Minggu, 16 Juni 2013

Marmalade (Part 2)

Virna menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kelopak mata langsung terkatup. Mendengus kesal. Mobil Ari baru saja keluar dari halamannya, meninggalkan remah – remah bergejolak di hati Virna. Pertengkaran. Lagi. Dengan masalah yang sama, waktu. Waktu Ari yang sempit sekali untuk Virna, bahkan dalam seminggu belum tentu mereka bertemu. Rasanya lebih baik Ari yang jadi staff seperti dulu tapi punya banyak waktu bersama, daripada Ari yang jadi kepala divisi tapi seolah mati dari kehidupan Virna. Pelupuk mata Virna memanas, dadanya tercekat oleh rasa sakit hati yang menjalar. Terkadang Virna berpikir untuk mengakhiri semua ini. Tapi ia takut itu semua adalah emosi sesaat. Tapi jika seperti ini terus keadaannya, apalagi yang mau dipertahankan. Sudah sejak lima bulan yang lalu mereka berencana menikah, dan sudah sejak tiga bulan yang lalu seharusnya mereka sudah resmi jadi suami istri.
Virna sudah tidak melihat sedikit pun celah untuk toleransi, pernikahan mereka sudah diundur dan gonta ganti tanggal sebanyak tiga kali, gara – gara pekerjaan Ari. Apa harus diundur sampai yang keempat? Batin Virna mencoba mencari celah toleransi, namun semua seolah ombak yang berkejar – kejaran dengan keadilan. Seolah semua harus Virna yang berkorban. Pertengkaaran demi pertengkaran terus bergulir, meskipun Ari selalu menunjukkan sikap mengalah dengan cara tidak marah balik, tapi tetap saja hasil akhirnya adalah kemenangan pekerjaan Ari dibanding hubungan dengan Virna.
***
“Ri, gagal. R and D10 udah coba idenya Hans, dengan segala cara”, Hana duduk di depan meja Ari yang sedang fokus memandangi layar laptop yang berisi foto Virna.
“Hah? cuma biskuit dikasih buah aja nggak bisa? Bukannya itu ide sederhana banget?”, Ari berhasil menutupi rasa kagetnya dengan kedatangan Hana yang tiba – tiba.
“Ri, lo perlu inget, kandungan air di dalem buah itu selalu tinggi Ri. Kasusnya adalah, waktu mereka ngoven biskuitnya, air dari buahnya keluar dan itu bikin tekstur biskuitnya jadi empuk banget, kayak bolu”
“Buahnya nggak bisa dikeluarin dulu airnya, pakai cabinet dryer11?
“Udah, hasilnya buahnya keras, alot, nggak bisa dimakan. Mereka juga udah coba pakai oven biar buahnya bisa renyah, tapi hasilnya sama, malah worse. Mereka juga udah coba teknik blanching12, sangrai, boiling13, kombinasi antara boiling dan sangrai. Semua deh. Udah deh, pokoknya nyerah. Lagian ya Ri, kalau buahnya diproses dulu dengan cara kayak gitu tadi, itu namanya bukan buah segar, bukan fresh fruit. Iya kan?”
“Oke. Gue terima kegagalan ini”
What? So?”
“Entar sambil lo keluar dari ruangan gue, tolong lo kasih tahu sekretaris gue buat jadwalin meeting, dan lo kasih tahu anak – anak buat meeting
Tanpa banyak kata, Hana keluar dari ruangan Ari. “Hana!”, Ari memanggilnya lagi, “Sore ini habis jam kantor ya”
“Apanya?”
“Meetingnya”
What? Ari, jadi gini ya, biar gue kasih tahu lo. Selama ini gue berusaha memahami posisi lo yang lagi banyak masalah, soal kejar deadline di kantor, dan soal pernikahan lo sama Virna yang ketunda – tunda terus. Dan gue allways berusaha mengerti sikap lo yang kayak cewek PMS, dan gue selalu belain lo di depan anak – anak kalau mereka lagi ngeluhin sikap lo. Tapi please lo nggak usah nambah jam kerja kita. Dari pada buat meeting, mendingan waktu lo, lo pake buat nemuin Virna”
“Hana, jadi gini ya, biar gue ingetin lo. Dua hal. Yang pertama, sekarang gue bos lo. Yang kedua, waktu kita cuma sebulan, ini udah udah jalan lima hari. Sedetik pun itu berguna. Lo juga tahu sendiri kan, bikin team HACCP nggak bisa cepet, analisis ekonomi, perencanaan produksi, bla bla bla”
Hana diam dan ngeloyor pergi.
***
“Sore guys. Yang pertama gue minta maaf karena ngambil waktu kalian di luar jam kerja. Jadi gini guys, to the point aja, tadi siang gue dapet laporan dari…”, kalimat Ari terhenti melihat Laksmi mengacungkan tangan.
“Sore juga Ri, Yang pertama gue minta maaf karena motong omongan lo. Jadi gini Ri, gue  gerasa to the point-nya elo tuh terlalu muter – muter. Jadi mending gue aja yang to the point. Ide gue adalah ngadopsi konsep Chocobi, tapi isinya pakai buah segar”
“Nggak mungkin”, Hana menyahut, “Kasusnya bakalan sama, air yang keluar dari buah, bakal bikin adonan empuk”
Sorry, gue boleh tanya?”, Aldo menngacungkan tangan, “Chocobi tu apaan?”
“Iya gue juga nggak tahu”, Hans bersepakat.
“Nggak gaul sih lo pada, nonton Shinchan dong. Chocobi itu snack-nya Sinchan, jadi ada kukis yang didalemnya isi saus cokelat, dan idenya Laksmi, cokelat itu diganti jadi buah segar”, Mendengar jawaban Tara, Hans dan Aldo bersamaan membentuk huruf “O” di mulut mereka.
“Tapi sekarang gue sepakat Hana sih, kasusnya bakal sama aja kayak biskuit. Ide gue, gue cabut”, Laksmi menyambung.
“Siska? “, Pandangan ari mengarah pada seseorang yang meletakkan kepalanya di meja dengan mata terpejam. “Siska!” Ari mulai menambah volumenya. Hana mengguncang bahu Siska.
“Cokelat!”, Siska terhenyak dari tidurnya. Forum berpandangan.
“Lo punya ide tentang cokelat? Atau lo mimpi tentang cokelat, atau lo minta cokelat?”, tukas Ari sinis.
“Oh, nggak nggak”, Siska celingukan, “Sorry gue… gue… ngantuk banget”, ujarnya pasrah.
“Siska, gue minta maaf udah ambil waktu tidur lo, tapi please, kita semua juga capek, gue juga capek”, Ari membereskan dokumennya, mencabut kabel proyektor, menutup laptop sekenanya. “Oke, gue salah udah ambil jam lelah kalian. Rapat selesai”, Ari terus membereskan semua barang – barangnya di meja dan memasukkannya dalam tas.
Forum terdiam. Hening. Seperti Ratu Es telah datang berkunjung dan mengelukan pita suara setiap orang. Ari memasukkan dokumen terakhirnya ke dalam tas.
“Cokelat Mix Fruit”, Siska terhenyak sendiri mendengar kata – kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Ari mengalihkan pandangan pada Siska, lalu duduk dan memfokuskan matanya pada Siska, “Cokelat? Mix? Fruit? coba jelasin”.
Siska gelagapan, “emm, anu, apa ya… gue juga bingung, hehe, gini gini.. jadi cokelat, emm, terus mix… terus anu… gimana ya..”, tak ada sepatah kata pun yang terlintas untuk menjelaskan ide spontannya itu.
“Cokelat Assortment”, Hans berusaha menyelamatkan, “Assortment-nya kita ganti mix fruit”
“Iya, gue tahu sekarang, bola cokelat, kalau biasanya di tengah bola cokelat itu diisi assortment berupa mede, almond, kismis, atau rice crispy, kita ganti assortment-nya jadi buah segar!”, Laksmi mengubah raut mukanya jadi sumringah.
Is it ok Hana?”, Ari mulai mengubah air mukanya ke arah positif.
“Emm, gue nggak tahu, mungkin bisa sih, tapi tetep bakalan susah, gue nggak terlalu optimis sih”
“Yah Hana, kok nggak optimis sih, itu mungkin banget menurut gue. Cokelat kan kandungan air bebasnya rendah, kemungkinan kecil banget kan bakteri bisa tumbuh di situ. Buah yang kandungan air bebasnya tinggi banget bakalan dilindungi sama si cokelat, jadi bakteri dari luar nggak akan nyerang buah, dan buah nggak akan busuk”, Laksmi berteori.
“Oke, iya, emang. Tapi sebelum buahnya di-coating14 pakai cokelat, emang buahnya nggak ada bakterinya? Kan bisa aja buah itu udah berbakteri sebelum masuk ke dalam cokelat”,
“Ya prosesnya harus steril dong Hana, bisa kan?”, Laksmi terus mencecar.
“Sterilnya gimana mi, lo bayangin deh teknisnya, buah segar, dikupas, dipotong, terus dicuci, terus diapain, disterilisasi suhu tinggi? Nggak mungkin mi, buah nggak bisa dipanasin setinggi suhu sterilisasi, bisa rusak buahnya”
“Oh ya? tapi fruit cannery itu buahnya nggak rusak Na? fruit cannery kan pakai proses sterilisasi suhu tinggi? , Tara mulai masuk.
“Em, iya sih, tapi itu untuk buah – buah tertentu aja, nggak semua buah bisa disterilisasi. Kan nggak semua buah bisa dikalengkan Tar”
“Ya udah kita pakainya buah yang bisa dikalengin aja”, Laksmi terus mencecar.
“Oke oke, bisa tapi lo bayangin aja prosesnya gimana”, Hana menarik nafasnya, “Atau gini deh, nggak usah ribet bayangin prosesnya, bayangin aja produknya. Gini, yang pertama gue jelasin soal cokelat, cokelat itu nggak bisa busuk guys, jadi kami di lab itu, nentuin masa kadaluarsa cokelat berdasarkan seberapa lama kira – kira cokelat itu bakal mengkristal. Cokelat emang nggak bisa busuk, tapi bisa mengkristal. Kalau kristalnya udah semakin membesar, cokelatnya bisa remuk, bahkan jadi bubuk. Kristalisasi itu disebabkan oleh lemak cokelat itu sendiri. Apalagi kalau lemak cokelat itu bereaksi sama udara, kristalisasinya makin cepet. Coba bayangin kalau lemak cokelat bereaksi sama enzim buah, gue nggak tahu bakal gimana, tapi yang jelas itu akan sangat memperpendek umur simpan. Itu cokelatnya, sekarang kita ngomongin buahnya. Buah fresh masuk ke dalem cokelat, sekalipun cokelatnya oke, buahnya gimana? tetep bakalan busuk, meskipun nggak ada bakteri yang masuk. Buah itu punya enzim guys, enzimnya bakalan ngebusukin buah itu. tetep aja jadi busuk”
“Kalau buahnya disterilisasi dulu, atau mungkin di-blanching buat mematikan aktivitas enzimnya?”, Aldo mencoba memberi solusi.
“Sterilisasinya gimana?”, Hana bertanya balik, “suhu tinggi kayak yang dibilang Laksmi barusan? Oke mungkin emang bisa untuk buah – buah tertentu, tapi buahnya mateng dong, apa bedanya sama buah kukus, pemanasan kan pakai steam15, bukan buah segar jadinya, kasus buahnya sama kayak yang di kukisnya Hans kemarin”
“Ri, apa buahnya harus bener – bener segar? nggak boleh gitu dikukus, dikeringin?”, Hans mengalihkan pandangan pada Ari. Ari diam, memikirkan sesuatu apapun yang bisa menjadi solusi.
“Rasanya mustahil kita kabulin keinginannya Pak Fahri”, Laksmi mulai putus asa, diikuti forum yang mulai lesu.
“Oke guys, jujur gue sepakat sama statement hopeless-nya Laksmi barusan. Buah segar nggak mungkin kita apa – apain kayaknya. Gue akan coba lobby untuk pake buah rebus, kukus, sangrai, atau apapun itu”, Ari mengalihkan pandangan pada Hana, “Nah Na, kalau buahnya nggak harus segar, menurut lo gimana?”
 “Oke, mungkin itu bisa jadi solusi pertama. Walaupun gue nggak ngebayangin sih produknya jadi gimana diisi buah basah, meskipun nggak segar. Tapi kita punya masalah di proses Ri. Bakalan gimana coba. Cara sterilisasi buahnya gimana, kalau cannery kan ada medianya berupa kaleng, dan dijualnya juga pakai kaleng, nah kalau nggak pakai kaleng, kita bakal sterilisasi gimana. Kecuali buahnya crispy dan kering, tapi hasil percobaan pengeringan pake cabinet dryer kemarin nggak banget”
“Kalau sterilisasinya di pipa besar? buahnya dialirkan di dalem pipa sterilisasi? Gimana?”, Tara agak ragu dengan ucapannya sendiri.
“Buahnya bisa ngalir pakai apa? jalannya buahnya pakai apa?”, Hana mencecar.
“Air?”
“Air? Malah nambah kadar air buah dong?”
“Oh! Pakai cokelat leleh! Cokelatnya jalan di dalem pipa itu barengan sama buahnya, terus habis itu keluar dari pipa langsung masuk suhu beku, dan dicetak, jadi deh”
Coating dalam keadaan panas? Nggak bisa, buahnya sama cokelatnya nggak bisa nempel dalam keadaan suhu setinggi itu”
“Kenapa nggak bisa?”
“Kalo keduanya sama - sama panas nggak bisa nempel, masalahnya cokelatnya tuh lelehnya nggak sampe suhu setinggi sterilisasi… Emm, kayaknya sih gitu, aku nggak terlalu kebayang sih sebenernya teman – teman”
“Emm, kalau gini gimana”, Siska beridiri dan memperagakan,” Kalian bayangin, di sebelah sini ada pipa besar, isinya conveyor15, jadi bukan cairan cokelat atau pun air tapi kita pakai conveyor yang cuma jalan di dalem pipa itu, di dalem pipa itu terjadi sterilisasi suhu tinggi. Buah yang sebelumnya udah diproses jadi potongan kecil – kecil dimasukin ke pipa itu, seluruh mikrobia sama enzim kan mati di situ. Habis itu buahnya lewat pipa kedua yang bersuhu freeze, habis itu langsung nyemplung di kolam cokelat. Cokelatnya udah leleh dan dalam keadaan siap dibekukan kembali. Terus di kolam cokelat itu ada corong yang menuju ke area pembekuan cokelat. Di dalem area pembekuan cokelat itu ada conveyor yang di atasnya ada cetakan. Jadi bola – bola cokelatnya dicetak di situ, terus langsung masuk kemasan. Bisa kan?”
“Emm, mungkin sih”, Hana belum juga yakin.
“Nggak, Nggak mungkin”, Aldo bersuara, “Kalau pun mungkin produknya bisa jadi dengan proses itu, kalian pikir, pipa sterilisasinya siapa yang bakal kita pakai? conveyor steril dari mana? Lagian gue baru pertama kali denger ada pipa yang isinya conveyor
Mata Aldo terarah kepada Siska yang masih berdiri, “Terus cetakannya yang buat nyetak bola – bola cokelat itu, lo bayangin Sis… kolam cokelat yang ada corongnya, terus dibekuin dan di cetak, nyetaknya gimana? Yakin disetiap cokelat yang tercetak jadi bentuk bola itu di dalemnya udah pasti ada buahnya? Cetakannya harus canggih dong? Harus bisa nyeleksi bagian mana yang ada buahnya dan bagian mana yang nggak ada”
“Gue nggak paham”, Siska masih berdiri.
“Nggak usah paham juga nggak pa-pa deh, intinya gue tuh mau ngomong kalau sumber daya pabrik kita ini terbatas saudara – saudara. Kita nggak punya pipa raksasa yang isinya conveyor, kita nggak punya pencetak selektor yang mungkin digerakin pakai microcontroller16 atau apalah itu, kita juga nggak punya ruangan yang tepat buat pemrosesan itu. Sorry menghancurkan imajinasi kalian, tapi gue sebagai kepala bagian peralatan nggak bisa mewujudkan impian itu jadi kenyataan”
“Oke, kesimpulan gue adalah, nggak mungkin cokelat mix fruit”, Ari menghela nafas, “okelah guys, udah mau malem, kalian semua butuh istirahat. Kita meeting besok siang, dengan ide segar. Thank you semuanya, selamat sore menjelang malam”
***
Cahaya bulan temaram menyinari wajah Virna yang sedari tadi dilipat – lipat. Lampu bohlam café yang berhiaskan aneka ornamen, membuat wajah Virna yang cemberut, terlihat begitu indah di mata Ari. “Sayang, kamu kalau senyum nentremin hati lho”, Ari mencoba merayu. Sebuah awalan permintaan maaf. Susah payah Virna mengubah ekspresi wajahnya, senyum terpaksa tampak menghiasi bibir merah mudanya. “Ari”, Virna menghela nafas, “Aku rasanya nggak bisa bernafas”
“Maksud kamu Sayang?”
“Ari, aku udah merenung, lama banget. Aku diem berjam – jam di kamar, nggak makan, nggak bisa tidur juga. Aku udah pikirin semuanya dnegan mateng. Dan aku mau ambil keputusan”
“Kamu ngomong apa sih Sayang?”
“Ari aku mau putus”, Hati Virna seakan mau meledak mengucapkan kalimat itu, ada rasa lega, tapi ada juga pisau tajam yang menyayat.
“Sayang kamu jangan bercanda deh”, Ari menggenggam tangan Virna yang sedari tadi nangkring di atas meja.
“Ari aku udah sering banget bilang ama kamu bahwa aku capek sama hubungan kita yang kayak gini terus, iya kan?”
“Tapi sayang, kita udah mau nikah sayang. Dan emangnya kamu nggak sayang lagi sama aku?”
“Aku sayang Ri sama kamu, aku cinta banget sama kamu Ri. Tapi aku nggak bisa nafas Ri, aku kehabisan oksigen. Aku nggak sanggup lagi kecemplung di dalem lautan cinta kamu”
“Virna please”, Pelupuk mata Ari menghangat, telaga di matanya hampir bocor.
Virna mulai menitikkan air mata, “Sayang, I love you, tapi aku nggak sanggup bertahan di dalam cinta kamu. Cinta kamu menyakitkan Ri. Aku punya kamu tapi seolah nggak punya kamu. Kamu hidup tapi seolah mati. Dan aku ada tapi nggak merasa ada. Cinta kamu itu kayak cairan gula yang kental, yang manis banget. Aku yang ada di dalem cairan manis itu ternyata tercekat nggak bisa bernafas karena nggak ada oksigen buat aku Ri. Ibaratnya, aku ini semut yang menginginkan manisnya gula, tapi kecemplung, tenggelam, dan nyaris mati. Sekarang si semut yang malang ini pengen keluar dari cairan gula itu Ri. Cairan gula yang nggak kerasa lagi manisnya buat aku”
“Virna, tanpa kamu tahu, aku juga selalu berusaha ngeluangin waktuku buat kamu. Vir, please kasih waktu… “
“Waktu apalagi Ari, waktu untuk nunda pernikahan kita? lagi? kamu nggak capek? aku capek Ri! Banget! Kamu anggep aku ini apa? Aku udah membusuk di tengah permasalahan kita Ri”
“Vir, kita tu sebenernya kan nggak ada masalah. Sayang, aku selalu berusaha ngejaga emosiku, demi ngejaga keawetan hubungan kita, tapi kamu selalu… ”, Ari terhenti oleh gebrakan meja dari tangan Virna.
“Nggak ada masalah gimana? Allways kamu bilang kayak gitu. Oke. Menurut kamu ini memang nggak masalah. Tapi ini masalah buat aku, aku butuh ruang. Ruangmu. Ngejaga apa? kamu ngejaga emosimu tapi nggak ngejaga emosiku, nggak ngejaga perasaanku, nggak ngehargain pengorbananku, ngalahku selama ini. Keawetan apa? Kamu pikir aku mayat yang kamu kasih formalin? Atau kamu pikir aku buah kaleng yang kamu sterilisasi di pabrik kamu itu? Atau kamu pikir aku kulit jeruk yang kamu cemplungin di cairan gula kayak gini?”, Virna mendorong mangkuk kecil berisi marmalade17 yang terhidang di meja ke arah Ari. “Kamu pikir aku kulit jeruk yang ada di dalem marmalade? yang kamu awetin biar nggak busuk, yang cuma bisa diem, nggak bisa bergerak, mati, nggak bisa bernafas, dan harus nunggu kamu ngambil aku untuk kamu oles ke roti, dan setelah itu kamu makan buat mengenyangkan perut kamu, memuaskan lidah kamu?”, Virna menghela nafas. “Ari, semuanya yang terjadi selalu demi kamu, selalu demi kesenangan kamu, selalu demi karir kamu, selalu demi diri kamu sendiri”
 “Tapi semua yang aku lakukan juga demi kamu kan Sayang?”
“Ari, ini aku kembaliin cincin dari kamu, permisi, selamat tinggal Ari. Aku akan lupain kamu”, Virna meletakkan sebuah cincin platina berlapis berlian, dan pergi begitu saja. Ari hanya diam, ia ingin menghalangi Virna, tapi seolah tak punya nyali. Ari sadar selama ini Virna sudah banyak berkorban demi dia, demi pekerjaannya. Ari sadar, bahwa dialah yang salah dalam hal ini. Ari sadar bahwa Virna tak mungkin lagi dibuat menunggu. Dan Ari sadar bahwa Virna berhak bahagia. Mungkin Virna benar, dirinya telah memperlakukan Virna seperti marmalade yang ada di depan matanya.

Ari mengambil selapis roti gandum yang telah ter-garnish dengan cantik di meja, dioleskannya marmalade itu ke atas rotinya. Tak habis air matanya memandangi kulit jeruk yang tergelepar di hamparan roti lapis marmalade-nya.

10Reasearch and Development
11alat pengering yang bekerja dnegan cara menghilangkan kelembaban bahan pangan, sehingga bahan menajdi kering.
12pencelupan bahan makanan ke dalam air mendidih selama beberapa detik atau menit untuk membunuh bakteri, dan mematikan enzim.
13perebusan
14 pelapisan yang diterapkan pada permukaan suatu benda atau substrat.
15suatu alat mekanik yang berfungsi untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, dengan cara menjalankannya di atas conveyor dan banyak digunakandi industri untuk transportasi barang yang jumlahnya sangat banyak dan berkelanjutan.
16 sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip, berfungsi untuk melakukan perintah tertentu oleh suatu alats cara otomatis.

17 buah yang diolah menjadi bubur buah dengan ditambahkan gula dan asam pada konsentrasi tertentu, dan ditambahkan irisan kulit atau potongan buah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar