Selasa, 18 Juni 2013

Pedusa (part 2)

Setelahnya Laura hanya diam mengantarmu ke sebuah bangunan kecil berbentuk cangkir terbalik, “Ini adalah tempatmu bernaung”, ucapnya lirih, syahdu.
Kau memasuki rumah cangkir itu, wuisshhhh, angin hangat menyambutmu. Kau masuk dan melemparkan pandanganmu ke seluruh area rumah itu, kosong, hanya dinding – dinding hijau. Tak ada kursi, tak ada meja, tak ada apapun. Bahkan tak ada jendela. “Laura, di sini a… “, Laura ternyata telah hilang dari sampingmu. Pintu rumah cangkirmu tertutup, namu  tetap terang tanpa ada lampu, obor, lilin, atau apapun. Kau merasa sangat lelah dan ingin tidur. Kau duduk di atas kasur yang empuk, seperti terbuat dari udara, kau menenggelamkan diri di atasnya, hangat dan nyaman. Matamu terpejam. Perlahan kau mulai di antar pada ketidaksadaranmu, sebelum akhirnya kau menyadari sesuatu dan terduduk. Kasur? Darimana datangnya, sebelumnya ruangan ini adalah ruang yang kosong. Tanpa apapun. Dan sekarang, ruanganmu adalah sebuah ruang luas dengan satu perabot, yaitu kasur.
***
Tidur malam yang aneh, antara sadar dan tidak sadar. Kau bangun dengan terpaan sinar matahari pagi yang merona, menyorotmu dari atas. Kau melongokkan kepalamu ke jendela yang ada di sebelah kasurmu. Kau melihat Laura. Laura sedang terbang dengan sayapnya yang sangat indah, dia sedang bermain bersama teman – temannya, yang semuanya memilki sayap. Kau bergegas menghampiri mereka. Kau menutup pintumu. Menghirup udara yang segar, indah, nyaman.
Kau memulai langkah pertamamu dengan kaki kananmu yang serasa menginjak tumpukan awan, dan menghentikan kaki kirimu sendiri sesaat sebelum ia akan melangkah. Kau berbalik dan membuka pintu rumah cangkirmu kembali. Kosong. Ruangan luas tanpa isi. Sama sekali. Kasurmu entah kemana. Dan jendela. Jendela yang juga tak ada di hari kemarin, tiba – tiba ada saat kau menginginkannya, dan kini tak ada lagi. Jendela itu pergi entah kemana.
“Laura!”, kau berteriak. Laura dan teman – temannya menghampirimu.
“Hai, kau anak yang terdampar di hutan bumi?”, Seseorang yang berpakaian sama seperti Laura bertanya padamu”, hutan bumi?. “Aku Salsa. Kau siapa?”
“Aku…”, pertanyaan itu telah diajukan oleh Laura, dan sampai sekarang kau belum menemukan jawabannya.
“Namanya Honza!”, seru Laura. Kau memandang Laura penuh tanya, jadi aku Honza? Namanya aneh banget, ini aneh banget, kayak film – film dongeng anak kecil, apaan nih, batinmu masih menyimpan berjuta tanya atas ribuan kenehan yang terjadi.
 “Hai Honza, aku Amora, yang ini Lovio, yang ini Saka, ini Tetra, Ini Meydia”
Kau menjabat tangan meraka satu per satu.
Kau dan teman – teman barumu berkeliling. Dari mereka kau tahu bahwa kau sedang berada di sebuah tempat aneh yang bernama Pedusa, seperti yang dikatakan Laura sebelumnya. Di tempat ini, kau memilliki rumahmu sendiri, rumah cangkirmu sendiri. Entah siapa yang membangun entah darimana asalnya. Pedusa tak mengalami pagi, siang, malam. Aneh. Bahkan ketika kau tertidur di waktu yang kau katakan ‘kemarin malam’, ternyata itu bukanlah malam, dan matahari tetap bersinar terang seperti pagi hari. Di Pedusa tak pernah hujan kecuali di lembah hujan, yang tak pernah tak hujan. Jika penduduk Pedusa ingin bermain dengan air hujan, maka pergilah mereka ke lembah hujan. Jika mereka ingin melihat pelangi maka pergilah mereka ke tebing pelangi, Jika mereka menginginkan laut, mereka juga dapat melihatnya di sebelah utara, jika mereka menginginkan danau, telaga, air mancur, air terjun, bahkan geyser, mereka cukup melangkahkan kaki beberapa meter, dan sampai.
Pedusa dihuni oleh penduduk yang semua memakai jubah putih, kecuali dirimu dan beberapa orang lainnya yang mengenaan pakaian biasa seperti yang kau pakai. Sebagain besar dari mereka yang berjubah punya sayap yang besar di belakang punggungnya, atau tertempel di lengannya. Dan sebagian besar dari mereka menggunakan logat bahasa Indonesia yang sangat baku, kau, mengapa, dirimu, diriku, bagaimana, jika, andai saja, dan semua bahasa yang terdengar seperti sinetron telenovela yang di-Indonesiakan. Tempat ini aneh, tapi menyenangkan. Rumah cangkir. Kini kau mulai mengenal kebiasaan rumah itu. Dia selalu menyediakan apa yang kau inginkan. Apapun itu. Kau ingin ada kursi, entah kapan dan bagaimana, kursi itu ada. Kau ingin ada jendela, makanan, bunga, rumput, meja, minuman, air yang segar, bahkan angin, kau akan mendapatkannya di rumah cangkirmu.
Pedusa yang sempurna, tak ada yang seindah ini di kehidupanmu yang sebelumnya. Seluruh penduduk pedusa memperlakukanmu dengan ramah. Mengajarimu banyak hal. Memberimu banyak hal. Kau bahagia di Pedusa. Kau nyaman dan sama sekali tak ingin meninggalkan tempat itu. Kau merencanakan untuk tinggal selamanya di situ, bagaimana tidak, semua seperti surga, apapun yang kau inginkan akan terjadi, dan apapun yang kau tidak inginkan tidak akan terjadi. Kau merasa aman.
“Paman Tarka, aku tak mengerti, mengapa aku tidak memiliki sayap seperti kalian?”, kau dengan logat barumu.
“Tak apa, kau akan memilkinya kelak, jika tiba saatnya kau benar – benar berada di sini”, tetanggamu yang selalu tersenyum, kini menambah lebar senyumnya padamu.
“Maksudmu paman? Apakah aku tidak benar – benar berada di sini?”
“Belum”
“Tapi aku telah sangat lama tinggal di sini?”
“Ya, tapi waktumu belum tiba. Waktu  bagi setiap orang bisa tiba dengan cepat, bisa juga tiba dengan sangat lama. Kau tahu Zanu?”
“Zanu yang juga tak punya sayap sepertiku?”
“Ya, Zanu telah berada di sini lebih lama daripada kau, dan dia masih belum mendapatkan jubah dan sayapnya. Tak apa, itu bukan hal yang buruk”
“Tapi aku pasti memiliki sayap kan?”
“Jika kau memang harus tinggal di sini, dalam perjalanan Pedusa ke langit fana tertinggi, maka kau akan memilikinya. Jika tidak, mungkin akan keluar dari Pedusa. Karena kau harus kembali dalam kehidupan”
“Kehidupanku yang dulu?”
“Bisa jadi”
“Baiklah. Aku tak terlalu mengerti, tapi baiklah. Paman, bolehkah aku bertanya satu lagi?”
“Tentu”
“Langit fana tertinggi itu apa? Dan dimana?”
“Pedusa sedang menuju langit fana tertinggi, yang entah dimana, tak ada yang tahu, dan tak ada pula yang tahu kapan tibanya. Tidak aku, tidak kau, tidak siapapun, bahkan tidak pula Unicorn yang menarik Pedusa ke langit fana tertinggi”
Unicorn, ya, kau ingat saat pertama Laura membawamu memasuki Labu besar yang ditarik dengan unicorn. Dan kau kini berada di dalam labu itu, labu yang mereka namakan Pedusa. Labu yang tak terlalu besar tapi memiliki hamparan rerumputan yang luas, lautan ombak, telaga biru, danau kedamaian, lembah hujan, tebing pelangi, bukit aurora, kebun bunga, rumah buah, dan semua hal yang tak dapat kau jelaskan dengan otakmu.
***
Air telaga biru menabrak wajahmu dengan sensasi segar luar biasa. Kau mengusapkan air itu berkali – kali, hingga puas. Telaga biru bermandikan cahaya matahari. Di sekelilingnya, hamparan rumput hijau menebar senyum indah para penduduk Pedusa. Kau hirup udara yang selalu terasa pagi hari dalam – dalam, lalu kau menghembuskannya dengan penuh penghayatan. Kau memejamkan matamu. Menghirupnya kembali. Sejuk. Kau merentangkan tanganmu, damai, terbang. Angin sejuk menerpa tubuhmu. Kau mendengar kicauan burung – burung di sekitarmu, tak ada yang semerdu ini. suara riak air yang dipercikan oleh penduduk Pedusa yang ikut bermain di telaga biru bersamamu. Embun menyapa rentangan tanganmu. Sempurna.
Kau mengangkat badanmu seolah melayang, berusaha menghayati semua dengan lebih dalam. Angin. Angkasa. Bintang. Terbang. Sempurna. Semakin tinggi. Semakin tinggi. Kau dapat merasakan semua itu dengan seksama. Perlahan kau semakin tinggi. Semakin itnggi. Angin mulai mendingin, namun masih tetap sejuk. Kicauan burung memelan. Kau menghirup kembali udara pagimu. Udara pagi… udara pagi… udara pagi…tenggorokanmu tercekat. Kau tak dapat bernafas dengan bebas. Suara burung itu telah hilang. Gemericik air lenyap. Angin berubah menjadi dingin. kau mengernyitkan dahimu. Perasaan tak menyenangkan, yang telah lama tidak kau rasakan, tiba – tiba datang dengan lancang.
Kau membuka matamu. Hitam. Gelap. Angin dingin. Angin. Angkasa. Bintang. Harusnya kau menyadarinya lebih awal. Sejak kau merasakan angin yang mulai dingin, saat kau seperti terbang di angkasa, saat kau serasa berada di antara bintang – bintang. Bahwa kau telah keluar dari Pedusa. Jelas tak ada bintang di Pedusa, Pedusa selalu bersinar. Pedusa selalu terang. Kini kau terombang - ambing di antara bebatuan yang beterbangan. Di tempat yang sangat jauh kau melihat api yang berkobar – kobar. Di sisi yang lain kau melihat sesuatu yang bulat. Seperti planet, kau terbang di bebatuan meteor. Nafasmu sesak.
Kau memejamkan mata berharap keluar dari tempat itu. Kau hirup udara lagi, udara yang ada adalah udara kering, hanya sedikit udara. Nyaris tak ada yang dihirup. Tenggorokanmu tercekat. Kau buka matamu. Kondisi masih sama. Kau menutupnya lagi. menghirup lagi. dan sesak. Kau buka lagi matamu dan terus mencoba, mencoba, mencoba, mencoba kembali ke Pedusa. Namun kau berada di angkasa, kau memejamkan matamu lagi. lalu kau membukanya dengan perlahan, kali ini sangat perlahan, kau berharap tak akan melihat hitam lagi. Dan benar, harapanmu tercapai, kau tak melihat hitam, tapi melihat putih. Putih di seluruh tempat. Kakimu telah berpijak di… tidak dimana – mana. Semua putih, tak ada langit, tak ada bumi, semua putih, berwarna putih. Suara tak ada. Angin pun tidak ada. Semua tidak ada. Hanya puith, dan itu menakutkanmu. Kau melihat sekeliling, dan semua putih. Ini lebih dari ketakutan apapun yang pernah kau rasakan, kau sangat panik, namun hanya bisa duduk. Kau menangis sejadi – jadinya. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan.
Samar di kejauhan kau melihat sesuatu berwarna merah oranye, berjalan menjauhimu. Sesuatu yang bulat dan panjang. Pedusa! Itu pedusa, kau bangkit, berlari, lari, lari, kencang, semakin kencang, kau harus kembali ke Pedusa, kau harus kembali, kau tak mungkin terus menerus berada di tempat yang tidak dimana – mana seperti ini. kau terus memacu langkahmu, terus, terus, dan terus. Nafasmu terengah, Pedusa di depan sana tak mau berhenti. Unicorn berlalu begitu kencang. Kau terus berusaha berlari, namun kau tak sanggup lagi. tubuhmu jatuh. Mengelepar. Kau mengatur nafasmu yang terengah – engah. Tiba – tiba kau merasakan ada yang menarik tubuhmu dari belakang, kau gelagapan, namun tak sanggup melakukan apapun.
***
Pertama kali saat kau membuka matamu, setelah sekian lama rasanya kau tak membuka mata. Kau melihat atap yang putih, lengkap dengan lampu terang. Matamu berkunang – kunang. Kau mengerjapkan mata, berusaha mengusir kunang – kunang beserta sarangnya. Pandanganmu yang kabur perlahan mulai jelas. Ruangan. Kau terbaring di ruangan itu. terlindung selimut. Berat kau tolehkan kepalamu ke kanan, seseorang sedang menyandarkan kepala di kasurmu, ia di sampingmu. Kau ingin membangunkannya, namun tanganmu hanya bisa bergerak satu centimeter saja. Namun, ternyata dengan  gerakan kecilmu, orang itu terbangun. Melihatmu.
“Astaga! Dokter! Dokter!”, wanita itu berteriak.
“Aku panggil dokter dulu!”, seorang lelaki keluar dari ruangan sambil berlari.

Wanita itu kemudian memelukmu, menangis sejadi – jadinya. Memelukmu yang terbaring dengan lemah dan tak tahu harus bagaimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar