yang ada di utara sana”, Pakdhe Jarwo menyahut sembari tertawa.

“Wah Pakdhe mau punya sawah baru nih ternyata, nanti bisa buat jalan – jalan si Dirham tu sawahnya”, Rudi menggoda.

“Hahaha, iya iya, boleh. Ya sudah ya nduk, kami pamit dulu”, Pakdhe Jarwo melambai.

“Duluan ya Kiki, Rudi”, Bondan ikut melambaikan tangannya dan beranjak pergi.

Bondan melenggang sendiri di antara cahaya yang semakin temaram, angannya melayang tidak jelas. Membayangkan hal yang tidak seharusnya, mungkin seandainya dahulu dia tidak mempertemukan Kiki dengan Rudi, dialah yang akan membangun keluarga bahagia dengan Kiki. Empat tahun telah berlalu, namun sesal itu tak kunjung hilang. Ia tahu seharusnya ia tak perlu menyesali semua takdir ini, namun rasa cintanya pada Kiki yang selalu berusaha ia bunuh, sepertinya tak bisa mati. Rudi mungkin juga memiliki rasa yang sama dengan yang Bondan miliki terhadap Kiki, hanya saja Rudi yang lebih beruntung mendapatkan Kiki, meskipun dengan cara yang binal. Persaingan tak sehat, curang. Kadang kala ketika ia mulai menutup mata di malam hari, ia berharap sepenuh hati agar kenyataan berpihak padanya di keesokan harinya. Jikapun Kiki tetap tidak bisa jadi miliknya, ia berharap seseorang bisa datang menggantikan nama Kiki di hatinya.
Di sisi lain, melihat senyum merekah yang menghias bibir pualam Kiki, ada sebersit bahagia. Mungkin inilah murninya apa yang disebut dengan cinta, bahagia ketika melihat orang yang dicintai hidup bahagia. Ada segumpal rasa senang mengetahui gadis yang dicintainya dijaga dengan sangat baik oleh lelaki yang ia tahu cukup baik. Ia mengenal Rudi, sangat mengenalnya, dan Rudi bukanlah orang tak bermoral atau pun kurang ajar. Rudi sangat menjunjung tinggi sopan santun, dan kebaikan hatinya membuat banyak gadis kampus memujanya. Mungkin kejadian perkosaan yang telah lalu hanyalah sebuah kekhilafan, pada akhirnya pun Rudi mampu membuktikan bahwa ia bertanggungjawab, bahkan rela dipecat anak oleh orangtuanya karena ia menikahi gadis desa yang bukan berasal dari golongan mereka. Rudi juga rela di usir dari istananya, dikeluarkan dari restoran yang telah lama ia pimpin, dan sama sekali putus hubungan dengan seluruh keluarganya. Kenyataan itu membuat Bondan sedikit merasa bahagia, karena Rudi membayar kelakuannya dan membayar perebutannya atas Kiki secara setimpal. Pengorbanan Rudi itu juga yang membuat Bondan merasa berdosa, karena mencintai istri sahabatnya sendiri. Sahabatnya yang tidak tahu sama sekali bahwa dirinya juga menyimpan rasa yang sama terhadap wanita yang sama, bahkan rasa itu telah lebih lama bercokol di dalam benaknya.
Namun, bagaimana pun ia tetap menyayangi Rudi sebagai sahabat dan rekan bisnisnya. Ya, Rudi adalah salah saturekan bisnis andalannya. Dari puluhan pemesan rutin mocaf-nya, Rudi merupakan pelanggan tetap dengan tingkat pembelian tertinggi. Cake mocaf yang dirintis oleh Kiki dan Rudi kini telah sukses besar menjadi sebuah toko aneka pangan olahan mocaf yang diberi nama QD Shop, Q dari Kiki dan D dari Rudi. QD Shop dibangun dengan sederhana di tanah yang mereka sewa di kota, perlahan toko itu banyak dikenal orang – orang kota maupun masyarakat yang tinggal di desa mereka. QD Shop pun mulai merangkak, berjalan, dan bahkan berlari, hingga kini menjadi sebuah bangunan gedong yang dilengkapi dengan café aneka olahan mocaf. Kabarnya, QD Shop banyak diminati anak muda sebagai tempat nongkrong, dan banyak pula diminati orang kantoran sebagai tempat melepas lelah.
Malam kian larut, Bondan tak kunjung mampu membuat dirinya terlelap meskipun telah satu jam ia memejamkan matanya. Sedari tadi ia hanya membalikkan badan ke kanan kiri, membalik bantal guling, menata ulang selimut, dan sebagainya. Jengah, Bondan memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Dia menyibakkan selimutnya, menata sarungnya dengan benar, dan pergi keluar rumah untuk mencari udara segar. Bondan menarik nafasnya dalam – dalam, merasakan udara malam desanya yang selalu ia suka. Berharap ada tumpahan kesegaran yang ia dapat mengaliri hidung dan tenggorokannya. Aroma yang sangat ia hafal, yang malam ini ternyata sedikit berbeda. Aroma ini tidak sesegar biasanya, ada bau terbakar. Mungkin seseorang sedang membakar sampah, pikirnya. Tapi jika dipikir ulang, mana mungki ada yang membakar sampah jam 10 malam begini, aktivitas desa ini di akhiri ketika gelap datang. Jam malam desa ini adalah waktu maghrib, jarang sekali ada warga yang melakukan aktivitas kerja ketika matahari sudah tidak bersinar.
Bondan terus menghirup udara malam, berharap aroma udara berubah menjadi segar seperti biasanya. Namun, aroma terbakar itu semakin kuat, bulu kuduk Bondan mulai berdiri tanpa dikomando. Bondan melayangkan pandang ke sekelilingnya, sepi, tak ada aktivitas, tak ada gerakan kecuali sedikit angin. Bondan mendongakkan kepalanya. Memandang langit cerah namun tanpa bintang, di sebelah utara ia melihat rona merah di langit, seperti sinar bulan purnama yang biasa bergelantung di tengah bulan. Namun, bulan ada di sebelah timur dan bersinar hanya separuh. Sinar merah itu terlihat biasa, namun menimbulkan pertanyaan. Bondan terus memperhatikan, dan ia melihat gerakan di langit, bukan gerakan gaib atau pun gerakan angin, tapi gerakan asap. Asap menjulang tinggi ke langit, Bondan memperhatikan dengan seksama dengan perasaan mulai khawatir, dan dilihatnya ada sekilas kobaran api dari bawah. Tak salah lagi, kebakaran. Bondan berlari secepat kilat, sambil berteriak histeris, “Kebakaraaan! kebakaran!”. Beberapa rumah menyalakan lampu yang telah padam, beberapa pintu terbuka, para lelaki berlarian mengejar Bondan yang terus berlari ke arah api yang berkobar. Beberapa orang berlari menyelip Bondan dengan membawa ember kosong, beberapa lainnya berinisiatif mendorong gerobak berisi air.

“Aaaa! Ibu! Ibu! Mas Rudi! Dirham! Dirham!”, Kiki histeris, hanya bisa diam di tengah kobaran api yang mengepungnya. Ia tak bisa mendengar suara apapun kecuali suara api yang terus membakar seluruh area pabriknya.

“Mama! mama! tolong Dirham! Mama!”, suara itu timbul tenggelam, Kiki melempar matanya ke sekeliling, dilihatnya tangan kecil mencoba meraih ke atas. Di antara kobaran api yang terus menghajar daerah sekitarnya. Kiki luar biasa panik, ia menangis histeris. Ibunya entah dimana, suaminya entah dimana, dan di depan matanya, anak kandungnya yang berharap besar padanya untuk menyelamatkan dari kobaran api, “Mama! Mama!’, teriakan itu diiringi tangis.

“Dirhaaaam! Ya Allah Dirhaam! tolooo..ng! toloo..ng!”, Kiki tak mampu berbuat apapun selain berteriak sambil menangis histeris. Ia dan dirham terpisah kobaran api yang tak mungkin dilompati, Kiki bisa hangus tanpa guna jika ia nekat melompati kobaran api itu untuk menyelamatkan dirham. Dia terus mencari celah untuk menuju Dirham.

“Mama! Sakit mama! Panas! Sakit! Mama tolong! Mama tolong!, Iham janji nggak nakal! Jangan hukum Iham disini! Mama tolong!”, suara itu memasuki telinga Kiki dengan sangat menyayat, menyengat, mencambuk hatinya, menghujam deras. Tangis terus diteriakan tiada henti.

“Dirham! Dirhaaa…m!”, Kiki trus menangis berteriak histeris.

“Mama, Maafin Iham, Iham janji nggak nakal! tolong ma! Tolong ma! Jangan api ma! Iham takut api ma!”, tangis itu semakin melemah, “mama! Mama jahat! Mama jahat! Mama! Tolong! Papa! Bangun papa! Papa ! mama! Ma… ma…!”, tangan kecil itu terus berusaha menggapai dari jauh. Api terus mendekati tubuh kecil itu. “ma…”, suara semakin lemah, terus melemah, terus melemah, tinggal sayup, dan hilang.

“Aaaaa! Jangan ya Allah! Jangan! Dirhaaa….m! anakku ya Allah! Anakku! Anakku! Dirham!”, histeris Kiki berusaha melewti kobaran api yang tinggi, namun tak ada celah. Dengan mata kepalanya, ia menyaksikan darah dagingnya dilahap api. Kobaran itu menghabisi tubuh mungil tanpa dosa, melenyapkan suara rengekan, “Dirhaaaa…..m! jangan anakku ya Allah! Dirhaa…m!”, tak ada lagi suara. Dirham telah dimakan si jago merah.
Api terus berkobar, Kiki masih berada di antara kobaran itu, duduk, termangu, terpaku, diam, tanpa kata. Kepalanya tertunduk, tak peduli keadaan di sekitarnya yang terus riuh membakar. Kiki tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, buah hatinya, dimana separuh hidupnya trerlabuh, mati mengenaskan di depan matanya. Dan ia hanya diam, hanya bisa berteriak tanpa guna. Dirham mati dalam keadaan membencinya, karena ia tak menyelamatkan tubuh mungil itu dari kobaran hati. Hati Kiki serasa terhujam, hidupnya seakan telah berakhir baru saja. Kepalanya berat, tubuhnya lemas. Kiki terus terduduk dan diam, hingga tiba – tiba api disekitarnya mengecil, mulai melunak. Dan tubuhnya diangkat oleh seorang laki – laki. Kiki tak bergeming, hanya diam, tubuh Kiki diletakkan di tepi perkebunan tebu, dia dikerumuni banyak orang. Seorang ibu tua menyodorinya air minum, Kiki tetap tak kuasa menggerakkan tangannya. Ibu tua itu membenamkan bibir gelas di antara dua bibir pualamnya, air mengaliri tenggorokannya yang kering dan kepanasan.
Dengan kesadaran yang setengah mati ia kumpulkan, ia menyaksikan kobaran api terus melahap habis seluruh area pabrik kerupuk miliknya. Membumi hanguskan warisan ayahnya, tanpa sisa, bahkan menelan seluruh orang yang dicintainya. Di sekitarnya orang – orang berlarian, berduyun – duyun mengguyurkan air, mengambil air di sumur dekat sawah, ramai, histeris, penuh dengan teriakan. Teriakan komando untuk terus mengguyur air. Namun api terlalu besar. Beberapa menit kemudian, suara riuh dipecahkan oleh raungan sirine. Pasukan pemadam kebakaran, bergerak sigap dan berlari bagaikan pasukan berkuda yang siap menyerang. Bondan terus berada di samping Kiki, berusaha menenangkan Kiki yang sebenarnya telah sangat tenang. Bahkan terlalu tenang, Kiki tak sanggup lagi bicara.
***
Kiki melangkahkan kaki, penuh ketegaran, karena tak ada pilihan lain selain tegar. Ibu, suami, dan anak kandungnya, hangus terbakar api. Kini mereka telah terkalang tanah, dan Kiki memutuskan untuk membiarkan mereka pergi. Bondan, Budhe Jarwo, dan  Pakdhe Jarwo mengiringi langkah Kiki yang gontai.

“Malam itu saya nyusul ibu ke pabrik”, Tiba – tiba Kiki mengeluarkan suara dari mulutnya yang telah lama tertutup dari sejak tragedi kebakaran itu terjadi. Bondan dan Pakdhe Jarwo menoleh ke arah Kiki, belum berani komentar. “Ibu memang sudah berencana pulang malam, untuk menyelesaikan beberapa data produksi yang berhari - hari ndak tersentuh. Tapi sudah jam 10 malam ibu ndak pulang – pulang. Saya khawatir”, Kiki berhenti sejenak. “Awalnya saya sendirian yang akan menyusul Ibu, tapi mas Rudi melarang. Mas Rudi nyuruh saya diam di rumah menjaga Dirham, tapi saya ngeyel, saya pengen nyusul ibu. Akhirnya Mas Rudi memutuskan untuk menemani saya ke pabrik. Dan Dirham ndak mungkin ditinggal di rumah sendirian. Mas Rudi yang nggendong Dirham, makanya mereka terbakar di tempat yang sama”, Kiki sedikit terisak, “Sebelumnya, waktu kami sampai di pabrik, kami menemukan ibu ketiduran di meja, di atas tumpukan kertas. Saya yang salah, harusnya saya ndak biarin ibu kerja terlalu keras”

Wis nduk. Ndak usah menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah siapa – siapa, ini namanya takdir, yang harus kita hadapi”, Pakdhe Jarwo berusaha menenangkan.

“Mulai sekarang Kiki tinggalnya sama Pakdhe dan Budhe aja ya nduk ya”, Budhe Jarwo terus mendekap pundak Kiki.

“Saya ngelihat ibu sangat senang sekali dengan pekerjaannya di pabrik. Ibu bilang, kerja di pabrik bikin ibu jadi merasa berbakti sama bapak. Karena itu saya ndak ngelarang ibu kerja di pabrik. Walaupun kerjanya cuma ngawasi, tapi harusnya saya tetap ngawasi ibu juga, jangan sampai kecapekan seperti itu”, Kiki melanjutkan ceritanya tanpa memedulikan kata – kata Pakdhe dan Budhe Jarwo. “Ibu keluar duluan, mas Rudi dan Dirham mengunci pintu yang ternyata belum terkunci di area produksi. Saya masih di ruangan untuk membereskan berkas – berkas. Tiba – tiba ada suara ledakan, ndak tahu darimana”

“Anu Ki, itu ledakan trafo listrik, ada korsleting. Yang akhirnya menyebabkan kebakaran itu Ki”, Bondan berujar dengan hati – hati.

“Untung ada pemadam kebakaran ya”, Budhe Jarwo menimpali, “tapi kok pemadam kebakarannya bisa tahu ada kebakaran ya? padahal jauh, udah malem lagi”

“Saya yang telepon Budhe”, Kata Bondan.

“Ibu ini ada – ada saja, ya jelas ada yang kasih tahu bapak pemadam kebarannya to bu, mana mungkin bisa tahu sendiri”, Pakdhe Jarwo berusaha mencairkan suasana.

“Hehe, iya ya pak”, Budhe Jarwo berusaha tertawa renyah, namun terdengar getir.

Kiki tahu, ketiga orang yang berjalan bersamanya itu adalah orang – orang yang menyayanginya. Ia memang telah kehilangan seluruh orang – orang yang berharga yang ia miliki, tapi itu membuatnya sadar, bahwa ia masih punya banyak cinta. Cinta itu tak harus dari Ibunya, tak harus dari Rudi, tak harus dari Dirham. Takdir telah mempertemukannya pada titik balik yang mungkin menyakitkan, tak ada pilihan lain selain menghadapinya. Menyesali bukanlah solusi, cukup Kiki yang terus selalu mencintai Sang Ibu, Rudi, dan Dirham. Tak perlu ada balasan yang setimpal untuk cintanya itu, Tuhan yang akan membalas semua cinta itu. Itulah hakikat cinta yang murni, yang ia pelajari dari Bondan. Tanpa perlu mengungkapkan, Kiki menyadari curahan cinta Bondan untuknya, sejak dulu, hingga sekarang. Cinta itu memilih, tapi tidak semua cinta mampu terpilih. Bagi Kiki, yang terpenting saat ini adalah menjalani hidup. Hidup harus terus berlanjut, tetap sebagai Kiki yang semangat, penuh keceriaan, jiwa wirausaha yang tak pernah mati. Jika dulu Sang Ibu berusaha menjaga kelangsungan pabrik kerupuk, mulai sekarang Kiki akan terus berusaha menjaga QD Shop. Dan ia telah memutuskan untuk menjalaninya sendiri, ia akan terus berusaha bangkit dari keterpurukannya, demi kebahagiaan Pakdhe Jarwo dan Budhe Jarwo, pengganti orang tuanya.

1Tante
2Panggilan untuk anak laki – laki
3Sudah

4Panggilan untuk anak perempuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar