Otak. Tempatnya di kepala, bentuknya abstrak, dan
isinya macam – macam. Tiap orang, meskipun memiliki volume otak yang sama,
tetap saja apa yang menjadi pikirannya tidak bisa sama. Tetap saja resolusinya
dalam banyak hal akan berbeda. Dan tetap saja caranya mensolusikan aneka
tragedi kehidupan akan berbeda – beda pula. Itulah uniknya.
Aku punya otak, yang bagiku sangat rasional. Namun,
ada kalanya aku merasa otakku aneh. Suatu waktu aku pergi ke sebuah minimarket,
ternyata si minimarket sedang diskon gila – gilaan. Aku lirikkan pandangan pada
dark chocolate yang di dalamnya
bergumul rice crispy, mede, dan
almond yang berjejal tanpa aturan –itulah indahnya-, merknya ‘Asorta’. Kutengok
harganya, Rp. 15.000,00. Kupungut satu. Terbayang olehku, kelezatan yang menyelinap
dalam jemari kerongkongan.
Aku bayangkan nanti, ketika aku menggunakan gigi
seriku menggigit ujungnya, lalu tak sengaja sang gigi seri menabrak bongkahan almond yang gurih, ‘krak’, gigi geraham bersiap siaga, mengunyah adalah favoritnya.
Namun sebelumnya, potongan cokelat itu jatuh pada lapisan lidah yang berbintil
– bintil. Kuletakkan di ujung, kukecap manisnya, kuhayati pahitnya. Gelap, dark, lapisan luar mulai lumer. Lalu
lapisan berikutnya, butuh waktu lebih lama untuk meleleh di antara lautan saliva-ku yang bermain – main dalam
rongga mulut. Aku tak sabar. Aku mulai mengerahkan gigi gerahamku, atas bawah,
kuremukkan kelembutan itu. Sebagiannya menempel di antara sela gigi – gigi yang
bergemeletuk. Almond, mede, dan rice
crispy kukunyah sempurna, 33 kali, hingga lembut, lalu gigiku berkoordinasi
dengan lidah, dan sang lidah bersiap
menggiringnya ke dalam kerongkongan. Kerongkongan membuka. Hilanglah ia
tertelan. Sempurna. Inilah cokelat. Kelezatannya tak mampu kudeskripsikan lebih
dari itu, karena kenyataan cintaku pada lezatnya ia, adalah lebih dari apapun.
Ah, apa – apaan, kenapa aku malah membicarakan
cokelat, bukan itu yang ingin aku pikirkan sebenarnya. Beginilah otak itu,
kadang ia suka berkhianat dari rencana semula. Lugasnya aku hanya ingin
membicarakan kejadian di minimarket. Biar kuulang, aku datang ke minimarket,
dan mengambil cokelat, cokelat yang telah kubeberkan kelezatannya. Lalu aku
berjalan ke sisi yang lain dari rak – rak yang berjajar itu. Kutemukan snack keju, dan hebatnya, sedang promo.
Beli dua gratis Asorta dark chocolate.
Oh God! Mimpi apa aku, berkah. Alhasil,
kuambil juga 2 snack keju. Aku bawa
mereka ke kasir, 2 snack keju dan
satu Asorta.
“Tiga puluh ribu Kakak, bonusnya 1 Asorta Dark Chocolate”, kata si mbak kasir. Aku keluarkan uang lima puluh ribu.
“Tiga puluh ribu Kakak, bonusnya 1 Asorta Dark Chocolate”, kata si mbak kasir. Aku keluarkan uang lima puluh ribu.
“Terimakasih telah berbelanja di Quick Mart”, ujarnya
seraya memberiku senyum formalitas dan uang kembalian dua puluh ribu.
Aku kembali ke rumah. Kusiapkan kursi malasku, kutarik
sedikit ke kiri, agar aku dapat melihat rona senja yang diciptakan, dalam
rangka perjalanan sang surya ke peraduannya. Aku memulai ritualku. Otakku sedang mengintegrasi
kerja gigi, lidah dan bintil – bintilnya, saliva, serta kerongkonganku. Chocolate lengkap dengan senja,
membuatku selalu tenang dan nyaman.
Gigitan pertama, nikmatnya kurasa seperti biasa. Kelezatan
yang telah setiap hari aku dalami. Gigitan kedua, aku tersadar akan sesuatu :
cokelat ini ‘gratis’, gratis dari dua buah snack
keju. Detik itulah kurasakan
kenikmatannya bertambah… cokelat gratis,
heeeemmmmmm. Medenya semakin hidup,
almondnya lebih terasa, rice crispy
menjadi lebih kres. Dan cokelatnya
jadi lebih nikmat. Gigitan ketiga, makin nikmat. Dan begitulah di setiap
gigitannya hingga matahari tenggelam. Aku berdiam beberapa saat, hingga aku
siap memasukkan patahan terakhir ke dalam mulutku, ‘nyesss’, lumer. Dan almond
di gigiku terpecah, lalu aku tersadar.
Aku tersadar dan menghentikan koordinasi rongga
mulutku. Aku ingat telah membeli dua buah snack
keju dengan bonus Asorta dark chocolate.
Padahal aku hanya menginginkan dark
chocolate-nya saja. Tapi demi mendapatkan keuntungan berupa cokelat gratis,
aku harus rela membayar Rp.30.000,00 demi
cokelat lima belas ribuku. Dan di situ aku tersadar. Pada titik – titik semacam
itulah aku merasa aneh dengan pikiranku.
Malam telah mengusik senjaku. Aku masuk ke dalam rumah.
Menuju ke dapur, membuka lemari kiri atas. Asorta
Dark Chocolate, Asorta Dark Chocolate, Asorta Dark Chocolate, Asorta Dark
Chocolate, dan semuanya Asort Dark
Chocolate. Ya, aku memiliki stock
Asorta Dark Chocolate di lemari itu.
namun terkadang aku merasa, pergi ke minimarket dan mengeluarkan tenaga untuk
membeli, akan menambah kenikmatan cokelatku. Bagiku ini rasional. Tapi tidak
bagi Mama. Mama pernah melarangku membeli, karena stock di dapur masih banyak. Namun akhirnya aku tetap membeli,
karena tidak ada satu pun orang yang bisa menghalangi keinginanku.
Mama yang membelikan untukku semua cokelat yang
disimpan di dapur itu, karena ia tahu, aku tak bisa menjalani senjaku tanpa
cokelat itu. Aku tidak bisa mengendalikan emosi tanpa cokelatku. Namun, aku
lebih suka pergi ke minimarket untuk membeli, akhirnya selama sebulan, cokelat di
dalam lemari tetap utuh, 25 bungkus. Itulah uniknya otak. Otak tahu mana yang
lebih menyenangkan, mengambil di dapur, atau membeli di minimarket. Aku sangat
mengenal otak, karena itu aku memahami segala hal yang kata mama atau siapapun
adalah ‘aneh’.
Aku membuka lemari itu, iseng. Aku keluarkan semua cokelat
itu dan kuhitung satu persatu, satu, dua, tiga, hingga dua puluh empat. Aku
terhenyak. Hanya dua puluh empat. Aku menghitung ulang. Tetap dua puluh empat.
Aku menghitung lagi, lagi, dan lagi, tetap dua puluh empat. Otakku mulai
pening. Pasti ada yang telah mengambilnya satu, tidak mungkin cokelat bisa
jalan sendiri. Otakku tidak bisa ditipu. Sial! Seseorang telah mencurinya. Aku
berlari menuju ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, halaman depan, halaman
belakang, tak ada siapapun. Hanya ada mama yang sedang menonton TV. Aku
bergegas menaikki tangga, menuju kamar Cita, adikku. Aku curiga, dia yang
memakan otakku. Dan benar, begitu aku membuka pintu kamarnya, dia telah melahap
separuh cokelat itu.
Mataku membelalak. Nafasku terengah – engah, otakku
bilang, ini keterlaluan. Aku tak lagi dapat menahan emosiku. Aku geram. Tangan
kananku meninju daun pintu, lalu menendangnya hingga menabrak tembok. Cita menoleh
ke belakang, wajahnya ketakutan melihatku. Cokelat yang digenggamnya ia lempar
ke belakang tubuhnya. Lemparan spontan, aku tahu itu, aku dapat melihatnya,
tapi tetap saja, lemparan itu membuat aku semakin tidak terima. Dia telah
melecehkan cokelatku. Aku berlari menghampirinya, dia menghindar, melompat dari
tempat tidurnya. Aku mengejar. Dia terus berlari, lalu dia menerobos tubuhku,
keluar kamar. Aku mengejarnya. Dia menuju teras lantai dua. Aku mengejarnya.
Dia berlari tak henti.
“Kak ampun kak!”, Cita terus berlari. Dan aku tak
lelah mengejar, mataku masih membelalak. Memburu ia dengan buas.
Cita akhirnya terpojok, tak ada tempat berlari lagi.
aku tersenyum. Senyum puas, dan senang. Perasaanku membuncah, ingin membalas
perbuatannya terhadap cokelatku. Aku menghampirinya segera sebelum ia sanggup
lari lagi.
“Aaaaaa! Mamaaaa!”, Cita berteriak sejadinya saat aku
menjambak rambut lembutnya. Menyiksa cita sangat menyenangkan, aku merasa bisa
beraktualisasi diri. Cita semakin meronta, dan semakin keras suara teriakannya,
semakin semangat aku menubruk – nubrukkan kepalanya ke tembok. Ia mulai
menangis, kepalanya berdarah.
Aku mendengar suara langkah kaki naik ke lantai dua,
langkah kaki itu semakin dekat. Menuju ke arahku. Aku telah berdiri dengan posisi
tegap, menghadap ke tubuh yang tergeletak lemah di bawah kakiku. Mama
menyingkirkan tubuhku.
“Cita bangun sayang”, mama mengangkat kepala Cita.
Memeluknya, lalu berusaha mengangkatnya. Mama tidak sanggup mengangkat tubuh Cita,
tubuh Cita terlalu berat. Aku membungkuk, membantu Mama mengangkat Cita. Kami
menggotongnya ke kamar dan menidurkannya di tempat tidur. Mama berlari keluar
kamar, aku tahu ia akan mengambil air es dan kompres. Kepala Cita lebam –
lebam, aku mengerutkan kening, kasihan Cita. Sepertinya aku telah sedikit
berlebihan, baiklah aku memaafkannya atas tragedi cokelat ini. Aku menyesal,
tapi aku puas. Pasti sakit sekali dia. Setelah mama masuk dengan kompres dan es
batunya, aku meninggalkan kamar itu.
“Cita”, mama menangis.
“Ma…”, Cita telah membuka mata, “Kakak benci aku?”
“Nggak sayang, kakak cuma lagi sakit… kepala kamu
masih sakit?”
“Banget ma… “
Mama memeluk Cita, aku mengintip dari pintu. Aku tidak
sakit, pikirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar