Aku duduk menyantap es krim kelapa mudaku. Kupandangi dia
dan gadis itu. Biasa saja. Tapi indah. Aku menyungging senyum getir. Tak
terpungkiri sakit itu menerpaku kali ini. Meski aku yang menyuruhnya
meninggalkanku. Dan meski ia berkali – kali bersikukuh untuk mempertahankanku.
Aku menolaknya dengan bodoh. Atau memang inilah jalannya.
Kini tak penting lagi perasaan, di depanku ada
realita. Bukan lagi impian fana. Meski aku mencintainya. Dia bukan untukku. Aku
beridiri, meletakkan mangkuk es krimku, dan mengambil sepiring sate lengkap dengan
lontong dan saus kacang. Aku bahagia,
gumamku ingkar.
***
HP-ku berdering lagi. Dering singkat, yang sudah
kutebak, pasti sms dari dia.
‘Lena’.
Sudah kuduga. Aku harus membalas apa, atau aku tak perlu membalas. Aku takut
dia tidak menghubungiku lagi jika aku tidak membalas. Tapi aku tidak mau
terlihat begitu perhatian padanya.
‘ya?’ tukasku untuk membalas smsnya. Ia langsung
membalas smsku dengan emote senyum.
Aku menghembuskan nafas. Aku lelah dengan ini semua.
Keesokan harinya, HP-ku berdering lebih lama, Telepon.
“Hallo?”
“Hallo Lena”
“Hai Kev”, senyumku tak tertahan untuk tersungging.
Untung Kevin tidak melihatnya. Aku paling anti membuat Kevin GR atau merasa
mendapatkan sinyal positif dariku.
“Kamu lagi apa Lena”
“Aku lagi beres – beres rumah”
“Aku ganggu ya?”
“Lumayan, haha. Nggak pa-pa. ada apa?”
“Nggak ada apa – apa, aku pengen denger suaramu”, lagi
– lagi ia membuatku tersenyum.
“Kok diem?”, Ia berkata dengan lembut.
“Emang aku harus ngomong apa?”, balasku sambil
tertawa.
“Liburan nggak ngapa – ngapain dan nggak ada kamu di
sini, sepi. Aku pengen main ke rumahmu Len”
“Hahahaha, sini aja”
“Beneran lho ya?”
“Haha, emang kamu beneran mau kesini?”
“Kalo boleh, aku serius nih”
“Yah nggak apa – apa kok, sini aja”
“Aku sekalian izin ke mama kamu untuk melamar kamu ya…
“, aku terhenyak. Lamar lagi. aku tak suka pembicaraan ini. Sudah berkali –
kali Kevin mengajakku menikah, dan berkali – kali pula aku telah menolaknya.
Aku tak tahu perasaanku, tidak jelas. Mungkinkah aku mencintai Kevin? Aku rasa
tidak. Tapi kehilangan Kevin juga bukan hal yang aku inginkan. Kadang aku
merasa bahwa aku menyukainya, tapi untuk menikah dengannya, entah.
Kevin, dia bukan pacarku, bukan tunanganku. Kevin
sahabatku, sejak dulu. sejak kami duduk sebangku di kelas tiga SMA. Aku sudah sudah
semester akhir, masih berkutat dengan skripsiku, dan Kevin kini sudah bekerja
di sebuah perusahaan trading. Dia
punya deadline untuk menikah. Orang
tuanya tak sabar menimang cucu, keinginan klasik para orang tua.
“Emm, nggak tahu deh Kev”
“Lena… aku nggak bisa nikah sama selain kamu. Aku
cinta sama kamu. Banget”, ada getaran pada nada bicaranya. Hatiku teriris.
Sahabatku. Aku menyayanginya. Kenapa ia mencintaiku, dan memperlakukan aku
berlebihan seperti bukan lagi seorang sahabat.
Tak ada cara lagi untuk menolaknya, aku tak tahu
bagaimana. Terkadang aku berpikir untuk menerimanya menjadi suamiku, terkadang
aku ingin juga menyandingnya sebagai teman hidup. Namun aku ragu. Terlebih lagi
Ibu, Ibu mungkin tidak mengizinkanku menikah saat ini. Tapi entah, aku tak
berani bertanya. “Okelah Kev”, aku mendesah. Diam sejenak. “Kamu tapi ngomong
langsung sendiri sama Ibu ya Kev, aku nggak ikutan. Kalau Ibu terima kamu, aku
terima”, lagi aku mendesah. Sepertinya semua begitu gampang untuk memutuskan
menikah atau tidak. Tapi ini dilema yang telah lama bercokol dalam benakku.
Sudah 3 tahun yang lalu Kevin menyatakan perasaannya. Tapi dia tak meminta
balasan atas perasaannya itu. aku juga tidak tahu tentang perasaanku, yang
jelas hubungan kami berubah sejak saat itu. Tetap sahabat, namun tidak seperti
dulu.
***
Kevin hanya diam di sebelahku. Aku tak berani
menatapnya. Tak biasa, ia duduk di samping jendela, namun pandangannya lurus ke
depan. Biasanya jika ia mendapat seat
di samping jendela, dia akan menempelkan mukanya dengan mata membelalak ke kaca
jendela, untuk sekedar melihat bumi dari atas, atau melihat gumpalan awan yang
bergerak – gerak. Terkadang ia mengeluarkan kamera untuk merekam pemandangan
ketika pesawat masih di bawah hingga pesawat meninggalkan hijaunya bumi.
Kevin bermata nanar. Aku takut. Aku tak berani
bersuara. Aku tak tahu apa yang Kevin bicarakan dengan Ibu. Tapi yang aku tahu
pasti adalah Ibu melarangnya menikahiku untuk saat ini. Simalakama. Ibunya
menyuruhnya menikah tahun ini, Ibuku melarangku menikah tahun ini.
“Kev”, sekuat hati aku beranikan diri untuk
memanggilnya, “ibu ngomong apa sama kamu Kev?”
Kevin hanya menggeleng. Matanya makin memerah. Namun
tak ada air mata. “Kev?”, aku berusaha mengulang pertanyaanku, “nggak boleh ya
Kev nikah ma aku?”
“Belum boleh Len, ibumu punya cita – cita. Ibumu ingin
kamu jadi psikolog dulu. Aku nggak mampu berkata – kata lagi untuk merebut kamu
dari beliau, kata – katanya dalem banget, Ibu kamu udah merencanakan masa
depanmu dengan sempurna. Ibu kamu nyuruh aku hubungan baik dulu aja ama kamu.
Kalau mau, tunggu kamu lulus”, matanya nanar, merah sekali. Aku tak sanggup
melihatnya. Kupalingkan wajahku, dan meneteslah air mataku. Dia kasihan. Dia
sangat mencintai aku.
“Ya udah Kev, mungkin belum saatnya”
“Kita pacaran aja yuk Len?”, aku tahu itu adalah
sebuah ajakan putus asa, karena tak tahu lagi bagaimana cara bersatu denganku. Karena
sebenranya, Kevin tidak suka pacaran, karena Kevin tidak suka main – main. Dan
menungguku hingga aku lulus, apalagi harus jadi psikolog dulu, adalah suatu hal
yang nyaris mustahil baginya. Target menikahnya adalah tahun ini.
“Buat apa Kev?”, tuturku pelan,”Kalau nantinya kamu
bakal menikah sama cewek lain, percuma Kev, itu cuma akan semakin menyakitkan
dan meninggalkan kenangan yang terlalu indah, makin sulit dilepas Kev”
Kevin menitikkan air matanya. Pulau seribu telah
terlihat dari jendea, pesawat kami akan segera landing di Soekarno-Hatta, setelah dua jam perjalanan dari Sultan
Hasannudin Makassar. Kampung halamanku.
***
‘Lena’, seperti malam – malam sebelumnya, sms yang isinya
hanya satu kata. Aku dilema dengan perasaanku, kehilangan dia aku tak mau,
menikah dnegan dia aku tak yakin, terlebih juga ibu tidak setuju jika aku
menikah dalam waktu dekat. Aku tertidur. Tak membalas pesannya.
***
Ia menatapku, “Lena kalau kamu memang mau nikah sama
aku, kamu harus bantu aku untuk bujuk ibu kamu. Bilang sama dia kalau
keadaannya aku harus segera menikah, dan kamu mau nikah sama aku, kita nikah
akhir tahun ini”
Aku hanya diam menunduk. “Lena…”, Argh mata nanarnya
lagi. Mata itu. Tak bisa aku menatapnya tanpa teriris. Pandangan itu. Tatapan
yang seolah berkata I love you,
terkadang mata itu berkata Lena, kamu
cantik, entah hanya ke-GR-anku atau memang begitu adanya.
Aku tak mampu untuk tak takluk. Aku ingin mengabulkan
keinginannya itu, tapi aku juga tak bisa menyatakan itu pada ibu. Ibu
membanting tulang untuk cita – cita itu, cita – cita kami, aku dan Ibu,
psikolog. “Aku nggak tahu Kev”, Aku menyedot Ice Chocolate Peppermint di hadapanku untuk menghilangkan
kegugupanku.
“Aku tahu mungkin mustahil, tapi aku masih sangat amat
pengen memperjuangkan kamu Lena”, Suara itu terbata, terisak. Hatiku tertampar, ia benar – benar
mencintaiku. Aku dapat merasakannya. Tatapan matanya, suaranya yang terbata,
perlakuannya padaku, senyumnya, segalanya. Aku tak tahu harus bagaimana.
***
‘Lena’, sms
itu datang lagi malam ini.
‘Ya?’, balasku.
‘belum bobok?’
‘belum’
Malam berikutnya.
‘Lena’
Malam berikutnya.
‘Lena’
Dan begitulah bermalam – malam berikutnya.
Aku sedih. Aku sungguh ingin menikah dengan dia juga.
Aku mulai simpatik dan rasa sayangku sepertinya telah menjadi rasa sayang yang
berbeda. Jikapun aku tak mencintainya, perlakuannya padaku telah menjadi bibit
cinta siap tanam di lahan hatiku, dan aku yakin lahan hatiku subur untuk
ditanami cintanya.
***
“Udahlah Kev”, aku tersedu, ”Kalau memang jalannya
kita nggak bersama yaudah Kev, tinggalin aku”
“Kenapa kamu nggak mau memperjuangkan sih Len”
“Kev, aku udah mutusin Kev, kita cukup sahabatan aja”
“Lena aku nggak tahu apa jadinya kalau kamu harus
dateng ke pernikahanku sama orang lain”
Aku terhenyak. Haiku sakit. Aku tak mau itu terjadi.
Sungguh sungguh aku tak mau. Aku tak mau dia bersanding dengan wanita lain.
Aku… terluka.
“Tapi keputusan ini demi kebaikan kamu Kev, sama
sekali bukan demi aku’” tangisku tak tertampung, “Kamu yang pengen segera nikah
tahun ini, sesuai deadline dari
keluarga kamu. Kamu yang pengen nikah dengan wanita yang dewasa, sementara aku
yang kekanakan. Kamu yang pengen nikah dengan wanita yang halus, sementara aku tomboy”
“Lena… , aku sayang kamu”
***
Aku meletakkan piring sate lontongku di bawah kursi.
Aku bergegas berdiri, menyalami Kevin dan Istrinya di pelaminan, dan pergi.
Sejak keputusan untuk bersahabat terlontar dari mulutku, aku telah lama tahu
bahwa aku akan mengalami moment
seperti ini. Sudah lama aku mempersiapkan diri. Harusnya tidak sesakit ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar