Virna menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kelopak
mata langsung terkatup. Mendengus kesal. Mobil Ari baru saja keluar dari
halamannya, meninggalkan remah – remah bergejolak di hati Virna. Pertengkaran.
Lagi. Dengan masalah yang sama, waktu. Waktu Ari yang sempit sekali untuk
Virna, bahkan dalam seminggu belum tentu mereka bertemu. Rasanya lebih baik Ari
yang jadi staff seperti dulu tapi
punya banyak waktu bersama, daripada Ari yang jadi kepala divisi tapi seolah
mati dari kehidupan Virna. Pelupuk mata Virna memanas, dadanya tercekat oleh
rasa sakit hati yang menjalar. Terkadang Virna berpikir untuk mengakhiri semua
ini. Tapi ia takut itu semua adalah emosi sesaat. Tapi jika seperti ini terus
keadaannya, apalagi yang mau dipertahankan. Sudah sejak lima bulan yang lalu
mereka berencana menikah, dan sudah sejak tiga bulan yang lalu seharusnya
mereka sudah resmi jadi suami istri.
Virna sudah tidak melihat sedikit pun celah untuk
toleransi, pernikahan mereka sudah diundur dan gonta ganti tanggal sebanyak
tiga kali, gara – gara pekerjaan Ari. Apa
harus diundur sampai yang keempat? Batin Virna mencoba mencari celah
toleransi, namun semua seolah ombak yang berkejar – kejaran dengan keadilan. Seolah
semua harus Virna yang berkorban. Pertengkaaran demi pertengkaran terus
bergulir, meskipun Ari selalu menunjukkan sikap mengalah dengan cara tidak
marah balik, tapi tetap saja hasil akhirnya adalah kemenangan pekerjaan Ari
dibanding hubungan dengan Virna.
***
“Ri, gagal. R
and D10 udah coba idenya Hans, dengan segala cara”, Hana duduk
di depan meja Ari yang sedang fokus memandangi layar laptop yang berisi foto
Virna.
“Hah? cuma biskuit dikasih buah aja nggak bisa?
Bukannya itu ide sederhana banget?”, Ari berhasil menutupi rasa kagetnya dengan
kedatangan Hana yang tiba – tiba.
“Ri, lo perlu inget, kandungan air di dalem buah itu
selalu tinggi Ri. Kasusnya adalah, waktu mereka ngoven biskuitnya, air dari
buahnya keluar dan itu bikin tekstur biskuitnya jadi empuk banget, kayak bolu”
“Buahnya nggak bisa dikeluarin dulu airnya, pakai cabinet dryer11?”
“Udah, hasilnya buahnya keras, alot, nggak bisa
dimakan. Mereka juga udah coba pakai oven biar buahnya bisa renyah, tapi
hasilnya sama, malah worse. Mereka
juga udah coba teknik blanching12,
sangrai, boiling13,
kombinasi antara boiling dan sangrai.
Semua deh. Udah deh, pokoknya nyerah. Lagian ya Ri, kalau buahnya diproses dulu
dengan cara kayak gitu tadi, itu namanya bukan buah segar, bukan fresh fruit. Iya kan?”
“Oke. Gue terima kegagalan ini”
“What? So?”
“Entar sambil lo keluar dari ruangan gue, tolong lo
kasih tahu sekretaris gue buat jadwalin meeting,
dan lo kasih tahu anak – anak buat meeting”
Tanpa banyak kata, Hana keluar dari ruangan Ari.
“Hana!”, Ari memanggilnya lagi, “Sore ini habis jam kantor ya”
“Apanya?”
“Meetingnya”
“What? Ari,
jadi gini ya, biar gue kasih tahu lo. Selama ini gue berusaha memahami posisi
lo yang lagi banyak masalah, soal kejar deadline
di kantor, dan soal pernikahan lo sama Virna yang ketunda – tunda terus. Dan
gue allways berusaha mengerti sikap
lo yang kayak cewek PMS, dan gue selalu belain lo di depan anak – anak kalau
mereka lagi ngeluhin sikap lo. Tapi please
lo nggak usah nambah jam kerja kita. Dari pada buat meeting, mendingan waktu lo, lo pake buat nemuin Virna”
“Hana, jadi gini ya, biar gue ingetin lo. Dua hal.
Yang pertama, sekarang gue bos lo. Yang kedua, waktu kita cuma sebulan, ini
udah udah jalan lima hari. Sedetik pun itu berguna. Lo juga tahu sendiri kan,
bikin team HACCP nggak bisa cepet, analisis ekonomi, perencanaan produksi, bla
bla bla”
Hana diam dan ngeloyor pergi.
***
“Sore guys.
Yang pertama gue minta maaf karena ngambil waktu kalian di luar jam kerja. Jadi
gini guys, to the point aja, tadi
siang gue dapet laporan dari…”, kalimat Ari terhenti melihat Laksmi
mengacungkan tangan.
“Sore juga Ri, Yang pertama gue minta maaf karena
motong omongan lo. Jadi gini Ri, gue
gerasa to the point-nya elo
tuh terlalu muter – muter. Jadi mending gue aja yang to the point. Ide gue adalah ngadopsi konsep Chocobi, tapi isinya
pakai buah segar”
“Nggak mungkin”, Hana menyahut, “Kasusnya bakalan
sama, air yang keluar dari buah, bakal bikin adonan empuk”
“Sorry, gue
boleh tanya?”, Aldo menngacungkan tangan, “Chocobi tu apaan?”
“Iya gue juga nggak tahu”, Hans bersepakat.
“Nggak gaul sih lo pada, nonton Shinchan dong. Chocobi
itu snack-nya Sinchan, jadi ada kukis
yang didalemnya isi saus cokelat, dan idenya Laksmi, cokelat itu diganti jadi
buah segar”, Mendengar jawaban Tara, Hans dan Aldo bersamaan membentuk huruf
“O” di mulut mereka.
“Tapi sekarang gue sepakat Hana sih, kasusnya bakal
sama aja kayak biskuit. Ide gue, gue cabut”, Laksmi menyambung.
“Siska? “, Pandangan ari mengarah pada seseorang yang
meletakkan kepalanya di meja dengan mata terpejam. “Siska!” Ari mulai menambah
volumenya. Hana mengguncang bahu Siska.
“Cokelat!”, Siska terhenyak dari tidurnya. Forum
berpandangan.
“Lo punya ide tentang cokelat? Atau lo mimpi tentang
cokelat, atau lo minta cokelat?”, tukas Ari sinis.
“Oh, nggak nggak”, Siska celingukan, “Sorry gue… gue… ngantuk banget”, ujarnya
pasrah.
“Siska, gue minta maaf udah ambil waktu tidur lo, tapi
please, kita semua juga capek, gue
juga capek”, Ari membereskan dokumennya, mencabut kabel proyektor, menutup
laptop sekenanya. “Oke, gue salah udah ambil jam lelah kalian. Rapat selesai”,
Ari terus membereskan semua barang – barangnya di meja dan memasukkannya dalam
tas.
Forum terdiam. Hening. Seperti Ratu Es telah datang
berkunjung dan mengelukan pita suara setiap orang. Ari memasukkan dokumen
terakhirnya ke dalam tas.
“Cokelat Mix
Fruit”, Siska terhenyak sendiri mendengar kata – kata yang baru saja keluar
dari mulutnya. Ari mengalihkan pandangan pada Siska, lalu duduk dan memfokuskan
matanya pada Siska, “Cokelat? Mix? Fruit? coba jelasin”.
Siska gelagapan, “emm, anu, apa ya… gue juga bingung,
hehe, gini gini.. jadi cokelat, emm, terus mix… terus anu… gimana ya..”, tak
ada sepatah kata pun yang terlintas untuk menjelaskan ide spontannya itu.
“Cokelat Assortment”,
Hans berusaha menyelamatkan, “Assortment-nya
kita ganti mix fruit”
“Iya, gue tahu sekarang, bola cokelat, kalau biasanya
di tengah bola cokelat itu diisi assortment
berupa mede, almond, kismis, atau rice
crispy, kita ganti assortment-nya
jadi buah segar!”, Laksmi mengubah raut mukanya jadi sumringah.
“Is it ok Hana?”,
Ari mulai mengubah air mukanya ke arah positif.
“Emm, gue nggak tahu, mungkin bisa sih, tapi tetep bakalan
susah, gue nggak terlalu optimis sih”
“Yah Hana, kok nggak optimis sih, itu mungkin banget
menurut gue. Cokelat kan kandungan air bebasnya rendah, kemungkinan kecil
banget kan bakteri bisa tumbuh di situ. Buah yang kandungan air bebasnya tinggi
banget bakalan dilindungi sama si cokelat, jadi bakteri dari luar nggak akan
nyerang buah, dan buah nggak akan busuk”, Laksmi berteori.
“Oke, iya, emang. Tapi sebelum buahnya di-coating14 pakai cokelat,
emang buahnya nggak ada bakterinya? Kan bisa aja buah itu udah berbakteri
sebelum masuk ke dalam cokelat”,
“Ya prosesnya harus steril dong Hana, bisa kan?”,
Laksmi terus mencecar.
“Sterilnya gimana mi, lo bayangin deh teknisnya, buah
segar, dikupas, dipotong, terus dicuci, terus diapain, disterilisasi suhu
tinggi? Nggak mungkin mi, buah nggak bisa dipanasin setinggi suhu sterilisasi,
bisa rusak buahnya”
“Oh ya? tapi fruit
cannery itu buahnya nggak rusak Na?
fruit cannery kan pakai proses sterilisasi suhu tinggi? , Tara mulai masuk.
“Em, iya sih, tapi itu untuk buah – buah tertentu aja,
nggak semua buah bisa disterilisasi. Kan nggak semua buah bisa dikalengkan Tar”
“Ya udah kita pakainya buah yang bisa dikalengin aja”,
Laksmi terus mencecar.
“Oke oke, bisa tapi lo bayangin aja prosesnya gimana”,
Hana menarik nafasnya, “Atau gini deh, nggak usah ribet bayangin prosesnya,
bayangin aja produknya. Gini, yang pertama gue jelasin soal cokelat, cokelat
itu nggak bisa busuk guys, jadi kami
di lab itu, nentuin masa kadaluarsa cokelat berdasarkan seberapa lama kira –
kira cokelat itu bakal mengkristal. Cokelat emang nggak bisa busuk, tapi bisa
mengkristal. Kalau kristalnya udah semakin membesar, cokelatnya bisa remuk,
bahkan jadi bubuk. Kristalisasi itu disebabkan oleh lemak cokelat itu sendiri.
Apalagi kalau lemak cokelat itu bereaksi sama udara, kristalisasinya makin
cepet. Coba bayangin kalau lemak cokelat bereaksi sama enzim buah, gue nggak
tahu bakal gimana, tapi yang jelas itu akan sangat memperpendek umur simpan. Itu
cokelatnya, sekarang kita ngomongin buahnya. Buah fresh masuk ke dalem cokelat, sekalipun cokelatnya oke, buahnya
gimana? tetep bakalan busuk, meskipun nggak ada bakteri yang masuk. Buah itu
punya enzim guys, enzimnya bakalan ngebusukin buah itu. tetep aja jadi busuk”
“Kalau buahnya disterilisasi dulu, atau mungkin di-blanching buat mematikan aktivitas
enzimnya?”, Aldo mencoba memberi solusi.
“Sterilisasinya gimana?”, Hana bertanya balik, “suhu
tinggi kayak yang dibilang Laksmi barusan? Oke mungkin emang bisa untuk buah –
buah tertentu, tapi buahnya mateng dong, apa bedanya sama buah kukus, pemanasan
kan pakai steam15, bukan
buah segar jadinya, kasus buahnya sama kayak yang di kukisnya Hans kemarin”
“Ri, apa buahnya harus bener – bener segar? nggak
boleh gitu dikukus, dikeringin?”, Hans mengalihkan pandangan pada Ari. Ari
diam, memikirkan sesuatu apapun yang bisa menjadi solusi.
“Rasanya mustahil kita kabulin keinginannya Pak
Fahri”, Laksmi mulai putus asa, diikuti forum yang mulai lesu.
“Oke guys, jujur gue sepakat sama statement hopeless-nya Laksmi barusan. Buah segar nggak mungkin
kita apa – apain kayaknya. Gue akan coba lobby
untuk pake buah rebus, kukus, sangrai, atau apapun itu”, Ari mengalihkan
pandangan pada Hana, “Nah Na, kalau buahnya nggak harus segar, menurut lo
gimana?”
“Oke, mungkin
itu bisa jadi solusi pertama. Walaupun gue nggak ngebayangin sih produknya jadi
gimana diisi buah basah, meskipun nggak segar. Tapi kita punya masalah di
proses Ri. Bakalan gimana coba. Cara sterilisasi buahnya gimana, kalau cannery kan ada medianya berupa kaleng,
dan dijualnya juga pakai kaleng, nah kalau nggak pakai kaleng, kita bakal
sterilisasi gimana. Kecuali buahnya crispy
dan kering, tapi hasil percobaan pengeringan pake cabinet dryer kemarin nggak banget”
“Kalau sterilisasinya di pipa besar? buahnya dialirkan
di dalem pipa sterilisasi? Gimana?”, Tara agak ragu dengan ucapannya sendiri.
“Buahnya bisa ngalir pakai apa? jalannya buahnya pakai
apa?”, Hana mencecar.
“Air?”
“Air? Malah nambah kadar air buah dong?”
“Oh! Pakai cokelat leleh! Cokelatnya jalan di dalem
pipa itu barengan sama buahnya, terus habis itu keluar dari pipa langsung masuk
suhu beku, dan dicetak, jadi deh”
“Coating
dalam keadaan panas? Nggak bisa, buahnya sama cokelatnya nggak bisa nempel
dalam keadaan suhu setinggi itu”
“Kenapa nggak bisa?”
“Kalo keduanya sama - sama panas nggak bisa nempel,
masalahnya cokelatnya tuh lelehnya nggak sampe suhu setinggi sterilisasi… Emm,
kayaknya sih gitu, aku nggak terlalu kebayang sih sebenernya teman – teman”
“Emm, kalau gini gimana”, Siska beridiri dan
memperagakan,” Kalian bayangin, di sebelah sini ada pipa besar, isinya conveyor15, jadi bukan
cairan cokelat atau pun air tapi kita pakai conveyor
yang cuma jalan di dalem pipa itu, di dalem pipa itu terjadi sterilisasi
suhu tinggi. Buah yang sebelumnya udah diproses jadi potongan kecil – kecil dimasukin
ke pipa itu, seluruh mikrobia sama enzim kan mati di situ. Habis itu buahnya
lewat pipa kedua yang bersuhu freeze,
habis itu langsung nyemplung di kolam cokelat. Cokelatnya udah leleh dan dalam
keadaan siap dibekukan kembali. Terus di kolam cokelat itu ada corong yang
menuju ke area pembekuan cokelat. Di dalem area pembekuan cokelat itu ada conveyor yang di atasnya ada cetakan.
Jadi bola – bola cokelatnya dicetak di situ, terus langsung masuk kemasan. Bisa
kan?”
“Emm, mungkin sih”, Hana belum juga yakin.
“Nggak, Nggak mungkin”, Aldo bersuara, “Kalau pun
mungkin produknya bisa jadi dengan proses itu, kalian pikir, pipa sterilisasinya
siapa yang bakal kita pakai? conveyor
steril dari mana? Lagian gue baru pertama kali denger ada pipa yang isinya conveyor”
Mata Aldo terarah kepada Siska yang masih berdiri,
“Terus cetakannya yang buat nyetak bola – bola cokelat itu, lo bayangin Sis…
kolam cokelat yang ada corongnya, terus dibekuin dan di cetak, nyetaknya
gimana? Yakin disetiap cokelat yang tercetak jadi bentuk bola itu di dalemnya
udah pasti ada buahnya? Cetakannya harus canggih dong? Harus bisa nyeleksi
bagian mana yang ada buahnya dan bagian mana yang nggak ada”
“Gue nggak paham”, Siska masih berdiri.
“Nggak usah paham juga nggak pa-pa deh, intinya gue tuh
mau ngomong kalau sumber daya pabrik kita ini terbatas saudara – saudara. Kita
nggak punya pipa raksasa yang isinya conveyor,
kita nggak punya pencetak selektor yang mungkin digerakin pakai microcontroller16 atau apalah
itu, kita juga nggak punya ruangan yang tepat buat pemrosesan itu. Sorry menghancurkan imajinasi kalian,
tapi gue sebagai kepala bagian peralatan nggak bisa mewujudkan impian itu jadi
kenyataan”
“Oke, kesimpulan gue adalah, nggak mungkin cokelat mix fruit”, Ari menghela nafas, “okelah guys, udah mau malem, kalian semua butuh
istirahat. Kita meeting besok siang,
dengan ide segar. Thank you semuanya,
selamat sore menjelang malam”
***
Cahaya bulan temaram menyinari wajah Virna yang sedari
tadi dilipat – lipat. Lampu bohlam café yang
berhiaskan aneka ornamen, membuat wajah Virna yang cemberut, terlihat begitu
indah di mata Ari. “Sayang, kamu kalau senyum nentremin hati lho”, Ari mencoba
merayu. Sebuah awalan permintaan maaf. Susah payah Virna mengubah ekspresi
wajahnya, senyum terpaksa tampak menghiasi bibir merah mudanya. “Ari”, Virna
menghela nafas, “Aku rasanya nggak bisa bernafas”
“Maksud kamu Sayang?”
“Ari, aku udah merenung, lama banget. Aku diem berjam
– jam di kamar, nggak makan, nggak bisa tidur juga. Aku udah pikirin semuanya dnegan
mateng. Dan aku mau ambil keputusan”
“Kamu ngomong apa sih Sayang?”
“Ari aku mau putus”, Hati Virna seakan mau meledak
mengucapkan kalimat itu, ada rasa lega, tapi ada juga pisau tajam yang
menyayat.
“Sayang kamu jangan bercanda deh”, Ari menggenggam
tangan Virna yang sedari tadi nangkring di atas meja.
“Ari aku udah sering banget bilang ama kamu bahwa aku
capek sama hubungan kita yang kayak gini terus, iya kan?”
“Tapi sayang, kita udah mau nikah sayang. Dan emangnya
kamu nggak sayang lagi sama aku?”
“Aku sayang Ri sama kamu, aku cinta banget sama kamu
Ri. Tapi aku nggak bisa nafas Ri, aku kehabisan oksigen. Aku nggak sanggup lagi
kecemplung di dalem lautan cinta kamu”
“Virna please”,
Pelupuk mata Ari menghangat, telaga di matanya hampir bocor.
Virna mulai menitikkan air mata, “Sayang, I love you, tapi aku nggak sanggup
bertahan di dalam cinta kamu. Cinta kamu menyakitkan Ri. Aku punya kamu tapi
seolah nggak punya kamu. Kamu hidup tapi seolah mati. Dan aku ada tapi nggak
merasa ada. Cinta kamu itu kayak cairan gula yang kental, yang manis banget.
Aku yang ada di dalem cairan manis itu ternyata tercekat nggak bisa bernafas
karena nggak ada oksigen buat aku Ri. Ibaratnya, aku ini semut yang
menginginkan manisnya gula, tapi kecemplung, tenggelam, dan nyaris mati.
Sekarang si semut yang malang ini pengen keluar dari cairan gula itu Ri. Cairan
gula yang nggak kerasa lagi manisnya buat aku”
“Virna, tanpa kamu tahu, aku juga selalu berusaha
ngeluangin waktuku buat kamu. Vir, please
kasih waktu… “
“Waktu apalagi Ari, waktu untuk nunda pernikahan kita?
lagi? kamu nggak capek? aku capek Ri! Banget! Kamu anggep aku ini apa? Aku udah
membusuk di tengah permasalahan kita Ri”
“Vir, kita tu sebenernya kan nggak ada masalah.
Sayang, aku selalu berusaha ngejaga emosiku, demi ngejaga keawetan hubungan
kita, tapi kamu selalu… ”, Ari terhenti oleh gebrakan meja dari tangan Virna.
“Nggak ada masalah gimana? Allways kamu bilang kayak gitu. Oke. Menurut kamu ini memang nggak
masalah. Tapi ini masalah buat aku, aku butuh ruang. Ruangmu. Ngejaga apa? kamu
ngejaga emosimu tapi nggak ngejaga emosiku, nggak ngejaga perasaanku, nggak
ngehargain pengorbananku, ngalahku selama ini. Keawetan apa? Kamu pikir aku
mayat yang kamu kasih formalin? Atau kamu pikir aku buah kaleng yang kamu
sterilisasi di pabrik kamu itu? Atau kamu pikir aku kulit jeruk yang kamu
cemplungin di cairan gula kayak gini?”, Virna mendorong mangkuk kecil berisi marmalade17 yang terhidang di
meja ke arah Ari. “Kamu pikir aku kulit jeruk yang ada di dalem marmalade? yang kamu awetin biar nggak
busuk, yang cuma bisa diem, nggak bisa bergerak, mati, nggak bisa bernafas, dan
harus nunggu kamu ngambil aku untuk kamu oles ke roti, dan setelah itu kamu
makan buat mengenyangkan perut kamu, memuaskan lidah kamu?”, Virna menghela
nafas. “Ari, semuanya yang terjadi selalu demi kamu, selalu demi kesenangan
kamu, selalu demi karir kamu, selalu demi diri kamu sendiri”
“Tapi semua
yang aku lakukan juga demi kamu kan Sayang?”
“Ari, ini aku kembaliin cincin dari kamu, permisi,
selamat tinggal Ari. Aku akan lupain kamu”, Virna meletakkan sebuah cincin
platina berlapis berlian, dan pergi begitu saja. Ari hanya diam, ia ingin menghalangi
Virna, tapi seolah tak punya nyali. Ari sadar selama ini Virna sudah banyak
berkorban demi dia, demi pekerjaannya. Ari sadar, bahwa dialah yang salah dalam
hal ini. Ari sadar bahwa Virna tak mungkin lagi dibuat menunggu. Dan Ari sadar
bahwa Virna berhak bahagia. Mungkin Virna benar, dirinya telah memperlakukan
Virna seperti marmalade yang ada di
depan matanya.
Ari mengambil selapis roti gandum yang telah ter-garnish dengan cantik di meja,
dioleskannya marmalade itu ke atas
rotinya. Tak habis air matanya memandangi kulit jeruk yang tergelepar di
hamparan roti lapis marmalade-nya.
10Reasearch and Development
11alat pengering yang bekerja dnegan cara menghilangkan
kelembaban bahan pangan, sehingga bahan menajdi kering.
12pencelupan bahan makanan ke dalam air mendidih selama
beberapa detik atau menit untuk membunuh bakteri, dan mematikan enzim.
13perebusan
14 pelapisan yang diterapkan pada permukaan suatu benda atau
substrat.
15suatu
alat mekanik yang berfungsi untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat
lain, dengan cara menjalankannya di atas conveyor
dan banyak digunakandi industri untuk transportasi barang yang jumlahnya
sangat banyak dan berkelanjutan.
16 sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip,
berfungsi untuk melakukan perintah tertentu oleh suatu alats cara otomatis.
17 buah yang diolah menjadi bubur buah dengan ditambahkan gula
dan asam pada konsentrasi tertentu, dan ditambahkan irisan kulit atau potongan buah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar