Jumat, 21 Juni 2013

ASORTA DARK CHOCOLATE

Otak. Tempatnya di kepala, bentuknya abstrak, dan isinya macam – macam. Tiap orang, meskipun memiliki volume otak yang sama, tetap saja apa yang menjadi pikirannya tidak bisa sama. Tetap saja resolusinya dalam banyak hal akan berbeda. Dan tetap saja caranya mensolusikan aneka tragedi kehidupan akan berbeda – beda pula. Itulah uniknya.
Aku punya otak, yang bagiku sangat rasional. Namun, ada kalanya aku merasa otakku aneh. Suatu waktu aku pergi ke sebuah minimarket, ternyata si minimarket sedang diskon gila – gilaan. Aku lirikkan pandangan pada dark chocolate yang di dalamnya bergumul rice crispy, mede, dan almond yang berjejal tanpa aturan –itulah indahnya-, merknya ‘Asorta’. Kutengok harganya, Rp. 15.000,00. Kupungut satu. Terbayang olehku, kelezatan yang menyelinap dalam jemari kerongkongan.
Aku bayangkan nanti, ketika aku menggunakan gigi seriku menggigit ujungnya, lalu tak sengaja sang gigi seri menabrak bongkahan almond yang gurih, ‘krak’, gigi geraham bersiap siaga, mengunyah adalah favoritnya. Namun sebelumnya, potongan cokelat itu jatuh pada lapisan lidah yang berbintil – bintil. Kuletakkan di ujung, kukecap manisnya, kuhayati pahitnya. Gelap, dark, lapisan luar mulai lumer. Lalu lapisan berikutnya, butuh waktu lebih lama untuk meleleh di antara lautan saliva-ku yang bermain – main dalam rongga mulut. Aku tak sabar. Aku mulai mengerahkan gigi gerahamku, atas bawah, kuremukkan kelembutan itu. Sebagiannya menempel di antara sela gigi – gigi yang bergemeletuk. Almond, mede, dan rice crispy kukunyah sempurna, 33 kali, hingga lembut, lalu gigiku berkoordinasi dengan lidah, dan sang lidah bersiap  menggiringnya ke dalam kerongkongan. Kerongkongan membuka. Hilanglah ia tertelan. Sempurna. Inilah cokelat. Kelezatannya tak mampu kudeskripsikan lebih dari itu, karena kenyataan cintaku pada lezatnya ia, adalah lebih dari apapun.
Ah, apa – apaan, kenapa aku malah membicarakan cokelat, bukan itu yang ingin aku pikirkan sebenarnya. Beginilah otak itu, kadang ia suka berkhianat dari rencana semula. Lugasnya aku hanya ingin membicarakan kejadian di minimarket. Biar kuulang, aku datang ke minimarket, dan mengambil cokelat, cokelat yang telah kubeberkan kelezatannya. Lalu aku berjalan ke sisi yang lain dari rak – rak yang berjajar itu. Kutemukan snack keju, dan hebatnya, sedang promo. Beli dua gratis Asorta dark chocolate.  Oh God! Mimpi apa aku, berkah. Alhasil, kuambil juga 2 snack keju. Aku bawa mereka ke kasir, 2 snack keju dan satu Asorta.
“Tiga puluh ribu Kakak, bonusnya 1 Asorta Dark Chocolate”, kata si mbak kasir. Aku keluarkan uang lima puluh ribu.
“Terimakasih telah berbelanja di Quick Mart”, ujarnya seraya memberiku senyum formalitas dan uang kembalian dua puluh ribu. 
Aku kembali ke rumah. Kusiapkan kursi malasku, kutarik sedikit ke kiri, agar aku dapat melihat rona senja yang diciptakan, dalam rangka perjalanan sang surya ke peraduannya.  Aku memulai ritualku. Otakku sedang mengintegrasi kerja gigi, lidah dan bintil – bintilnya, saliva, serta kerongkonganku. Chocolate lengkap dengan senja, membuatku selalu tenang dan nyaman.
Gigitan pertama, nikmatnya kurasa seperti biasa. Kelezatan yang telah setiap hari aku dalami. Gigitan kedua, aku tersadar akan sesuatu : cokelat ini ‘gratis’, gratis dari dua buah snack keju.  Detik itulah kurasakan kenikmatannya bertambah… cokelat gratis, heeeemmmmmm. Medenya semakin hidup, almondnya lebih terasa, rice crispy menjadi lebih kres. Dan cokelatnya jadi lebih nikmat. Gigitan ketiga, makin nikmat. Dan begitulah di setiap gigitannya hingga matahari tenggelam. Aku berdiam beberapa saat, hingga aku siap memasukkan patahan terakhir ke dalam mulutku, ‘nyesss’, lumer. Dan almond  di gigiku terpecah, lalu aku tersadar.
Aku tersadar dan menghentikan koordinasi rongga mulutku. Aku ingat telah membeli dua buah snack keju dengan bonus Asorta dark chocolate. Padahal aku hanya menginginkan dark chocolate-nya saja. Tapi demi mendapatkan keuntungan berupa cokelat gratis, aku harus rela membayar Rp.30.000,00 demi cokelat lima belas ribuku. Dan di situ aku tersadar. Pada titik – titik semacam itulah aku merasa aneh dengan pikiranku.
Malam telah mengusik senjaku. Aku masuk ke dalam rumah. Menuju ke dapur, membuka lemari kiri atas. Asorta Dark Chocolate, Asorta Dark Chocolate, Asorta Dark Chocolate, Asorta Dark Chocolate, dan semuanya Asort Dark Chocolate. Ya, aku memiliki stock Asorta Dark Chocolate di lemari itu. namun terkadang aku merasa, pergi ke minimarket dan mengeluarkan tenaga untuk membeli, akan menambah kenikmatan cokelatku. Bagiku ini rasional. Tapi tidak bagi Mama. Mama pernah melarangku membeli, karena stock di dapur masih banyak. Namun akhirnya aku tetap membeli, karena tidak ada satu pun orang yang bisa menghalangi keinginanku.
Mama yang membelikan untukku semua cokelat yang disimpan di dapur itu, karena ia tahu, aku tak bisa menjalani senjaku tanpa cokelat itu. Aku tidak bisa mengendalikan emosi tanpa cokelatku. Namun, aku lebih suka pergi ke minimarket untuk membeli, akhirnya selama sebulan, cokelat di dalam lemari tetap utuh, 25 bungkus. Itulah uniknya otak. Otak tahu mana yang lebih menyenangkan, mengambil di dapur, atau membeli di minimarket. Aku sangat mengenal otak, karena itu aku memahami segala hal yang kata mama atau siapapun adalah ‘aneh’.
Aku membuka lemari itu, iseng. Aku keluarkan semua cokelat itu dan kuhitung satu persatu, satu, dua, tiga, hingga dua puluh empat. Aku terhenyak. Hanya dua puluh empat. Aku menghitung ulang. Tetap dua puluh empat. Aku menghitung lagi, lagi, dan lagi, tetap dua puluh empat. Otakku mulai pening. Pasti ada yang telah mengambilnya satu, tidak mungkin cokelat bisa jalan sendiri. Otakku tidak bisa ditipu. Sial! Seseorang telah mencurinya. Aku berlari menuju ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, halaman depan, halaman belakang, tak ada siapapun. Hanya ada mama yang sedang menonton TV. Aku bergegas menaikki tangga, menuju kamar Cita, adikku. Aku curiga, dia yang memakan otakku. Dan benar, begitu aku membuka pintu kamarnya, dia telah melahap separuh cokelat itu.
Mataku membelalak. Nafasku terengah – engah, otakku bilang, ini keterlaluan. Aku tak lagi dapat menahan emosiku. Aku geram. Tangan kananku meninju daun pintu, lalu menendangnya hingga menabrak tembok. Cita menoleh ke belakang, wajahnya ketakutan melihatku. Cokelat yang digenggamnya ia lempar ke belakang tubuhnya. Lemparan spontan, aku tahu itu, aku dapat melihatnya, tapi tetap saja, lemparan itu membuat aku semakin tidak terima. Dia telah melecehkan cokelatku. Aku berlari menghampirinya, dia menghindar, melompat dari tempat tidurnya. Aku mengejar. Dia terus berlari, lalu dia menerobos tubuhku, keluar kamar. Aku mengejarnya. Dia menuju teras lantai dua. Aku mengejarnya. Dia berlari tak henti.
“Kak ampun kak!”, Cita terus berlari. Dan aku tak lelah mengejar, mataku masih membelalak. Memburu ia dengan buas.
Cita akhirnya terpojok, tak ada tempat berlari lagi. aku tersenyum. Senyum puas, dan senang. Perasaanku membuncah, ingin membalas perbuatannya terhadap cokelatku. Aku menghampirinya segera sebelum ia sanggup lari lagi.
“Aaaaaa! Mamaaaa!”, Cita berteriak sejadinya saat aku menjambak rambut lembutnya. Menyiksa cita sangat menyenangkan, aku merasa bisa beraktualisasi diri. Cita semakin meronta, dan semakin keras suara teriakannya, semakin semangat aku menubruk – nubrukkan kepalanya ke tembok. Ia mulai menangis, kepalanya berdarah.
Aku mendengar suara langkah kaki naik ke lantai dua, langkah kaki itu semakin dekat. Menuju ke arahku. Aku telah berdiri dengan posisi tegap, menghadap ke tubuh yang tergeletak lemah di bawah kakiku. Mama menyingkirkan tubuhku.
“Cita bangun sayang”, mama mengangkat kepala Cita. Memeluknya, lalu berusaha mengangkatnya. Mama tidak sanggup mengangkat tubuh Cita, tubuh Cita terlalu berat. Aku membungkuk, membantu Mama mengangkat Cita. Kami menggotongnya ke kamar dan menidurkannya di tempat tidur. Mama berlari keluar kamar, aku tahu ia akan mengambil air es dan kompres. Kepala Cita lebam – lebam, aku mengerutkan kening, kasihan Cita. Sepertinya aku telah sedikit berlebihan, baiklah aku memaafkannya atas tragedi cokelat ini. Aku menyesal, tapi aku puas. Pasti sakit sekali dia. Setelah mama masuk dengan kompres dan es batunya, aku meninggalkan kamar itu.
“Cita”, mama menangis.
“Ma…”, Cita telah membuka mata, “Kakak benci aku?”
“Nggak sayang, kakak cuma lagi sakit… kepala kamu masih sakit?”
“Banget ma… “

Mama memeluk Cita, aku mengintip dari pintu. Aku tidak sakit, pikirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar